
Ezra menghubungi Zahra, karena pria itu sudah kangen sekali pada istri kecilnya itu. Dia tak bisa pulang cepat. Karena pukul 20.00 Wib, dia masih ada meeting di daerah yang jauh dari rumah mereka.
Ezra memberitahu, bahwa supir akan menjemputnya ke rumah Anin sekitar pukul sembilan malam. Karena dia tak sempat lagi menjemput sang istri ke rumah ibunya. Seandainya tadi Ezra tidak pernah menikahi Anin. Mungkin pria itu tidak akan segan, datang jam berapa pun ke rumah ibu mertuanya. Tapi, ini beda ceritanya. Ezra masih sangat merasa bersalah pada Anin. Jadi pria itu dalam waktu dekat ini, selalu berusaha menghindar dari wanita itu. Perlu waktu, untuk semuanya menata hati masing-masing.
Ezra harus gigit jari. Zahra memohon agar tinggal di rumah ibunya selama satu minggu. Tentu saja pria itu tidak akan mengizinkan jikalau Zahra di rumah Anin selama itu. Bisa mati dia, karena tak akan tidur selama seminggu itu.
Zahra yang kesel, karena keinginannya tak dituruti sang suami, akhirnya mematikan ponselnya secara sepihak. Dan sampai sekarang pukul 11 malam ponselnya itu tak kunjung diaktifkannya.
"Zahra, Zahra sayang.... Ayo bangun!" ujar Anin lembut, membangunkan sang anak yang tidur seranjang dengannya. Setelah sholat isya, ibu dan anak itu berbincang-bincang diranjang, eehh gak tahunya baru cerita setengah jam Zahra sudah tertidur.
"Ra, bangun Boru..!" Anin yang dari tadi tak bisa tidur itu dikejutkan oleh ketukan pintu kamarnya. Ternyata ART mereka yang bernama Fuji yang mengetuk pintu. Memberi tahu, ada Ezra dan Bimo di ruang tamu.
Anin jadi semakin merasa tak enak hati pada Ezra. Pria itu pasti mikirnya, dia melarang Zahra pulang. Padahal mulai dari selesai makan malam dia sudah meminta putrinya itu pulang.
"Ra .. Zahra.. bangun...!" teriak Anin, wanita itu menggoyang kuat tubuh Zahra agar terbangun. Benar saja usaha nya kali ini berhasil. Zahra membuka matanya yang terasa sangat berat itu.
"Ada apa Mak..?" ucapnya, dengan wajah kantuknya. Zahra benar-benar kantuk sekali. Mungkin saat ini lah batas kelelahan yang dirasakannya. Sehingga tubuh minta diistirahatkan.
"A--daa Nak, nak Ezra di bawah. Kamu harus pulang!" ujar Anin susah payah. Rasanya lidahnya keluh menyebut Ezra anaknya.
"Mak, aku masih ingin tidur di sini. Aku kantuk Mak." Zahra malah memejamkan kedua matanya lagi. Memeluk guling dengan eratnya.
"Ra, Zahra.... Kamu Jangan seperti ini sayang!" ucap Anin dengan penuh kecemasan. Jangan sampai gara-gara dia, Ezra salah paham padanya.
"Zahra mau tidur di sini. Tadi juga sudah minta izin. Apa setelah menikah, kita gak bisa bermalam di rumah orang tua kita sendiri?" kali ini Zahra mulai kesal. Masak bermalam di rumah ibu sendiri gak bisa. Wanita itu jadi kesal pada Ezra.
"Wanita yang sudah menikah dan menyandang status seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami sayang. Kalau suamimu melarang, kamu harus nurut. Selama ke taatan itu masih berada syariat dan tak melanggar perintah agama." Jelas Anin, mencoba memberi penjelasan tentang kewajiban istri kepada putrinya.
"Jadi, kalau sudah menikah harus memutuskan tali silaturahmi dengan orang tua?" Ujar Zahra kesal. Wanita itu mendudukkan tubuhnya dengan mata melotot. Kantuknya hilang sudah. Sepertinya dia belum siap jadi istri. Terlalu banyak larangan. Sedangkan dia masih ingin bebas seperti kegiatannya sebelum jadi istri Ezra.
"Gak sayang, gak seperti itu. Kamu jangan sensitif seperti ini. Besok kan kamu bisa ke sini lagi. Umak yakin, nak Ezra tidak akan melarang kamu ke rumah ini. Hanya saja, ini sudah malam. Kamu itu harusnya tidur di rumah suamimu Boru!" Anindya bicara dengan lembut. Berharap sang putri mengerti. Dia bukanlah anak gadis lagi, yang bisa sesukanya tidur di rumah orang tua, atau saudara lainnya.
"Mak, Zahra masih kangen samamu Mak. Kita sudah lebih dari satu tahun tidak jumpa." Rengek Zahra dengan wajah kusutnya.
__ADS_1
"Iya sayang, sama. Besok kan kamu bisa ke sini lagi." Terus memberi pengertian pada sang anak.
Dengan malas nya Zahra turun dari ranjang. Menyambar hijabnya yang tergantung di gantungan. Dengan kesalnya dia turun ke lantai satu. Tentu saja Anin, tetap berada di kamar itu. Selain dia merasa belum pulih betul. Dia juga jadi malas bertemu dengan Ezra sekaligus Bimo. Entah kenapa Anin jadi benci melihat pria .
Anin benar-benar traumah, atas kejadian yang menimpanya. Dinikahi, hanya untuk dipermalukan. Anin jikalau mengingat Ezra, hatinya akan berdenyut merasakan sakit. Wanita itu melap air matanya dengan jemarinya. Dia sedih, bukan karena ditinggal Ezra. Tapi, dia merasa dirinya sangat malang.
Ezra langsung bangkit dari duduknya disaat melihat sang istri yang berjalan dengan kesalnya ke arahnya. Pria itu menghampiri sang istri dengan senyum manisnya. Dia seneng sekali bisa melihat istrinya itu malam ini. Walau di sambut dengan wajah masam.
"By, aku ingin tidur di sini!" Ezra menghentikan langkahnya disaat mendengar kalimat penuh harap itu keluar dari mulut istrinya yang tak henti-hentinya menguap itu. Kini jaraknya ke Zahra sekitar satu meter.
Ezra sedih mendengar permintaan istrinya itu "Eemmm... Besok kan bisa ke sini lagi wa." Ujarnya lembut. Merangkul sang istri dengan gemes. Zahra berontak kecil. Dia malu dilihat oleh Bimo, yang masih duduk di sofa. Ezra bukannya melepas rangkulannya malah menuntun istrinya itu duduk di sofa.
"Aku mau tidur di sini By. Aku kantuk banget ini. Kalau masih harus pulang ke rumah. Mau sampai jam berapa lagi, malas ahh!" oceh Zahra, sebelum suaminya itu kembali memintanya pulang.
Ezra menghela napas, kalau dia tak menuruti keinginan Zahra malam ini. Pasti istrinya itu akan kecewa padanya. Secara dari tadi sore dia selalu minta itu di telpon.
"Iya baiklah Wa. Kita akan nginap di sini." Ujar Ezra dengan menghela napas berat. Dia ingin sekali tidur seranjang dengan Zahra malam ini. Karena ada banyak hal yang ingin dibicarakannya dengan istrinya itu.
"Hubby nginap di sini?" tanya Zahra tidak percaya.
"Eemmmm By, aku mau tidur sama umak!" Zahra nyengir. Dia memang sangat merindukan ibunya itu. Dia kangen dipeluk sang ibu saat tidur dan dielus kepala, sambil cerita.
Seketika raut wajah Ezra murung, mendengar penuturan sang istri. Untuk apa dia tidur di rumah nya Anin. Kalau Zahra tetap tak satu ranjang dengannya.
"Boleh ya By, aku tidur bareng ibu?" masih menunjukkan wajah penuh harap.
Ezra jadi tidak tega menolak permintaan Zahra. Itu, itu saja yang diucapkan istrinya itu. Ezra akhirnya menganggukkan kepalanya.
Dan secepat kilat Zahra beranjak dari duduknya. Berlari ke arah kamarnya sang ibu. Ezra hanya bisa menatap sedih Zahra yang kini meninggalkannya di ruang tamu itu. Pria itu pun menyandarkan tubuhnya di sofa empuk. Dia lelah sekali, pria itu menutup kedua matanya. Memijat-mijat mata yang lelah itu, kemudian tangannya itu mengusap wajahnya kasar. Malam ini Ezra berharap bisa merilekskan diri dengan dapat sentuhan dari sang istry. Karena, dia lelah sekali. Tapi, lihatlah. Istrinya itu tak mengerti apa maunya.
"Sabar bos, wajar Zahra seperti itu. Dia kan baru bertemu ibunya Bos " Ujar Bimo, membantu membawa tas kerjanya Ezra ke kamar yang sudah disiapkan untuk ditempati nya malam ini.
"Iya Bim, aku ngerti. Tapi, besok subuh aku harus pergi ke Australia. Dan di sana aku tak sebentar." Ezra mendaratkan tubuhnya di sofa. Melepas dasinya dengan perasaan sedikit kesal.
__ADS_1
Ezra sedang mengepakkan sayap perusahaan tambang emasnya di negara hewan berkantung itu. Sudah lama dia merintis usahanya ke negara itu. Dan baru hari ini dapat kesepakatan. Dia akan ke negara itu esok hari. Dan di sana dia perlu waktu yang lama untuk menyelesaikan semua yang diperlukan. Malam ini dia sangat berharap bisa tidur bareng bersama istrinya itu. Tapi, lihatlah belum juga dia selesai bicara, istrinya itu sudah ngacir duluan. Mana ponselnya tak kunjung diaktifkan.
"Bos... Sebaiknya anda tidur. Ini sudah pukul 12 malam. Besok Bos perlu energi extra." Ujar Bimo pelan.
"Iya Bim, kamu sudah siapkan semua keperluan untuk besok?" tanya Ezra lagi.
"Sudah bos." Bimo mengacungkan jempolnya.
"Baiklah, kamu keluar sana. Cari kamarmu sendiri. Aku tak mau satu kamar denganmu!" ketus Ezra, meraih ponselnya dari atas nakas dekat ranjang. Dia kembali mencoba menghubungi ponselnya Zahra.
Seandainya ini bukan di rumahnya Anin. Pria itu pasti sudah menyelinap ke kamar nya Zahra.
Ezra berusaha untuk rileks. Dia harus tidur. Karena esok pagi dia harus bugar.
***
Zahra dan Anin sudah selesai melaksanakan sholat shubuh. Saat melepas mukenanya dia teringat Ezra. Kedua sudut bibirnya pun melengkung. Menciptakan senyum kecil penuh kebahagiaan. Entah kenapa pagi ini. Dia senang mengingat suaminya itu. Mungkin karena dia sudah puas tidur. Sehingga moodnya sudah membaik.
Wanita itu meraih ponselnya dari atas meja rias. "Mak, aku duduk di balkon. Mau hirup udara segar." Ujarnya pelan. Sang ibu sedang membaca Al-Qur'an saat ini.
Anin mengangguk, ucapan Zahra tak membuat nya menghentikannya membaca Al-Qur'an itu.
Zahra meregangkan otot-ototnya, sambil berjalan ke arah balkon kamar itu, sembari mengaktifkan ponselnya.
Saat hendak duduk di sofa. Suara sedikit gaduh di parkiran rumah itu, menarik perhatiannya. Zahra mendekati pembatas balkon. Menatap ke arah bawah.
"Hubby, mau ke mana dia?" ujarnya dengan herannya. Memperhatikan sang suami yang terlihat bicara dengan Bimo, sebelum masuk ke dalam mobil. Setelah bicara dengan Bimo, Ezra terlihat berdiri dengan mulut komat-kamit seperti sedang berdoa.
Zahra berlari cepat ke lantai bawah. Entah kenapa dia jadi merasa bersalah pada suaminya itu. Dia tak menyangka suaminya itu beneran tidur di rumah itu. Dia beranggapan, saat dia masuk ke kamar. Suaminya itu pulang. Dan sekarang mau ke mana suaminya itu, sesubuh ini.
"Hubbyy....!" saat Zahra sampai di parkiran rumah itu, mobil Yang ditumpangi Ezra dan Bimo sudah melaju. Bahkan teriakannya tak ada gunanya. Mobil itu sudah membelok dan hilang dari pandangannya.
TBC
__ADS_1
Like, komentar positif dan vote say