AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Hajar Jahan nam


__ADS_3

Semua tamu undangannya Zahra merasa senang dan puas akan acara syukuran, pulang berhajinya Nek Ifah. Selain makan enak sampai jatah makan malam, tamu yang datang meramaikan acara itu juga diberikan banyak ole-ole. Bahkan dalam kesempatan kali ini, Zahra bersedekah banyak. Uang jatah bulanannya dari Ezra yang sebanyak 100 juta, disumbangkan semua.


Disumbangkan ke kaum yang membutuhkan, panti asuhan dan yayasan lainnya. Asal tahu saja, Zahra dapat uang jatah bulanan 200 juta, itu hanya uang jajan dan jaga-jaga dompet. Biaya perawatan, dan shopping lainnya beda lagi perinciannya. Itu pakai kartu kredit.


Dua bulan jadi istri Ezra, dia sudah punya banyak uang. Bingung dia mau dikemanakan. Mana hasil tambang emas di kampung juga mengalir ke rekeningnya. Jadilah Zahra pusing dibuat habisin uang itu. Akhirnya dia bersedekah.


Dengan bersedekah maka hartanya akan Kekalkan. Karena sedekah adalah harta kita yang sesungguhnya.


Zahra sadar dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Apa yang dimiliki di dunia ini yang dicari dengan susah payah, tidak akan bisa kita bawa menuju kampung yang abadi, yakni kampung akhirat. Tapi, dengan bersedekah kita merasakan manfaat dari harta yang disedekahkan itu.


Harta yang kamu makan akan habis, harta yang kamu pakai akan usang, tapi harta yang kamu sedekah kan akan menjadi tabunganmu di akhirat.


Ezra sangat bangga pada sang istri. Dimana tidak mau memfoya-foyakan uang untuk hal yang tak penting. Sangat berbeda dengan Rani yang selalu foya-foyakan uang. Beli tas mau 10 pacs tiap bulan dengan nominal 400 juta per tas, paling murah harga tasnya 25 juta. Belum lagi baju, tas skincare dan kebutuhan kecantikan lainnya.


Hadeuhh...


Ezra habis dikuras, mana tak setia.


***


Hari ini cukup melelahkan untuk semuanya. Terlalu bersemangat dan bahagia juga ternyata menguras energi. Dan kini mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga. Dan saaatnya Nek Ifah memberikan buah tangan khusus untuk orang terpenting di dalam hidupnya. Yaitu Zahra, Anin dan tentu saja Ezra.


"Ini buah tangan untukmu sayang." Nek Ifah memberikan sebuah bungkusan plastik pada Zahra. Maklumlah nenek-nenek kampung. Mana kepekiran ia membungkus dengan bagus ole-ole nya.


Zahra yang duduk di sebelah kanan Anin di atas ambal lembut nan empuk, meraih pemberian sang nenek dengan senang hati. Wajah nya terlihat berbinar-binar. Siapa sih yang tak senang diberi hadiah.


"Apa ini Nek?" ujarnya penasaran, mulai membuka bungkusan plastik berwarna mint itu yang disegel itu.


"Buka saja, semoga suka dan bermanfaat untuk mu ya sayang." Ujar Nek Ifah lembut. Setelah pulang dari tanah suci, pembawaan Nek Ifah jadi lebih kalem. Dan anehnya wajah Nek Ifah, jadi tambah putih.


"Waaaw.... Mukenanya bagus Nek." Zahra langsung mencobanya. Ya Zahra, kadang sifat kekanak-kanakan nya gak bisa disembunyikan.


"Bordir nya bagus banget, ada zipernya juga di dagu." Ia memuji mukena pemberian Nek Ifah dengan tersenyum manis. "Makasih ya Nek!" mendekati sang nenek, dan memeluk nya dari samping. Ia bahkan mendekat kan kepalanya ke kepala sang nenek.


Ezra tersenyum tipis, melihat kelakuan sang istri. Entah kenapa bagaimana pun tingkah Zahra, ia akan seneng melihat nya.

__ADS_1


"Iya, Nenek berharap kamu lebih mendekatkan diri pada-NYA dan berbakti pada suamimu."


"Iya Nek." Jawabnya melirik pada sang suami.


"Mohon bimbingannya suamiku..!" Ezra menundukkan kepalanya ke arah Ezra. Tentu kelakuan Zahra membuat semua orang ditempat itu tertawa. Termasuk para ART, yang ikutan duduk sembari menyiapkan cemilan untuk semuanya di tempat itu.


Nek Ifah Kini terlihat mengambil sesuatu lagi dari balik tubuh nya. Sepertinya kantong Doraemon ada dibalik punggung sang nenek. "Dan ini untukmu Anin." Nek Ifah kembali memberikan satu bungkusan pada Anin. Tetap dibungkus plastik degan rapi.


Anin dengan tak sabaran membuka ole ole dari ibu mertuanya itu. "Waahh.... Bagus banget Bou..!" Anin seneng dengan Abaya warna putih bertabur swaroski itu. Ia tak langsung mencobanya seperti yang dilakukan Zahra. Ia hanya memperhatikan dengan kagum, abaya itu.


"Syukurlah kalau kamu suka, semoga kamu dapat pengganti suamimu."


Huk


Huk


Huk


Kini Dika terbatuk-batuk mendengar ucapan sang nenek.


"Nyonya Anin, sudah ada calon Nek. Semalam baru lamaran." Dika kelancangan, siapa juga yang mengizinkan dia memberi tahu.


Kening nya Nek Ifah mengerut mendengar tutur sapa Dika, yang mengatakan Anin adalah Nyonyanya. Tapi, ia tak terlalu memusingkan itu.


"Iya kah, syukur lah. Kenapa setiap menelpon gak pernah cerita maen?" Nek Ifah terharu mengetahui sang menantu sudah ada calon. Ia menatap lekat, Anin yang tersipu malu.


Saat ini, Nek Ifah belum tahu, kalau Anin dan Ezra pernah menikah.


"Gak asyik lah Nek cerita di telpon. Nanti nenek semakin penasaran. Gak konsentrasi ibadah di tanah suci deh." Zahra melihat sang ibu, untuk menjelaskan semuanya. Jadilah Zahra ikut campur.


"Takut gak pasti Bu. Jadi gak mau cerita." Jawab Anin dengan tersenyum tipis.


"Iya nek, jangan kan nenek, aku saja baru tahu semalam." Terang Zahra. Merengut menatap sang ibu. Ia kecewa sedikit pada ibunya itu.


"Iya gak apa-apa. Nenek bahagia sekali. Sangat bersyukur, apa yang nenek doakan di tanah suci semuanya terkabul." Ujar sang Nenek dengan mata yang berkabut. Setiap sholat nya ia selalu mendoakan kebahagiaan Zahra dan Anin. Karena hanya itu harta yang dimilikinya.

__ADS_1


"Iya Nek, jangan menangis dong " Zahra memeluk Nek Ifah, begitu juga dengan Anin. Kini Nek Ifah diapit kedua wanita itu.


Tiba-tiba saja ruangan itu jadi penuh rasa.


"Iya gak apa-apa. Nenek gak akan nangis koq." Pelukan kedua wanita itu pun terurai.


Nek Ifah melap air matanya dengan tisu yang diraihnya di hadapannya. Merasa sedikit tenang. Nek Ifah menatap ke arah Ezra, yang kini tengah menatap Zahra.


Nek Ifah tersenyum penuh maksud. Ia kembali merogoh kantong Doraemon yang ada di balik tubuhnya. Berdiri dengan memegangi lututnya, Maklum lah sudah tua. Kalau sudah kelamaan duduk, berdiri jadi susah. Nek Ifah menghampiri Ezra yang ada di hadapannya sekitar enam meter.


"Ini untukmu..!" Menyodorkan sebuah bungkusan berukuran panjang 10 cm dengan lebar 3 cm berbahan kertas.


Dengan tersenyum manis, Ezra meraihnya. Ia belum memperlihatkan kotak apa yang diberikan sang nenek.


Saat ia memperhatikan dan membaca tulisan yang ada di kotak itu. Ezra jadi tertawa kecil


Ia menggeleng tak percaya menatap sang nenek.


Hajar Jahanam


Itulah tulisan yang ada di kotak itu.


Ezra tahu betul apa Hajar Jahanam ini. Karena ia sering mengkonsumsinya.


"Itu spesial untukmu Ezra. Nenek tak mau, Zahra tak bahagia. Kamu kan sudah tua. Si Zahra masih belia." Cerocos Nek Ifah. Nek Ifah, seperti nya lupa, bahwa ia baru pulang berhaji.


Ucapan ambigunya Nek Ifah, membuat orang yang mendengar nya jadi bingung. Gak mungkin kan Nek Ifah membahas ranjangnya Zahra dan Ezra di ruangan itu.


"Iya Nek, iya... Terima kasih Nek. Kalau soal itu jangan ragukan aku nek." Ezra malu pada Nek Ifah. Ia pun akhirnya memilih pergi dari tempat itu. Sebelum ole ole pemberian Nek Ifah dibahas.


"Astaga...!"


Ezra berdecak tak percaya segitu perhatian nya Nek Ifah pada Zahra. Sampai Nek Ifah memikirkan kepuasan biologis cucunya itu.


TBC

__ADS_1


Like, coment vote hadiah say😜


__ADS_2