AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Gen


__ADS_3

Pagi-pagi sekali setelah sarapan. Ezra pamit ke Zahra untuk bekerja. Ia meminta sang istri dan Anin, tetap di rumah itu menemanin Rara. Zahra yang kini sudah punya status jadi ibu sambungnya Rara terpaksa nurut apa kata suami. Walau hati mendumel.


Ezra tidak langsung pergi ke kantor nya. Ia terlebih dahulu ingin mencari keberadaan Bimo di rumahnya. Karena sejak bangun tidur. Ezra sudah lima kali menghubungi asistennya itu dan tak pernah diangkat.


"Tuan Bimo gak ada di rumah Pak." Jawab penjaga rumahnya Bimo, pada Ezra yang kini sedang berada di pekarangan rumahnya Bimo.


"Apa dia tidur di sini?" tanya Ezra lagi memastikan keberadaan Bimo.


"Gak pak, sudah dua hari bos Bimo gak pulang. Samaku sih katanya nginap di rumah sakit." Jawab pak penjaga rumahnya Bimo.


"Ok, ok. Terimakasih." Ezra kembali masuk ke dalam mobilnya. Perasaan nya sudah mulai tak enak. Apakah Bimo akan membuat ulah dengan melarikan diri?


Tapi, itu tak mungkin. Rara tak seburuk itu untuk ditinggalkan nya. Ezra yakin, Bimo itu sayang pada Rara.


"Pak kita ke perkebunan nya Bimo." Ujar Ezra pada sang supir.


"Baik bos." Jawab sang supir ramah.


Bimo punya perkebunan sayur dan buah-buahan di Berastagi. Perkebunannya di tempat itu hanya seluas 20 ha. Di waktu weekend Bimo pasti ke perkebunan itu. Di sana ia menanam beraneka macam sayuran mulai dari brokoli, bunga kol, kentang, wortel, berbagai jenis jeruk, strawberry dan masih banyak jenis tanaman lainnya.


Bimo itu pekerja keras. Waktunya satu jam pun tak akan sia-sia. Tak ada istilah buatnya untuk malas-malasan. Bahkan otot tubuhnya yang berotot kokoh itu terbentuk dari kerja keras. Yaitu berkebun, baik mencangkul dan lain sebagainya. Setiap tindakan buatnya harus mendatangkan manfaat dan hasil.


Ia tak akan membuang waktunya bakar lemak dengan hanya main gym. Ia tak akan pernah memijakkan kakinya ke pusat kebugaran. Kecuali ia ingin bersantai mencari hiburan. Maka ia akan mendaki gunung.


Dari kota Medan dibutuhkan hampir dua jam untuk sampai di perkebunannya Bimo. Saat memasuki areal perkebunan itu, tentu saja mata dimanjakan dengan indahnya berbagai jenis tanaman yang tertata dengan rapi dan bersih.


Ezra turun dari dalam mobilnya dengan menghela napas panjang. Menghirup udara yang masih segar itu, ya karena saat ini masih pukul 09.20 wib.

__ADS_1


Dari kejauhan Ezra sudah melihat penampakan Bimo.


"Dasar anak itu!" Ezra bermonolog, ia sangat kagum dengan kepribadian Bimo. Sesuntuk-suntuknya pria itu, sesetres-setresnya ia. Bimo tak akan melakukan hal yang merugikan dirinya. Bahkan ia akan melakukan kegiatan yang disukainya, yaitu berkebun.


"BIMO....!" teriak Ezra dengan melambaikan kedua tangannya.


Bimo yang sedang menyemprot hama, akhirnya menoleh ke asal suara. Bukannya menghampiri Ezra. Ia malah membuang mukanya.


"Astaga.... Dia benar-benar marah!" Terpaksa Ezra yang menghampiri pria yang lagi bete itu. Saat ini Ezra sedang melintasi belengan strawberry. Tentu saja, sembari berjalan menghampiri Bimo. Mulutnya Ezra sibuk menguyah strawberry yang sangat seger dan manis itu.


Melihat Ezra menghampirinya. Bimo mempercepat langkahnya. Ia sedang malas berdebat.


"Hei Bim... Kamu gak boleh seperti ini?" Ezra mempercepat langkahnya. Sepatu pentofel yang digunakan nya cukup membuatnya kesusahan berjalan. Mana di sol sepatunya lengket tanah. Itu yang membuatnya sulit melangkah.


"Bim.... Tunggu dong.!" Ezra memilih melepas sepatunya, melempar sepatu itu ke sembarang tempat, maklum orang kaya, ia pun berlari mengejar Bimo.


Bimo menurunkan tabung semprot nya. Ia melepas topinya. Dan mendudukkan bokongnya di pondok yang ada di tengah ladang itu.


Ezra tadinya beranggapan Bimo mau melarikan diri. Eehh... Gak tahunya mau berteduh di pondok.


Bimo melap keringatnya dengan handuk leher miliknya. Ia juga meneguk air mineral yang ada di pondok itu.


"Pekerja mu semakin banyak juga ya Bim?" permulaan percakapan yang mantap menurut Ezra. Tapi, tidak untuk Bimo. Saat ini semuanya salah menurut nya.


"Jangan menghina, karyawan ku tak ada bandingannya dengan mu Bos." Jawab Bimo datar. Dengan melempar pandangan ke perkebunan nya yang luas.


"Semuanya butuh proses Bim." Sahut Ezra dengan tersenyum tipis. Meminta botol air mineral yang ada di tangan Bimo. Ia haus juga.

__ADS_1


Ya Ezra bukan tipe orang pembersih, yang anti minum sebotol dengan orang lain. Yang terpenting ia kenal bagaimana orang itu.


"Melihat sikapmu seperti ini. Aku sadar, keputusan yang ku ambil adalah salah." Ujar Ezra mengakui dirinya salah telah menikah kan Rara dengannya. "Tadinya aku beranggapan ini hal baik untuk Rara dan kamu. Ya mungkin seperti itulah jalannya kamu mendapatkan jodohmu."


Bimo yang masih belum siap membicarakan semuanya. Beranjak dari duduknya. Dengan cepat Ezra menahan tangannya Bimo.


"Bim, kita bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini, kasihan Rara "


"Aku yang lebih harus dikasihi pak Ezra yang terhormat." Sahut Bimo cepat. Memegang dadanya yang bergemuruh. "Aku sangat berharap anda bisa menggagalkan pernikahan itu dengan kekuasaan anda. Tapi, anda malah jadi dalangnya." Bimo menguncupkan jari-jarinya dan menjulurkan nya kepada Ezra dengan kesalnya.


"Rara, Rara itu bukan tipe pendamping saya pak Ezra yang terhormat. Saya ingin menikah sekali seumur hidup. Saya ingin bahagia dengan istri saya kelak. Menikahi wanita yang jelas asal-usulnya. Yang punya akhlak yang baik."


" Menikahi Rara, akan membuat hidup saya nantinya seperti di neraka. Ia putrinya Rani, yang ayahnya tidak diketahui di mana batang hidung nya. Ibunya saja gak tahu siapa ayah anaknya itu. Haruskah aku punya isteri seperti itu?" Bimo yang kesal, menolak kuat bahunya Ezra.


Ezra yang tadinya berdiri di sisi pondok. Kini terduduk, karena dorongan dari Bimo. Raut wajahnya terlihat penuh rasa bersalah.


"Aku tak mau punya nasib seperti anda. Yang istrinya main serong dengan banyak pria. Rara itu anaknya Rani. Ada darah kotornya mengalir di anak itu. Gen nya ada di anak itu. Sifat dan karakter nya diwariskan ke anak itu. Aku tak ingin punya istri yang nantinya hobbynya selingkuh. SALOME!"


Wajah Bimo yang putih memerah sudah saat ini. Sungguh ia tak bisa menahan emosinya lagi. Impiannya untuk membina biduk rumah tangga dengan wanita baik-baik dan kalau bisa satu suku, pupus sudah. Ia dijodohkan dengan anak labil, keturunan dari wanita hiper dan tak bermoral. Tentu anaknya akan seperti induknya. Itulah yang dipikirkan Bimo saat ini.


"Kamu berfikir terlalu pendek Bim. Belum tentu Rara akan seperti ibunya "


Bimo yang tadi membuang pandangannya dari Ezra kini menatap tajam pria itu.


"Belum tentu anda bilang. Siapa yang menjebak Zahra di hotel? kekakuan apa itu? siapa yang mengkonsumsi nar Koba? siapa yang suka mab uk - ma.b ukan. Pak Ezra yang terhormat. Aku sudah berumur. Aku tak ada waktu lagi mengurus masalah yang akan ditimbulkannya nanti. Aku ingin punya istri, yang satu visi misi denganku. Aku tak mau mengurus bocah lagi. Cukup sudah empat hari hidupku setres karena mengurus nya."


TBC

__ADS_1


Dukung dong.


__ADS_2