
Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja
Kondisi cuaca pagi hari tepatnya sekitar pukul 07.30 WIB di sebuah gubuk areal persawahan berbeda dari hari biasanya, bahkan telah muncul pelangi indah penuh warna di atas gubuk itu. Mudah – mudahan ini pertanda baik untuk insan yang ada di dalamnya. Yang masih tidur pulas. Siapa lagi mereka kalau bukan pasangan suami istri Ezra dan Zahra. Mereka telah melewati malam pertama yang penuh dengan drama dan perjuangan extra keras. Dan akhirnya penyatuan keduanya pun berhasil dan berakhir dengan indah.
Pasangan suami istri itu sangat kelelahan, setelah mengalami musibah. Tenaga mereka terkuras habis lagi menyalurkan hasrat yang membuncah. Mereka tak tahu, pukul berapa mereka tidur. Karena tak ada jam untuk dilihat. Mereka juga lupa waktu, karena sedang berjuang menggapai nikmatnya surga dunia.
Ezra terbangun karena panggilan alam. Dia sesak pipis. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gubuk itu membuat Ezra merasa silau. Perlahan matanya terbuka. Silau itu menciptakan beberapa kerutan di keningnya. Ezra mengucek-ucek matanya yang silau itu. Agar penglihatannya terang.
Pria itu menoleh ke sebelahnya. Menatap lembut wajah sang istri yang masih tidur pulas dalam dekapannya. Pagi ini Zahra terlihat begitu cantik di matanya. Ezra merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah sang istri. Membelai wajah yang istri yang halus. Saat itu juga dia merasa ada yang tak beres dengan istri nya itu.
Suhu tubuh sang istri terasa panas. "Sayang... Sayang bangun!" Ezra terlihat panik dan sangat khawatir. Jangan sempat istrinya itu beneran sakit. Sangat masuk akal, jika sang istri sakit. Karena, semalam mereka kehujanan. Dan istrinya itu sedang terluka. Dan puncaknya mereka masih melakukan malam pertama.
"Wa, sayang...!" mengecup setiap inchi wajah sang istri. Berharap istrinya itu bangun. Mereka harus pergi cepat dari tempat itu.
"Sayang.... Bangun..!" Membelai lembut wajah Zahra dan mengecupnya penuh dengan sayang.
BRuuggkkk...
Pintu gubuk itu di dobrak. Seorang pria kekar tengah berdiri di ambang pintu gubuk. Diperkirakan pria yang ada di ambang gubuk itu usianya sama dengan Ezra.
Ezra begitu terkejut, ia langsung memeluk erat Zahra yang terbangun kaget, karena suara gaduh dari pintu gubuk yang di dobrak. Zahra menyembunyikan wajahnya takutnya di dada Ezra yang bidang. Saat ini penampakan keduanya jauh dari kata sopan. Ezra dan Zahra berada dalam satu sarung yang sama. Tentu saja hanya sarung itu yang jadi penutup tubuh keduanya.
"Keluar....! pasangan mesum..!" teriak pria pemilik gubuk. Pria itu meludah, merasa jijik dengan kelakuan pasangan di hadapannya. Melakukan mantap-mantap di gubuknya. "Tak punya modal." Fiuuhh... Pria itu semakin muak melihat penampakan Zahra, yang leher dan tulang selangka nya penuh dengan kismark.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan!" umpat pria itu menatap tajam Zahra. Pria itu merasa kesal pada Zahra. Sebagai anak belia, mau diperdaya laki-laki hidung belang. Kira-kira seperti itulah pikiran yang menggerebek Zahra dan Ezra.
"Tutup mulutmu!" tatapan Ezra begitu tajam pada pria pemilik gubuk. Dia menjulurkan tangannya, meraih pakaiannya yang masih basah tak jauh dari tempatnya saat ini. Dia pun dengan cepat memakainya.
"Kamu yang harus tutup mulut. Berbuat mesum di tempat tak wajar. Gak punya modal sewa hotel?" ketus pemilik gubuk.
Tubuh Zahra bergetar hebat, dia sangat ketakutan. Ditambah dia sedang sakit.
"Keluar kalian dari gubuk ku?" teriak pria itu kesal. Dia kesal, gubuknya dibuat tempat maksiat.
Seketika tempat itu jadi ramai. Karena orang-orang yang ke sawah, melewati pematang sawah di dekat gubuk itu.
Ezra membantu Zahra mengikatkan sarung itu ke tubuh lemah sang istri.
"Itu sarung milik istriku, lepaskan itu!" Zahra yang ketakutan dan malu, akhirnya menitikkan air mata. Dia merasa sangat dipermalukan.
Ezra tak mungkin melepas sarung itu dari tubuh sang istri. Zahra demam, dan baju seragam sekolah nya masih basah. Tak mungkin dia meminta sang istri memakai baju yang basah.
"Ciuman-ciuman lagi, jijik!" para petani yang lain pun kepo melihat ke dalam gubuk. Zahra yang malu, tetap memaksa memakai baju yang basah, karena dia tak mau tubuhnya dilihatin orang.
"Kami ini suami istri, pasangan sah." Ucap Ezra tegas, masih berada di dalam gubuk.
"Keluar.... atau kami akan seret kalian, dan di bawah ke kantor polisi" pemilik gubuk, dan orang-orang berkerumun yang hendak ke sawah tak percaya dengan ucapan Ezra.
__ADS_1
Ezra menuntun sang istri untuk keluar dari gubuk itu. Zahra yang ketakutan, bersembunyi di balik tubuh kekar sang suami. Entah kenapa Zahra merasa sangat lemah. Biasanya dia selalu garang dan kuat membela diri, disaat orang mendzoliminya. Mungkin karena jadi lemah, karena wanita itu gak tahan dengan sakit di sekujur tubuhnya. Apalagi di bagian intinya. Sangat perih, apabila dia berjalan. Begitu juga dengan pahanya yang luka
"Wwwooooo..... Gak punya modal. Mau enak-enak di gubuk."
"Kami ini pasangan sah, kami terjebak di tempat ini." Jelas Ezra lagi. Kini mereka sudah di kepung para petani.
Bisik-bisik terdengar menyanyat hati. Para petani mencibir mereka, karena menganggap berbuat senonoh di tempat yang tak layak.
"Ayo pak, kita bawa saja pasangan mesum ini ke pihak berwajib. Biar dibina, kalau gak bisa dibina. Ya dibinasakan." Tegas pemilik gubuk pada petani yang berkerumun.
Zahra sangat malu dan sangat takut. Ia juga merasa bersalah, wajar para petani yang melintas hendak ke sawah mencibir mereka. Tak seharusnya mereka lakukan hubungan intim di tempat itu. Ingin rasanya Zahra memasukkan dirinya ke lubang tikus yang ada di batangan sawah itu, karena saking malunya.
"Kami ini pasangan resmi. Kami terjebak di tempat ini." Tatapan mata berkarisma Zahra, membuat sebagian warga terpengaruh. Tapi, mereka kurang percaya, koq waniynya masih memakai baju seragam sekolah. Itu yang membuat yang lainnya kembali bertanya - tanya dalam hati.
Cepret....
Satu bidikan foto berhasil di ambil petani berjenis kelamin pria. Sontak Ezra menatap ke arah bapak itu. Meraih cepat kamera itu dan melemparkannya ke sebuah batu besar yang ada di depan gubuk itu.
Pyarr..
Ponsel pipih itu pun hancur berkeping-keping. Sepertinya Ezra terlalu kuat membantingnya.
"Ponsel ku!" Sibapak geram, sabit yang ada di tangan nya melayang hendak membacok Ezra
__ADS_1
Dia tidak terima ponselnya rusak.
TBC