
"Aku sudah siapkan satu unit rumah mewah, mobil, modal usaha 2 miliyar rupiah, tanah seluas 10 hektar yang ditanami kopi di kampung, serta berumroh ke tanah suci. Itu semua yang akan adek Anin miliki jika pengadilan membatalkan pernikahanmu dengan Pak Ezra." Ujar Bimo tegas.
"Apa?' tanya Anin tak percaya. Mata indahnya melotot sempurna dengan mulut menganganya. Dia terkejut bukan main, kenapa begitu banyak Mut'ah yang diberikan padanya.
Dia belum digauli, bahkan suaminya itu tak diwajibkan membayar mahar. Tapi, memang untuk pria yang punya hati, tetap harus memberi uang penghibur (mut'ah ) kepada istri yang dicerai sebelum digauli. Ditalak atau proses pembatalan pernikahan, sama saja menyebabkan terjadi perpisahan.
"Iya dek, kamu pantas mendapatkan itu." Ujar Bimo, meyakinkan Anin yang sedang tercengang itu. "Rasa sakit yang kamu rasakan belum sebanding dengan yang diberikan itu. Tapi, sebegitu lah dulu kemampuan Bos memberikan mut ah." Jelas Bimo lagi.
Anin menggeleng penuh tak percaya. Dia tak mau dikatakan matre dengan banyaknya mut' ah yang diberikan padanya.
"Adek pantas mendapatkan itu!" Jelas Bimo lagi. Sebenarnya itu semua Bimo yang mengatur. Bahkan Ezra gak tahu menahu tentang itu. Bimo sengaja melakukan itu, memberi pelajaran pada sang bos, yang kurang jeli bertindak saat menikahi Zahra. Yang mengakibatkan Ibu dan anak berselisih paham. Syukur kedua wanita itu punya hati yang baik, hingga keduanya memilih mengalah. Coba kalau Anin dan Zahra punya sikap yang buruk, pasti hancurlah bos nya itu.
Bimo kasihan pada Anin. Karena, mentalak istri sebelum digauli merupakan penghinaan terhadap kehormatan istri, karena orang akan menduga bahwa kalau tidak ada ‘sesuatu’ tentu tidak mungkin suaminya menceraikannya. Dengan adanya mutah (pemberian) yang diberikan Ezra kepada Anin, diharapkan akan menghilangkan dugaan itu.
Pemberian ini sebagai bukti bahwa perempuan itu bersih dari sangkaan sebelumnya, sedangkan pembatalan terpaksa terjadi karena udzur yang bukan datang dari dirinya. Dengan demikian martabat istri tidak jatuh di tengah masyarakat.
Anin terdiam, dengan mata yang berkabut. Saat ini dia hanya berharap, semoga putrinya itu bahagia bersama mantan suaminya.
"Kalau Adek pulang dari rumah sakit besok, dan tak mau ikut ke rumah. Tentu Zahra akan merasa sedih. Sebaiknya untuk saat ini, Adek Anin, tinggal dulu di rumah bersama Zahra." Ujar Bimo, member. pandangan atas kekhawatiran Anin.
Anin menoleh kepada Bimo dengan kepala menggeleng. Kalau benar dia sudah ada rumah. Akan lebih baik dia tinggal di rumahnya saja. Karena, apabila dia tinggal bersama Zahra dan Ezra. Bisa membuat jantung nya bermasalah. Karena tidak mendapatkan kenyamanan di rumah itu. Tentu rasanya sangat canggung, tinggal serumah dengan mantan suami. Mana mantan suaminya itu sudah jadi menantunya.
"Gak Bimo, itu tak baik untukku dan Zahra. Kalau benar, aku dapat rumah, aku besok mau pulang langsung ke rumah. Kalau bisa, sebelum Zahra dan Ezra datang. Aku harus keluar dari rumah sakit ini.
__ADS_1
"Eeemm... iya kita lihat besok saja ya! sekarang kita tidur, kamu jangan menangis lagi." Ujar Bimo lembut dengan senyum manisnya. Merapikan selimut Anin yang sudah rapi menutupi tubuhnya hingga dada.
"Terima kasih ya Bimo, kamu baik banget padaku. Aku jadi merasa punya saudara laki-laki saat ini."
"Apa....? gak, gak, aku gak mau dianggap oleh kalian saudara laki-laki lagi. Zahra juga pernah menganggap gitu dan kali ini, aku gak mau kamu menganggapku sebagai saudara laki-laki mu. Aku ingin nya jadi lakikmu!'
Haahhhh...
Anin tersenyum tipis, dia merasa lucu dengan Bimo yang tak mau dianggap saudara laki-lakinya. Apalagi kalimat terakhir Bimo yang membuatnya ingin menertawakan pria itu dengan lepasnya.
"Eehhh... Maaf tadi salah ucap!" Bimo ngacir ke tempat nya semula. Langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa, melipat tangan di atas dada dan menutup matanya. Rasanya memalukan sekali, bisa-bisanya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Dasar ini mulut, gak ada sabarannya.Gumam Bimo dalam hati, memukul pelan mulutnya sendiri.
***
Pagi-pagi sekali Zahra sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan sholat subuh belum dapat. Dia sudah bangun. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang ibu, meminta maaf pada ibunya itu.
"Sayang, kenapa sudah bangun!" Ezra yang merasakan tangannya dipindahkan dari atas tubuh sang istri, akhirnya ikut terbangun, mulutnya mengoceh dengan mata masih tertutup.
"Kita harus siap-siap By, kan Hubby janji semalam, kita berangkatnya setelah sholat shubuh." Ujar Zahra, menahan tubuhnya agar tidak ambruk lagi dalam rengkuhan suaminya itu. Saat ini, Ezra menarik-narik tangan dan pinggang nya Zahra agar tidur kembali.
"Iya sayang, tapi masih kantuk ni. Masih pukul empat. Kita juga baru tidur tiga jam " Ujar Ezra dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Makanya kita jangan gituan lagi, biar gak kecapekan dan kurang tidur. Ini gak ada bosan-bosannya. Gak cukup sekali main." Ujar Zahra sok dewasa. Dia sih mulutnya bilang enggak. Tiba tangan Ezra bergerilya. Dianya yang paling menikmati.
"Eemmm.... Namanya juga baru-baru sayang, nanti juga gak gini, atau mungkin makin parah. Intinya, hidup itu gak usah dibuat ribet. Kalau hari ini kita pingin seperti ini dan bisa dilakukan, ya dinikmati saja. Mungkin nanti ada masanya gak seperti ini." Ujar Ezra masih dengan mata setengah terbuka. Menarik kuat pinggang sang istri. Hingga Zahra ambruk lagi di ranjang. Tentu saja, dia langsung mengunci tubuh istrinya itu dengan kakinya.
"Iihhh.... berat," Zahra menjauhkan kaki Ezra dari atas kakinya. Dengan menggerakkan kuat kakinya itu.
"Eehhmm... baiklah, kaki adek aja yang di atas." Ujar Ezra, mengendus-endus tengkuknya Zahra.
"Gak mau, lagi pingin bebas. Ngap, ngap tahu didekap Mulu. Ini ni tanganku jadi kebas, aliran darahnya jadi gak lancar." Keluh Zahra, ya dia merasa tidak nyaman saat ini di dekap terus sama suaminya itu. Mana dia belum terbiasa seranjang dengan pak tua.
Ezra sungguh terkejut mendengar ucapan Zahra. Dia membuka matanya yang terasa berat tadi. Dan seketika rasa kantuknya itu hilang, mendengar ucapan istrinya itu. Dia merasa sedih mendengar perkataan Zahra, yang mengatakan ngap, atau pengap saat dipeluknya. Ezra akhirnya melepas belitan tangannya di tubuh mungil sang istri. Tentu saja ekspresi wajah sedihnya sangat terlihat jelas. Yang membuat Zahra tersadar bahwa dia salah bicara.
Iya jujur, saat ini. Zahra merasa tidak nyaman kalau dipeluk berlama-lama. Dia merasa sesak napas gitu.
"Dipeluk gak boleh, diajak main banyak cincongnya. Kamu ya, selalu bisa buat aku meledak-ledak. Baru kamu Wawa, yang menolak untuk aku peluk!" Ezra yang geram, malah menangkap pinggang sang istri. " Rasakan ini, rasakan ini..!" pria itu menggelitik pinggang rampingnya Zahra. Yang membuat wanita itu yang tadinya sudah terduduk kini ambruk lagi di ranjang.
"Stop, stop.....!" teriak Zahra, dia tak tahan lagi, digelitik oleh Ezra. Dia sudah kelelahan yang tertawa itu. Mana dia ingin pipis lagi.
"Sudah, sudah....!" teriaknya penuh kekesalan. Melihat kemarahan yang ditampilkan Zahra, membuat Ezra takut, dan menghentikan perbuatannya itu.
"Aku gak tahan lagi, gak bisa napas aku..!" ujar Zahra dengan ngos ngosan. Mau buat orang mati mendadak?" ketusnya lagi. Memang benar, Zahra tak tahan digelitikin.
TBC
__ADS_1
Like, coment, vote dan hadiahnya ditunggu say 🤭❤️😜