AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Arus


__ADS_3

"Halwa....!"


Aaaaaawwwww.....


Duar.... Duar....


Suara petir yang saling bersahutan membuat suasana semakin mencekam. Sepertinya akan terjadi hujan badai. Karena langit sudah gelap, ditutup oleh awan hitam yang pekat.


Zahra yang dilemparkan ke jurang, berteriak sekuat-kuatnya. Tangannya berusaha meraih apapun yang bisa dijangkaunya. Tangan, Paha mulusnya serta kakinya sudah lecet, kena gesekan semak-semak dan tumbuhan liar. Dia tak merasakan itu semua lagi. Karena nyawa sedang terancam. Di sinilah manfaat dari ilmu bela diri, yang sempat dipelajarinya. Dia langsung bisa menguasai keadaan, walau dia lemas dan nyawanya sedang terancam. Matanya penuh waspada memperhatikan sekitar.


Para penjahat amatiran itu ngacir, lari tunggang-langgang, menjauh dari lokasi kejadian dan meninggalkan mobil mereka yang sudah mogok. Disaat Ezra ingin mematikan empat orang penjahat itu.


"Tolong...!"


Ezra dengan cepat menuruni jurang dengan khawatirnya, berusaha menyelamatkan Zahra yang berpegangan ke semak-semak yang tinggi dan panjang. Harusnya Zahra bisa mendaki jurang itu. Karena dia jago bela diri. Dia juga jago dalam panjat tebing. Tapi, kali ini dia tak punya tenaga sama sekali. Ototnya terasa lemas, dan tulangnya juga terasa layu. Mungkin efek bius. Ditambah tanah sudah licin, basah karena guyuran hujan yang sangat deras.


"Wa, ayo!" Ezra yang berpegangan kuat pada akar pohon yang mencuat keluar dari kemiringan tanah. Mengulurkan tangan ke istrinya yang terlihat tak berdaya itu. Bahkan tangan yang berpegang ke semak-semak akan terlepas. Keduanya juga sudah basah kuyup. Air dari atas mengalir deras membuat longsoran kecil di jurang itu.


"Wa... Halwa...!" Ezra semakin menurunkan tubuhnya. Satu tangannya sudah berpegangan di ujung akar pohon yang mencuat itu. Dan satu tangannya lagi berusaha meraih tangan Zahra. Karena sedang hujan, Ezra tidak bisa kuat mencengkram akar pohon, karena licin. Ditambah, akar yang dipegang Ezra kurang panjang, makanya dirinya tidak bisa menjangkau Zahra.


"Kamu tenang ya Wa, tenang ya sayang! kamu pasti akan baik-baik saja." Ezra pun mengubah posisinya, meminta Zahra berpegang ke kakinya. Karena hanya itu lah salah satu cara agar dia bisa meraih istrinya itu.


Zahra pun akhirnya meraih kakinya Ezra. Seketika rasa legah menderah di hati pria itu. Mereka akan selamat.


"Pak.. Pak...!" Ternyata kenyataan tak sesuai ekspektasi. Zahra tak bisa memegang kuat kakinya Ezra yang dibalut oleh celana kerjanya. Karena tubuh Ezra basah kuyup.


"Pak...!" Tangan Zahra terlepas dari kakinya Ezra. Mau tak mau pria itu pun harus menjatuhkan tubuhnya. Meraih tujuh sang istri.


Aaaaauuuuw....

__ADS_1


Aaauuuwwww...


Keduanya pun berguling. Tubuh bergesekan ke semak-semak dan tumbuhan liar lainnya. Seperti pohon gelagah yang tumbuh di tepi sungai.


Byur.....


Byur....


Pasangan suami istri amblas ke dasar sungai yang tenang dan cukup dalam. Ezra dengan cepat meraih tubuh sang istri, yang terlihat tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Zahra seperti tak bisa berenang. Tapi, apa mungkin anal desa gak pandai berenang.


"Halwa....!" Ezra panik, ternyata debit air sungai itu sedang naik. Sepertinya sungai sedang meluap. Terbukti, kayu-kayu dan sampah oragnik dari banyak yang hanyut.


Ezra sangat panik, dia tak mungkin membawa Zahra ke tebing tempat mereka jatuh. Karena tempat yang landai tak ada di sebelah itu. Ezra akhirnya membopong Zahra yang lemas, menyeberangi sungai itu. Karena di seberang sungai itu, adalah persawahan dan kebun sayur.


Tepat, Ezra berada di tempat yang aman. Sungai itu pun meluap dengan arus yang deras, warna air yang coklat ke Kuningan.


Ezra melepas jasnya, melempar jas itu ke sembarang tempat. Jasnya itu membuatnya sedikit susah bergerak. Kini mereka sudah berada di tempat yang aman.


"Halwa.,. Wa., Sayang... Istriku..!" Ezra begitu panik dan sangat mengkhawatirkan sang istri. Menggoncang tubuh sang istri yang terlihat lemas, dalam rengkuhannya.


"Halwa..!" merangkum wajah sang istri yang pucat dan terdapat goresan di dahi dan pipi sang istri.


"Ya pak tua. Aku masih hidup." Zahra cengir, tapi sebenarnya dia sedang menangis. Tapi, air mata itu sudah bercampur dengan air hujan yang deras.


"Syukur lah." Ezra merasa legah, dia menghujani ciuman di wajah sang istri yang pucat itu. Zahra ingin protes atas tingkah mesum sang suami. Tapi, dia akhirnya memilih diam. Tak ada gunanya protes. Karena sekarang mereka sedang berada di tempat yang tak aman. Tak bagus berdebat. Bisa-bisa mereka kerasukan.


"Kita harus pergi dari sini. Kamu bisa sakit nanti." Zahra masih dalam pelukan sang suami. Berteduh di bawah pohon bambu. Dan tak jauh dari tempat mereka sekarang. Dibawah kaki mereka, air sungai yang meluap dengan arus yang deras, terlihat begitu menakutkan.


"Kita mau ke mana pak? gak ada jembatan di sini. Bagaimana kita akan sampai ke jalan besar." Ucap Zahra lirih, memperhatikan sekeliling yang seperti tak ada jalan keluar ke jalan besar. Tempat mobil mereka parkir.

__ADS_1


"Ini persawahan warga, tentu ada pemukiman tak jauh dari tempat ini." Ezra menilik keadaan sekitar. Berusaha mencari jalan keluar dari tempat itu.


"Ayo naik ke punggungku!" Ezra menunduk, Zahra meringis kesakitan. Dia baru merasakan dan mengetahui bahwa pahanya terdapat banyak goresan yang dalam. Bahkan pahanya itu sudah bengkak.


"Ya tetap gak bisa juga aku gendong kamu seperti ini. Pahamu banyak yang lecet." Ezra memperhatikan paha mulus dan putihnya Zahra. Syukur wanita itu pakai shot. Sempat tidak, bakwan dibalik CD, pasti membayang karena mereka basah kuyup.


"Iihh.. jangan kesempatan dong!" Zahra menoyor kuat kepala Ezra, sehingga kepala Ezra terhuyung ke belakang. Wajah masam langsung tercipta di waktu sang suami. Seumur-umut baru kali ini, kepalanya kena toyor.


"Otakmu kotor ya Wa. Sedikit pun Abang gak mikir ke arah situ. Suamimu ini hanya memeriksa lukamu. Aneh saja, sudah pakai dalaman sampai lutut, koq masih luka kena gores juga. Mana goresannya dalam lagi." Ezra melap darahnya Zahra yang mengucur dari luka sang istri dengan tangannya. Sikap tak sopan sang istri tak diambil hati oleh Ezra. Dia tahu, istrinya itu pasti tak sengaja melakukannya.


Hiks... his....


Zahra meringis kesakitan. Rasa sakit dan perih bergabung jadi satu.


"Apa kena kayu yang runcing? atau duri dari pohon?" memeriksa luka Zahra dengan sedihnya. Pria itu tak tega melihat sang istri terluka.


"Mana kutahu, dia kena gores apa pak." Zahra pun akhirnya mencoba untuk bangkit. EzRa dengan cepat membantunya.


Keduanya pun kini berdiri dan menyoroti semua tempat.


"Disitu sepertinya kampung pak!" Kedua maniknya Ezra mengikuti arah tangannya Zahra.


"Ooohh iya, ayo naik ke sini!" Ezra kembali menunduk, menepuk bahunya pelan. "kita coba dulu gendong belakang. Kalau kamu merasa sakit, bilang ya!"


Zahra mengangguk lemah. Dia harus nurut pada pria itu. Mereka sedang berada di tempat yang tak aman.


Dengan ragu dan canggungnya. Zahra pun mendaratkan tubuhnya di punggung sang suami yang bidang. Rasanya begitu mendebarkan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2