
"Gak usah mak, siapa tahu bapak lagi sibuk. Kapan-kapan kan bisa ketemu Mak." Ujar Zahra menolak halus tawaran sang ibu, ingin menjumpakannya dengan ayah tirinya, yang juga suaminya itu. Dia lagi kesal pada pria itu. Bisa-bisa Zahra gak bisa mengendalikan diri, kalau mereka bertiga berkumpul. Tahulah Zahra tipe wanita yang tak bisa berpura-pura.
Anin nampak menimbang-nimbang ucapan putrinya itu. Benar juga, siapa tahu Ezra lagi sibuk. Dia pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ezra.
"Temanmu ke sini siapa Boru?" tanya Anin, wanita itu baru sadar. Siapa yang antar kan putrinya itu ke rumah sakit ini. Kalau mencari keberadaan putrinya. Anin yakin, itu semua pasti suruhan sang suami pada anak buahnya.
Zahra terkejut mendengar pertanyaan ibunya itu. Kenapa dia gak kepikiran, kalau ibunya itu akan menanyakan ini. Zahra memutar keras otaknya, untuk mencari jawaban yang tepat. Lama dia terdiam, dengan kedua bola mata terus saja bergerak ke kanan dan ke kiri, yang membuat sang ibu, cukup heran dengan sikap putri nya itu. Apalagi Zahra terlihat gugup dan tidak tenang.
"Ra, kamu kenapa?"
"Eeehh... iya mak, aku, aku ke sini sendirian." Zahra panik, wanita itu memainkan tangannya. Mer emas Re-- mas dengan menunduk. "Tadi siang, aku dapat telepon bu. Dia menanyakan semua tentangku dan ibu. Setelah itu dia mengatakan bahwa ibu ada di rumah sakit. Dan Bosnya adalah suami ibu." Zahra mengelus dadanya yang berdebar kencang, karena merasa takut telai berbohong pada sang ibu. Seumur hidup, baru kali ini dia berbohong pada ibunya itu.
Anindya tersenyum penuh kebahagiaan. Seolah wanita itu tidak pesakitan lagi.
"Boru, ayah tirimu sangat baik, kaya lagi nak. Kamu pasti seneng jika nanti kenal dengan bapak mu itu. Orangnya baik nak, umak gak menyangka, bisa menikah dengan beliau." Kedua mata sang ibu terlihat berkaca-kaca. Bagaimana pun, dia merasa terharu karena dinikahi Ezra.
"Iya kak, Zahra bahagia sekali, kalau unak bahagia seperti ini. Mak cepat sembuh ya?!" ujar Zahra membelai wajah pucatnya sang ibu.
"Umak sudah sembuh, apalagi setelah bertemu denganmu sayang!" meraih tangan sang putri yang menguap wajah nya yang basah karena air mata itu. Mencium tangan anaknya itu dengan sayangnya. Layaknya Zahra masih bayi, yang jemari mungilnya sering dikecup ibunya itu. Tentu saja Zahra semakin sedih dan terpukul melihat kasih sayang ibunya yang begitu tulus. Mana mungkin dia tega, tetap bersama Ezra.
Hiks... Hiks... Hiks...
"Umak....!" Zahra pun tak tahan lagi menahan sesak dan sakit di dalam rongga dadanya. Dia kembali memeluk ibunya dengan derai air mata yang mengucur deras. Sampai membasahi baju sang ibu. Anin sempat curiga dengan sikap putrinya yang terlihat tertekan itu. Gak mungkin Zahra sesedih ini, kalau hanya mencurahkan rasa rindu. Putrinya itu seperti menyimpan beban yang teramat berat.
"Iya Boru, kamu ada masalah? cerita sama umak." Ujar Anin, mengusap lembut punggung sang putri dengan tangan kirinya yang tak diinfus.
"Gak Mak, Zahra merasa terharu sekaligus bahagia sekali, bisa berjumpa dengan ibu." Huahuahua.., Zahra masih menangis dalam pelukan ibunya itu.
"Iya Nak, umak juga senang sekali." Mengurai pelukan, dengan sesenggukan. Zahra melap air matanya dengan jemarinya dan wanita itu dengan cepat melap air mata ibunya.
Krekk....
Pintu terbuka, Zahra dan Anin sama-sama menoleh ke arah pintu tersebut, penasaran dengan orang yang masuk. Ternyata yang datang adalah Dokter dan dua perawat.
__ADS_1
Acara temu kangen yang mengharu biru itu pun harus berakhir dengan kedatangan Dokter dan perawat itu.
"Bagaimana perasaan ibu sekarang?" tanya Dokter yang ternyata Dokter Alvian dengan ramahnya. Ya Anin, adalah pasien Alvian di rumah sakit ini sebelumnya.
Zahra yang tadi duduk di sisi bed, akhirnya memundurkan diri ke arah kaki sang ibu.
"Sudah baikan Mas Alvian, besok aku pulang ya!" ujar Anin dengan tersenyum tipis. Ya, kedatangan Zahra buat nya adalah obat muzarab, mood booster.
"Eehhmm... Ya harus diperiksa dulu lah dek." Ujar Alvian membalas senyum manisnya Anin
Zahra dibuat heran dengan keakraban sang ibu dengan Dokter itu. Zahra yang penasaran, memperhatikan lekat sang Dokter. Saat itu juga Alvian merasa diperhatikan, dan akhirnya menoleh ke arah Zahra yang berdiri di sebelah kanannya.
Sontak Alvian tercengang melihat Zahra. "Eehhmmm seperti pernah lihat."
"A--ku, maksud dokter aku?" Zahra menunjuk dirinya sendiri, merasa tak percaya dengan ucapan sang dokter.
"Iya," Dokter tersnyum tipis. Menatap Zahra dan Amin, secara bergantian yang memang mirip.
"Ini putriku Mas."
"Apa ..?" Alvian terkejut, dia yang menilik ke arah Zahra, yakin bahwa gadis yang berhijab di sebelahnya ini, adalah wanita yang bersama Ezra di Berastagi. Karena saat itu, Alvian melihat jelas wajah Zahra saat Ezra menciumnya.
Zahra dibuat bingung dengan sikap terkejut yang ditunjukkan dokter itu. Ia pun menatap sang ibu dengan penuh tanda tanya.
"Pernah ke Berastagi?"
"A--pa, apa..?" Zahra gelagapan, mendengar nama tempat itu disebutkan. Jantung Zahra berdebar kuat dan kencang. Karena mendengar nama tempat itu, membuatnya teringat kepada Ezra. Bahkan dia mencetak anak lebih dari seminggu di tempat itu bersama Ezra.
"Ya pastilah pernah, semua orang pasti pernah ke tempat romantis itu " Ujar Dokter Alvian, menjawab pertanyaannya sendiri dengan ekspresi wajah tanda tanya.
Zahra menunduk, dia jadi curiga pada Dokter yang ada di hadapannya. Apa Dokter ini pernah melihatnya di rumah sakit yang ada di Berastagi.
"Baiklah Anin, jangan lupa makan, terus minum obat. Besok pagi kami sudah boleh pulang. Kalau mau pulang ke rumahku saja. Ok!" Dokter Alvian tertawa, Anin dibuat pucat dan bingung dengan seloroh Dokter tampan itu.
__ADS_1
"Tegang gitu, bercanda. Pak Ezra gak tersaingi lah." Oceh Dokter Alvian, yang membuat Zahra semakin penasaran dengan dokter ini.
"Habis Mas bicaranya ngacok." Ujar Amin, menatap sang putri dengan malu. Jangan sempat putrinya itu berfikiran macem-macem tentang dia dan sang Dokter.
"Bercanda, ya sudah. Mas lanjut visit lagi nih." Ujar Dokter Alvian, menyeret kakinya pergi dari ruangan itu.
Sepeninggalannya sang Dokter. Zahra mulai menyuapi sang ibu. Dia penasaran dengan Dokter itu. Tapi, dia enggan menanyakan pada sang ibu.
"Zahra sayang, ambilkan lagi ponsel umak. Umak mau bilangin sama bapakmu, belikan makan malam untukmu." Ujar Anin, sambil mengunyah makanan yang disiapkan putri nya itu.
"Gak usah repot-repot Mak. Zahra bisa pesan makanan sendiri." Zahra memang sedang tak mau bertemu dengan pak tua. Dia masih ingin memuaskan bercerita dengan sang ibu, tanpa kehadiran suami mereka di tempat itu. Saat ini Zahra juga merasa plong, pak tua menepati ucapannya. Buktinya dari tadi oak tua gak nampak batang hidungnya. Padahal Zahra sudah dua jam ngobrol dengan sang ibu.
"Ra, bapakmu itu baik banget loh sayang. Umak yakin, nanti kamu kalau ketemu bapakmu itu, pasti kamu senang dan suka." Anin bahagia sekali, dari tadi dia memuji suaminya itu terus.
"Iya mak, Zahra senang dengarnya Mak. Moga, umak menemukan kebahagiaan dengan bapak ya Mak." Menyodorkan satu suapan lagi pada sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya sayang, akhirnya penderitaan yang kita alami selama ini akan berakhir." Anin langsung melap air matanya yang jatuh di pipinya dengan jemarinya. Dia tidak menyangka akan dinikahi pria kaya raya. "Kamu juga bahagia kan Boru?" menatap lekat Zahra yang kini menunduk.
Zahra mengangguk pelan, punggung tangannya dengan cepat menyapu air mata yang jatuh itu. Rasanya dadanya sakit sekali saat ini. Kenapa lagi harus teringat pak tua itu.
"Umak, ingin sekali bertemu dengan suamimu sayang." Zahra menghela napas panjang, mulai muak dengan semua ini. Haruskah dia cepat-cepat pergi dari kehidupan sang ibu. Toh dia sudah bertemu dengan ibunya. Mengetahui keadaan ibunya. Berlama-lama bersandiwara bisa membuat nya setres. Zahra tipe wanita yang gak kuat bersandiwara. Dia itu orangnya frontal.
"Iya mak, nanti Zahra kenalkan ya, saat ini suami Zahra lagi kerja di luar kota Mak."
Krekk...
Saat Zahra bicara seperti itu, Ezra sudah ada di ambang pintu. Dia sempat mendengar ucapan istri kecilnya itu.
Ezra menghilang selama dua jam. Pria itu membicarakan hal penting dengan Bimo.
TBC.
Like, content vote ya say.
__ADS_1