
"Papa!" tegur Naga yang berpapasan dengan Papanya saat mau turun tangga. "Papa habis dari kamar Hilda atau baru mau masuk?" tanya Naga lagi.
"Papa baru keluar kamar Hilda, tapi adikmu itu sedang tertidur pulas. Sepertinya dia sebelum tidur habis menangis, karena dia tidur sambil terisak," jawab Pak Hasri dengan wajah murung yang kentara. Naga melihat ada yang aneh dari perubahan wajah Papanya.
"Papa kenapa, kenapa sepertinya melamun?" Naga merasa heran dan khawatir dengan keadaan Papanya yang tiba-tiba murung.
"Papa tidak apa-apa, papa hanya merasa bersalah sama anak gadis Papa. Ternyata dia sudah besar dan mulai berontak. Selalu keras kepala dan kata-katanya kadang tinggi. Sementara kami selama ini selalu mengajarkan kalau bicara itu harus merendahkan volume suara, tidak keras dan tegang. Tapi sekali ditentang dia melawan, kata-katanya naik dua oktaf dari Mama atau Papa bicara," keluh Pak Hasri sembari menunduk.
Baru kali ini Naga melihat Papanya sesedih ini. Papa yang selama ini selalu dia kagumi dan hormati karena semua kebaikan dan kerja kerasnya yang tinggi.
"Pa, ayo, ikut Naga! Kita bicara dari hati ke hati di balkon ruang kerja Papa, sudah lama Naga tidak pernah ke ruang kerja papa melihat-lihat buku di meja kerja Papa." Naga menarik lengan Papanya yang terlihat murung dan sedih. Naga menduga ada yang Papanya temui sehabis dari kamar Hilda. Naga akan berusaha mencari tahu dengan mengorek perlahan-lahan dengan suasana santai.
Sebelum tiba di balkon ruang kerja Papanya, Naga menghubungi Bi Rani untuk membawakan minuman dan makanan kecil sebagai teman minum teh.
Naga dan Pak Hasri berjalan bersamaan sembari ngobrol ngalor ngidul, sehingga tidak terasa tiba di depan ruangan kerja Pak Hasri. Rungan kerja ini lumayan jauh dari pintu kamar Hilda, walaupun masih satu lantai. Maklum rumah orang tajir melintir rumahnya saja hampir setengah hektar tanah luasnya. Jadi, jarak tempuh dari ruangan satu ke ruangan yang lainnya lumayan jauh.
Naga dan Pak Hasri masuk ke sebuah ruangan yang di duga ruangan kerja milik Pak Hasri. Merek langsung menuju balkon yang bawahnya terdapat kolam renang. Mereka duduk di kursi rotan bersebelahan dengan pandangan tertuju ke depan. Namun Naga yang sejak tadi memperhatikan Papanya, masih saja melihat Pak Hasri murung.
"Duduk di sini selalu mengingatkan Naga pada kejadian lucu masa kecil, saat itu Naga, Nagi dan Hilda bermain di dalam kolam renang yang rendah itu, tapi tiba-tiba kami bertiga dikejutkan oleh suara sesuatu kejebur, ternyata ada seseorang yang tidak bisa berenang terpeleset dan langsung terjun bebas masuk kolam renang sembari menenteng empat gelas minuman dingin," sejenak Naga menjeda bicaranya, seulas senyum tersungging di sana, kejadian lucu enam empat belas tahun yang lalu itu kini terkenang lagi. Dan Naga selalu saja tertawa mengingatnya.
Namun kini tidak ada lagi tawa, saat Papanya hanya murung yang terlihat sejak tadi. Naga ingin mengorek hal apa yang tiba-tiba merubah wajah Papanya yang selalu ceria kini terlihat murung?
"Dan Papa tahu siapa yang terpeleset itu? Papa memang yang selalu mengambilkan kami minuman saat kami berenang, Papa membuat kolam renang tapi Papa tidak bisa berenang," lanjutnya mengingatkan Papanya pada kenangan masa lalu bersama Papa tercinta.
"Ha, ha, ha, papa masih ingat, Ga, dan kamu selalu mengingat kejadian lucu itu. Sampai sekarang papa selalu tertawa sendiri jika mengingatnya. Dan akhirnya minuman sirop dingin kita yang empat gelas itu hanyut bersama gelas-gelasnya," Pak Hasri tiba-tiba menimpali diawali tawa yang menggema. Sejenak Naga heran, tapi kemudian menyembunyikan keheranannya sebab Naga tahu Papanya berbicara seperti itu hanya untuk menutupi kegundahan di hati yang kini dirasakannya.
"Rupanya Papa masih ingat, Naga pikir Papa lupa." Naga menanggapi dengan senyum mengembang.
Saat Pak Hasri dan Naga sedang tertawa mengingat kembali masa lalu, Bi Rana datang membawa dua gelas minuman dan camilan yang dipesan oleh Naga tadi.
"Den Naga, Tuan, minumannya di sini," seru Bi Rana memotong sejenak kegembiraan antara pak Hasri dan Naga saat mengenang masa lalu.
"Terimakasih, Bi Rana," ucap Naga. Bi Rana tersenyum seraya bergegas kembali meninggalkan kedua orang beda generasi itu.
Naga menoleh ke samping kanan Papanya, masih belum berubah. Naga tidak mau melihat Papanya terlihat murung atau sedih.
"Papa tadi dari kamar Hilda, lalu apa yang Papa lakukan?" Naga mulai mencari tahu awal mula kemurungan yang diperlihatkan Papanya. Naga menduga kemurungan itu berasal dari kamar Hilda. Apakah tadi terjadi perdebatan dengan antara Papanya dan Hilda, lalu Hilda berkata kasar sehingga menyakiti Papanya? Naga hanya bisa menduga-duga. Tapi itu tidak mungkin sebab Papanya bilang saat ke kamar tadi Hilda sedang tidur dengan suara isak tangis yang tersisa.
"Papa tadinya mau bersama Mama ke kamar adikmu, tapi mama tanggung sedang membuat asinan bersama Bi Rani. Akhirnya Papa sendiri menemui adikmu dengan niat ingin meminta maaf atas sikap papa dan mama yang ingin memperkenalkan Hilda pada anak temannya mama. Kami memang salah, untuk itu papa datang ke kamar Hilda untuk meminta maaf. Namun saat Papa masuk, Hilda sudah tidur, hanya deru nafas dan sisa isak tangis yang terdengar.
"Lalu apa yang Papa lakukan di sana?" selidik Naga mencoba mengorek kembali yang Papanya temukan di dalam kamar Hilda.
"Tidak ada, Papa tidak menemukan apa-apa di sana. Papa hanya melihat-lihat kamar anak gadis Papa yang sedikit berubah."
"Berubah, apa yang berubah?" heran Naga.
"Dindingnya banyak gambar cinta, sepertinya adikmu sedang mengalami jatuh cinta," ungkap Pak Hasri menduga. Naga mesem, dia sudah bisa menduga, bahwa kecurigaan Papanya pada Hilda beralasan.
"Apakah Papa benar-benar tidak menemukan hal yang membuat Papa berubah murung?" tanya Naga langsung pada pokok kecurigaannya. Naga ingin tahu apa sebenarnya yang Papanya temukan sehingga wajahnya nampak murung saat keluar dari kamar Hilda.
__ADS_1
"Murung? Papa tidak murung. Kamu ini salah lihat. Papa ini sudah tua, jadi kalau terlihat murung itu biasa, namanya juga sudah tua," sangkalnya menyembunyikan kebenaran.
"Papa selalu pandai menyembunyikan masalah, dan sekarang saja Papa sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu, apakah Papa tidak mau berbagi sama Naga?" tanya Naga lagi berharap Papanya bisa jujur,
"Papa tidak ada masalah, Papa hanya khawatir dengan adik kamu, sepertinya adik kamu sudah mulai suka dengan lawan jenis. Dan Papa takut jika adik kamu sampai kebablasan," ungkap Pak Hasri khawatir. Naga menatap sejenak ke arah Papanya. Sejenak Naga tertegun, sepertinya bukan hanya itu yang menjadi pikiran Papanya, melainkan hal lain.
"Papa!" tegur Naga yang berpapasan dengan Papanya saat mau turun tangga. "Papa habis dari kamar Hilda atau baru mau masuk?" tanya Naga lagi.
"Papa baru keluar kamar Hilda, tapi adikmu itu sedang tertidur pulas. Sepertinya dia sebelum tidur habis menangis, karena dia tidur sambil terisak," jawab Pak Hasri dengan wajah murung yang kentara. Naga melihat ada yang aneh dari perubahan wajah Papanya.
"Papa kenapa, kenapa sepertinya melamun?" Naga merasa heran dan khawatir dengan keadaan Papanya yang tiba-tiba murung.
"Papa tidak apa-apa, papa hanya merasa bersalah sama anak gadis Papa. Ternyata dia sudah besar dan mulai berontak. Selalu keras kepala dan kata-katanya kadang tinggi. Sementara kami selama ini selalu mengajarkan kalau bicara itu harus merendahkan volume suara, tidak keras dan tegang. Tapi sekali ditentang dia melawan, kata-katanya naik dua oktaf dari Mama atau Papa bicara," keluh Pak Hasri sembari menunduk.
Baru kali ini Naga melihat Papanya sesedih ini. Papa yang selama ini selalu dia kagumi dan hormati karena semua kebaikan dan kerja kerasnya yang tinggi.
"Pa, ayo, ikut Naga! Kita bicara dari hati ke hati di balkon ruang kerja Papa, sudah lama Naga tidak pernah ke ruang kerja papa melihat-lihat buku di meja kerja Papa." Naga menarik lengan Papanya yang terlihat murung dan sedih. Naga menduga ada yang Papanya temui sehabis dari kamar Hilda. Naga akan berusaha mencari tahu dengan mengorek perlahan-lahan dengan suasana santai.
Sebelum tiba di balkon ruang kerja Papanya, Naga menghubungi Bi Rani untuk membawakan minuman dan makanan kecil sebagai teman minum teh.
Naga dan Pak Hasri berjalan bersamaan sembari ngobrol ngalor ngidul, sehingga tidak terasa tiba di depan ruangan kerja Pak Hasri. Rungan kerja ini lumayan jauh dari pintu kamar Hilda, walaupun masih satu lantai. Maklum rumah orang tajir melintir rumahnya saja hampir setengah hektar tanah luasnya. Jadi, jarak tempuh dari ruangan satu ke ruangan yang lainnya lumayan jauh.
Naga dan Pak Hasri masuk ke sebuah ruangan yang di duga ruangan kerja milik Pak Hasri. Merek langsung menuju balkon yang bawahnya terdapat kolam renang. Mereka duduk di kursi rotan bersebelahan dengan pandangan tertuju ke depan. Namun Naga yang sejak tadi memperhatikan Papanya, masih saja melihat Pak Hasri murung.
Namun kini tidak ada lagi tawa, saat Papanya hanya murung yang terlihat sejak tadi. Naga ingin mengorek hal apa yang tiba-tiba merubah wajah Papanya yang selalu ceria kini terlihat murung?
"Dan Papa tahu siapa yang terpeleset itu? Papa memang yang selalu mengambilkan kami minuman saat kami berenang, Papa membuat kolam renang tapi Papa tidak bisa berenang," lanjutnya mengingatkan Papanya pada kenangan masa lalu bersama Papa tercinta.
"Ha, ha, ha, papa masih ingat, Ga, dan kamu selalu mengingat kejadian lucu itu. Sampai sekarang papa selalu tertawa sendiri jika mengingatnya. Dan akhirnya minuman sirop dingin kita yang empat gelas itu hanyut bersama gelas-gelasnya," Pak Hasri tiba-tiba menimpali diawali tawa yang menggema. Sejenak Naga heran, tapi kemudian menyembunyikan keheranannya sebab Naga tahu Papanya berbicara seperti itu hanya untuk menutupi kegundahan di hati yang kini dirasakannya.
"Rupanya Papa masih ingat, Naga pikir Papa lupa." Naga menanggapi dengan senyum mengembang.
Saat Pak Hasri dan Naga sedang tertawa mengingat kembali masa lalu, Bi Rana datang membawa dua gelas minuman dan camilan yang dipesan oleh Naga tadi.
__ADS_1
"Den Naga, Tuan, minumannya di sini," seru Bi Rana memotong sejenak kegembiraan antara pak Hasri dan Naga saat mengenang masa lalu.
"Terimakasih, Bi Rana," ucap Naga. Bi Rana tersenyum seraya bergegas kembali meninggalkan kedua orang beda generasi itu.
Naga menoleh ke samping kanan Papanya, masih belum berubah. Naga tidak mau melihat Papanya terlihat murung atau sedih.
"Papa tadi dari kamar Hilda, lalu apa yang Papa lakukan?" Naga mulai mencari tahu awal mula kemurungan yang diperlihatkan Papanya. Naga menduga kemurungan itu berasal dari kamar Hilda. Apakah tadi terjadi perdebatan dengan antara Papanya dan Hilda, lalu Hilda berkata kasar sehingga menyakiti Papanya? Naga hanya bisa menduga-duga. Tapi itu tidak mungkin sebab Papanya bilang saat ke kamar tadi Hilda sedang tidur dengan suara isak tangis yang tersisa.
"Papa tadinya mau bersama Mama ke kamar adikmu, tapi mama tanggung sedang membuat asinan bersama Bi Rani. Akhirnya Papa sendiri menemui adikmu dengan niat ingin meminta maaf atas sikap papa dan mama yang ingin memperkenalkan Hilda pada anak temannya mama. Kami memang salah, untuk itu papa datang ke kamar Hilda untuk meminta maaf. Namun saat Papa masuk, Hilda sudah tidur, hanya deru nafas dan sisa isak tangis yang terdengar.
"Lalu apa yang Papa lakukan di sana?" selidik Naga mencoba mengorek kembali yang Papanya temukan di dalam kamar Hilda.
"Tidak ada, Papa tidak menemukan apa-apa di sana. Papa hanya melihat-lihat kamar anak gadis Papa yang sedikit berubah."
"Berubah, apa yang berubah?" heran Naga.
"Dindingnya banyak gambar cinta, sepertinya adikmu sedang mengalami jatuh cinta," ungkap Pak Hasri menduga. Naga mesem, dia sudah bisa menduga, bahwa kecurigaan Papanya pada Hilda beralasan.
"Apakah Papa benar-benar tidak menemukan hal yang membuat Papa berubah murung?" tanya Naga langsung pada pokok kecurigaannya. Naga ingin tahu apa sebenarnya yang Papanya temukan sehingga wajahnya nampak murung saat keluar dari kamar Hilda.
"Murung? Papa tidak murung. Kamu ini salah lihat. Papa ini sudah tua, jadi kalau terlihat murung itu biasa, namanya juga sudah tua," sangkalnya menyembunyikan kebenaran.
"Papa selalu pandai menyembunyikan masalah, dan sekarang saja Papa sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu, apakah Papa tidak mau berbagi sama Naga?" tanya Naga lagi berharap Papanya bisa jujur,
"Papa tidak ada masalah, Papa hanya khawatir dengan adik kamu, sepertinya adik kamu sudah mulai suka dengan lawan jenis. Dan Papa takut jika adik kamu sampai kebablasan," ungkap Pak Hasri khawatir. Naga menatap sejenak ke arah Papanya. Sejenak Naga tertegun, sepertinya bukan hanya itu yang menjadi pikiran Papanya, melainkan hal lain.
__ADS_1