
Bu Hilsa yang melihat Zila makan asinan buatannya begitu lahap, merasa senang dan bahagia. Kalau melihat lahap begini, mual yang dirasakan Zila perlahan akan berkurang. Dan Zila semakin sehat dan berat yaitu mau kerja dan melakukan kegiatan rumah.
"Setelah ini sebaiknya kamu beristirahat, tidurkan rasa lelah yang tadi dirasakan setelah mual muntah supaya tubuh kamu bugar lagi. Mama dan Bi Rani dan Bi Rana keluar dulu. Nanti sebentar lagi Naga juga menyusul melihat keadaanmu," ujar Bu Hilsa memberi tahu lalu membiarkan Zila untuk istirahat.
"Terimakasih Ma, Bi Rani dan Bi Rana atas perhatiannya hari ini," ucap Zila sembari tersenyum bahagia dan terharu atas perhatian mertuanya dan kedua ART di rumah ini.
Sepuluh menit setelah Bu Hilsa dan kedua ART rumah itu keluar, tiba-tiba Hilda masuk dengan wajah yang datar seperti biasa.
"Kakak ipar, selamat datang kembali di rumah Mama dan Papa." Tiba-tiba Zila dikejutkan. oleh suara lantang Hilda yang masuk tanpa disadarinya. Memang Hilda ini masih saja terlihat pecicilan dan tidak ada hormat-hormatnya pada Zila, Hilda masih memperlakukan Zila layaknya teman yang lebih tepatnya teman tapi berantem.
"Hilda, kamu? Kenapa masuk kamar orang tanpa permisi dan ketuk pintu? Aku jadi kaget, apakah kamu tahu aku ini sedang hamil?" balas Zila sembari mendongak. Sepertinya istirahat siang yang baru saja dimulai Zila, akan gagal akibat kedatangan Hilda. Sudah bisa ditebak, kedatangan Hilda ke kamar bukan semata menanyakan kabarnya atau kehamilannya, melainkan menanyakan tentang Nagi. Sementara untuk saat ini Zila sudah tidak ingin lagi berbohong masalah Nagi yang menyampaikan pesan buat Hilda padahal tidak.
"Zi, apa-apaan sih, kenapa sampai kaget begitu? Aku datang kesini jelas mau menemui kamulah, melihat kabar kamu yang hamil. Sekarang beneran hamil, kan? Huhhh, jangan-jangan bohong lagi seperti saat itu," ejek Hilda sembari duduk di tepi ranjang.
"Buat apa aku bohong, aku dan Kak Naga tadi pagi habis dari Dokter memeriksakan kehamilanku, lalu Kak Naga mampir ke rumah Mama dan Papa mertuaku ini, kalau tidak percaya tanya saja Kak Naga." Zila mencebik tidak senang dengan tudingan adik ipar tengilnya ini yang menyebalkan, meskipun kini tudingan itu terdengar bercanda.
"Ya, mana tahu, kan."
"Ahhh, sudahlah, lebih baik kamu keluar saja dari kamar ini daripada mengejek dan menuding aku yang tidak-tidak, aku mau istirahat siang."
"Ya, ampun, kamu mulai berani mengusir aku. Awas, ya! Aku bilangin Mama dan Papa," ancamnya menyebalkan.
"Ya sudah bilangin saja, aku juga tidak takut." Zila balik menantang.
"Wak, wak, wak, ayolah Zi, apa-apaan sih lu? Serius amat. Aku datang kesini selain ingin tahu kabar kamu juga ingin tahu kabar ...."
"Aku sudah menduganya, pasti ujung-ujungnya ada maunya." Zila memotong pembicaraan Hilda.
"Jelas, dong. Apakah ada kabar terbaru dari Kak Nagi?" Hilda mendekatkan wajahnya di telinga Zila dengan suara yang berbisik seperti tidak ingin orang lain mengetahuinya.
__ADS_1
Zila sebenarnya bingung harus menjawab apa, sementara kemarin-kemarin itu Nagi memang benar menghubunginya, tapi Nagi berpesan supaya Zila tidak menceritakan pada Hilda bahwa dia telah menghubunginya. Ini benar-benar sebuah dilema bagi Zila.
"Ada sih, tapi Kak Nagi tidak menyampaikan pesan apa-apa buat kamu. Kak Nagi hanya menanyakan kabar keluarga ini saja," jawab Zila menyesalkan.
"Benarkah? Kenapa Kak Nagi tidak menanyakan aku?" Hilda nampak sedih dan seketika lemas tidak bersemangat.
"Tenang saja, sebenarnya Kak Nagi memang ada niat ingin menyampaikan pesan buat kamu, tapi saat itu berhubung ada Kak Naga di belakang aku, terpaksa aku putuskan sambungan itu," alasan Zila dibuat semeyakinkan mungkin.
"Kapan lagi Kak Nagi akan menghubungimu, Zi? Aku sudah tidak sabar ingin dapat kabar darinya," harap Hilda dengan sungguh-sungguh dan berubah murung.
"Aku belum tahu, Hil. Aku juga tidak setiap hari mendapatkan telpon darinya. Lagipula Kak Nagi hanya menghubungi dengan private number, sayang sekali."
Hilda diam, dia seakan sangat sedih dan tidak bersemangat. Zila yang melihatnya ikut sedihh. Dan Zila menyimpulkan, sepertinya Hilda memang benar-benar tidak bisa melepaskan fokusnya pada Nagi. Hilda memang tidak bisa melepaskan pikirannya dari Nagi.
"Kamu jangan sesedih ini, bukankah Kak Nagi pernah bilang bahwa kamu harus tetap semangat dan melanjutkan kuliah kamu sampai lulus sarjana? Lalu setelah empat tahun itu, kamu bersiap-siaplah untuk dilamar," jelas Zila mengingatkan sedikit pesan Nagi yang dikarang olehnya.
"Tapi, apakah janjinya itu bisa dipegang, janji Kak Nagi akan melamar aku setelah empat tahun itu?"
"Berat juga hidup aku ini, kenapa aku harus jauh dengan orang yang sangat aku cintai? Semua ini gara-gara Papa yang sengaja menjauhkan aku dengan Kak Nagi," omelnya kesal menyalahkan Pak Hasri.
"Sudah, sekarang kamu jangan terlalu dipikirkan masalah Kak Nagi. Harusnya kamu tambah semangat kuliah supaya nanti kamu benar-benar menjelma menjadi Hilda yang sudah semakin dewasa," bujuk Zila lagi sembari menenggelamkan tubuhnya kembali ke ranjang dan membenarkan selimutnya.
__ADS_1
"Baiklah, Zi. Aku akan semangat seperti apa yang Kak Nagi bilang. Tapi, jika Kak Nagi ada menghubungi kamu lagi, maka kasih tahu aku," ucap Hilda seraya bangkit dan dan berjalan pelan menuju pintu.
"Kamu harus sabar, bukankah orang sabar disayang pacar?" balas Zila sembari tersenyum. Hilda hanya bisa merengut dan bergegas meninggalkan kamar yang ditempati Zila. Zila menatap punggung Hilda yang kini akan menghilang di balik tembok kamar.
"Kasihan sekali nasib percintaan kamu Hilda, kenapa tidak mencari lelaki lain saja yang bisa mencintaimu apa adanya?" Zila menghela nafas seraya kembali memejamkan matanya karena kini dia benar-benar ngantuk.
Saat Hilda keluar kamar yang ditempati Zila, Hilda berpapasan dengan Naga tanpa disengaja.
"Kak Naga," pekik Hilda sembari merangkul Naga. Naga sedikit terkejut sebelum menyadari bahwa yang merangkulnya itu benar-benar Hilda.
"Kak Naga kenapa Kakak tidak kesini lama? Aku sangat kesepian tanpa Kakak di sini." Hilda mengungkapkan isi hatinya saat dirinya berjauhan dan ditinggalkan.
Kakak dan adik itu akhirnya bercengkrama, Hilda membawa Naga ke balkon ruangan dan menumpahkan segala kerinduannya di sana.
Waktu pun menunjukkan pukul empat sore, dengan terpaksa Naga dan Zila harus kembali pulang ke apartemen. Sementara itu Hilda yang tadi sempat bertemu dengan Naga dan bercengkrama di balkon, kini dia kembali memasuki kamarnya dan pikirannya kini tenggelam memikirkan Nagi.
__ADS_1
"Kak Nagi kenapa kita harus jauh seperti ini, dimanakah Kakak sekarang berada, kenapa tidak mau menghubungiku langsung dan menanyakan kabarku langsung?" Hilda menangis lama karena beban rindu yang ditanggungnya.