Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 43 kecurigaan Hilda


__ADS_3

"Masuklah dulu Pak Tamrin, kita ngopi dulu bersama Paman saya," ajak Zila bukan basa-basi, Zila langsung membuatkan kopi untuk Pak Tamrin dan Paman Kobar. Sementara Zuli menyuguhkan pisang goreng dadakan yang baru saja digoreng.



"Terimakasih, Non, tidak usah repot-repot," ujar Pak Tamrin merasa tidak enak.



Setelah kurang lebih setengah jam ngopi dan ngobrol di rumah Kobar, Zila kemudian berpamitan pada semua. Barang belanjaan yang dia beli sudah duduk rapi di dalam mobil.



"Neng Zila, makasih banyak atas pemberiannya yang banyak hari ini, semoga rezekinya berlimpah dan selalu berkah," ucap Tante Zuli seraya merangkul bahu Zila penuh kasih sayang.



"Zi, hati-hati di jalan. Semoga kamu selalu dalam perlindungan Allah SWT. Terimakasih banyak traktirannya hari ini," susul Kobar berterimakasih.



"Itu tidak seberapa Paman, tenang saja," ujar Zila seraya mengakhiri percakapan dengan Pamannya lalu mengajak Pak Tamrin kembali pulang ke Bandung.



Mobil yang disupiri Pak Tamrin pun mulai meninggalkan halaman rumah Kobar, menyisakan Kobar dan Zuli yang melambaikan tangannya mengantar kepergian Zila.



Sepeninggalnya Zila, Kobar dan Zuli terlibat sebuah percakapan. "Kang, bagaimana, apakah Akang memang serius mau menikahi saya perempuan janda anak satu?" tanya Zuli meyakinkan.



Sejenak Kobar diam dan menatap ke arah Zuli yang seakan meminta keyakinannya.



"Insya Allah, serius. Doakan saja ada rezekinya untuk kita semua, supaya bulan depan Akang benar-benar sudah mengikatmu dengan pernikahan," ucap Kobar seraya menyeruput sisa kopinya.


***


Mobil yang ditumpangi Zila kini sudah memasuki kawasan perumahan elite. Beberapa meter dari belokan, di sana rumah milik Naga. Mobil yang disupiri Pak Tamrin berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah sekaligus besar.



Mobil masuk halaman rumah yang cukup luas. Pak Tamrin memarkirkan mobilnya ke tempat semula.



Zila segera mengeluarkan barang belanjaannya dari mobil, lalu dibawanya ke dalam. "Makasih banyak Pak Tamrin," ujar Zila seraya meninggalkan Pak Tamrin.



Zila memasuki kamarnya lalu meletakkan belanjaannya. Tiba-tiba rasa keram di perutnya yang terasa seperti kemarin, kini terasa lagi. Zila terpaksa duduk di ranjang untuk meredakan rasa sakit di perutnya.

__ADS_1



"Awwww," ringisnya seraya meraba perut bawahnya yang keram. Zila menduga perutnya yang sakit ini diduga dari kecapaian.



Untuk meredakan rasa sakitnya, Zila menaiki ranjang dan membaringkan tubuhnya. Rasa lelah akibat jalan-jalan sepanjang mall tadi, terasanya baru sekarang. Lamat-lamat rasa kantuk itu datang, sehingga Zila yang lelah dan ngantuk tertidur di sana dalam buaian sang raja siang.



Hingga sore tiba, Zila yang tertidur nyenyak tiba-tiba harus terbangun gara-gara ada gangguan yang tidak disangka-sangka.



"Aduh, aduh, awww sakit," aduhnya saat hidungnya tiba-tiba tidak bisa bernafas karena ada seseorang yang menutup jalannya keluar udara, serta tangannya yang serasa dicubit sehingga menimbulkan rasa sakit.



Zila mendongak dan perlahan bangkit ingin melihat siapakah gerangan yang telah mengganggu tidurnya.



"Hilda, apa-apaan? Kenapa kamu ganggu tidur siangku? Aku sedang tidak enak badan, apakah kamu tahu?" serang Zila merasa tidak suka karena Hilda telah mengganggu tidurnya.



"Ihhhh, najis. Dasar tukang sandiwara, sakit dari mananya? Sejak elu tiba di mall itu, gue merhatiin elu bersama dua orang tua dari kampung elu itu. Kalian kepergok sedang belanja dan senang-senang. Belanja ini dan itu sampai seluruh mall kalian kelilingi. Kalau emang elu hamil, gue rasa elu nggak akan selincah itu jalan kesana kemari di mall." Hilda menatap ke arah Zila dengan nyalang.




"Gue tahu elu itu pura-pura hamil demi harta Kakak gue kan? Salah satunya sekarang elu sudah dapatkan kartu ATM dari Kakak gue. Setelah itu, gue yakin masih ada lagi yang elu incar dari Kakak gue. Gue ingatkan, jangan sampai elu hancurkan hati Kakak gue, karena Kakak gue pernah dikhianati dua kali oleh perempuan yang dia cintai, jadi jika elu mengkhianati Kakak gue maka gue tidak akan tinggal diam, gue yang akan balas elu langsung," ancam Hilda serius sembari menyeringai.



"Ya sudah kita buktikan saja siapa yang akan berkhianat. Kalau tuduhan kamu tidak terbukti, aku akan tuntut balik," balas Zila tidak mau kalah.



"Huhhh, percaya diri banget. Sekali lagi gue peringatkan, tidak ada ampun bagi pengkhianat yang mau mengkhianati Kakak gua," tegas Hilda lagi seraya beranjak dari kamar itu.



Setelah beberapa menit Hilda beranjak dari kamarnya, tiba-tiba rasa keram di perutnya kini terasa kembali.



"Awwwww, ya Allah, benar-benar sakit." Zila mengeluh merasakan rasa sakit yang tiba-tiba datang lagi. Zila hanya bisa membaringkan kembali tubuhnya untuk meredakan rasa sakit di perutnya.



Sampai Naga kembali dari kantor, Zila masih terbaring di kamar. Naga langsung panik melihat Zila terbaring yang kadang diiringi ringisan.

__ADS_1



"Kak Naga," panggilnya yang segera dihampiri Naga sangat khawatir melihat Zila meringis.



"Apa yang terjadi, kamu tidak apa-apa, kan?" Naga menghampiri Zila dan meraba perut yang disebutkan Zila sakit. Naga mencoba mengusap perut Zila yang sakit.



Kabar Zila yang sakit terdengar ke seantero rumah. Bi Rana dan Bi Rani berdatangan membawakan air minum maupun camilan.



Hilda yang mendengar kabar Zila sakit tersenyum sinis, dia merencanakan sesuatu yang bisa menjawab semua orang di rumah ini tahu kalau Zila pura-pura hamil.



Hilda menghubungi seseorang di telpon. "Kami tunggu kedatangannya," ujarnya sembari menyimpan kembali Hpnya di atas meja.



Bersamaan dengan itu, Pak Hasri dan Bu Hilsa tiba-tiba muncul dan pulang dari Singapura. Keadaan rumah menjadi riuh karena Zila sakit.



"Rana ada kehebohan apa di atas sana?" Bu Hilsa yang baru tiba, merasa heran dengan keriuhan di lantai atas.



"Anu, Nyonya. Non Zila sakit, tadi katanya perutnya keram lagi," berita Bi Rana. Bu Hilsa dan Pak Hasri saling pandang sejenak.



"Den Naga sedang membujuk Nona supaya mau diperiksa, tapi Non Zila tidak mau," ujar Bi Rana lagi.



Sementara itu di kamarnya, Naga masih belum menyerah untuk membujuk Zila agar mau diajak periksa.



"Ayo dong kita ke Dokter, aku khawatir kamu kenapa-kenapa," bujuk Naga yang memang benar-benar khawatir.



"Aku tidak mau ke dokter, aku hanya masuk angin karena tadi habis dari mall," tukasnya.



"Tidak apa-apa Kak, tidak perlu dipaksa. Lebih baik ikuti kemauan Mbak Zila. Mbak Zila kan cape habis jalan-jalan di mall. Untuk menghemat tenaga, aku sudah hubungi dokter kepercayaan kita," ujarnya


__ADS_1


"Silahkan Dokter Rama, masuklah!" ujar Hilda mempersilahkan. Sementara itu Zila nampak semakin ciut saat Hilda terdengar mempersilahkan seorang Dokter.


__ADS_2