
"Kak Naga kenapa Kak Naga seperti tidak suka jika Hilda mencintai Kak Nagi, menurut agama juga tidak dilarang?" Zila membahas kembali hubungan Hilda dan Nagi dengan rasa penasarannya.
"Aku bukan melarang, tapi Nagi itu saudara sepupu kita yang sudah sangat dekat, bahkan Mama dan Papa sudah menganggap Nagi anak sendiri. Kalau mereka tahu Nagi menjalin hubungan dengan Hilda, aku tidak tahu apakah mereka akan setuju atau tidak," kilah Naga.
"Tapi, aku melihat Hilda begitu sangat mencinta Kak Nagi. Dan Kak Nagi juga sepertinya ada rasa, tapi itu tergantung juga. Seiring berjalannya waktu, mana tahu keduanya berubah," tukas Zila.
"Aku harus bicara dengan Nagi mempertanyakan kebenarannya?" Naga bangkit seraya meraih Hpnya.
"Apakah Kak Naga akan menghubungi lewat telpon? Aku rasa itu tidak akan memuaskan Kak Naga mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Kak Nagi. Maksudku kalau bicara langsung, maka Kak Naga akan melihat apakah Kak Nagi sungguh-sungguh atau tidak," jelas Zila memberi pencerahan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kak Naga seorang CEO perusahaan, tentunya banyak cara yang bisa dijadikan alasan untuk memanggil Kak Nagi datang ke perusahaan di Bandung ini," ujar Zila memberi saran. Naga menatap wajah Zila penuh senyum, semakin hari Naga baru menyadari ternyata Zila begitu sangat cerdas. Terutama ketika tadi di kantor saat Zila berdebat dengan Dila, alangkah cerdasnya Zila memberikan jawaban maupun sanggahan pada Dila, setiap yang diucapkannya seolah keluar dari seseorang yang memiliki otak yang brilian.
"Bagaimana, Kak? Saranku tidak buruk juga, bukan? Kak Naga tinggal atur waktu. Perintahkan saja Kak Nagi datang ke Naga Group di hari Jumat, supaya besoknya Kak Nagi bisa long week end di sini," ujarnya lagi memberi saran yang benar-benar mampu diterima Naga.
"Bagaimana, apakah saranku bisa diterima?" tanya Zila sembari menggoda Naga. Melihat Zila menggoda seperti itu, sepertinya malam ini bakal ada tsunami lokal yang menimpa.
Baru saja Naga akan membalas godaan Zila, tiba-tiba kedua mertua Zila datang, terdengar dari suara mobilnya yang berhenti tepat di depan rumah.
Seketika Naga dan Zila mendengar bunyi riuh di bawah sesaat setelah mobil kedua mertuanya sampai.
"Aku sampai kapanpun tidak mau Mama sama Papa jodohkan, aku mau cari jodoh sendiri. Apakah Mama sama Papa tidak melihat contoh terdekat di sekitar kalian? Kak Naga menikah dua kali dan kalian yang selalu menjodohkan, dua kali juga Kak Naga bercerai. Itu hasil perjodohan kalian, kan?" sungut Hilda dengan suara yang lantang dan keras. Naga dan Zila yang mendengar, sontak keluar dari kamar dan melihat perdebatan di bawah.
Nampak Hilda sangat marah dan protes dengan berbicara sangat keras pada kedua orang tuanya. "Kami hanya mengenalkan kalian, bukan mau menjodohkan. Kalau kalian sama-sama suka dan merasa cocok, maka kita akan lanjutkan ke perjodohan," tukas Bu Hilsa lembut.
"Sama saja, intinya kalian ingin menjodohkan aku dengan lelaki berumur itu, aku ini masih muda, masa mau dijodohkan dengan lelaki yang sepuluh tahun lebih tua dari aku. Aku tidak mau," debat Hilda lagi marah.
"Sayang, kami tidak memaksa. Tapi kami hanya mengenalkan kalian satu sama lain supaya saling kenal terlebih dahulu. Lagipula kamu ini baru kuliah, mana mungkin kami mau menikahkan kamu sekarang. Jadi, jangan salah paham dulu," timpal Pak Hasri lembut seraya meraih tangan anak bungsunya dan mengusapnya.
Naga menuruni tangga, Zila yang ingin ikut dicegahnya. "Kamu di sini saja, aku taku kamu ikut bicara dan keceplosan masalah hubungan Hilda dan Nagi, nanti malah memperkeruh keadaan," cegahnya seraya bergegas turun. Zila patuh dia pun paham apa yang dikhawatirkan Naga.
Sebelum keadaan semakin panas, Naga menghampiri dan meraih Hilda. Hilda yang memang dekat dengan Naga langsung memeluk Naga dan menangis. "Kak Naga, aku tidak mau dijodohkan dengan lelaki manapun, aku ingin fokus kuliah dan mencari jodoh sendiri," ceritanya diiringi tangis.
"Kami bukan mau menjodohkan, tapi hanya memperkenalkan. Tidak ada salahnya bukan kami hanya memperkenalkan saja?" bela Bu Hilsa merasa tidak ada masalah dengan pertemuan tadi.
"Ma, Pa, kita bicarakan masalah ini di ruang keluarga. De, kamu naiklah ke atas. Tunggu Kakak di kamarmu," titah Naga pada Hilda. Hilda perlahan melepas pelukannya di tubuh Naga, lalu diam sejenak menatap kedua orang tuanya lalu pergi membawa isak tangis menuju tangga.
Hilda menaiki tangga dengan isak yang masih ada, di ujung tangga atas dia bertemu Zila yang menyambutnya dengan senyum setengah simpatik.
"Hilda, mana kebar-baranmu, tumben kamu menangis hanya karena mau dijodohkan oleh Mama dan Papamu. Bukankah kamu sudah siap nikah? Kenapa menolak?" Zila bertanya dengan tangan berpangku, nampak seperti mengejek di mata Hilda.
__ADS_1
Sebelum Hilda menjawab, Zila berinisiatif menarik Hilda ke kamarnya. Hilda ingin menepis karena tidak suka tangannya ditarik-tarik Zila.
"Lepasin gue!" protesnya.
"Diam, jangan banyak protes. Kamu nurut saja sama Kakak iparmu yang tidak pernah kamu anggap sebagai Kakak iparmu ini. Kalau aku tidak membawamu ke kamar, maka aku takut obrolan kita yang heboh itu terdengar oleh Mama dan Papa di bawah. Jadi paham, kan, kenapa aku membawamu kemari?" ucap Zila seraya melepas tangan Hilda setelah sampai di kamar Hilda.
Zila langsung menghempas tubuhnya di ranjang Hilda yang empuk dengan tangan menjulur santai, layaknya di pantai. "Ahhhhhh, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Rasanya seperti di pantai," ujar Zila sembari senyum-senyum membuat Hilda kesal. Hilda ancang-ancang menyeka air matanya dan bermaksud mengusir Zila yang berbaring santai di ranjang yang sudah dibersihkan Bi Rana tadi.
"Jangan sentuh ranjangku, awassss, menyingkir," usirnya sambil berusaha menghalau tubuh Zila.
"Jangan usir aku, please! Aku ingin merasakan ranjang gadis perawan ini," ucapnya membuat Hilda melotot tidak suka.
"Kenapa melotot, benar bukan kamu masih perawan? Kalau marah itu artinya kamu bukan ...." Ucapan Zila dipotong Hilda.
"Aku masih perawan, jangan bicara sembarangan!" tepisnya memotong ucapan Zila yang menurutnya tidak benar.
"Baguslah itu, kamu harus masih perawan sampai kamu nikah dengan lelaki yang akan dijodohkan oleh Mama dan Papa kamu tadi," goda Zila lagi sengaja.
"Zilaaa, gila lu, ya, gue nggak bakalan mau dijodohkan sama siapa-siapa. Jangan ikut campur urusan gue sama kedua orang tua gue," protesnya geram.
"Ya, sudah. Kamu tetap harus perawan meskipun kamu kelak menikah dengan Kak Nagi. Kalau kamu sudah menDP Kak Nagi dengan keperawananmu dari sekarang, nanti empat tahun kemudian jika kalian jadi menikah, nggak surprise lagi, dong, buat Kak Nagi. Maka aku ingatkan, meskipun kamu cinta berat sama Kak Nagi, jangan sampai kamu DP keperawanan terlebih dahulu. Aku takutnya kalian setelah empat tahun kemudian berubah pikiran dan menemukan jodoh masing-masing," tutup Zila seraya bangkit.
Hilda masih melotot tidak suka ke arah Zila. Dia benci dengan ucapan Zila barusan. Hilda tidak ingin Nagi milik orang lain dan mendapat jodoh yang lain.
***
"Benarkah Papa dan Mama mau menjodohkan Hilda dengan anak teman Mama?" Naga memulai obrolan dengan mempertanyakan kebenaran perjodohan itu pada Bu Hilsa.
"Kami bukan mau menjodohkan, tapi kami bermaksud memperkenalkan terlebih dahulu antara anak-anak. Kami tidak membicarakan perjodohan dengan teman Mama itu, kami hanya ada keinginan jika mereka saling menemukan kecocokan maka hubungan itu akan dilanjut. Lagipula antara Mama dan Papa juga kedua teman Mama itu tidak ada tuntutan apa-apa. Dan kami belum membicarakan hal yang serius. Adikmu terlalu sensitif dan salah paham," tepis Bu Hilsa dengan tenang.
"Aku pikir Mama dan Papa datang ke sana membicarakan perjodohan. Tapi, Hilda pasti menduga kedatangan kalian kesana dengan mengajaknya adalah dengan maksud menjodohkan. Hilda pasti salah paham dan Naga tahu sifatnya yang keras, sekali tidak mau dia pasti tidak mau. Naga Berharap Mama dan Papa tidak lakukan ini lagi, cukuplah sekali. Sebab Naga tahu Hilda tidak mudah suka dengan lawan jenis, dia tipe perempuan yang setia."
"Jika saatnya nanti, Hilda pasti menemukan jodoh yang terbaik pilihannya. Mama dan Papa doakan saja yang terbaik buat anak gadisnya. Yang penting sekarang bagi Hilda adalah fokus dulu kuliah. Perjalanan Hilda masih panjang, jadi jangan disesaki dulu dengan hal-hal diluar itu." Naga bicara panjang lebar di depan kedua orang tuanya memberi pengertian pada keduanya supaya jangan dulu fokus dengan jodoh Hilda.
"Kami paham, Ga. Kami pikir Hilda pikirannya sama setuju dengan kita. Mau dijodohkan, lalu setelah lulus kuliah menikah," ujar Bu Hilsa menyadari kekeliruannya karena menganggap Hilda mau dijodohkan begitu saja.
"Mama dan Papa jangan khawatirkan jodoh Hilda, sekarang biarkan dia fokus duku kuliah. Dia masih muda dan masih jauh untuk memikirkan jodoh," ujar Naga bijaksana. Naga memang paling mengerti Hilda. Dia tidak mau Hilda terbebani dengan masalah perjodohan ini yang tidak pernah Hilda inginkan.
Setelah kedua orang tua Naga paham dengan apa yang disampaikan Naga, Bu Hilsa dan Pak Hasri akhirnya mau menerima saran Naga dan tidak mau mengikuti egiosmenya sesaat, Hilda masih muda dan benar kata Naga jangan dulu dibebani dengan masalah lain selain sekolah.
"Kalau begitu, Naga pamit dulu, ya. Mama dan Papa jangan kecewa dengan keputusan Hilda atau dengan apa yang dibicarakan kita barusan, Naga bukan ingin mengajari Mama dan Papa, Naga hanya ingin pengertian dari kalian," ujar Naga sebelum beranjak pergi meninggalkan Papa dan Mamanya.
Bu Hilsa dan Pak Hasri mengangguk, mereka akhirnya setuju dengan Naga, dan tidak akan pernah lagi menjodohkan Hilda dengan laki-laki manapun.
__ADS_1
Naga kembali ke atas, menaiki tangga dan bermaksud ke kamar Hilda sang adik. Urusan dengan kedua orang tuanya sudah kelar, kini tinggal berbicara dengan Hilda, sekalian membicarakan masalah Hilda yang mencintai Nagi.
***
Sementara itu, di kamar Hilda. Zila dan Hilda masih berdebat dan saling balas. Antara keduanya masih tidak ada yang mau mengalah, mereka teguh dengan pendapatnya masing-masing.
Aku pastikan Kak Nagi akan menikahiku, dan kami akan berjodoh," desisnya dengan mata penuh ambisi.
"Aamiin, aku aminkan, ya? Tapi, jangan lupa pesan aku, kamu harus tetap menjaga keperawananmu," peringatnya sembari mulai bergegas menuju mulut pintu.
Ketika di mulut pintu kamar Hilda, Zila berpapasan dengan Naga yang baru akan masuk. "Kak Naga, mau masuk kamar Hilda juga?" Zila nampak sedikit kaget saat melihat Naga memasuki kamar Hilda, untung saja dia tadi sudah menyudahi bicara dengan Hilda, lagipula obrolannya dengan Hilda tidak ada yang aneh-aneh selain mengingatkan Hilda supaya menjaga kesuciannya.
"Iya, aku mau bicara dengan Hilda. Apakah kamu mau menemani aku juga di sini? Biar kita sama-sama bicara sama Hilda, kamu, kan, yang paling tahu masalah hubungan Hilda dan Nagi." Zila berpikir sejenak, tidak ada salahnya dia menemani Naga berbicara dengan Hilda. Toh, selama ini dia memang sedikit mengetahui hubungan antara Nagi dan Hilda.
"Kak Naga." Hilda memanggil Naga seraya menatap ke arah Kakaknya itu yang paling bisa mengerti dirinya. Naga menghampiri Hilda dan duduk di sampingnya. Sementara itu saat Hilda melihat Zila ikut masuk, matanya mendilak tidak suka.
"Kak Naga, bisakah kita bicara berdua saja, tanpa dia," tunjuknya kepada Zila. Hilda tidak mau Zila berada di kamarnya juga, sebab bagi Hilda, Zila hanya membuat pikirannya tambah mumet.
"Tidak apa-apa, dia Kakak iparmu. Siapa tahu dia jua bisa memberimu pencerahan di balik masalah yang menimpamu," tukas Naga membela Zila yang otomatis merasa menang, dia tersenyum puas dengan keputusan Naga.
"Kakak sudah bicara sama Mama dan Papa, mereka sebetulnya tidak bermaksud menjodohkan kamu dengan anak teman Mama itu. Mereka hanya memperkenalkan biasa saja, setelah itu jika kalian ada perasaan yang lebih serius, maka Mama dan Papa baru mau melanjutkan perjodohan. Tapi kamu jangan khawatir, Papa dan Mama berjanji tidak akan lagi menjodohkan kamu dengan laki-laki manapun," tutur Naga membuat Hilda sedikit plong.
"Terimakasih Kak, sebab Kakak mau bicara sama Mama dan Papa tentang aku yang tidak mau dijodohkan," ujar Hilda senang seraya memeluk Naga dengan bahagia.
"Kakak tidak mau kamu memikirkan dulu masalah yang serius di luar kuliah, kamu baru masuk kuliah dan masih muda, belum saatnya kamu memikirkan masalah berat seperti perjodohan ataupun membina hubungan dengan laki-laki dengan serius, karena itu akan membuat kuliahmu akan terganggu."
"Aku tidak begitu, kok, Kak. Aku fokus dengan kuliah, asal Mama dan Papa tidak merecoki aku dengan masalah berat seperti tadi. Aku juga berhak memilih jodohku sendiri." Hilda mengimbuhi perkataan Kakaknya dengan wajah yang penuh senyum.
"Bagus itu, kamu fokuslah dulu kuliah. Tapi, jika ada teman laki-laki yang ingin mendekatimu atau ingin memacarimu, Kakak harap kamu jangan terlalu serius menanggapinya. Kalian jalani saja sesuai alurnya, kamu tetap menomor satukan kuliah," nasihat Naga lagi tanpa bermaksud mengajari.
"Iya, Kak, aku paham. Aku juga tidak mau hidupku dibebani dengan masalah yang serius dulu sebelum aku lulus kuliah," tekad Hilda nampak serius. Zila yang mendengar ucapan Hilda yang tidak sesuai kenyataan, cuma bisa menganjurkan bibir bawahnya ke atas, tanda apa yang dikatakan Hilda bohong.
"Tapi, Kak Naga ingin bertanya serius kali ini, apakah tidak keberatan?" Mendapatkan pertanyaan seperti itu Hilda sontak mengerutkan kening heran.
"Apa itu, Kak?"
"Jika kamu tadi menolak keras dijodohkan, lalu kenapa kamu sudah menawarkan hubungan yang serius dengan seseorang?" tanya Naga membuat Hilda mengerutkan kembali keningnya.
"Maksud Kakak?"
"Kamu harus jawab dengan jujur dan terbuka sama Kakak, jangan ada yang ditutupi." Naga terlihat serius, sehingga Hilda menjadi cemas, hati Hilda bertanya-tanya, ada apa dengan kakaknya itu?
"Kak Naga mau tanya apa?"
__ADS_1
"Apakah kamu sedang mencintai seseorang, saat ini?" Pertanyaan Naga sontak membuat Hilda kebingungan untuk menjawab. Lantas apa yang akan Hilda katakan, kejujuran atau kebohongan?