
Setelah mendapat amanah yang kukuh dari Kobar, Zila yang tadinya malas untuk mengamankan sertifikat orang tuanya seperti apa yang Kobar bilang, akhirnya dia mau walaupun dengan sedikit ngomel.
"Buat apa sertifikat itu dipertahankan, toh kita sebagai orang kecil dan tidak beruang akan kalah sama orang yang banyak uang. Kita menuntut saja percuma," omelnya.
"Zi, aku rasa pesan Paman Kobar ada baiknya dituruti. Lagipula dari cerita yang aku cerna tadi, sepertinya tanah orang tua kamu dicuri oleh saudara dari ayahmu. Aku jadi merasa penasaran dan tertarik dengan perebutan tanah oleh saudara ayahmu ini," sela Naga memberikan usul pada Zila yang seakan dilanda bingung.
Mendengar penuturan Naga seperti itu, Kobar merasa bahagia, bahwasanya Naga mau mengamankan sertifikat itu, Kobar sebenarnya berharap Naga bisa membantunya merebut kembali apa yang menjadi hak Zila. Namun apa daya, Kobar hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban ada orang baik yang bisa membantunya merebut kembali apa yang sudah menjadi hak keponakannya.
Naga dan Zila berpamitan dan meninggalkan rumah sakit. Kobar terlihat gembira. Ada setitik harapan di benak Kobar pada Naga. Kobar yakin Naga orang yang bisa diharapkan.
Perjalanan dari RS menuju rumah Kobar, cukup memakan waktu sekitar 15 menit. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Tiba di depan rumah Kobar, Zila dikejutkan dengan keadaaan rumah yang sudah berantakan seperti sengaja diberantakin. Zila menduga ini ulah anak buah Omnya atas suruhan Omnya.
Naga dan Zila segera turun dari mobil dengan wajah yang sama-sama heran dengan penampakan rumah Kobar yang berantakan.
"Ada apa ini?" kejutnya tidak menduga. Zila dan Naga memasuki rumah Kobar yang sudah berantakan dengan perabotan rumah berhamburan di mana-mana. Fokus Zila kini ke arah belakang rumah mencari sertifikat yang Kobar katakan tadi di RS.
Zila dan Naga menuju pohon rambutan seperti petunjuk Kobar tadi. Naga segera meraih cangkul yang berada di sana dan mulai mencangkul pohon rambutan untuk menemukan sertifikat itu.
Setelah beberapa senti, Naga menemukan sebuah kotak. Zila yang melihat, sedikit terkejut tapi senang apa yang dibilang Pamannya rupanya ada. Naga membersihkan peti itu sebelum dibawanya ke dalam rumah untuk dibukanya.
Saat dibuka, ternyata sertifikat itu masih ada dan utuh, hanya ada bekas pembakaran saja yang menjadikan sertifikat itu tidak indah lagi. Naga sejenak membuka kembai sertifikat yang kemarin sempat dia lihat.
__ADS_1
"Untung sertifikatnya masih ada. Pencuri itu bodoh tidak bisa menemukan sertifikat ini." Sampai Zila berhenti bicara, pada saat itu juga Naga selesai membaca semua isi dari sertifikat itu. Detail dan berhasil membuat Naga berpikir keras dan mengerutkan kening. Sebenarnya apa yang sedang Naga pikirkan?
"Apakah Zila ada hubungan darah dengan Haidar? Mungkinkah Haidar yang menjual tanahnya padaku merupakan Haidar yang sama?"
"Ada apa Kak, kenapa Kak Naga sampai menatap serius sertifikat tanah milik orang tuaku? Ayo, sini, biar aku simpan kembali di kotak itu." Zila ingin merebut kotak itu, tapi Naga menepisnya.
"Akan aku pelajari sertifikat ini," tukasnya seraya membawa kotak itu.
"Sekarang kita pulang, biarkan Paman Kobar dijagain Paman Darga dan Dargi sampai dia sembuh. Aku sudah membayar biaya rumah sakit Pamanmu. Jadi Pamanmu tidak usah bingung masalah biaya lagi," putus Naga membuat Zila sedikit tenang.
"Tapi, Kak, aku harus menjaga Paman Kobar," tahan Zila.
"Tidak perlu, biar kedua kembar itu menjaganya. Aku sudah memerintahkan mereka supaya menjaga Pamanmu dari musuhnya. Aku yakin nyawanya sedang tidak aman sekarang," ujar Naga menyimpulkan.
"Naiklah, kita akan kembali ke Bandung." Naga memutuskan kembali ke Bandung, Zila terpaksa mengikuti kemauan Naga.
"Zila, kapan kamu akan memeriksakan kandungan, aku ingin melihat hasilnya. Nanti aku saja yang antar kamu," tanya Bu Hilsa saat sarapan pagi. Baik Zila dan Naga sontak saling lempar pandang, mereka seperti panik.
"Tapi, aku sudah diperiksa minggu kemarin, Bu. Ini harus menunggu satu bulan lagi untuk diperiksa." Zila memberikan alasannya yang membuat Bu Hilsa melempar pandang pada Hilda anak bungsunya. Suasana sarapan pagi kali ini seakan terasa horor bagi Zila, sebab kehamilan pura-puranya terancam ketahuan Mama Naga.
Dalam diamnya Naga sedang berpikir keras, bagaiman caranya bisa membuat hamil pura-pura Zila menjadi benar. Naga harus melakukan sesuatu. Setelah sarapan pagi, Naga segera ke kamar duluan.
Naga mencari sesuatu dari kantong plastik yang sempat Zila beli di apotek kala itu. Nasib baik segera ketemu, Naga meraih isi dari plastik itu. Dan ketika dibaca dan ditelusuri di google, Naga menemukan fakta bahwa Zila selama berhubungan dengannya ternyata mengonsumsi pil KB.
__ADS_1
"Lihatlah, Zi. Kamu akan aku buat hamil benaran, biar sandiwara ini berakhir indah," guman Naga sembari menyeringaikan senyuman liciknya.
Zila yang masih berada di dapur, saat ini tengah mendapatkan sebuah pertanyaan dari Ibu mertuanya. Kadang-kadang Hilda adik iparnya ikut nimbrung.
"Zila, sebagai mertuamu, aku ingin tahu seluk belukmu yang aku rasa belum jelas. Untuk itu, bolehkah aku tahu latar belakangmu? Aku hanya tidak menginginkan anakku di kemudian hari mendapat malu karena memiliki istri yang latar belakangnya abu-abu. Jangan-jangan kamu ini anak hasil pungut Pamanmu di jalan, tapi kamu merekayasanya menjadi anak yang yatim piatu sejak usia dua tahun. Itu bisa jadi, bukan?" Tiba-tiba Bu Hilsa mengungkit latar belakang Zila yang bisa jadi menimbulkan kesedihan l bagi Zila jika dikenang kembali. Tapi di sini Zila memang harus *speak up*, supaya mertuanya ini tidak bicara gegabah lagi.
"Aku memang yatim piatu sejak usia dua tahun, Bu. Itu terjadi dua puluh tahun yang lalu. Aku memiliki akte kelahiran yang jelas. Aku juga masih punya Paman dari pihak Ibu juga Om dari pihak Ayahku. Namun yang sayang sama aku hanya Paman Kobar yang rela hidupnya menduda demi mengasuhku," terang Zila.
"Lantas kenapa kamu bisa yatim piatu sejak balita?" tanya Bu Hilsa masih penasaran.
"Kata Paman, kedua orang tuaku meninggal di depan kukusan umbi gadung. Sebagin warga ada yang menyebarkan gosip bahwa orang tuaku meninggal karena umbi gadung," ucapnya menahan rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak.
"Baiklah, itu sebuah jawaban yang cukup jelas bagiku. Jika keteranganmu adalah palsu, maka aku dan adik iparmu Hilda tidak segan menendangmu dari rumah ini. Kamu tahu sendiri kan, kami merupakan orang terpandang? Apa kabarnya jika kami dapat cemoohan karena gara-gara memiliki menantu yang tidak jelas latar belakangnya," tekan Bu Hilsa.
"Aku bukan tidak ingin seperti orang lain, Bu. Terlahir sempurna dan kaya. Tapi aku bersyukur terlahir dari orang tua seperti mereka. Karena aku bisa mengenal kerasnya hidup dan tidak memandang rendah orang lain," tukasnya membuat Bu Hilsa merasa tersindir.
"Lantas apa yang kamu lakukan selama kamu menjadi pelayan kafe remang\_remang?" tatap Bu Hilsa seperti ingin menelisik sisi buruk Zila.
Zila mendongak dan menatap lurus Ibu mertuanya yang masih cantik meskipun usianya hampir 56 tahun.
"Perlu Ibu catat, bahwa kafe itu bukan remang-remang karena ada alkohol atau ada transaksi prostitusi, tapi remang-remang karena remang cahaya lampu yang sengaja kekuatannya remang-remang," jelas Zila lagi berapi-api membuat Bu Hilsa sedikit bergidik melihat muka kesalnya Zila.
"Lalu, baut apa kamu menuntut uang sebesar satu milyar pada Naga, apakah kamu terlilit hutang atau kamu memang mau menipu kami?"
__ADS_1
"Aku~~~"
"Aku tahu, kamu pasti mau menipu Naga. Dan jika uang itu sudah kamu kantongi maka kamu akan lari, bukan?" lagi-lagi tebakan Bu Hilsa meleset, dia memang terlilit hutang Pamannya, tapi tidak pernah adaa niat menipu. Lagipula tuntutan itu uangnya masih belum cair, karena Naga terlalu pelit menurut Zila.