
Sejenak Zila diam dikatakan akan menipu Naga dan setelah mendapat uang itu dia akan kabur oleh Bu Hilsa. Zila mengatur nafas sejenak untuk membela diri di depan Bu Hilsa.
"Aku bukan mau menipu Kak Naga, aku hanya menuntut kalian atas tudingan kalian yang tidak benar itu. Yang mengatakan aku perempuan tidak benar karena aku kerja di kafe. Karena kalian sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan, yaitu pencemaran nama baik. Maka aku menuntut apa yang telah kalian tuduhkan padaku," jelas Zila membela dirinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ha, ha, ha, lucu sekali menantu Mama ini, dia ingin menuntut kita atas perbuatan yang tidak menyenangkan, yaitu pencemaran nama baik dan kini mau menuntut sebesar satu milyar. Lalu kamu mau menuntut ke mana sih Kakak ipar? Kalau tuntutanmu cuma dikoarkan di rumah ini, maka siapa yang mau menjadi Pengacara dan pembelamu? Lagipula tuntutanmu itu bisa jadi disangkal karena tidak ada bukti yang akurat yang bisa membuktikan bahwa kami telah melakukan penghinaan atau pencemaran nama baik terhadapmu," tutur Hilda meremehkan.
Zila diam, hatinya teriris diremehkan begitu. Memang benar jika dipikirkan lagi, siapa yang akan mendengarkan dirinya mau menuntut dan siapa yang akan dituntut sementara dia hanya mengatakan di dalam rumah ini.
"Lagi pula, siapa orangnya yang mau memberikanmu cuma-cuma uang segitu besar padamu, memangnya apa kontribusimu pada keluarga ini? Kamu aja masuk dalam keluarga ini masih baru atas belas kasihan Kakak aku, Kak Naga," sambar Hilda lagi semakin membuat Zila terpuruk.
"Setidaknya, kalian tidak perlu menghinaku lagi dan mengatakan hal buruk tentangku, sebab meskipun perbuatan kalian tidak akan kena jerat hukum di dunia, maka di akhirat kelak kalian akan dimintai pertanggungjawaban. Dan kalian baru akan menyesal," bela Zila lagi berkaca-kaca.
"Alah, jangan sok benar mengajari kami. Kamu saja manusia yang tidak jelas yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kami, lalu sekarang berbicara tentang tuntut menuntut, juga berbicara tentang pencemaran nama baik karena kami telah menuduhmu perempuan tidak benar. Jika foto dan pekerjaanmu di kafe tengah bersama pria-pria hidung belang itu tidak tersebar dan sampai pada kami, maka kami tidak akan menduga dari mana kamu berasal. Sudah tentu identitas kamu sebenarnya akan kamu tutup-tutupi, giliran ketahuan kamu membela diri dan akan menuntut kami dengan tuntutan satu milyar. Sungguh tidak masuk akal," serang Hilda lagi tidak mau kalah.
__ADS_1
"Aku tidak menutupi identitas diri aku. Aku hanya tidak pernah berani mengumbar pekerjaanku di depan orang-orang, sebab kafe tempat aku bekerja memang sudah diberi stigma buruk oleh masyarakat, tapi kafe itu sebenarnya bukan kafe remang-remang dan tidak ada transaksi jual beli narkoba atau prostitusi. Aku hanya melayani tamu selain mengantar minuman, sebab jika aku bisa menemani tamu minum, maka aku akan mendapatkan uang tips yang lumayan. Hasil dari menemani tamu, aku sisihkan sengaja untuk membantu membayar hutang Pamanku yang sudah dibengkakkan rentenir menjadi 500 juta. Dan kami tiap hari seakan diteror oleh hutang Paman yang besar itu. Jadi, itu sebabnya aku menuntut kalian uang sebesar itu. Uangnya akan kami bayarkan pada rentenir itu."
Akhirnya Zila mengungkapkan semua seluk beluk dia bekerja di kafe dan alasan kenapa dia menuntut uang satu milyar itu atas tuduhan keluarga Naga yang tidak benar.
"Ha, ha, ha, sepertinya tudingan buruk kami terhadap kamu sengaja kamu gunakan untuk menuntut kami. Tapi sayangnya kami tidak mudah dituntut olehmu. Dan sepertinya kamu memang pantas disebut seperti itu, jadi tidak perlu merasa jadi korban penghinaan atau pembullyan," tandas Hilda lagi meremehkan.
"Kalian tidak tahu betapa beratnya perjuangan aku. Sejak umur dua tahun aku yatim piatu dan hanya diasuh oleh seorang Paman hingga sebesar ini. Dia berkorban demi aku dan membesarkan aku serta rela menduda demi kebahagian aku. Sementara saudara dari keluarga bapak aku hanya sibuk dengan harta bapakku, dan mereka dengan tega dan tamaknya merebut dan menguasai tanah yang dimiliki bapak aku. Jadi, puaskanlah mulut kalian menghina aku selama kalian sanggup." Zila menarik nafasnya sejenak untuk mengatur nafas.
"Dan jika kalian merasakan di posisi seperti aku, maka kalian pasti akan merasakan betapa menyedihkannya hidup aku. Dan kalian pasti tidak akan sanggup mengatakan lagi bahwa aku perempuan tidak benar. Bersyukurlah kamu Hilda, kamu tidak mengalami kehidupan seperti aku, sebab jika mengalami, maka hinaan yang sama seperti yang kalian lontarkan ini pasti akan kamu rasakan juga," tegas Zila seraya beranjak meninggalkan Ibu dan anak yang masih terbengong dengan semua ucapan Zila yang panjang lebar barusan.
Bu Hilsa sejenak diam. Ketika dia mendengar dan mencerna penuturan Zila yang terakhir, ada yang menyentuh perasaannya. Seperti ada haru dan kecewa yang dalam yang dirasakan perempuan muda itu. Matanya yang berkaca-kaca, berusaha dia tahan air matanya supaya tidak sampai jatuh, menandakan betapa mentalnya sudah begitu kuat menerima tempaan hidup yang keras.
"Apakah yang dikatakan anak itu benar? Dan jika benar, apakah aku masih akan tega mengatakan dia perempuan tidak benar?" Bu Hilsa berpikir keras dan merenungkan semua yang dikatakan Zila barusan.
__ADS_1
***
Sementara itu di dalam kamar, Naga sedang melakukan panggilan telpon dengan seseorang.
"Sya, pelajari dan selidiki sertifikat tanah milik almarhum orang tuanya Zila. Setelah kelar urusan di Jakarta, segera datang ke Bandung!" titah Naga.
"Baik, Bos. Segera dilaksanakan," balas Hasya. Dan panggilan telpon dari Naga pun berakhir.
Ketika Naga mengakhiri sambungan telponnya, Zila masuk dan duduk di ranjang, termenung memikirkan omongan Ibu juga adik iparnya tadi. Kesedihannya kian bertambah, terlebih jika harus mengingat kedua orang tuanya yang hanya mampu Zila kenali lewat foto.
"Jika tidak ada Paman Kobar, sudah pasti aku terlunta-lunta tidak tentu arah. Dan sekarang, harus dengan apa aku membalas kebaikan Paman Kobar?" Zila terpuruk dan sedih. Sikap Zila ini disadari Naga. Naga menghampiri dan heran melihat Zila sangat sedih seperti ini.
"Zi, apa yang sedang kamu rasakan, kenapa kamu sesedih ini?" Naga bertanya dengan penuh rasa heran.
"Aku ingin kembali pada Paman Kobar, aku lebih baik pulang dan kembali bekerja di kafenya untuk membantu Paman Kobar membayar hutangnya. Aku masih lebih baik tinggal di sana, meskipun aku mendapatkan stigma buruk di mata orang-orang. Dibanding di sini, aku harus menerima hinaan dari adik dan Mamamu," ujar Zila menangis.
__ADS_1
Sementara itu di balik pintu kamar Naga, Bu Hilsa yang mengikuti Zila menuju kamar Naga secara diam-diam, mengintip dan mendengar apa yang zila ucapkan. Meskipun saat mendengar Zila berbicara ingin kembali pulang ke Pamannya, Bu Hilsa merasa senang. Namun palung hatinya merasakan rasa haru sama seperti yang dia rasakan ketika Zila mengakui siapa dirinya dengan perasaan sedih.