Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 94 Musim 2 Zila sang PELARI (Perebut Laki Sendiri)


__ADS_3

"Permisi, Pak Naga." Desy masuk dengan wajah yang sedikit tegang lalu dengan gerakan yang sopan dia memberi kode ingin menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat penting buat Naga.



Dengan perasaan dongkol, Zila yang sudah membayangkan surprise romantis pada Naga, terpaksa harus ditunda dulu sebab Desy tiba-tiba masuk.



"Desy, apa yang mau kamu sampaikan, kenapa kamu seperti orang bingung?"



"I~ini, Pak. Emm, di luar ada Bu Dila. Dia meminta saya untuk bertemu dengan Bapak, sepertinya dia sangat tidak sabar. Saat dia ngotot begitu, saya tidak bisa mencegahnya. Maafkan saya Pak. Jika Bapak tidak berkenan, saya akan panggilkan Satpam." Desy memberitahu dengan mata yang memindai seluruh ruangan Naga. Desy mencari Zila yang tadi masuk ruangan Naga tentunya. Naga menjadi heran dengan sikap Desy seperti itu.



"Emmm, sebentar Pak, apakah tamu Bapak yang sudah ada janji dengan Pak Naga sudah Bapak temui?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Desy, dia penasaran dengan Zila yang tadi masuk ke ruangan Bosnya, tapi ternyata tidak ada di dalam ruangannya.



"*Pasti perempuan muda tadi sudah dimasukkan ke dalam kamar sama Pak Naga, secara, kan dari kemarin juga Pak Naga hanya memasukkan perempuan itu ke dalam ruangannya. Lantas siapa sebenarnya perempuan muda itu, kekasih Pak Naga*?" pikir Desy dalam hati menduga.



"Desy, kenapa bengong? Tamu yang mana maksud kamu? Janjian dengan saya?" tanya Naga heran.



Zila yang masih sembunyi di balik meja Naga kini menjadi was-was. Sebab acara surprise untuk suaminya belum juga terlaksana oleh karena kedatangan Desy yang menyampaikan kabar bahwa Dila sang Mak Lampir meminta bertemu Naga.



"*Duhhhh, ya ampun, padahal aku sudah membayangkan pertemuan romantisku dengan Kak Naga sedemikian rupa. Tadi baru saja membayangkan kalau Kak Naga terkesima dan memelukku dengan rasa bahagia. Wuhhh, gara-gara Desy, rencanaku masih tertunda. Tapi ada bagusnya Desy masuk, sebab aku jadi tahu kalau si Mak Lampir memaksa ingin menemui Kak Naga*." Zila berbicara dongkol di dalam hatinya karena acara surprise pada suaminya belum terlaksana gara-gara Desy masuk. Ditambah Dila si Mak Lampir yang memaksa ingin masuk. Semakin lama rasanya Zila akan menunda surprisenya pada Naga. Zila berharap Naga menolak bertemu dengan Dila.



"Ada apa lagi dia datang kemari, perusahaan ini tidak bekerjasama dengan dia? Saya muak dengan dia, kalau bisa kamu usir sebisa kamu. Saya sudah tidak sudi bertemu dia, bisa jadi dia adalah pengkhianat untuk perusahaan kita, dengan memberi pengaruh yang tidak-tidak pada calon klien perusahaan ini," gerutu Naga sangat muak.



"Baik, Pak. Tapi, kalau dia masih memaksa bagaimana? Bapak tahu sendiri Bu Dila seperti apa."



"Kamu tangani dia dulu, saya sakit kepala ingin menikmati dulu kopi latte. Panggilkan Satpam untuk mengusirnya."



Zila yang mendengar Naga tidak mau menemui Dila, bersorak dalam hati. Dia bersyukur Naga masih teguh pendiriannya untuk mencegah calon pelakor masuk ke dalam kehidupan Naga.



"Baiklah, Pak, akan saya usahakan." Desy berpamitan dengan langkah kaki yang lunglai. Naga tahu kenapa Desy seperti itu, sebab Dila adalah orang yang sangat menyebalkan yang pernah Desy temui.



Kini giliran Zila bersiap-siap untuk melancarkan rencananya, yaitu surprise pada Naga mungpung Desy sudah tidak ada.



Satu, dua, tiga. Bayangan yang sudah dirancang di dalam otaknya tadi, kini akan mulai Zila praktekan. Sebelum beraksi Zila berdoa dulu di dalam hati minta diberi kelancaran oleh Yang Maha Kuasa. "*Ya, Allah, lancarkan niatku menjadi* *****PELARI*****, *agar suamiku kembali hangat dan kembali ke dalam pelukanku*," pintanya sungguh-sungguh.



Zila mulai berdiri dan perlahan berjalan di belakang kursi kebesaran Naga. Naga yang sedang memijit kepalanya karena sakit, tidak menyadari kini Zila sudah tepat berada di belakangnya. Tinggal eksekusi.



"Greppp."



Zila berhasil menangkap tubuh Naga yang terhalang dengan kursi kebesarannya, tapi dia berhasil menangkap tangan Naga yang dia cengkram dengan gerakan khas perempuan penggoda yang sempat Zila lihat di film-film eksyen. Zila berhasil memperagakan gaya atau gerakan sang penggoda setelah tadi mempelajarinya di dalam mobil sepulang dari mall.



Zila mempelajarinya dengan cara membayangkan di dalam kepalanya. Sehingga ide-ide liar bermunculan di kepala Zila. Demi jadi PELARI alias **penggoda laki sendiri**, Zila sampai sudah mengantongi berbagai gaya liar di dalam otaknya untuk dipraktekkan pada suaminya. Sayangnya dress yang digunakan Zila kurang seksi, tapi Zila memang tidak berani memakai baju yang kelewat seksi keluar rumah, jadi saat ini dressnya masih terlihat wajar.

__ADS_1



"Kak Naga, apakah Kak Naga tidak merindukan aku lagi?" tanyanya dibuat serak dan seksi sembari mencium pipi Naga dengan cepat. Zila tidak membiarkan Naga berontak dan berdiri, meskipun tadi saat Naga dipeluk secara tiba-tiba, Naga sempat kaget dan ingin berdiri.



"Diam, Kak Naga jangan berontak, biarkan aku seperti ini. Aku sangat merindukan Kakak," ungkapnya seksi seperti benar-benar jelmaan wanita penggoda. Memang niat Zila mau menggoda Naga dengan sekuat tekadnya, supaya Naga bangkit kembali dan tidak tergoda calon pelakor yang sedang marak.



"Zi, apa-apaan? Ini kantor," cegah Naga memperingatkan, tapi tidak sanggup menepis tangan Zila yang liar. Jujur saja Naga sudah sangat merindukan sentuhan istrinya itu. Namun Naga sengaja harus jual mahal dulu saat ini, dia masih ingin melihat kesungguhan Zila dalam mematuhi larangannya.



"Zi, lepaskan!" cegahnya lagi yang pura-pura mencegah Zila yang kini sudah mulai duduk di atas paha Naga sembari melingkarkan tangannya di leher Naga. Zila menatap mata Naga dengan menggoda, keduanya saling menatap tanpa mau lepas.



"Aku rindu Kakak, aku sudah tidak sabar bercengkrama lagi bersama Kak Naga setelah sebulan ini aku menjadi jablay yang kesepian tanpa sentuhan suami tercinta," ungkapnya sembari mendekatkan bibirnya di bibir Naga. Dengan maksud menggoda, jemari Zila meraba bibir Naga, disentuhnya dengan penuh hasrat.



"Bibir ini sudah lama tidak menyentuh dan tidak disentuh bibir lembut ini, Kak Naga hanya sibuk marah sama aku tanpa mau mencium lagi. Aku sangat merindukan semua itu, semua kehangatan yang sudah terjalin tapi kini terlewat begitu saja," godanya dengan jemari yang masih liar menyentuh bibir Naga yang sudah sangat Zila rindukan.



Jantung Naga kini sudah dag dig dug tidak karuan saat godaan demi godaan dilancarkan Zila. Tapi itu tadi, Naga sedang berpura-pura tidak tergoda padahal saat ini juga tubuhnya sedang bergejolak dan panas, ingin segera menyalurkan hasrat yang selama ini ada dan ditahannya.



Tiba-tiba suara gaduh di luar ruangan Naga mulai terdengar, sepertinya Desy sedang berusaha membujuk Dila supaya tidak masuk ke dalam ruangan Naga. Zila yang mendengar semakin menjadi godaannya. Dia akan membuat suasana semakin panas jika sampai Dila benar-benar masuk.



"Zi, lepaskan. Ada orang yang ingin masuk ke dalam ruangan ini." Naga ketakutan, karena dia memang tidak pernah terbiasa mengumbar kemesraan di depan orang lain.



"Biarkan saja dia masuk, kalau dia masuk dengan memaksa itu artinya dia orang yang tidak berattitude dan tidak tahu etika masuk ke ruangan orang lain tanpa ijin," ujarnya menepis ketakutan Naga. Naga ingin berontak, tapi dengan sangat terlatih yang dipaksa-paksa terlatih Zila duduk mengangkangi pinggang Naga, sehingga keadaannya kini mereka terlihat sangat intim.




Tepat Dila masuk, saat itu juga Zila melancarkan aksinya mencium bibir Naga dengan rakus dan penuh hasrat membara yang selama ini ditahannya.



"Jangan Bu, jangan masuk. Pak Naga sudah memerintahkan saya supaya mengusir Ibu, tolong ngertiin saya," mohon Desy risau. Dan tepat mereka memasuki ruangan Naga pemandangan yang tidak terduga sedang berlangsung di sana. Dila dan Desy serta merta terbelalak melihat adegan yang dipertontonkan di depannya.


****


Bab 94 (2.2) Liar yang Sesungguhnya


Zila dan Naga semakin anteng berpagut karena Zila yang sangat liar, sehingga Naga tidak mampu menepis lagi.



"Sudah saya peringatkan Ibu jangan masuk ruangan Pak Naga, akhirnya kita harus melihat adegan yang menusuk mata," ucap Desy memperingatkan. Desy bermaksud menyeret Dila, tapi Dila bertahan di situ. Dengan muka yang menahan marah Dila terlihat kesal dan kecewa.



Dengan tahu diri, Desy keluar dari ruangan Naga karena merasa malu sendiri. Sayangnya Desy tidak berhasil membawa Dila keluar ruangan Naga.



Adegan itu masih berlanjut, mereka seperti tidak tahu malu. Tapi buat apa merasa malu, ini ruangan Naga dan sangat pribadi. Jika ada yang ingin masuk, maka dia harus minta persetujuan Naga sang empunya ruangan.



"Kak Naga, ternyata bibir Kak Naga tidak pernah berhenti untuk aku menciumnya, sudah lama sejak aku keguguran bibir ini dianggurkan. Kita ambil nafas dulu supaya ciuman kita yang ronde kedua akan lebih lama," goda Zila sembari meraba pipi Naga gemas.



"Kaliannnn ... tidak tahu malu, sedang ada tamu pun kalian dengan tidak berperasaannya bercumbu di depannya. Apakah kalian tidak punya etika?" teriak Dila mengagetkan Naga, tapi tidak dengan Zila. Dia sudah tahu Dila akan masuk, maka dia sengaja menggoda Naga dengan lebih dahsyat.


__ADS_1


Perlahan Zila melepaskan tautan kakinya di tubuh Naga lalu turun. Zila berjalan menghampiri Dila yang meradang.



"Siapa yang Anda maksud tidak tahu malu? Dan tamu siapa yang Anda maksud? Lalu yang tidak berperasaan itu siapa? Tidakkah Anda berpikir bahwa yang tidak tahu malu dan tidak berperasaan itu adalah Anda sendiri ...."



"Ziii." Naga berusaha menghentikan Zila dan memotong pembicaraan Zila. Tapi Zila belum mau berhenti, dia memberi kode supaya Naga tidak menghentikan ucapannya.



"Anda bukan tamu di sini, sebab Kak Naga tidak pernah mau menerima tamu seperti Anda, tapi Anda yang bersikeras tetap ingin masuk ke ruangan CEO. Mbak Desy saja seorang Sekretaris tahu diri dan selalu permisi jika ingin masuk ruangan CEO. Nah, Anda siapanya CEO main masuk tanpa ijin dan main terabas? Lalu siapa yang lebih pantas disebut tidak beretika? Bukankah jika seorang tamu yang baik dia akan pergi jika tuan rumahnya tidak mau diganggu, tapi Anda memaksa masuk dan di sini kami bertanya, di mana etika Anda?" serang Zila bertubi-tubi membuat Dila semakin meradang.



"Kalian, memang tidak tahu malu dan tidak berperasaan," umpatnya lagi kecewa.



"Jangan menyumpahi orang lain, sementara sumpah itu sudah Anda telan duluan. Masih ingatkah Anda saat Anda pergi dengan lelaki lain meninggalkan suami Anda yang masih cinta-cintanya, tapi dengan tidak tahu malunya dan tidak berperasaannya Anda tega meninggalkan suami Anda begitu saja. Bukankah itu yang pantas disebut tidak tahu malu dan tidak berperasaan?" debat Zila lagi dengan lantang. Naga geleng-geleng kepala melihat keberanian Zila yang tiba-tiba baru dilihatnya di sini.



Zila mendadak sangat cerdas dan berkelas saat dia membalikkan perkataan Dila tadi. Itu sangat mengena di hati Naga.



Dila mendelik sebal melihat Zila sangat pandai membalas tiap ucapannya, sepertinya Zila memang tida bisa dianggap remeh olehnya. Dila pikir Zila yang pernah terkapar di RS Ibu dan Anak karena keguguran kala itu, hanya wanita lemah yang mudah dijatuhkan, dan tidak seberani dan segarang ini. Dila anggap Zila seperti perempuan kebanyakan yang menikah dengan orang kaya karena harta dan ketika ditekan maka dia akan menunduk dan ciut. Tapi dugaan Dila salah besar, rupanya Zila yang pernah dianggapnya masih bocah ini diibaratkan sudah kelas kakap dalam merayu lelaki, contohnya saja barusan.



"Jangan merasa di atas awan, kamu hanya perempuan kampung yang menikah dengan laki-laki kaya karena harta, lalu jika sudah bosan kamu akan lari dengan laki-laki lain," balas Dila tidak senang.



"Bukankah itu Anda sendiri yang pernah melakukan perbuatan itu pada mantan suami Anda, coba ingat-ingat lagi kenapa Anda dulu diceraikan? Jangan jadi amnesia gara-gara ingin kembali pada sangkar lama yang semakin berkilau, itu sama saja Anda menjilat ludah sendiri," sela Zila lagi dengan tubuh yang masih berdiri santai satu meter dari Dila.



"Ihhhh, dasar lontte. Kamu pasti mantan lontte yang dipungut Naga dari penampungan protitusi kemudian dinikahinya. Lontte, sepertimu mana pantas punya anak, pantas saja kemarin keguguran, rupanya kamu hanya lontte," ejeknya sok tahu.



Zila menghampiri Dila dan menatapnya garang, lontte? Keguguran? Pandai banget dia ngarang kalau Zila lontte dan dari mana Dila tahu dia keguguran?



"Lontte kamu bilang?"



"Zi, sudah, jangan layani lagi perempuan stresss itu," cegah Naga yang melihat amarah di wajah Zila semakin menyala.



"Kak Naga diam saja, ini menjadi urusanku," halaunya tidak mau dihentikan. Naga yang sudah risau bakal ada lagi kegemparan yang lebih parah, dengan segera dia memanggil Satpam lewat saluran telepon.



"Hehe, asal kamu tahu, ya, Mak Lampir, aku hanya berani melontte pada suami aku, **hanya pada suami aku**. Tubuhku tidak pernah dijajakan pada lelaki hidung belang atau lelaki yang suka jajan, tadi adegan ciuman di situ itu adalah bukti aku betapa sangat merindukan sentuhan suami aku yang selama keguguran tidak menyentuh aku karena suami aku ingin membiarkan aku bed rest. Lalu kalau aku keguguran itu karena aku belum dipercaya saja sama Allah. Kalau aku keguguran, itu suatu bukti bahwa aku pernah hamil dan Allah masih menunda aku untuk punya anak. Tapi, apakah kamu pernah hamil saat bersama Kak Naga? Bukankah kamu selalu ingin menunda ingin punya anak dan mementingkan kehidupan sosialitamu?" tekan Zila tidak kalah menusuk ulu hati Dila. Di sini oleh Zila, dosa-dosa masa lalu dirinya pada Naga seolah dikuliti Zila.



"Jangan coba-coba ungkit masa lalu aku, bocah ingusan!" Dila tiba-tiba marah dan tidak terima dikuliti dosa-dosanya oleh zila yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Dila semakin mendekat dan berhasil meraih dress Zila. Namun dengan gerakan cepat Zila menepis tangan Dila dan Dila malah tersungkur karena ulah sendiri ke sofa. Sontak dengan tiba-tiba orang-orang yang berada di luar ruangan Naga, cekikikan tertahan melihat Dila tersungkur akibat ulahnya sendiri.



"Sudah, sudah. Permisi Pak Naga, atas ijin Anda saya masuk ke ruangan Bapak dan akan mengamankan Bu Dila. Mari, Bu." Tiba-tiba Pak Sugari Satpam perusahaan Naga yang terkenal garang dan tenaganya kuat datang merangsek kerumunan staff yang mengerubungi ruangan Naga dari luar.



"Awas kamu, ya, bocah ingusan. Nanti lihat saja balasanku. Kamu akan menyesal."



"Jaga juga ucapan Anda Mak Lampir, ancaman Anda akan jadi sorotan. Di mana jika aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, maka aku akan mencari kamu sebagai tersangkanya," balas Zila masih dengan lantangnya. Zila tersenyum puas melihat Mak Lampir dibawa pergi oleh Pak Satpam. Seraya menepuk-nepuk tangannya layaknya kena debu, Zila melihat kepergian Dila dengan senyum yang puas.

__ADS_1


__ADS_2