
Sambungan telpon itu berakhir, Zila tertegun sejenak memikirkan perbincangan barusan bersama Rafa di telpon. Rafa bela-belain menghubunginya sekedar untuk mengetahui apakah dia bahagia atau tidak menikah dengan Naga.
"Aku harap kamu bahagia Raf tanpa mengingat bayang-bayang aku. Kamu harus bahagia, sebab kamu merupakan laki-laki yang baik dan selalu membantu aku saat kita sama-sama belajar dulu," harap Zila tulus.
Malam semakin larut, Naga baru pulang dari kantor sekitar jam sepuluh malam. Saat Naga datang, Zila sudah memakai dress selutut dengan belahan dada yang terbuka. Wajahnya nampak dipoles tipis tapi kesannya natural, persis dandanan Eonni Korea yang kulitnya bening menakjubkan. Entah apa yang akan dilakukan Zila, perutnya yang kini mulai kelihatan melendung di usia yang ke lima bulan masih memperlihatkan keseksiannya. Sepertinya kesan liar kini kembali ditampakan Zila.
"Aku akan merayu Kak Naga dengan pakaian begini supaya dia tidak menolak," ujarnya culas dengan rencana di dadanya.
"Non Zila, Bi Lala pulang sekarang saja, ya. Den Naga sudah di depan," berita Bi Lala dari mulut pintu.
"Baik, Bi. Terimakasih untuk hari ini." Bi Lala manggut sembari bergegas ke arah pintu yang kebetulan sudah dibuka Naga. Sekilas terdengar Bi Lala berpamitan pada Naga dan terdengar menolak saat Naga mau mengantar.
Naga langsung ke kamar dengan disambut suasana temaram. Naga menduga Zila sudah tidur. Naga tidak masalah, toh dia juga sudah sangat lelah dan ngantuk. Ingin rasanya dia langsung berbaring dn memeluk Zila.
Saat Naga akan langsung ke kamar mandi, tiba-tiba sebuah tangan sudah melingkar erat di pinggangnya dengan kepala yang bergelayut manja di leher Naga. Naga sudah bisa menebak siapa yang melingkarkan tangan di pinggangnya. Naga hanya tidak menduga bahwa Zila masih terjaga.
"Sayang, kamu belum tidur rupanya. Kamu sepertinya ingin. Aku sudah ngantuk dan lelah, tapi melihatmu seperti ini sepertinya ngantuknya delay dulu. Aku ingin terbang dan melayang dulu bersamamu," ujar Naga mulai terpancing oleh seorang Pramugari jika diibaratkan di dalam pesawat terbang. Naga dengan cepat membalikkan tubuh Zila yang rupanya sudah disambut Zila dengan tatapan sendu yang ingin.
"Ayo, Kak bersiaplah, cupppp," sebuah ciuman panas di bibir sudah Zila layangkan dengan tangan melingkar di leher Naga. Naga semakin panas dan terpancing hasratnya.
Lima menit waktu yang sangat lama bagi mereka berciuman dengan berbagai gaya (Wakwakwak). Zila melepaskan tautan bibirnya dengan sedikit mempertontonkan tonjolan si kembar. Bagaimana Naga tidak bangkit dan on, tadi mata yang ngantuk kini hilang sudah dengan segala tingkah liar Zila.
"Ayo Kak, bersiaplah," ujarnya sembari menyalakan lampu menjadi terang benderang. Ajakan seksinya menambah semangat Naga yang ingin terbang melayang di indahnya surga dunia, terlebih Zila memang selalu memberikan pelayanan yang full service.
Tidak pikir panjang lagi Naga segera meluncur ke atas ranjang dengan senyum gembira sembari memulai membuka kancing bajunya.
Zila menyodorkan jaket jeans setelah dia sudah siap dengan dandanan yang baru. Rupanya Zila sudah siap dengan jaket hoody yang kini melekat di tubuhnya menutup tonjolan kembar yang tadi sengaja dia pertontonkan pada Naga. Naga melongo merasa kena prank. Sedangkan dia bingung dengan jaket jeans yang diberikan Zila tadi, untuk apa.
__ADS_1
"Jaket jeansnya dipakai, sekarang kita jalan-jalan ke warung tenda di daerah alun-alun Bandung, aku ngidam makan ayam bakar, cumi asam pedas dan balado terong. Ayo Kak, aku sudah tidak tahan ingin segera memakannya mungpung selera makanku sedang bagus," ajaknya memaksa.
Naga yang sudah on tiba-tiba dipaksa harus kembali lagi ke bawaan dasar, duduk diam dan tidak berontak.
"Sayang, bagaimana dengan ini?" Naga menunjuk ke bawah dengan lesu. Zila tersenyum penuh kemenangan, bergegas menuju pintu.
"Nanti jam dua belas malam sehabis kita makan di warung tenda dekat alun-alun, semua itu akan aku puaskan. Sekarang aku perlu manuver dulu ke dalam perut supaya saat berperang nanti aku siap tempur dan bisa mengalahkan senjata musuh," tukasnya santai dengan senyum masih mengembang.
Naga terlihat marah dengan mata yang sayu tapi menyimpan kekesalan yang tidak bisa dijabarkan, membuat Zila semakin gemas saja dibuatnya, mirip Ji Chang Cook lagi kesal, pikirnya.
"Sayanggggg, kamu mempermainkan aku, ya! Awas pulang nanti, akan ku buat kamu tidak berdaya," desisnya seraya berdiri dengan benar lalu mengenakan jaket jeansnya yang disodorkan Zila tadi.
Setelah siap, akhirnya mau tidak mau Naga bergegas demi sang istri yang kini sedang mengidamkan makan ayam goreng bakar di warung tenda alun-alun.
"Sayang, jangan seperti tadi jika kamu ingin mengajak aku makan di luar. Kamu kesannya mempermainkan aku. Aku sudah siap dengan segala kegembiraan aku, tapi kamu malah menghempaskannya ke jurang yang dalam," rutuk Naga saat memasuki lift. Zila hanya senyum-senyum cengengesan dengan caranya tadi. Dia sengaja membuat Naga on supaya rasa kantuk Naga hilang dan dia bersemangat untuk mengantar Zila makan di luar.
"Jangan marah, aku janji setelah pulang dari makan malam ini, akan ku buat Kak Naga merem melek menikmati hidangan kedua setelah makan malam ini. Bagaimana Tuan Naga, apakah tawaran saya ini cukup menggiurkan?" bujuk Zila sembari sengaja menjawil dagu Naga yang lancip.
Naga tidak menjawab, dia segera menyalakan mesin mobil lalu mobil pun segera keluar dari parkiran apartemen mewah itu dan melaju di jalanan kota Bandung yang masih ramai di malam ini.
Tiba di alun-alun kota Bandung, jajanan warung tenda hampir dipenuhi semua pembeli yang makan di situ. Naga masih mencari warung tenda yang masih bisa disinggahinya.
"Sayang, warung tenda ayam goreng dan sea foodnya penuh semua, apakah kita pesan drive thru saja, lalu makannya di mobil atau di rumah," tawar Naga memberi solusi disaat sedang ngantrinya warung tenda. Zila menggeleng dia tetap mau makan di tempat dan masih ingin mencari warung tenda yang menjual ayam goreng dibakar dan sea food.
"Kita cari lagi ke depan, aku maunya makan di tempat. Kita cari saja pedagang ayam gorengnya yang terlihat sepi. Coba belok kiri Kak, aku tahu di sana ada warung tenda juga." Zila menunjuk arah kiri tanpa dibantah Naga. Kantuknya kini juga hilang gara-gara rasa kesal pada Hilda.
__ADS_1
"Ziii, ini tidak ada yang jualan, ada juga tukang martabak, gorengan, nasi goreng, batagor, pempek, seblak." Semua yang disebutkan Naga dibalas gelengan kepala Zila.
"Maju terus, firasatku di depan itu ada yang jual ayam gorang yang digantung dan makanan sea food," ujarnya lagi. Lagi-lagi tanpa bisa dibantah Naga.
"Wahhhh, ini wanginya enak. Coba Kakak hidu oleh hidung Kakak, ayam goreng, kan?" celotehnya seraya hidungnya mencium tajam di mana arah ayam goreng itu berada.
"Itu, itu, Kak. Apa aku bilang, pasti di sekitar sini ada ayam goreng dan sea food. Wahh, kebetulan banget sepertinya kumplit, pembelinya saja cuma beberapa biji. Ayo Kak cepat parkirkan saja mobilnya di sana," ujar Zila antusias.
Akhirnya Naga bisa tersenyum lega setelah tadi manyun penuh rasa kesal. Naga dan zila turun dari mobil mewahnya menuju warung tenda yang menjual ayam goreng serta makanan sea food.
Pedagang warung tenda paruh baya suami istri itu nampak bahagia dengan kedatangan Naga dan Zila. Dia menyambut dengan ramah.
"Ayo Neng, A, pesan apa?" tanya lelaki pemilik warung tenda dengan sumringah. Lalu Zila memesan apa yang menjadi idamannya sejak di apartemen tadi.
"Ayam goreng bakar, cumi asam pedas dengan minuman orange jus," sebut Zila merinci pesanannya.
"Saya, udang rica, dan cah kangkung dengan minuman jus melon," rincinya seraya duduk lesehan menyusul Zila menunggu pesanannya dibuat. Sambil menunggu, Naga menatap Zila yang nampak sangat bahagia menikmati udara malam di kota Bandung.
Senyum bahagianya Zila yang menghiasi wajah cantiknya seketika menghapus rasa kesalnya tadi yang sempat dipermainkan Naga. Bisa-bisanya dia kena perdaya Zila, Naga pikir tadi siap-siap apa, ternyata siap-siap untuk pergi makan malam.
"Sayang, betapa sederhananya kamu, permintaan ngidammu saja hanya di warung tenda lesehan seperti ini, padahal jika kamu minta di restoran mewah saja, aku bisa kabulkan. Betapa terharunya aku dengan kesederhanaanmu dan semua yang ada dalam diri kamu. Kamu memang terbaik untukku." Naga berbicara di dalam hati memandangi Zila yang sejatinya sangat bersahaja.
"Silahkan, Neng, pesanannya sudah siap." Bapak pemilik warung menghampiri seraya menenteng pesanan Zila. Wangi ayam goreng yang dibakar langsung menyuruk ke dalam hidung membuat selera makan Zila semakin meronta. Entahlah sejak usia empat bulan kehamilan, selera makan Zila meningkat, terlebih dia kini tidak mual muntah lagi seperti trimester pertama.
__ADS_1
"Silahkan ini punya Masnya sudah siap." Kembali bapak pemilik warung menyuguhkan pesanan Naga. Wangi udang rica pesanannya juga mengundang selera makannya. Kemudian mereka berdua menikmati makan malamnya di warung tenda lesehan pinggir jalan yang sederhana. Walau demikian, kenikmatan dan kebahagiaannya mengalahkan makan di restoran yang biasa Naga singgahi.