
Hilda terbelalak dengan sebuah nomer yang kini terpampang jelas mengirimkan SMS padanya. Batin Hilda berpikir keras, siapa pengirim SMS itu? Sejenak Hilda berpikir dan menduga bahwa yang mengirimkan SMS itu Nagi. Kenapa Hilda bisa sekuat itu instingnya menebak bahwa pengirim SMS itu Nagi? Sebab sesuai janji yang pernah Nagi ungkapkan di rekaman suara dua tahun yang lalu, dan kini tanda-tandanya kehadiran Nagi seolah mendekati benar adanya.
Hilda antara senang dan tidak. Dia punya rencana untuk Nagi jika Nagi benar-benar kembali padanya. Hilda akan membalas perbuatan Nagi
yang membiarkannya sekian tahun menunggu tanpa ada kabar darinya.
"Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada Kak Nagi. Aku sekian lama menunggu tanpa kejelasan, sekarang tahu-tahu mengirimkan SMS dan menyuruhku menemui dia di Cafe Syaidar. Enak banget Kak Nagi ini," cibirnya kesal dan percaya diri.
***
"Sayang, sekarang kamu sudah lulus dan menjadi sarjana. Kamu boleh memilih akan bekerja di mana, di kantor kedutaan, Jurnalis atau Dosen, atau di pemerintahan? Semua itu berhubungan dengan pendidikan yang kamu kenyam selama ini," tukas Pak Hasri memberikan pilihan, disela-sela makan malam. Kesempatan bersama ini tidak disia-siakan Pak Hasri untuk membicarakan tentang pekerjaan Hilda sesuai dengan pendidikan yang dikenyamnya.
"Aku tidak berminat bekerja di instansi-instansi seperti itu, otak aku tidak nyampe, Pah. Papa tahu, jurusan yang aku pilih saja bukan pilihan aku, melainkan pilihan Papa, berharap aku bekerja di salah satu instansi yang Papa sebutkan tadi," tegas Hilda merasa tidak senang.
"Sayang ...."
"Aku mau bekerja di perusahaan Kak Naga saja, walaupun tidak sesuai dengan pendidikan yang aku kenyam, tapi aku mampu bekerja di sana," potong Hilda memberi keyakinan.
"Tapi, Nak, nilai kamu lumayan bagus, itu artinya kamu mampu bekerja di instansi yang Papa sebutkan tadi." Pak Hasri mencoba mempengaruhi Hilda.
"Kenapa, Papa selalu ingin memaksakan kehendak Papa sama aku, padahal aku tidak srek di hati? Aku ingin diberi kebebasan tanpa paksaan siapa pun termasuk Papa," ujar Hilda sembari berjingkat. Namun lengannya ditahan Bu Hilsa.
"Sayang, Mama mohon kamu jangan pergi. Makan malamlah bersama kami, Mama mau bicara sedikit. Mama mohon," pinta Bu Hilsa memohon. Hilda mengurungkan untuk pergi, dalam hatinya terbersit rasa kasihan sama Mamanya yang selama ini memang dia jauhi.
Hilda duduk kembali dengan mempermainkan tangannya di meja.
__ADS_1
"Berikan Mama bicara sedikit saja, kamu dengar dulu Mama sebentar saja." Bu Hilda memohon lagi.
"Baiklah, Ma. Bicaralah," ucap Hilda mempersilahkan. Bu Hilsa sedikit lega, kesempatan ini tidak akan dia sia-siakan untuk mengungkap isi hatinya.
"Mama dan Papa kali ini membebaskan kamu memiliki hubungan dengan laki-laki manapun, asalkan kamu tetap di jalur yang tidak menyimpang. Mama dan Papa akan mendukung setiap langkah kamu asal semuanya positif. Lalu, mengenai pekerjaan, silahkan kamu pilih di mana kamu suka. Di instansi yang Papa sebutkan atau di perusahaan manapun, silahkan pilih. Yang jelas kamu bisa bertanggungjawab pada diri sendiri dan juga pekerjaan kamu," ujar Bu Hilsa bijaksana.
Hilda masih belum percaya begitu saja apa yang dikatakan Mamanya barusan, dia masih menanggapinya dengan datar.
"Apa semua yang Mama katakan beneran, termasuk ...."
"Termasuk hubungan kamu dengan Nagi, Mama memberi restu. Hanya Mama ingatkan, Mama memberi restu asal kamu tidak kebablasan dan tidak menyimpang dari jalur yang benar," tegas Bu Hilsa memotong ucapan Hilda untuk memberikan nasihatnya. Bu Hilsa berkata seperti itu, sebab dia dan suaminya sudah mengetahui hubungan Hilda dan Nagi yang mana dalam hubungan itu Hilda sangat over agresif dan merendahkan harga dirinya di depan Nagi kala itu.
"Mama serius? Lalu di mana Kak Nagi sekarang? Bisakah Mama menghadirkan dia untuk aku?" Bu Hilsa menggeleng.
"Kenapa, Papa tidak sewa saja orang-orang untuk mencari Kak Nagi?"
"Sudahlah, kamu harus berusaha dengan kemampuanmu. Sekarang kamu sudah dewasa dan tentunya sudah pintar mengambil keputusan. Jadi, silahkan cari jalan hidupmu, asal dalam jalur yang tidak menyimpang seperti apa yang Mama Papa katakan tadi. Mengenai Nagi, Papa bisa saja sewa orang untuk mencarinya demi kamu, tapi alangkah baiknya Nagi yang mencari kamu atau kamu cari informasi sedalam-dalamnya sesuai kemampuan kamu," tukas Pak Hasri memberi pilihan sebagai solusi.
"Aku pegang semua omongan Papa maupun Mama. Kalian jangan mengingkarinya," peringat Hilda seraya beranjak dari meja makan.
Seperginya Hilda dari meja makan, Pak Hasri dan Bu Hilsa nampak lemas menundukkan kepala. Mereka sadar telah memberikan keputusan yang sebenarnya tidak srek di hati mereka. Tapi, mau bagaimana lagi, demi memperbaiki hubungan dengan putrinya, Bu Hilsa akhirnya mengalah dan berusaha membujuk suaminya supaya mengalah dan memberikan kepercayaan pada Hilda supaya Hilda merasa punya kepercayaan diri.
"Biarkan, Pa. Berikan kepercayaan buat putri kita, Mama yakin Hilda kali ini akan berpikir dengan matang."
"Tapi, Ma. Seperti yang kita tahu bahwa Nagi bukanlah darah daging Harsya, Nagi merupakan anak dari si pemerkosa itu. Apakah Mama mau anak kita mendapatkan suami yang latar belakangnya seperti itu?" sergah Pak Hasri bimbang.
__ADS_1
"Tapi Nagi tidak salah, Pa. Nagi hanya korban kesalahan si pemerkosa itu. Lagipula kita juga sudah menyayangi Nagi seperti anak sendiri bukan?" tukas Bu Hilsa menyadarkan suaminya.
"Apakah jika kita menyetujui hubungan Nagi dan Hilda, tidak akan menyakiti Harsya adik Papa yang selama ini menyimpan beban derita oleh perbuatan lelaki bejat itu pada Harumi di malam pertamanya?"
"Mama juga tidak tahu, Pa. Mama hanya berharap yang baik saja. Meskipun Nagi bukan darah daging Harsya sekalipun, tapi Mama sangat menyayangi Nagi. Nagi juga anak yang baik dan bertanggung jawab sejauh ini. Meskipun Nagi bukan darah daging Harsya, tapi kesamaan sifat dan sikap lebih banyak menyamai Naga anak kita. Jadi, Mama tetap menganggap Nagi darah daging Harsya." Bu Hilsa mengungkapkan isi hatinya pada suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Di tempat lain Nagi sedang bersiap untuk kepergiannya ke kota Bandung, dia akan memberi surprise pada Hilda yang selama ini dia cinta. Tadi, dia sudah mengirimkan SMS pada Hilda dan berharap Hilda akan menyambutnya besok di Cafe Syaidar.
"Aku datang, Sayang. Walaupun berbagai penolakan akan aku terima dari Papa Hasri dan Mama Hilsa atau bahkan dari Bang Naga, aku kan tetap maju dan tidak akan menyerah," tekad Nagi bahagia.
"Gi, salam buat keluarga di Bandung, ya. Ibu juga sebetulnya ingin bertemu dengan mereka. Tapi jika Ibu datang ke sana, maka masa lau itu akan terngiang lagi di telinga Ibu. Sampaikan salam Ibu pada mereka. Ibu akan memantau perusahaan bersama Raja di sini, Raja juga bisa diandalkan," ujar Bu Harumi sembari mengusap lengan Nagi lalu meraih tubuh Nagi dan merangkulnya.
Di dalam tiap rangkulannya mengalun doa-doa untuk Nagi, anak yang sangat berbakti dan menyayanginya.
"Baik, Bu. Akan Nagi sampaikan salamnya."
"Kamu ini selain berbakti dan baik, kamu begitu tampan dan lapan dada, Ibu yakin laki-laki setampan dan sebaik anak Ibu ini, kelak akan mendapatkan pasangan yang baik dan sangat mencintaimu, Ibu yakin itu," lanjutnya sembari mengusap pipi lembut sang anak seraya berkaca-kaca.
"Nagi pergi, ya, Bu. Doakan Nagi selamat sampai tujuan," pinta Nagi berharap sang Ibu memberi doa padanya sebuah kelancaran dan keselamatan.
"Tentu saja, Nak," ujarnya seraya menerima uluran tangan Nagi yang mencium tangannya. Mereka saling melepaskan tangan dan melambai memberi ucapan selamat berpisah dan selamat jalan.
Nagi berjalan menuju mobil yang akan mengantarnya ke bandara, dengan penuh keyakinan serta rasa bahagia, sebab apa yang ditujunya merupakan cita-citanya yang sejak empat tahun lalu dia tanamkan dalam hati yaitu melamar Hilda. Juga rasa bahagia karena perusahaan kapasnya kini mulai besar dan ternama di kota Medan juga propinsi sepulau Sumatera.
__ADS_1