
"Aku harus pergi Kak, ini sudah mau jam delapan." Hilda berdiri, terpaksa Nagi juga ikut berdiri dan menyudahi minum kopinya.
"Kenapa tidak nanti saja? Perusahaan itu milik Bang Naga, kamu bisa seenaknya keluar masuk tanpa harus merasa segan. Aku ikut denganmu ke kantor Bang Naga." Nagi segera membayar kopinya dan jus melon milik Hilda.
"Kenapa Kak Nagi mau ikut aku? Jangan ikuti aku, aku mau fokus dulu dalam pekerjaan."
"Sampai kapan? Bukankah kamu ingin aku segera melamar kamu?"
"Urungkan niat Kak Nagi, aku mau fokus dulu dalam karir," tukas Hilda benar-benar membuat Nagi pusing kepala. Awalnya menduga perilaku Hilda hanya gimick belaka, kini Nagi mulai goyah, bisa jadi Hilda banyak masukan dari sana sini sehingga dia berubah pikiran.
"Apa yang ada dalam pikiranmu, kamu menyuruh aku mengurungkan niatku yang ingin melamar kamu? Apakah yang membuatmu jadi plin-plan seperti ini? Apakah ada yang mempengaruhi pikiranmu?" Nagi balik mencurigai Hilda yang tidak-tidak.
"Tidak ada siapapun yang mempengaruhi pikiran atau keputusanku. Aku hanya punya satu alasan, yaitu ingin berkarir dulu. Setelah itu baru fokus memikirkan jodoh," ujar Hilda sembari berlalu meninggalkan Nagi.
"Hilda, jangan pergi!" cegah Nagi. Namun suara panggilan telpon membuyarkan fokus Nagi untuk mengejar Hilda. Nagi diam dan mengangkat panggilan itu dan membiarkan Hilda pergi dengan kecewa.
"Assalamu'alaikum, Bu. Ada apa? Pulang? Nagi persiapkan kepulangan Nagi, Bu. Nagi pulang besok. Ibu jangan khawatir." Nagi menutup panggilan dari Ibunya. Belum juga misinya selesai di kota Bandung, sang Ibu sudah menyuruhnya segera pulang, sepertinya ada hal penting yang ingin Ibunya sampaikan. Tapi Nagi tidak tahu hal penting apa yang ingin disampaikan sang Ibu.
Nagi segera menyusun rencana, sore nanti dia harus segera merealisasikan niatnya yang telah dia ikrarkan empat tahun yang lalu.
Sementara Hilda memelankan kakinya saat Nagi mendapatkan sebuah panggilan telpon. Hilda mendengar kata pulang, sepertinya Nagi akan segera pulang ke Medan. Mendengar itu Hilda jadi sedih, kenapa juga tadi dia menyuruh Nagi mengurungkan niat Nagi melamarnya? Jika Nagi tidak melamar, bukan Nagi yang salah, dialah yang salah, karena tadi sudah meminta Nagi mengurungkan niatnya.
Hilda memasuki mobilnya dengan galau, apa yang harus dia perbuat? Sedangkan cinta dan hatinya hanya untuk Nagi. Sementara sikap penolakannya terhadap Nagi sebenarnya merupakan bentuk jaga image dan gimick semata, tapi kenapa kini Nagi seakan percaya bahwa itu bukan pura-pura.
Hilda tiba di kantor Naga, dia langsung menghampiri ruangan HRD. Hilda berniat melamar kerja dengan menyertakan semua persyaratan yang umumnya dipakai sebagai syarat melamar. Baru kali ini dirinya mengalami yang namanya melamar, padahal cita-citanya hanyalah ingin dilamar dan hidup bahagia bersama Nagi. Tapi, kini kesalahpahaman ini membuat Nagi percaya bahwa Hilda memang ingin mengurungkan niatnya.
"Nona muda, ada apa, kenapa Nona datang ke ruangan saya dengan menenteng sebuah map lamaran kerja? Tidak salahkah ini Nona? Apakah tuan Naga sudah mengetahui semua ini?" HRD Rima terkejut saat kedatangan Hilda ke dalam ruangannya dengan maksud melamar pekerjaan. Dia mersa aneh saja, keluarga pemilik perusahaan besar seperti ini bisa-bisanya melamar pekerjaan di perusahaan Kakaknya sendiri.
"Kenapa kamu harus bingung dan aneh melihat aku melamar pekerjaan? Aku butuh pekerjaan, carikan posisi kosong untukku di perusahaan ini, operator juga tidak masalah," tukas Hilda tidak suka dengan sikap HRD Rima yang seperti orang bingung.
__ADS_1
"Aku harus manggil kamu Ibu HRD atau Mbak Rima atau apa? Aku bingung juga kalau melihat sikapmu yang bimbang seperti ini," lanjut Hilda sedikit berang karena melihat HRD Rima kebingungan.
"Baik, Non. Posisi kosong ada, tapi bukan operator. Operator semua sudah penuh. Yang kosong saat ini hanya posisi Manager Pemasaran, apakah Nona mau menempati posisi seperti itu?" ujar Rima. Senyuman tersungging di bibir Hilda, dia berdiri dari duduknya dan mendongak.
"Tempatkan aku di posisi itu Mbak Rima yang terhormat. Kalau mau wawancara, aku siap sekarang di wawancara," ujarnya sembari duduk kembali dengan muka tersenyum simpul.
"Baiklah Nona, Nona bersiaplah. Wawancara eksklusifnya nanti menunggu konfirmasi dari CEO. Sekarang Nona mau leyeh-leyeh dulu di ruangan manapun terserah Nona," ujar HRD Rima seraya mempersilahkan Hilda untuk menikmati ruangan mana saja yang dia sukai di kantor Naga ini.
Hilda segera keluar ruangan HRD, dia berniat ke pantry untuk mengambil minuman milo hangat kesukaannya. Sementara itu HRD Rima segera menghubungi Desy sang Sekretaris dari Bos Besar, mempertanyakan apakah Bos Besar sudah ada di ruangannya atau belum?
"Desy, jika Pak Naga sudah ada di dalam ruangannya, sampaikan berita ini dari aku, bahwa adiknya, Nona Muda Hilda datang kemari untuk melamar pekerjaan. Dia siap diwawancara. Namun, tadi aku beralasan jika wawancara eksklusifnya harus menunggu konfirmasi dari CEO. Kamu paham maksud aku, kan Des?"
"Oh, Ok, saya paham Bu Rima. Segera saya sampaikan berita ini ke Pak Naga." Panggilan telpon antar line itu berakhir, HRD Rima sedikit lega karena Bos Besar sudah ada di ruangannya.
Sementara itu, Desy yang mendapat berita itu dari Rima, segera bangkit menuju ruangan Bosnya.
"Ada apa Desy, bukankah hari ini tidak ada klien yang akan datang? Bahkan hari ini tidak ada jadwal yang padat untuk saya?" tanya Naga heran.
"Anu, Pak. Saya mau menyampaikan berita dari Bu Rima, bahwa Nona Muda, adik Anda mendatangi HRD untuk melamar kerja. Nona kini sedang menunggu diwawancara eksklusif oleh pihak HRD. Bu Rima sempat bingung, tapi dia tadi ngarang dan telah mengatakan pada Nona Muda bahwa Nona harus menunggu konfirmasi dari CEO untuk wawancara eksklusif. Begitu Pak Naga," lapor Desy serius.
Naga mengerutkan keningnya heran, Hilda melamar kerja ke perusahaannya? Kenapa harus melamar? Sebagai keluarga dari pemilik perusahaan, dia tentu saja memiliki hak eksklusif untuk menempati sebuah jabatan di perusahaan ini.
"Baiklah, nanti aku kirimkan langsung bahan wawancaranya pada HRD Rima. Kamu segera ke ruangan kamu, sepertinya adikku akan segera ke ruanganku."
"Baiklah, Pak. Saya permisi." Desy pun keluar ruangan Naga dengan hati yang sedikit plong karena sudah menyampaikan berita tentang kedatangan Hilda melamar ke perusahaannya.
Naga segera menyusun sebuah pertanyaan eksklusif untuk wawancara Hilda. Ini benar-benar eksklusif sebab pertanyaannya beda dari pelamar yang lain. Setengah jam kemudian, Naga mengirimkan bahan wawancara itu kepada HRD Rima.
Dan, tiga puluh menit setelah dia mengirimkan bahan wawancara pada HRD Rima. Hilda mengetuk ruangan Naga dan masuk seraya mengucap salam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Kak Naga," ujarnya seraya mendekati meja Naga. Naga sudah tidak terkejut lagi dengan kedatangan Hilda ke dalam ruangannya. Nasib baik sebelum Hilda datang ke ruangannya, Hilda sudah lebih dulu dipanggil wawancara oleh HRD Rima. Dan kini setelah wawancara itu, Hilda nampak sedih saat duduk di hadapan Naga.
"De, kamu kenapa? Sedih begitu. Lalu kenapa kamu memaksa ingin melamar pekerjaan di perusahaan Kakak, padahal kamu tinggal minta jabatan saja lalu bekerja sesuai jabatan itu?" Tanya Naga heran. Hilda nampak sangat sedih, sebab wawancara tadi entah mengapa semua pertanyaannya malah sekitar perasaan yang dia rasakan sekarang. Entah ini bahan wawancara dari siapa, sepertinya ingin mengorek tentang dalamnya perasaan Hilda saat ini.
Melihat Hilda nampak sedih dan murung, Naga bangkit dan menghampiri Hilda. Naga meraih lengan adik tersayangnya dan membawanya ke sofa lalu mereka duduk di sana.
"Kak Naga," ucapnya pelan dan tercekat lalu merangkul bahu Naga dan menangis di sana. Baru kali ini lagi Naga melihat Hilda menangis di bahunya setelah beberapa tahun terakhir dia berubah menjadi cewek keras kepala dan sedikit bar-bar. Tapi kali ini sikap manja Hilda tiba-tiba muncul kembali. Hilda menangis di bahu Naga lama. Naga mengusap lembut bahu adik tersayangnya itu yang memang selalu manja seperti itu sebelum-sebelumnya.
"Ada apa, kenapa kamu menangis?" Hilda yang ditanya malah menggeleng, dia benar-benar sedih dengan nasibnya kini. Mengingat sikap dinginnya pada Nagi yang dia tunjukkan, adalah sebagai bentuk menjaga harga dirinya yang dulu menggebu-gebu ingin dimiliki Nagi. Dan sekarang, jadi boomerang baginya, Nagi menduga Hilda benar-benar sedang menghindarinya.
Dari wawancara tadi, Hilda merasa semua pertanyaan wawancara padanya tidak ada yang berkaitan dengan perusahaan, semua tentang isi hati Hilda. Dan ketika Hilda protes, alasan HRD Rima adalah itu merupakan sebuah pertanyaan seputar kondisi emosional pelamar kerja yang harus digali lebih dalam sebagai bahan wawancara, supaya saat pelamar diterima bekerja dia tidak sedang galau dan emosinya tidak sedang labil. Sebab jika pelamar dalam kondisi galau, maka pelamar tidak akan konsentrasi dalam bekerja.
"Sejak kapan, Kak, pertanyaan sebuah wawancara seperti itu? Semua pertanyaan justru tentang apa yang aku rasakan saat ini, upss ...." Hilda langsung menutup mulutnya merasa keceplosan.
Namun Naga sudah mengantongi semua hasil wawancara tadi. Naga tahu apa yang dirasakan Hilda sekarang. Rupanya adiknya ini sedang galau dan gelisah memikirkan cintanya pada seseorang.
"Kak Naga, aku rasanya ingin pergi saja dari dunia ini." Ungkapan Hilda barusan membuat Naga tersentak tidak percaya, sepesimis itu Hilda hanya karena cinta dan seseorang yang dia cinta.
"De, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Ucapan kamu akan membuat Allah murka. Dan, siapa saja umatnya yang ingin mengakhiri hidupnya, maka neraka jahanam kekal untuknya, kamu mau itu?" Pertanyaan tegas Naga sontak membuat Hilda takut. Putus asa membuat dia berpikiran pendek.
"Sebetulnya apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Naga basa-basi, padahal dia sudah mengantongi semua data kegalauan hati Hilda.
"Pulanglah, kalau kamu belum siap bekerja hari ini di perusahaan Kakak. Atau manjakan diri kamu di salon, relaksasi supaya pikiran kamu tenang," usul Naga sembari mengelus rambut Hilda sayang.
Hilda sama sekali tidak menyahut, hatinya sedang asik menikmati kegalauan dan menangis di pangkuan Naga sampai perasaan galau itu menghilang. Kemudian, satu jam dari itu, Hilda pamit. Usulan dari Naga sepertinya akan dia pertimbangkan. Hilda akan ke salon memanjakan diri dan menenangkan pikirannya.
***
"Gi, kamu berniat melamar Hilda, bukan?"
__ADS_1