Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Akhir Yang Bahagia (end)


__ADS_3

   "Kak Nagi bagaimana ini, Kak? Semua aktivitas kita tadi dilihat oleh Ibu? Kenapa Kak Nagi pasang CCTV segala di kamar ini?"


   Nagi sama bingungnya seperti Hilda, dia tidak tahu harus berkata apa jika pulang ke rumah, lalu Ibunya telah melihat adegan vulgar dari CCTV yang ditontonnya.


   "Ya ampun, dulu aku pasang CCTV di kamar ini hanya untuk memastikan seseorang masuk ke dalam kamar lalu mengambil lukisan emas yang terpajang di dinding ini. Pencurinya ketahuan, tapi setelahnya dan sampai sekarang aku lupa melepas CCTV itu. Ya, ampun. Sayang, bagaimana jika Ibu sudah melihatnya? Apalagi kita tadi tidak menutupinya dengan selimut?" Nagi meremas rambutnya dengan frustasi dia kesal dengan ketidak telitiannya dalam hal melihat ruangan pribadinya.


   "Bagaimana kita pulang, Kak? Aku malu sama Ibu. Apalagi kita tadi sudah memainkan banyak gaya dan aksi." Hilda menunduk malu.


   "Aku juga sama sepertimu, Sayang. Aku seperti tidak ada muka jika harus bertemu dengan Ibu. Apalagi tadi kita sangat heboh gonti-ganti gaya." Nagi geleng-geleng kepala.


   Hilda diam saja, dia sangat malu untuk pulang. "Aku tidak mau pulang, lebih baik aku kembali ke Bandung saja, aku tidak mau memperlihatkan wajah pada Ibu." Hilda putus asa.


   "Tidak. Kita hadapi sikap Ibu. Jika Ibu marah dan mata Ibu terlanjur ternoda oleh ulah kita, sebaiknya kita minta maaf dan segera menghapus rekaman CCTV itu," usul Nagi yang pada akhirnya diangguki Hilda.


   Walaupun malu dan seperti tidak ada muka, Nagi dan Hilda akhirnya pulang ke rumah. Di dalam rumah nampak sepi, Ibu tidak ada.


   "Kemana Ibu, kenapa tidak ada?" Hilda heran mencari Bu Harumi yang ternyata tidak ada.


   Namun saat melewati meja dapur ada sebuah surat yang sengaja ditujukan buat Nagi dan Hilda yang isinya.


"Nagi dan Hilda, Ibu sudah masak banyak. Kalian makan siang yang banyak, Ibu takut kalian lelah setelah tadi pulang dari kantor. Ibu minta maaf tidak bisa membersamai kalian makan siang, sebab Ibu saat ini sedang mencari tempat pengobatan mata yang terpercaya, supaya mata Ibu tidak rabun dekat." Tulisan itu telah dibaca oleh Nagi dan Hilda. Mereka menyesal telah membuat Ibu menderita rabun dekat.


   "Ya ampun, Ibu sampai menderita rabun dekat." Hilda berdecak.


   "Sebaiknya kita hapus segera vidionya." Nagi segera bergegas menuju monitor yang terpajang di dinding ruang tamu.


   Setelah menghapus vidio itu, mereka berdua saling pandang seraya tiba-tiba tertawa bersama.


   "Ha, ha, ha, ha." Dua-duanya kompak tertawa saat matanya saling pandang. Mereka ingat kelakuan mereka yang heboh tadi di ruangan pribadi Nagi.


   "Kira-kira Ibu berobatnya ke mana, ya, Kak? Aku takut Ibu kenapa-kenapa kalau sendiri?" risau Hilda seraya bersandar manja di bahu Nagi.


   "Kakak juga tidak tahu. Apa jangan-jangan, Ibu diantar sama Papa Handi. Hah, sepertinya tebakanku benar, sebab sejak pagi tadi aku tidak melihat Papa Handi."


   "Benarkah, Ibu diantar oleh Papa Handi? Tapi, mereka perginya kemana?" Hilda nampak khawatri memikiran Ibu mertuanya yang ngakunya berobat mata.


   "Jangan risau, Ibu pasti sebentar lagi pulang," hibur Nagi.


**


   Malam hari sekitar jam delapan malam, tiba-tiba Bu Harumi pulang dengan sangat mengejutkan, sebab dia pulangnya bersama Papa Handi dengan bergandengan tangan mirip anak ABG yang bau jadian,


   "Assalamualaikum," salamnya kompak dengan muka yang sumringah.


   "Ibu, Papa Handi, kalian dari mana? Kenapa kalian bisa kompakan? Dan itu tangan, kenapa bisa bergandengan, bukankah kemarin kalian masih jaga jarak?" heran Nagi melihat ke arah Ibu dan Papa handi.


   "Ibu, bukankah Ibu tadi pergi berobat untuk mengobati mata Ibu yang rabun dekat?" tanya Hilda sembari melirik ke arah Nagi memberikan sebuah kode.


   "Iya betul, Ibu tadi berobat untuk menjaga kewarasan mata Ibu," ungkapnya seraya memutar-mutar sebuah cincin di jari manisnya.


   "Cincin itu?" kejut Hilda sembari menunjuk jemari Bu Harumi yang sedang diputar-putar olehnya.


   Bu Harumi mencoba menyembunyikan jemarinya. Nagi dan Hilda curiga.


   "Om Handi, coba katakan dari mana saja kalian tadi, ayo jujur sama kami?" desak Hilda curiga.

__ADS_1


   "Kami hanya jalan-jalan dan mengantar Ibu kalian mengobati matanya yang rabun dekat."


   "Om bohong, sepertinya ada yang kalian sembunyikan. Ayo katakan!" desak Hilda lagi tidak sabar.


   "Om tidak bohong, Om tadi memang mengantar Ibu kalian pengobatan mata."


   "Huhhhh, awas, ya. Kalau kalian bohong, maka lambat laun akan ketahuan juga," kilah Hilda kesal dengan dua orang paruh baya d hadapannya yang kini lengket.


   "Assalamualaikum," suara salam telah diperdengarkan membuat seisi rumah kaget.


   "Waalaikumsalam. Ehhh, Pak RT. Masuk Pak RT. Silahkan duduk," ujar Harumi basa-basi. Pak RT duduk lalu meletakkan selembar kertas di atas meja. Nagi dan Hilda mendongak ingin tahu kertas apa yang diletakkan Pak RT itu.


   "Jadi begini Bu Harumi, Pak Handi. Tadi setelah bubaran acara di KUA terdekat simpang jalan itu, Pak Penghulu tadi menitipkan ini pada saya, surat keterangan bahwa kalian telah resmi menjadi suami istri di mata hukum negara maupun agama." Ucapan Pak RT sontak membuat Nagi dan Hilda terperanjat tidak percaya, secepat itu mereka melaksanakan pernikahan.


   "Menikah? Kalian menikah? Jadi, maksud kalian tadi itu menikah bukan pergi ke pengobatan mata rabun dekat?" Nagi membelalakkan matanya mendengar kenyataan yang barusan di dengarnya.


   "Kenapa secepat itu, kok bisa?" heran Hilda mengerutkan kening.


   "Bisa, Mbak, dadakan juga. Hanya buku nikahnya tidak bisa selesai hari ini. Butuh proses satu minggu untuk mendapatkan buku nikah. Maka dari itu, pihak KUA setempat memberikan kertas ini sebagai bukti akurat dan resmi, bahwa Pak Handi dan Bu Harumi sudah sah menjadi suami istri. Surat bermaterai yang sudah dibubuhi tanda tangan pihak KUA dan kedua mempelai ini, bisa untuk keterangan sementara jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Misalnya kalian tiba-tiba digerebek warga dan dituduh sedang berdua-duaan, Pak Handi dan Bu Harumi bisa menunjukkan surat resmi ini sebagai bukti bahwa kalian adalah suami istri," jelas Pak RT sejelas-jelasnya.


   "Kalau begitu, terimakasih Pak RT sudah sudi mengantarkan surat ini pada kami," ujar Bu Harumi senang.


   "Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu karena waktu juga semakin menanjak malam." Pak RT pamit meninggalkan kediaman Bu Harumi yang kini orang-orangnya masing-masing sedang mengalami kecamuk rasa.


   Nagi dan Hilda masih terkejut dan tidak menduga dengan apa yang dilihatnya barusan. Mereka butuh pengakuan dari dua orang paruh baya itu yang tiba-tiba menjelma bak ABG jatuh cinta.


   "Ibu dan Papa Handi coba ceritakan apa maksud semua ini?" todong Nagi.


   "Kami memang sudah menikah, dan Ibu sedang mengobati mata rabun dekat Ibu akibat ulah kalian. Tapi, kini Ibu tidak akan rabun dekat lagi, sebab Ibu juga bisa seperti kalian," ujar Bu Harumi diiringi tawa.


   Bu Harumi sejenak tersenyum dan menatap ke arah Hilda dan Nagi dengan tatapan yang begitu teduh.


   "Ibu dan Papa Handi menikah, bukan semata nafsu atau birahi. Tapi, kami sama-sama membutuhkan untuk saling menguatkan satu sama lain diusia kami yang sudah makin menua. Kami sadar, kami berdua sebetulnya harus berdamai, dan jalur damai yang kami tempuh adalah dengan jalan menikah. Mungkin ini sudah jalan dari Yang Maha Kuasa," tutur Bu Harumi tenang.


   Nagi dan Hilda akhirnya memahami apa yang dijelaskan oleh Bu Harumi. Dan merekapun sepertinya nampak serasi jika diperhatikan.


   "Baiklah, kita makan malam sebelum tidur. Kalian berdua harus makan yang banyak untuk persiapan kalian tidur."


   "Maksud Ibu?" heran Nagi.


   "He, he, he, kalian seperti tidak paham saja." Bu Harumi mesem seraya menuju dapur untuk menyiapkan makan malam hari ini.


   Besok menjelang, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tepat di hari ini sebulan sudah pernikahan Bu Harumi dengan Papa Handi, akhirnya dengan keputusan yang berat yang memang harus diambil, Bu Harumi memutuskan ikut tinggal bersama Handi di Makassar.


   Sementara Nagi dan Hilda, karena sejak Bu Harumi diboyong tinggal di Makassar, maka Nagi dan Hilda memutuskan tinggal di Medan untuk mengelola perusahaannya. Karena Hilda belum hamil, atas kemauannya sendiri dia ingin terjun ikut membantu perusahaan Nagi yang di Medan ini. Nagi tidak keberatan, terlebih dirinya memang ingin selalu dekat dengan Hilda.


   Sementara rencana Nagi yang ingin membangun perusahaan di Bandung, kini perlahan mulai direalisasikan dengan bantuan orang-orang kepercayaan Papa Hasri yang turut memantau jalannya pembangunan perusahaan.


   "Akhirnya kamu bisa membuktikan bisa berdiri di atas kakimu sendiri, Gi. Papa bahagia dan bangga, ternyata Papa tidak salah mempercayakan Hilda padamu.


   Akhirnya, kisah ini ini saya tamatkan sampai Nagi dan Hilda bahagia. Saya rasa cukup, sebab orang-orangnya sudah pada bahagia. Dan yang berbuat jahat juga sudah kena karmanya.


   Terimakasih buat Kak pembaca setia yang selalu mantau kisah ini sampai akhir. Tanpa kalian cerita ini benar-benar sepi bagaikan kuburan.


   Terimakasih terkhusus buat Kak @Deriana Satali Kak Chichik dan juga Kak Milah yang cukup setia mendampingi kisah ini. Akhir kata saya ucapkan wassalamualalikumwr.wb semoga Allah selalu sehatkan. Aamiin....

__ADS_1


Author juga sekalian promo di sini karya Author yang lain, siapa tahu ada yang mau mampir. Mampir ya, hitung-hitung menambah referensi rak buku kalian.



Bab 1 Tercyduk


   "Wah ... jadi begini kelakuan kalian, mesum di lingkungan sini. Kamu juga anak muda, datang kemari setiap pagi saat orang tuanya si Nara tidak ada, rupanya punya maksud terselubung. Vidio ini bisa jadi bukti bahwa kalian sudah berbuat asusila di lingkungan komplek ini." Seorang wanita paruh baya datang tiba-tiba dan menghardik ke arah Nara dan Aldin. Seketika Aldin dan Nara sangat terkejut dan merasa malu. Mereka berdua kompak ternganga, karena kejadian barusan sebenarnya hanya kecelakaan saja.


"Bu, jangan nuduh kami sembarangan! Kami tidak berbuat mesum. Kami hanya kecelakaan dan tubrukan saja. Dan kebetulan posisi kami seperti yang di vidio Ibu, tapi percayalah kami tidak pernah melakukan perbuatan mesum. Sumpah!" Nara mencoba meyakinkan Bu Juleha tetangga sebelah rumah orang tua Nara, yang kebetulan orangnya bermulut ember dan suka ikut campur urusan orang lain.


"Alah, alasan saja. Saya sudah sering lihat laki-laki muda ini datang setiap hari ke rumahmu. Dan rupanya ini yang kalian lakukan." Bu Juleha memperlihatkan kembali vidio adegan Aldin dan Nara yang berhasil direkamnya.


"Ini tidak seperti yang ada di vidio, bahwa kami sedang mesum, ini hanya kecelakaan dan kami tadi benar-benar tubrukan," jelas Nara mulai berkaca-kaca.


"Alah ... biasa kalau terciduk pasti alasannya, 'ini tidak seperti yang kalian pikirkan', ihhh muak banget dengan alasan yang persis di sinetron-sinetron itu. Padahal kalian melakukan perbuatan itu," tudingnya lagi bersungut-sungut.


"Bu, Nara benar, kami tidak seperti apa yang ada di vidio. Apa yang terjadi pada kami hanyalah sebuah kecelakaan, kami tidak sedang mesum. Kalau mau mesum, sudah sejak tadi saat saya tahu orang tua Nara tidak ada, saya ajak saja Nara mesum di dalam. Kan aman, Ibu juga tidak mungkin merekam adegan kami," bela Aldin jujur.


"Kalian sekongkol menyangkal, padahal melakukan perbuatan itu." Bu Juleha tidak mau kalah dengan pembelaan dan sangkalan Nara dan Aldin, dia tetap pada pendiriannya bahwa Aldin dan Nara sudah berbuat mesum.


Aldin geleng-geleng kepala dengan tuduhan mesum yang ditimpakan pada dirinya dan Nara, walau lubuk hatinya sudah ada rasa ingin memiliki si 'gadis kecil' begitu Aldin sering menyebut, tapi bukan dengan cara terciduk seperti itu dia harus mendapatkannya.


Nara sudah terlihat menangis, dia takut keributan dengan Bu Juleha akan berdampak mendatangkan warga setempat, sebab Bu Juleha ngomongnya cempreng naik beberapa desibel dari biasanya kalau masuk telinga, dan oktafnya seakan melebihi penyanyi Celin Dion saat menyanyi. Jadi kekhawatiran Nara ini sangat beralasan.


"Biasa, kalau merasa ya pasti diam atau menangis," tudingnya lagi.


"Bu, sekali lagi saya jelaskan, bahwa kami tidak sedang mesum di rumah ini. Tadi saya dan Nara hanya tubrukan saja. Kalau Ibu merasa mengawasi kami, harusnya pada adegan awal Ibu ngeshoot kami dong. Di situ akan ketahuan apakah kami sengaja mesum atau tidak!" sangkal Aldin sedikit meninggi. Bagaimanapun juga dia dan Nara memang tidak sedang mesum, hanya kejadian dan posisinyalah yang menggiring ke arah mesum. Opini orang yang sekilas melihat ini, pasti akan berpikir bahwa Nara dan Aldin sedang mesum.


Karena suara dari keributan ini terdengar ke samping kiri dan kanan tetangga rumah orang tua Nara, otomatis tetangga sekitar berdatangan dan penasaran dengan apa yang diributkan Bu Juleha dan Nara serta Aldin. Bersamaan dengan itu Bu Melati, ibunya Nara pulang habis dari mengantar pesanan makanan ke tetangga kampung sebelah.


"Ada apa ini, kok pada ribut dan ngumpul di depan rumah saya?" Bu Melati heran dan merangsek masuk pada kerumunan orang-orang yang rupanya sedang mengerubungi Bu Juleha yang memperlihatkan vidio hasil rekamannya.


Saat Bu Melati mendekat, Bu Juleha sengaja memperlihatkan rekaman vidio itu ke wajah Bu Melati. Seketika Bu Melati terkejut menahan dadanya yang seakan sesak.


"Awas, kalian menjauhlah! Ini tidak seperti yang kalian lihat. Yang sebenarnya terjadi pada kami adalah tubrukan yang tidak sengaja, dan kami sama-sama jatuh, sialnya posisi jatuh kami malah seperti di vidio itu. Dan lebih sialnya, saat kami dalam posisi seperti itu, ada orang yang kurang kerjaan merekam adegan kami yang tidak disengaja." Aldin datang dan melakukan pembelaan atas tudingan mesum yang diperlihatkan Bu Juleha pada tetangga dan Bu Melati yang baru saja datang.


Bu Juleha langsung terbelalak saat disebut kurang kerjaan oleh Aldin, merasa tidak terima Bu Juleha balik menyerang.


"Anakmu dan pria muda ini benar-benar melakukan perbuatan mesum, Melati. Pria muda ini sedang membela diri di hadapanmu dan kita semua. Percuma anak dikurung terus di rumah dan dibatasi pergaulannya, ehhh tahu-tahu terciduk mesum. Pura-pura saja untuk menyembunyikan kebusukannya," sindir Bu Juleha mengiris hati Bu Melati. Bu Melati tiba-tiba berderai air mata mendengar sindiran pedas Bu Juleha.


"Bubar kalian semua, awas jika vidio itu disebarkan lewat media sosial, maka saya akan mencari orang yang menyebarkannya termasuk kamu, Ibu tukang gosip!" tunjuk Aldin pada Bu Juleha mengancam. Seketika Bu Juleha melotot tidak terima.


"Baiklah, kami akan pergi, asal kalian harus pertanggungjawabkan perbuatan mesum kalian," tandas Bu Juleha seraya menggiring tetangga yang terlanjur berkumpul di depan rumah Bu Melati.


Berita tentang Nara dan Aldin yang terciduk berbuat mesum, dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut saat itu juga. Bu Melati shock, tubuhnya lemas tidak berdaya. Nara dan Aldin membawanya ke dalam rumah dengan perasaan yang bersalah. Akibat tubrukan tadi, tidak disangka akan terjadi kericuhan ini, sampai membuat Bu Melati shock.


Pak Kusuma yang sedang berada di bengkel pun mendengar berita tidak mengenakkan ini dari Mardi, tetangga dekatnya yang datang dan mengabarkan berita itu dengan muka yang masih kaget. "Yang benar, Mar? Apakah kamu tidak salah dengar?"


"Saya tidak salah dengar, tadi Bu Juleha berkumpul di depan rumah Pak Kusuma dengan memperlihatkan bukti vidio mesum. Nara dan seorang lelaki muda, tengah terciduk melakukan perbuatan mesum," berita Mardi ngos-ngosan.


Pak Kusuma saat itu juga menunda dulu pekerjaannya dan menitipkan bengkel pada salah satu pekerjanya, dan menuju rumah dengan motor bebek bututnya.


"Ada-ada saja Nak, ada apa sebenarnya? Terciduk mesum dengan lelaki mana? Setahu bapak, kamu tidak pernah punya teman lelaki, kecuali Nak Aldin. Tapi bukankah kalian tidak ada hubungan khusus?" Sepanjang jalan menuju rumahnya, Pak Kusuma diikuti Mardi tetangga dekatnya, bertanya-tanya heran dalam benaknya tentang kejadian yang baru saja didengarnya.


Tiba di depan rumah, Pak Kusuma melihat pemandangan yang tidak biasa. Dia melihat istrinya, Bu Melati sedang di kelilingi Nara dan seorang lelaki muda yang pernah ke rumahnya tempo hari. Seketika emosi Pak Kusuma memuncak. Apa yang akan dilakukan Pak Kusuma? Apakah dia akan mengamuk pada Aldin? Lanjutannya di bab 2 ya....

__ADS_1


__ADS_2