
"Bos, maaf!" seru seseorang yang ternyata Hasya seraya bermaksud akan keluar dan kembali dari ruangan Naga setelah melihat kejadian barusan. Naga dengan cepat melepaskan rangkulan Sila yang bis saja membuat orang yang melihatnya salah paham.
"Sya, masuklah. Dan tolong bawa keluar perempuan ini dari ruanganku," titah Naga tanpa segan.
"Eehhh, apa-apaan sih, Mas. Kenapa aku diusir, bukankah kita tadi berjanji akan melakukan kencan singkat siang ini?" ucap Sila berbohong membuat Hasya mengerutkan keningnya tidak percaya.
"Sya, ikuti perintahku," ulang Naga mengingatkan perintahnya tadi.
"Baik, Bos." Hasya mematuhi perintah Naga, meskipun hatinya bertanya-tanya.
"Mas Naga, apa-apaan? Kenapa aku kamu usir? Huhhh, sombong," omelnya kesal. Naga tidak menghiraukan omelan Sila, dia sungguh tidak suka dengan kedatangan Sila yang membuat mood bahagianya tadi harus rusak gara-gara Sila.
"Sudah beres, Bos," lapor Hasya kembali ke ruangan Naga. Naga tersenyum puas dengan kinerja Hasya yang tidak diragukan lagi.
"Duduklah, Sya. Aku beruntung kamu segera datang tepat waktu," seru Naga senang menyunggingkan senyum.
"Bos, benarkah Bos ada kencan singkat dengan Mbak Sila? Bos janjian dengan Mbak Sila?" Hasya bertanya penuh penasaran.
"Jangan sembarangan bicara kamu, Sya. Sila itu mengarang. Dia tiba-tiba datang setelah aku selesai menandatangani kerjasama dengan para klien. Dia datang dan langsung nyosor memeluk sambil memberi ucapan selamat," sangkal Naga tidak suka.
"Saya pikir Bos dan Mbak Sila janjian. Tapi hati-hati saja, Bos. Siapa tahu di tempat umum Mbak Sila main sosor dan mempermalukan Bos,"peringat hasya khawatir.
"Itu tidak akan terjadi, Sya. Aku punya bodyguard, apa gunanya aku punya mereka jika tidak sanggup menangani seorang Sila?" Hasya manggut-manggut paham.
"Bagaimana, Sya, urusan di Jakarta lancar?"
"Beres, Bos. Perusahan di Jakarta lancar, terlebih Bos Nagi sangat bisa diandalkan. Dia sangat cerdas dan sangat pesat perkembangannya dalam menjalankan perusahaan. Ini tidak lepas dari bimbingan Tuan Besar dan motivasi Bos Naga," terang Hasya diselipi memuji Nagi, adik sepupu Naga.
"Syukurlah, itu yang aku harapkan. Sekarang Nagi makin terasah dan terbukti dia sanggup menjalankan perusahaan, terlebih jika dia nanti memimpin perusahan di luar daerah."
"Betul, Bos."
"Baiklah, kalau begitu bersiaplah Sya, kita akan ke Lembang. Aku kan memantau sejauh mana progresnya pembangunan pabrik di sana," ajak Naga mengingatkan Hasya tentang sertifikat tanah milik almarhum orang tua Zila.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Bos. Saya jadi ingat masalah sertifikat orang tuanya Non Zila. Kebetulan saya ada kabar yang cukup mengejutkan dari penemuan orang-orang terpercaya yang saya utus," ucap Hasya menghentikan langkah Naga menuju pintu.
"Baiklah. Aku juga sudah ingin tahu bagaimana perkembangannya dan informasi yang akurat dari sertifikat orang tua istriku. Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam mobil saja sambil berjalan menuju Lembang," putus Naga seraya berdiri dan berjalan menuju pintu.
Tiba di parkiran perusahaan, Hasya segera mengambil kemudi dan menjalankan mobilnya membelah jalanan kota Bandung menuju kota kecil Lembang.
Empat puluh menit kemudian, mobil mewah yang ditumpangi Naga dan Hasya samapi di kaki Gunung Putri, kota kecil yang masih dikelilingi pegunungan.
**
Sementara itu, Zila yang baru turun dari angkot, berhenti sejenak di bawah tugu untuk berteduh dari panasnya sinar mentari yang mulai terik. Zila sedikit menyesal kenapa tadi dia tidak naik grabcar saja supaya bisa sampai di depan rumah Kobar. Zila sudah sangat rindu ingin bertemu Paman tersayangnya yang kini sudah pulang pasca dirawat akibat pengeroyokan tempo hari.
Saat masih menikmati semilir angin yang berhembus, tiba-tiba sebuah motor lewat dan berhenti di depan Zila sembari memainkan setang sehingga suara klaksonnya menderu-deru tidak karuan dan berisik, membuat telinga Zila terasa budeg. Zila baru menyadari motor siapa yang baru berhenti dan membunyikan klakson dengan berisik, tadinya dia pikir itu adalah orang yang sengaja lewat dan kebetulan berhenti di depannya.
"Nauri dan Ridu, pasangan bikin onar datang. Aku harus berhati-hati." Zila berbicara di dalam hatinya dengan perasaan was-was. Namun bukan Zila namanya kalau dia merasa takut hanya dengan melayani dua orang yang suka bikin onar di kampung Sukaseuri.
Nauri turun dari motor yang dimainkan Ridu, suara bising klakson motor masih memenuhi tempat itu. Sayangnya jalan itu sepi dan memang jalan menuju Kampung Sukaseuri tidak terlalu banyak lalu lalang kendaraan maupun orang lewat. Keadaan ini digunakan Nauri dan Ridu untuk mengganggu Zila yang sudah dua bukan ini tidak mereka jumpai setelah menikah.
"Ohhh, aku rindu teman semasa sekolahku dahulu. Sejak dia menikah, aku sudah lama tidak berjumpa dengannya. Rindu rasanya ingin selalu membuat hidupnya tidak TENANG," ujarnya sambil menyeringai.
Zila tidak ingin meladeni Nauri yang memang tujuan berhenti di depannya hanya untuk mengganggu dirinya. Zila mendilak marah lalu berusaha melangkahkan kakinya untuk meneruskan perjalanannya menuju rumah Kobar.
"Berhenti, apakah elo tidak rindu dengan teman lama elo ini, Zila Arzilla? Mentang-mentang elo sudah menikah dengan orang kaya dari kota, sekarang begitu sombong dan melupakan kami. Ahahahahahhha," ejek Nauri diimbuhi tawa yang menggema. Zila hanya menatap lalu berjalan kembali.
"Jangan menghindar, dasar penjaja cinta! Paling sekarang sudah diusir sama suami hidung belangnya karena terbukti sudah tidak perawan lagi, itu makanya elo ada di kampung ini, kan?" lanjut Nauri ingin puas.
"Ngomong sesuka hati elo, dasar tukang onar. Mana ada anak seorang Kepala Desa kelakuan persis preman jalanan yang tidak tahu diri dan urakan dan suka ganggu orang, preman saja tidak berani ganggu orang lewat yang sedang berteduh." Zila akhirnya membalas ejekan Nauri yang menyakitkan tanpa rasa takut. Akan tetapi dalam hatinya Zila merasa was-was, dia takut Nauri melukai dirinya.
Nauri mendekat seraya meraih tas yang di sampir di bahu Zila dan menariknya. Otomatis tubuh Zila ikut tertarik dan hampir jatuh. Zila menahan tumpuan kakinya dengan kuat sehingga Zila masih bisa berdiri. Tangan Zila berusaha menarik rambut Nauri yang panjang diikat satu. Namun, gagal. Sekarang Zila berusaha meraih tangannya Nauri, namun gagal lagi. Akhirnya tas Zila berhasil diambil Nauri. Nauri tertawa gembira. Sedangkan Ridu tersenyum puas menyaksikan kedua perempuan yang di depannya saling menyakiti.
"Kembalikan tas gue!" teriak Zila marah. Nauri tidak peduli, dia semakin menjadi malah berusaha mengeluarkan isi dari tas sampir milik Zila.
"Jangan elo keluarin isi tasnya, kalau tidak maka gue bertindak," ancam Zila berang dan kali ini dia serius dengan kata-katanya.
"Gue tidak peduli, paling isinya pengaman supaya elo bisa layanin laki-laki hidung belang di kafe Pamanmu yang miskin itu," hina Nauri semakin menjadi. Zila berdiri dengan rasa marah yang makin menyala.
__ADS_1
"Setan, gue nggak bisa diam dan diinjak-injak kayak gini," teriak Zila. Perlahan dia mendekat dan berusaha meraih tas Zila, sial tas itu berhamburan isinya. Hp dan cargernya jatuh mengenai aspal yang sengaja Nauri jatuhkan tinggi-tinggi sehingga HP Zila tipe biasa yang cuma satu-satunya itu jatuh dan pecah.
Zila menatap sedih plus marah. Hp yang jatuh dan pecah itu tidak dia pedulikan. Zila meraih rambut Nauri dan berhasil dia jambak sekuatnya sehingga Nauri terjengkang.
"Jangan bikin gara-gara sama gue, gue bisa berubah kayak iblis jika gue terlalu di injak dan dihina," cetusnya seraya memperkuat tarikan rambut pada kepala Nauri.
"Lepaskannnnn, sakit pelacurrrr!"
"Kurangajar lu, ya, nangtang gue rupanya. Rasakan pembalasan gue. Plakkkkkk," tamparan keras mengenai muka Nauri yang lumayan manis. Ridu yang melihat bukan menolong, malah asik merekam adegan demi adegan tanpa rasa kasihan.
"Ahhhhhhh." Giliran Zila kini menjerit sebab wajahnya ditampar Nauri. Untuk sejenak Zila meraba mukanya yang panas. Amarahnya semakin menyala, Zila kini berusaha meraih Hp Nauri di saku celananya kemudian dia raih dan dia lempar seperti apa yang dilakukan Nauri pada HPnya.
"Brakkkk." Hp Nauri pecah....
"Aduhhhj, apel gue. Ihhh dasar cewek liar lo," umpat Nauri sembari meraih Hpnya yg sudah terbagi dua. Nauri merasa sedih sebab Hp itu pembarian Ayahnya sebulan yang lalu.
Zila tersenyum bahagia dengan dada membusung. "Impas, makanya jangan elo pancing emosi gue, jadinya HP pemberian Papamu yang mahal ini hancur." Zila bangga dan tertawa renyah.
"Setan, lu, Zila Arzilla. Akan gue laporin Papa gue." Nauri mengancam sembari menatap Hpnya yang pecah.
Pada saat itu, tiba-tiba sebuah mobil yang akan lewat terpaksa berhenti karena jalannya merasa terhalang oleh pertengkaran Nauri dan Zila.
Nauri melirik ke arah Ridu memberi kode supaya melakukan sesuatu. Ridu menghentikan Hpnya yang sedang merekam. Lalu tangannya merogoh sesuatu dari tasnya, sebuah botol minuman. Entah minuman apa. Ridu menyerahkan botol itu pada Nauri dan dia kini beraksi dan mendekati Zila. Zila berusaha melawan dan mundur menjauhi Ridu. Namun sekali melangkah, Ridu berhasil meraih tangan Zila dan berhasil mengunci kaki Zila.
"Setannn, lepasin gue cowok bencong!" Ridu. Dan Nauri tidak peduli, mereka lebih tertarik dengan botol yang ada di tangan botol yang kini dipegang Nauri. Nauri mendekati Zila dan secepat kilat meraih dagu Zila dan berhasil mencengkramnya.
"Buku mulut lo, maka minuman ini akan masuk tenggorokan elo dan elo akan menikmati sensasi luar biasa dari minuman ini," ucap Nauri seraya memaksa Zila supaya membuka mulutnya. Zila berusaha mengatup mulutnya dengan kuat.
"Plakkkk." Tamparan itu lagi-lagi dilabuhkan di wajah Zila sampai Zila mengeluarkan air mata.
"*Ya Allah, kirimkan bantuanMu. Aku sudah* *lemas dan menyerah*," bisiknya berdoa dalam hati. Tangan Nauri semakin kuat mencengkram dagu dan mulut Zila perlahan membuka. Zila sekuat tenaga menahan mulutnya terbuka.
"Ha ha ha ha, akan kemana lagi elo minta pertolongan, dasar penjaja cinta," umpatnya sembari mendekatkan mulut botol ke atas mulut Zila yang kini setengah terbuka.
"Hentikannnn," teriak seseorang sembari merebut botol dalam genggaman Nauri.
__ADS_1