Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 47 Ulah Hilda


__ADS_3

**Naga** memasuki ruang rawat Zila. Naga menghampiri dengan perasan was-was. Semua orang yang ada di dalam ruangan memberi Naga jalan untuk menghampiri Zila. Naga duduk dan meraih jemari Zila yang tidak dipasang selang infus.



"ZI, Sayang, kamu kenapa?" tanyanya resah. Perlahan Naga memutar tubuhnya dan menoleh pada semua orang yang berada di sana. Satu persatu tidak luput Naga tatap termasuk sang Mama.



"Bi Rana dan Bi Rani, apa yang terjadi dengan istri saya?" tanya Naga penasaran. Bi Rana sekilas menoleh pada Bi Rani, lalu berbicara.



"Tadi setelah Den Naga pergi, yang kami lihat Nona turun ke bawah dan menuju dapur, sepertinya Nona mau memberikan map yang Den Naga tinggal. Namun Den Naga sudah tidak ada. Akhirnya Tuan besar yang meminta untuk diberikan pada Aden." Bi Rana menjelaskan kronologis yang terjadi sebelum Zila pingsan dan dibawa ke RS ini.



"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" Naga bertanya penuh penasaran.



"Setelah itu kami tidak melihat lagi apa yang terjadi atau yang dilakukan Non Zila, sebab kami fokus kembali pada tugas kami masing-masing," tukas Bi Rana kembali dengan keterangannya.



Naga mengangguk-angguk dengan penjelasan Bi Rana, yang sesungguhnya Bi Rana tidak menceritakan semua apa yang sebenarnya terjadi.



"Lalu, Mama dan Hilda kemana saat Zila menghampiri meja?" tanya Naga pada Mamanya.



"Mama masih di sana, dan apa yang dikatakan Bi Rana benar adanya." Bu Hilsa memperkuat cerita Bi Rana.

__ADS_1



"Lalu, apakah Zila sarapan dulu di sana?"



"Zila menolak sarapan saat Mama tawarin makan, dia segera beranjak ke atas," ujar Bu Hilsa. Naga menatap Bu Hilsa dengan rasa penasaran yang masih belum terpuaskan.



"Lalu setelah itu apa yang terjadi?"



"Tidak ada yang terjadi setelah itu, istrimu langsung menuju atas, dan Mama tidak tahu jika di atas Zila ternyata pingsan," cerita Bu Hilsa tanpa menceritakan yang terjadi sebelum Zila naik tangga.



"Apakah sebelum Zila naik tangga, adakah perdebatan dengan Hilda?" Pertanyaan Naga ini langsung membuat Bu Hilsa tidak bisa berbicara apa-apa lagi selain diam, gelagatnya membuat Naga curiga. Naga yakin ada perdebatan antara Zila dengan Hilda, adiknya.




Naga hanya bisa menarik nafasnya panjang membuang kegundahan dan rasa kecewanya dalam-dalam.



Tidak berapa lama **Pak Hasri** muncul setelah tadi mengikuti Naga sampai RS. "Papa," guman Naga.



"Bagaimana keadaan istri kamu, Ga?" tanya Pak Hasri nampak lebih gusar.

__ADS_1



"Masih belum sadarkan diri, Pah," jawab Naga seraya mengalihkan pandangan pada Zila yang memang belum terlihat melakukan pergerakan.



Tidak berapa lama, Dokter yang menangani Zila datang menghampiri Zila. Naga segera berdiri dan mempersilahkan dokter yang ber name tag **Haura** itu mendekati Zila.



"Pasien belum bangun?" tanya **Dokter Haura**.



"Belum, Dok," sahut Naga.



"Ok, itu tidak apa-apa. Saya ingin berbicara dengan suaminya , apakah diantara kalian adakah suaminya?" tanya Dokter Haura seraya melihat ke arah Naga serta Pak Hasri.



"Saya suaminya, Dok. Ada apa sebenarnya dengan istri saya?" Naga bertanya penuh dengan rasa penasaran.



"Istri Anda sepertinya tadi pagi mengalami mual muntah yang lumayan intens, sehingga mengakibatkan seluruh nutrisi di dalam tubuhnya tidak terserap sesuai fungsinya. Terlebih istri Anda mengeluarkan semua isi dalam perutnya. Jadi saat istri Anda mengalami sedikit tekanan, tubuhnya mengalami stress karena perutnya dalam keadaan yang sudah kosong. Jadi baik asupan gizi dan tenaga sudah habis dalam tubuhnya. Makanya istri Anda bisa ambruk dan jatuh pingsan." Dokter Haura menjelaskan panjang lebar keadaan Zila sebelum mengalami pingsan atas diagnosisnya.



Naga manggut-manggut dan mencoba mencerna semua yang dijelaskan dokter Haura dengan mengaitkan kejadian yang terjadi di rumahnya. Bisa jadi Zila sebelum pingsan memang perutnya kosong dan juga mendapatkan tekanan dari seseorang. Dugaan Naga, sepertinya mengarah pada Hilda. Naga menduga Hilda dan Zila sempat terjadi pertengkaran sehingga menimbulkan Zila pingsan.


__ADS_1


"Pasti ini ulahmu, De. Kamu memang belum bisa menerima Zila sebagai kakak iparmu. Aku yakin ini pasti ulahmu," yakin Naga dalam hati.


__ADS_2