Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Pernikaahan


__ADS_3

     "Ayo, punya Kakak juga pakai. Nanti kita sama-sama keluar dan sama-sama tunjukan ke Mama fitting gaun pengantin kita."


     Cukup sepuluh menit Nagi menggunakan jas pengantinnya. Tapi Hilda masih berkutat dengan gaunnya.


     "Bantu aku dong Kak, ini belakangnya tolong tarik resletingnya," suruh Hilda meminta tolong.


     "Sayang, lama banget sih. Ayo keluar," titah Bu Hilsa tidak sabar. Akhirnya Nagi dan Hilda keluar dari fitting room. Saat Mama Hilsa melihat Nagi dan Hilda keluar sama-sama dari ruangan fitting, Mama Hilsa kaget dan memperhatikan Nagi dan Hilda dengan seksama.


     "Kalian, kenapa kalian keluar sama-sama dalam satu ruangan?" kaget Bu Hilsa sembari menutup mulut.


     "Anu, Ma. Tadi Hilda susah menarik resleting gaunnya, terpaksa Nagi masuk dan mencoba membantu menarik resleting yang susah ditarik apabila oleh tangan Hilda sendiri," alasan Nagi pandai.


     "Kalian ini pasti curi-curi kesempatan," dengus Mama Hilsa tidak percaya.


     "Bagaimana, Ma? Apakah aku sudah bagus?" pamer Hilda memperlihatkan gaun nasional yang dipakainya. Mama Hilsa tersenyum senang, sebab gaun pertama yang dipakai Hilda sangat cocok dan sangat cantik saat dikenakan Hilda.


     "Sungguh serasi," puji Mama Hilsa.


     "Kami tidak mau mengganti gaunnya, kami pilih yang ini saja," ujar Hilda sebelum Mama Hilsa mengungkapkan pendapatnya tentang gaun yang lain.


     "Kalian benar-benar sudah yakin?" tanya Mama Hilsa meyakinkan.


     "Iya, Ma. Kami yakin." Keduanya kompak menjawab. Akhirnya Bu Hilsa menerima keputusan anak dan calon menantunya ini dengan sukacita.


      Sebulan berlalu, hari ini merupakan hari dimana Hilda dan Nagi akan melaksanakan ijab qabul. Rasa bahagia terpancar di wajah keduanya. Bu Harumi yang merupakan orang tua Nagi satu-satunya dengan berat hati hadir. Berat hati dalam arti tidak sanggup mengingat masa lalu jika menginjakkan kaki di kota Bandung ini, sebab semua kepedihan Harumi saat muda diawali di kota ini. Kebahagiannya terenggut, rumah tangga hancur dan kesucian cintanya juga ikut hancur akibat ulah seorang lelaki yang katanya mencintai dirinya dan selalu mengejar dirinya.


     Harumi mendesah sedih, dia benar-benar tidak menyangka harus kembali menginjakkan kaki di sini. Prosesi ijab qabul pun segera dilaksanakan. Nagi dn Hilda sudah dipersiapkan di depan penghulu. Sebelum janji suci ikatan pernikahan itu dimulai, Pak Penghulu memberikan dulu wejangan dan nasehat baik, pada kedua calon mempelai. Tentang kewajiban suami dan istri juga haknya yang tercantum jelas di dalam buku nikah.


     "Saya terima nikah dan kawinnya Hilda Putri Regana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 50 gram emas dibayar tunai," ucap nagi lantang tanpa hambatan apapun. Dengan berurai air mata akhirnya nagi mengucap syukur setelah Pak Penghulu membacakan doa setelah terlaksananya ijab qabul.


     Nagi masih menangis seraya beralih ke Hilda yang sama terharunya. Nagi memasangkan cincin di jari Hilda lalu mencium tangan perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Kini giliran Hilda mencium tangan Nagi. Hati Hilda sangat gembira karena cita-citanya kini kesampaian, yaitu menjadi istri Nagi yang sudah dicita-citakannya sejak dulu.

__ADS_1


     Acara ijab qabul yang dilaksanakan di kediaman oang tua Hilda, terasa sangat khidmat dan sakral. Nampak wajah keduanya sangat bahagia. Setelah ijab qabul,kedua mempelai kini digiring menuju mobil pengantin untuk menuju hotel berbintang lima dan terbesar di kota Bandung untuk melanjutkan acara resepsi yang akan digelar di sana.


     Para tamu undangan sudah mulai hadir. Semuanya kurang lebih 1000 undangan. Tamu undangan hanyalah kerabat dekat, saudara, tetanga dekat serta rekan bisnis Nagi dan teman-teman masa sekolah atau kuliah Hilda.


     Para tamu undangan mulai menyalami kedua mempelai. Mereka memuji kedua mempelai cantik dan tampan katanya. Mereka berdua dielu-elukan bak raja dan ratu semalam.


     Saat acara menyalami pengantin, ada dua orang tamu undangan di barisan tamu keluarga. Nagi menatap keduanya dari jauh dengan tatapan yang biasa dan tidak kaku lagi ketika harus terpaksa dihadapkan bertemu Diara. Diara mulai menyalami Hilda dan Nagi. Hilda sepertinya tidak menyadari kalau itu Diara, dia tidak protes atau banyak tanya.


     Kini giliran Diara menyalami Nagi. Namun saat akan menyalami Nagi, dengan cepat Nagi langsung menangkupkan kedua tangan di dadanya. Diara nampak terkejut dan terlihat sedikit malu. Nagi nampak santai dan tidak melihat Diara salah tingkah.


     "Selamat, ya, Bos Nagi. Akhirnya Anda menikah juga dengan Non Hilda. Semoga sakinah, mawadah dan warohmah," doa Hasya tulus. Nagi mengangguk dan merangkul Nagi dengan hati yang gembira.


     "Gi, akhirnya kamu jadi adik iparku. Aku titip Hilda adik manjaku satu-satunya," pesan Naga seraya merangkul Nagi yang sudah dia anggap adik sendiri.


     "Sama-sama, Bang." Nagi menerima rangkulan dari Naga sebagai rangkulan dari seorang Kakak ke adiknya. Kini Nagi kembali menitikkan air mata tentang perasaannya yang sensitif. Dia jauh lebih sensitif dibanding Hilda sepertinya.


     "Kamu jangan menangis, Gi. Tanggung jawab kamu kini besar, membahagiakan adikku dan jangan pernah menyakitinya," pesan Naga serius. Nagi mengangguk paham apa yang dikatakan Naga barusan.


     Setelah kedua mertuanya, kini giliran Harumi ibu kandung Nagi yang menyalami anak satu-satunya. Bu Harumi sangat terharu melihat Nagi bersanding dengan pilihan hatinya. Harumi menangis terlebih jika mengingat nasib Nagi yang sudah menderita sejak kecil, semakin meleleh air mata Harumi di pangkuan anaknya.


     "Semoga kamu bisa menjadi imam buat istrimu, membawa kebahagiaan dunia juga akhirat. Membimbing istrimu dalam kebaikan," nasihat Harumi seraya mencium kening Nagi. Sama halnya pada Hilda, Harumi juga memberikan beberapa patah kata nasihat..


     "Semoga bisa menjadi istri yang baik buat suaminya, selalu ada di setiap suka dan dukanya. Menjadi penyejuk dan membawa rumah tangga sakinah mawaddah warohmah," nasihat Harumi kepada Hilda. Hilda mencium membalas dengan mencium kedua tangan Harumi dengan penuh takzim.


     Setelah acara menyalami pengantin dan sesi foto selesai dilaksanakan, para tamu undangan diarahkan menuju meja prasmanan untuk menikmati menu istimewa di hotel berbintang lima itu.


     Hilda dan Nagi juga sepertinya sudah sangat kelaparan. Hilda apalagi selain lapar, dia nampak gelisah. Lalu kedua mempelai digiring oleh dua orang dari pihak WO mengantar mereka berdua ke meja khusus kedua mempelai.


     Nagi dan Hilda kini mulai makan menikmati hidangan persembahan hotel bintang lima yang hidangannya super lezat. Setelah kedua mempelai kekenyangan, keduanya kini digiring ke dalam kamar pengantin untuk membuka baju pengantin yang mereka pakai. Butuh waktu 30 menit untuk membuka gaun pengantin, dan akhirnya gaun pengantin berhasil dibuka.


     Hilda dan Nagi bergiliran ke kamar mandi membersihkan diri dan make up yang menempel di wajah dan tubuh mereka. Saat Hilda ke kamar mandi, dia sangat terkejut sebab dirinya kedapatan sedang lampu merah. Gagal deh mempersembahkan malam pertama untuk Nagi malam ini karena terlanjur datang lampu merah. Pantas saja tadi Hilda terlihat gelisah, rupanya dia sedang mendapat lampu merah.

__ADS_1


     Hilda keluar kamar mandi dengan wajah yang ditekuk membuat Nagi heran. "Sayang kenapa?" tanyanya heran.


     "Kak, aku minta maaf, karena malam ini aku tidak bisa langsung Kakak unboxing, sebab aku tiba-tiba lampu merah," jelas Hilda menunduk penuh penyesalan. Nagi sedikit terkejut, tapi akhirnya tersenyum sebab malam ini sebetulnya dia tidak berniat mau unboxing Hilda, sebab dia malam ini juga sangat lelah.


     "Sayang, itu tidak jadi masalah, kenapa kamu harus gelisah? Aku tidak apa-apa, aku justru malam ini tidak berniat unboxing kamu karena jujur sangat lelah akibat acara kita hari ini," ucap Nagi sangat bijak.


     Mendengar itu, Hilda menjadi sumringah tidak gelisah seperti tadi. Malam ini dia bisa istirahat dan melepas lelah benar-benar lelah. "Berapa beresnya kira-kira, Sayang?" tanya Nagi penasaran.


     "Paling cepat empat hari dan paling lama satu minggu." Jawaban si Hilda sejenak membuat Nagi terbelalak. Kalau sampai seminggu dia pastinya akan tersiksa.


     Malampun kian larut, sepasang pengantin yang lelah nampak terlelap saling peluk di bawah naungan selimut. Mereka nampak bahagia meskipun malam ini tidak terjadi belah semangka.


     "Kalian mau merencanakan bulan madu kemana?" tanya Pak Hasri, lalu memilihkan destinasi yang akan Nagi dan Hilda arungi.


     "Maldives, Jepang, Dubai atau dalam negeri?" tanya Pak Hasri dengan wajah tampak bahagia.


     "Tapi kami belum bisa menentukan sekarang, Pa. Sebab, Hilda sedang lampu merah," sahut Hilda cepat tidak ingin didahului suaminya. Pak Hasri nampak sedikit kaget, tapi lama kelamaan memahami maksudnya.


     "Kalian pilihlah destinasi yang ingin kalian kunjungi, nanti setelah Hilda tidak halangan, maka Papa tinggal klik tempat tujuan wisata bulan madu," ujar Pak Hasri nampak antusias.


     "Kemana, ya?" Hilda dan Nagi saling tatap bingung, sebab destinasinya semuanya bagus.


"Bagaimana, ya, aku bingung harus memilih. Coba, kamu inginnya kemana? Apakah Maldives?"


     "Maldives saja, aku ingin ke Maldives. Pulau terpencil dengan suasana keindahan pantainya yang luar biasa," ucap Hilda memilih Maldives sebagai destinasi wisata bulan madunya setelah Hilda nanti bersih-bersih.


     Akhirnya setelah mereka sepakat ingin bulan madu ke Maldives, Pak Hasri tersenyum lalu menyimpan tempat tujuan bulan madu yang mereka pilih.


     Maldives merupakan pulau terpencil yang bagus untuk dijadikan destinasi bulan madu.


     Seminggu kemudian, lampu merah yang melanda Hilda kini sudah pulang. Dan kini mereka berhak menagih segalanya pada Papa Hasri sesuai dengan apa yang mereka mau.

__ADS_1


     "Kami tetap memilih pulau Maldives, Pa," tegas Nagi saat Pak Hasri kembali mengingatkan kemana destinasi bulan madu yang akan anak menantunya pilih. Mereka tetap memilih pulau Maldives sebagai tujuan wisata bulan madunya. Pak Hasri kemudian memesankan dua tiket ke Maldives.


__ADS_2