
Pintu itu masih diketuk sebelum Naga mempersilahkan masuk. Sementara Naga dan Zila masih saling pandang merasa heran dengan seseorang yang mengetuk pintu itu. Mungkinkah Mila lagi atau orang lain? Naga masih menduga-duga siapa orang yang mengetuk itu.
"Masuk!" perintah Naga sembari berdiri dan menuju kursi kebesarannya kembali. Pintu itu mulai terbuka dan seseorang yang sungguh mengejutkan Naga sekaligus membuatnya bahagia.
"Selamat pagi menjelang siang Bos Naga," ucapnya seraya merangkul tubuh Naga yang masih berdiri di balik mejanya. Naga membalas dengan bahagia.
"Sya, kamu datang, Bro. Bagaimana kabarnya dirimu serta pembangunan pabrik di Kampung Sukaseuri?" Rupanya yang datang adalah Hasya sang Asisten dan tangan kanan Naga yang sudah terpercaya dan loyal.
"Alhamdulillah baik, Bos. Semua baik termasuk pembangunan pabrik di sana. Pembangunannya sudah berjalan 50 persen," ungkap Hasya sembari mengurai rangkulannya di tubuh Naga.
"Syukurlah, Sya. Itu yang aku harapkan."
"Kak Hasya, apa kabar Kak? Wah lama kita tidak berjumpa, rasanya Kak Hasya semakin berbeda," ujarnya misteri. Naga mengerutkan keningnya dengan kalimat terakhir Zila yang menyebut Hasya berbeda.
"Non Zila, saya pikir tidak ada Anda. Saya minta maaf," ujarnya merasa tidak enak.
"Ya ampun Kak Hasya, kenapa formal dan kaku seperti ini sih. Aku bukan Nonanya atau atasan Kak Hasya, aku hanya istri dari Bos Kak Hasya, jadi biasa saja manggilnya," suruhnya meralat ucapan Hasya yang selalu memanggilnya Nona.
"Itu sudah kodrat alam Nona. Anda dan Bos saya menjadi satu paket, sehingga otomatis Anda juga adalah atasan saya," kilah Hasya sembari diliputi senyum yang semakin menarik saja jika diperhatikan.
"Tunggu sebentar, ijinkan aku untuk membahas ucapan istriku tadi," tahan Naga membuat Zila dan Hasya heran.
"Ucapanku yang mana, Kak?"
"Kamu yang bilang tadi bahwa Hasya semakin berbeda. Berbeda di sini maksudnya apa?" tanya Naga penasaran. Zila tersenyum usil, lalu dalam otaknya timbul niat jahil yang ingin mengerjai Naga.
"Berbeda, maksudku Kak Hasya semakin tampan dan berseri. Aku jadi curiga Kak Hasya sudah memiliki pacar. Apakah Kak Hasya di Lembang sana sudah memiliki pacar?" jawab Zila tidak sungkan-sungkan.
Naga menatap Zila dengan wajahnya yang sedih, bisa-bisanya dia memuji Hasya di depan matanya. "Sayang, tega banget kamu memuji Hasya di depanku. Apa kamu berniat menduakan aku, hah?" sergahnya sembari mencubit hidung Zila gemas dan kesal.
"Ya ampun, Kak Naga. Kalau aku memuji bukan berarti aku mau selingkuh dong, aku hanya berkata jujur tidak lebih," ralat Zila membela diri. Naga cemberut dengan tangan yang bertumpu di depan dadanya.
"Sudah, tidak perlu bertengkar dan diperdebatkan lagi masalah aku yang berbeda. Di sini tidak ada yang akan berselingkuh." Hasya menegaskan mencairkan suasana hati Naga yang sedikit kacau.
__ADS_1
"Aku datang ke sini ingin menyampaikan perkembangan pabrik di kampung Sukaseuri. Aku mau mengajukan proposal mengenai pabrik itu," ungkap Hasya seraya menyodorkan satu map ke meja Naga. Naga meraihnya dan membuka map tersebut. Sementara Zila kembali ke sofa dan duduk manis di sana dengan menikmati makanan kecil yang tersedia.
"Ok, proposal ini akan aku pelajari dulu. Nanti dananya jika aku setujui akan aku transfer," jawab Naga sembari meletakkan proposal itu di meja. "Aku berencana melibatkan Paman Kobar dalam pembangunan pabrik itu. Dan setelah pabrik itu terbangun aku hanya akan mengarahkan dan mendukung dari belakang supaya istriku yang maju menjadi CEO," ujar Naga diselingi menatap ke arah Zila sejenak. Zila yang dirinya diungkit lantas mendongak dan menatap Naga.
"Apa, aku jadi CEO? Aku tidak mau, aku tidak sanggup, Kak. Apakah dalam kondisi aku sedang hamil ini aku bisa menjalankan amanah itu?" Zila terkejut dia protes sebagai bukti penolakannya, sebab dia merasa tidak mampu dalam mengelola suatu perusahaan. Kemampuan dia saja tidak ada, bahkan pendidikannya saja hanya SMA, tidak mungkin Zila terjun dan menangani perusahaan walau berskala kecil.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang. Tanah itu milikmu dan pabrik yang sedang dibangun itu juga menjadi milikmu, otomatis kamu adalah CEOnya," tegas Naga.
"Tapi, aku tidak punya pengalaman dalam bidang ini Kak, aku hanya sanggup jadi CEO tapi hanya menyandang namanya saja, sedangkan menjalankan perusahaannya aku yakin aku belum sanggup. Aku sudah cukup puas dan berbahagia dengan hanya menjadi istri CEO," tegas Zila menolak mentah-mentah.
"Ok, aku paham, Sayang. Sudah aku bilang aku yang akan mendukung dan mengarahkanmu dari belakang. Kamu tidak akan merasa kesusahan dan bingung menjalankan perusahaan."
"Tapi, aku tetap tidak mau harus menyibukkan diriku di belakang meja kemudian menumpahkan ideku di sana. Tapi, jika aku hanya membubuhkan tanda tangan untuk meminta persetujuanku, aku tidak keberatan," ujarnya sembari tersenyum.
"Ya, ampun, rupanya kamu ini pemalas juga, ya, Sayang. Memangnya kamu sanggup mempercayakan perusahaanmu pada orang lain?" Mendapatkan pertanyaan seperti itu Zila hanya tersenyum.
"Tidak. Aku setuju kalau kamu sebagai CEO, tapi aku dan orang-orang yang kredibel yang menjalankan perusahaan. Paman Kobar contohnya, aku bisa rekrut Paman Kobar menjadi salah satu staff direksi misalnya."
"Aku setuju. Setuju jika paman Kobar dilibatkan. Aku percaya jika paman Kobar juga kredibel. Soal loyalitas, aku pastikan paman tidak perlu diragukan lagi, sebab paman sudah terbukti bisa membesarkan aku dan melindungi aku dari pergaulan yang menurutnya salah." Naga mengangguk-anggukan kepalanya, setuju dengan pernyataan Zila mengenai pamannya. Kobar memang bisa diandalkan dan dipercaya jika dia dilibatkan dalam perusahaan di Kampung Sukaseuri.
"Sya, aku kelabakan tanpa kamu di sini. Segeralah limpahkan pada orang kepercayaan kita pabrik yang di Lembang itu, libatkan paman Kobar secepatnya. Setelah semua beres, kamu kembali ke perusahaan ini!" perintah Naga.
"Baik, Bos. Akan segera saya laksanakan," patuhnya dengan penuh dedikasi.
"Bagaimana dengan Bos Nagi, apakah Bos Nagi tidak akan dialihkan ke perusahaan ini?"
"Tidak, Sya. Aku belum mau mengoper alih Nagi dari Jakarta ke kota lain. Biarkan dulu dia di sana. Kebetulan Nagi sangat cerdas dan bisa diandalkan, bahkan jika dioper ke perusahaan di daerah Kalimantan atau Sumatera sekalipun, dia sanggup. Namun, aku belum mau melepas dia jauh, dia masih muda dan masih perlu dukungan dari keluarga dekat seperti kita," tutur Naga dengan mata menerawang. Jauh di lubuk hatinya Naga teringat akan nasib Nagi yang malang, yang sejak kecil sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena bercerai. Itulah kenapa Naga begitu sayang dengan Nagi.
"Saya paham, Bos. Bos Nagi sangat cerdas dan bisa diandalkan," timpal Hasya membenarkan.
__ADS_1
"Jadi, besok kamu ke Lembang lagi, Sya?"
"Betul, Bos. Jika Bos Naga sudah menyetujui proposal itu, maka saya akan kembali ke Lembang."
"Ke Lembang? Wahhh, aku ingin ke Lembang juga. Aku kangen sama paman Kobar dan tante Zila, sudah lama sejak mereka berdua menikah, aku belum bertemu lagi dengan mereka." Zila sangat antusias ketika mendengar kota Lembang. Memang pada kenyataannya, Zila sudah sebulan ini tidak ke Lembang. Rasanya waktu sebulan begitu lama bagi Zila.
"Nanti kita pasti ke Lembang, tapi menunggu kandunganmu lebih besar dari ini. Dan lagi sekarang ini aku sedang sibuk dan jadwal aku sangat padat di perusahaan ini," tukas Naga menunda keinginan Zila untuk ke Lembang. Zila berubah manyun mendengar keputusan Naga seperti itu, padahal dia sudah sangat rindu dengan paman dan tante Zuli.
"Kak Naga, kenapa mesti nunggu kandunganku lebih besar dari ini, bahkan sekarang saja aku merasa tidak keberatan. Aku merasa enak dan rasanya aku sedang tidak hamil, mualku juga sudah tidak lagi," sergahnya memelas supaya diijinkan ke Lembang oleh Naga.
"Sayang, bukan tidak boleh, tapi aku ingin kita ke Lembang bersama-sama. Dan saat ini aku benar-benar sibuk. Lain jika Hasya ada di sini, saat aku pergi Hasya bisa diandalkan menghandle perusahaan," alasan Naga membujuk Zila supaya tidak meminta lagi untuk ke Lembang dulu.
Zila diam dan tidak menyela lagi. Dari pada BT lebih baik dia keluar ruangan Naga sembari mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa kecewanya karena penolakan Naga.
"Baiklah kalau begitu, ijinkan aku ke kantin sekarang untuk mencari sesuatu yang segar untuk menenangkan pikiranku," pintanya dengan wajah yang ditekuk. Naga tersenyum melihatnya, jika masih tidak diijinkan hanya pergi ke kantin, alamat Zila marah betulan.
"Baiklah, Sayang. Silahkan pergi ke kantin, tapi jalannya hati-hati. Minta antar Desy atau OB saja jika tidak tahu kemana arah kantin," ujarnya mengijinkan dengan wajah yang usil. Zila mendilak sembari bergegas tanpa menoleh lagi Naga dan Hasya.
Zila berjalan menyusuri koridor menuju tangga. Dia sengaja memilih tangga supaya lebih santai, pikirnya. Sepuluh menit kemudian Zila sampai di kantin hanya dengan melihat plang di atas tiang.
Saat akan menuju kantin, Zila berpapasan dengan perempuan yang bernama Mila bersama teman lelakinya. Sepertinya Mila baru akan keluar kantin. Namun karena melihat Zila, Mila menghentikan langkahnya dan sengaja menegur Zila.
"Kamu perempuan yang ada di ruangan Pak Naga tadi, bukan?" tanyanya membuat langkah Zila terhenti di tengah kantin yang masih sepi. Zila menoleh, sepertinya Zila mengenal perempuan di depannya yang ternyata Mila mantan istri Naga.
"Benar sekali. Lalu ada apa, ya, Mbak?" tanya Zila. Mila membalas dengan senyuman sinis.
"Kamu sugar babynya Naga atau simpanannya atau perempuan sekedar lewatnya Naga?" tanyanya kepo. Zila tidak segera menjawab, bisa saja dia menjawab istrinya Naga, tapi berdasarkan pesan Naga supaya merahasiakan dulu status Zila yang sebenarnya, akhirnya Naga hanya menjawab dengan sebuah teka-teki.
"Lebih dari sekedar sugar baby," jawabnya santai.
"Maksudnya? Paling teman satu malamnya saja lalu dibuang ke tong sampah begitu saja setelah dipakai," tudingnya gegabah.
"Ha, ha, ha, malah lebih dari itu lho Mbak. Saya tidak hanya satu malam, melainkan setiap malam," balasnya sembari tersenyum penuh misteri dan berlalu melewati Mila. Mila tertegun dan bingung mengartikan jawaban Zila yang misteri barusan. Mila berharap perempuan muda itu hanya teman lewatnya Naga saja. Mila pergi dengan hati dongkol.
__ADS_1