
Zila masih menangis di bawah ranjang. Kali ini rasanya dia begitu sangat sedih atas tuduhan yang Naga lontarkan. Beberapa saat kemudian tangis Zila reda, dia mulai bangkit.
Sementara saat Zila menangis, Naga mendadak mendapat panggilan dari seseorang. Dan itu Hasya. Hasya menghubunginya bahwa menemukan fakta lain tentang Zila. Bahwa Zila tidak seburuk seperti yang dikatakan perempuan muda yang di warung dekat kafe Kobar tempo hari.
"Bos jangan lepaskan Non Zila, dia tidak seburuk yang dibayangkan. Semua cerita yang perempuan muda itu katakan tidak benar. Jangan lepaskan atau Bos akan menyesal," peringat Hasya keras. Rupanya Hasya telah melakukan penyelidikan secara diam-diam dengan sangat rapi dan seksama, sehingga dia butuh dua minggu melakukan penyelidikan ini. Dan dia menemukan fakta yang mencengangkan tentang Zila.
"Apa-apaan ini Sya, kamu melakukan penyelidikan tentang Zila?"
"Jangan banyak bertanya Bos, lebih baik Bos baik-baikin Non Zila, kalau tidak Bos akan menyesal." Sambungan telepon terputus dan Hasya memutus panggilan secara sepihak.
Sejenak Naga termenung dengan apa yang disampaikan Hasya barusan. Hasya tidak mungkin berkata bohong, dia selalu loyal dan penuh dedikasi. Jadi yang dilaporkannya barusan adalah bisa jadi akurat.
"Zila, dia akan tetap milikku," gumannya sembari melangkah menuju kamar yang dihuni kembali oleh Zila.
**
Setelah tangisnya reda Zila menuju lemari, lalu mengeluarkan baju miliknya dan dia masukkan ke dalam tas ransel miliknya. Kali ini dia nekad akan pergi dari rumah ini dan kembali pada Pamannya.
Tidak ada gunanya lagi di sini, uang saja tidak dia dapatkan. Lebih baik dia pergi dan kembali pada Pamannya, bekerja lagi di kafe Kobar untuk membantu Pamannya yang memiliki hutang pada Rentenir. Penilaian buruk tentang dirinya dari orang-orang sudah terlanjur dia dapatkan, maka Zila sudah tidak peduli lagi. Kini dia akan kembali dan menjalani kehidupan di Kampung Sukaseuri walaupun lelah selalu mendera, tentunya lelah hati dan pikiran.
Tas ransel sudah berada di punggungnya. Dan Zila kini siap melangkah keluar dari pintu kamarnya yang kurang lebih sebulan sudah menemaninya.
Namun alangkah terkejutnya, saat Zila akan membuka pintu, pintu kamar sudah dibuka duluan, dan Naga masuk menyembulkan kepalanya di muka pintu. Naga terkejut melihat Zila sudah siap dengan tas ransel di punggungnya.
"Zi, apa yang kamu lakukan?" Naga menahan tubuh Zila di muka pintu. Dia segera mendorong Zila ke dalam dan mengunci pintu. Kali ini Naga tidak ingin kehilangan Zila, terlebih di dalam hatinya ada debaran aneh yang sering dia rasakan. Juga laporan Hasya yang menguatkan supaya jangan melepaskan Zila.
__ADS_1
Zila terkejut dan bangkit dari ranjang setelah tadi tubuhnya terjengkang karena ulah Naga yang tiba-tiba masuk mendorongnya dan mengunci pintu.
"Apa yang Kakak lakukan, bukankah ini yang Kakak inginkan? Aku bukan gadis baik-baik, jadi menjauhlah dariku, aku akan pulang dan kembali pada Paman Kobar lalu kembali bekerja di kafenya. Aku terlanjur dicap buruk oleh semua orang, jadi lebih baik aku kembali kesana," tukasnya seraya berontak melepaskan cengkraman tangan Naga.
"Sudahlah Zi, bukankah kamu tadi bilang kamu sedang hamil anakku? Jadi tetaplah di sini, dan aku akan memenuhi keinginanmu untuk hamil. Ini sudah malam, tidak baik wanita hamil bepergian malam-malam begini. Lebih baik kita nikmati malam kita ini," ujar Naga berubah beringas. Dia tiba-tiba melucuti apa yang ada di tubuh Zila.
Zila sekuat tenaga berontak untuk menghindari serangan Naga yang brutal dan kuat, tatapannya persis naga yang sedang marah yang siap menyemburkan ludah api dari mulutnya.
"Jangan, lepaskan aku Kak," cegah Zila seakan kesakitan, lagipula dia tidak ingin dijamah dengan cara yang kasar seperti ini. Terlebih selama ini Naga memang sudah banyak menyakitinya, jadi Zila tidak sudi disentuh orang yang sudah menyakitinya berulang-ulang.
"Diamlah, bukankah ini yang kamu inginkan. Kamu akan hamil benaran dan anak yang kamu kandung merupakan anakku," ujarnya seraya merangsek dan berhasil membuka semua yang menutupi tubuh Zila.
Kemudian ciuman itu sejenak dia lepaskan, dia menatap lelap yang terpampang indah di depan matanya. Sudah dua tahun lebih dia tidak menikmati surga dunia setelah perceraiannya dengan mantan istri yang kedua.
Dengan lihai Naga membuka satu persatu baju yang melekat di tubuhnya dengan satu tangan, sebab satu tangannya lagi dia pakai untuk menahan tangan Zila yang masih ingin berontak.
Zila menggeleng, namun Naga tidak peduli. Malam ini hasratnya yang sidah lama terpendam harus dituntaskan, tidak berpikir Zila bekas siapa dan siapa lagi, yang jelas dirinya kini menginginkan Zila.
Dan semua itu terjadi dengan penuh perjuangan dan peluh. Naga merangsek penuh perjuangan yang lumayan lama, sebab ternyata lembah yang dimiliki Zila masih rimbun dan tertutup tabir yang tidak mudah dimasuki.
Jeritan dan rintihan malam ini bak nyanyian yang mengiringi irama syahdunya hati yang dirasakan Naga. Semakin berkobar dia merangsek masuk ke dalam lembah itu. Dan pertautan itu terjadi dengan begitu syahdu tapi sangat menyakitkan unntuk Zila yang berada di bawahnya.
__ADS_1
Linangan air mata membasahi deras di pipinya. Zila tidak menduga malam ini merupakan malam yang kelam baginya. Malam terenggutnya sebuah nilai kehormatan seorang perempuan yang selalu dia jaga selama ini.
Menyudahi aktifitasnya, Naga menatap lega wajah Zila yang baginya semakin terpancar kecantikannya. Wajah gadis perawan yang kini sudah ternoda olehnya. Setelah ditatap begitu lelap wajahnya, kemudian Naga melabuhkan ciuman panjang di kening Zila. Zila masih menangis menahan rasa sakit akibat pelepasan yang dilakukan Naga tadi.
Naga tidak peduli, kemudian dia ambruk di samping tubuh Zila dan berbaring seraya memeluk tubuh Zila yang kini sudah terbungkus selimut tebal bersamanya.
Naga masih belum bisa memejamkan matanya dan masih membayangkan petualangan hebat dan indah tadi bersama Zila. Ternyata Zila memang tidak seburuk yang dia sangka. Zila benar- benar gadis suci yang sangat menjaga kehormatannya.
"Kenapa perempuan muda yang di warung itu membohongiku dan menjelekkan Zila?" Naga tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan perempuan muda yang dia temui di warung itu. Sepertinya dia memiliki dendam terselubung terhadap Zila sehingga sanggup berkata bohong.
"Aku mencintaimu, Zi," ungkapnya dalam.
Subuh menjelang, Zila bangun dari lelapnya. Tangan kekar yang melilitnya dia lepaskan dengan paksa. Dan Zila kembali teringat akan kejadian semalam. Betapa sakitnya yang dia rasakan apa yang Naga lakukan. Dia bangkit dan ingin terbebas dari lilitan tangan Naga yang kekar.
Bersamaan dengan itu, Naga juga terbangun karena Zila yang meronta ingin melepaskan tangannya yang melilit.
"Zi," Naga semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepaskan, aku jijik dengan lelaki munafik seperti kamu," tepisnya. Setelah berhasil melepaskan tangan Naga, Zila berlari ke kamar mandi dan menangis di sana. Rasa sakit dan sakit di bawah sana sama-sama mengiringi deritanya di pagi hari ini.
"Lihat saja, kamu akan membayar mahal dari apa yang telah direnggut olehmu malam tadi Tuan Naga Panega," desisnya penuh ambisi.
Apa yang akan direncanakan Zila setelah ini?
__ADS_1