
Di kediaman Kobar, kedatangan seorang utusan yang menyampaikan bahwa pemuda yang bernama Naga akan mempersunting Zila dua hari mendatang tepat di hari Minggu.
Pihak Kobar sudah diwanti-wanti untuk mempersiapkan segalanya. Segala bentuk kebutuhan dan perlengkapan mempelai perempuan sudah dikirim dari pihak laki-laki termasuk tenda yang akan dipasang di rumah Kobar sebagai pihak pengantin perempuan.
"Siapkan segalanya terutama mempelai perempuan, jangan sampai kabur, sebab orang kami akan bertindak jika semua itu terjadi," tekan orang suruhan Naga serius penuh intimidasi, lalu berlalu meninggalkan kediaman Kobar.
Setelah kepergian orang utusan Naga, Kobar dan Zila untuk sejenak terhenyak tidak percaya. Namun setelah beberapa saat keduanya nampak bahagia.
Kobar dan Zila saling tatap kemudian tertawa bersama. "Keberuntungan sepertinya sedang menghampiri kita, Zi. Tanpa dicari, rupanya mangsa datang sendiri tanpa harus diberi umpan." Kobar berbicara dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. Begitupun dengan Zila.
"Tapi Paman, apakah lelaki dari kota itu benar-benar orang kaya yang hartanya bisa kita porotin perlahan-lahan? Kalau ternyata masih lelaki biasa-biasa saja, lebih baik aku memutuskan menolaknya sebelum aku benar-benar dinikahinya," tegas Zila merengut.
"Zi, jangan gegabah ambil keputusan! Lihatlah orang-orang suruhan pemuda bernama Naga itu, mereka diutus untuk mengirim perlengkapan pernikahan ini dan kita hanya tinggal mempersiapkan diri sama memasang tenda," peringat Kobar menatap Zila yang masih merengut.
"Kalau kita menolaknya, maka tidak segan-segan orang suruhan pemuda itu mengancam kita. Paman takut nyawamu terancam. Kita ikuti dulu maunya. Setelah pernikahan, kamu jangan dulu mau disentuhnya. Dan ingat, jangan sampai kamu memiliki rasa cinta pada pemuda itu. Jika kamu jatuh cinta, maka akan sulit untuk meninggalkannya," tandas Kobar memberi peringatan.
"Bagaimana bisa aku mencintai lelaki asing dan tidak aku cintai, Paman? Sebelum aku disentuhnya, maka aku akan berusaha menguras uangnya, lalu pergi," tegas Zila menggebu dengan sebuah rencana.
"Iya, maka dari itu kita sekarang ikuti saja dulu maunya. Kita baik-baikin dulu supaya pemuda itu yakin bahwa kamu mencintainya. Dengan begitu dia akan percaya sama kamu, lalu dia memberikan setiap apa yang kamu minta," ujar Kobar mengajari Zila.
Sementara itu di kediaman orang tua Naga di kota Bandung, Naga telah kembali dari kampung Sukaseuri untuk memberitahukan niatnya yang ingin menikahi Zila kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sementara Hasya dan Nagi justru punya misi lain untuk menyelidiki siapa Zila sebenarnya. Mereka berdua masih di kota kaki Gunung Putri. Selain misi penyelidikan, mereka berdua juga mendapatkan tugas untuk menyelesaikan masalah tanah yang akan dibeli Naga dari Pak Haidar.
"Apa! Apa yang kamu katakan, Ga? Tidak salah dengar Mama sama Papa?" kejut Mama dan Papanya Naga yang kebetulan berada di kota kembang untuk mengurus persiapan kuliah adiknya Naga, yaitu Hilda ke Universitas terkemuka di kota Bandung.
"Mama dan Papa tidak salah dengar, Naga serius dan pernikahan ini akan kami gelar dua hari lagi," sahut Naga santai.
Pak Hasri dan Bu Hilsa sontak tercengang, dua-duanya tidak percaya dengan apa yang Naga katakan barusan.
"Apa yang terjadi denganmu, Ga, setelah beberapa hari ke kota kecil itu? Apakah kamu kena guna-guna oleh gadis kampung?" tuding Pak Hasri geram.
"Tidak ada yang guna-guna Naga, dan Naga tidak dalam pengaruh guna-guna. Naga hanya sedang jatuh cinta dan ingin menikahi gadis pilihan Naga sendiri," tegas Naga sungguh-sungguh.
"Tidak perlu lagi Mama ataupun Papa menjodohkan lagi Naga dengan siapapun. Dan untuk kali ini, Naga mohon Mama dan Papa tidak ikut campur masalah jodoh Naga. Biarkan ini menjadi keputusan Naga sendiri," tegasnya seraya beranjak meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu.
Mendengar semua pengakuan Naga, membuat kedua orang tuanya tidak habis pikir dan merasa aneh. Diam-diam mereka melakukan penyelidikan, dengan menyuruh orang suruhannya menyelidiki gadis yang akan dinikahi Naga secara tiba-tiba ini.
"Kita akan suruh orang untuk menyelidiki siapa sebenarnya gadis itu. Sebelum pernikahan yang akan digelar dua hari lagi, maka semua laporan tentang gadis kampung itu harus sudah kita terima," tegas Pak Hasri berapi-api.
**
Satu hari kemudian, Pak Hasri dan Bu Hilsa sudah mendapatkan laporan tentang gadis yang akan dinikahi Naga, anaknya. Mereka cukup tercengang dengan informasi yang diberikan orang suruhannya.
Foto-foto Zila di kafe yang sedang menemani tamu makan dan minum, menjadi bukti kuat bahwa Zila merupakan pelayan kafe remang-remang yang sekaligus melayani lelaki hidung belang. Mama dan Papa Naga menyimpulkan bahwa Zila bukan gadis baik-baik.
__ADS_1
"Bukti ini harus sampai pada Naga, bahwa gadis itu tidak baik. Naga tidak boleh menikah dengan gadis kampung penjaja cinta. Jika ini terjadi, apa kata dunia?"
"Benar, Pah. Mama juga tidak sudi Naga jatuh ke tangan gadis kampung penjaja cinta. Lebih baik Sila, pengusaha butik yang sukses dari pada gadis kampung itu," tegas Bu Hilsa geram.
Tidak menunggu besok, Pak Hasri dan Bu Hilsa segera menghubungi Naga yang kini sudah berada di kota kaki Gunung Putri. Mereka membeberkan semua penemuan orang suruhannya, dengan mengirimkan foto-foto bukti bahwa Zila merupakan pelayan kafe yang selain kerja di kafe juga merangkap melayani Om-om.
Naga jelas tidak percaya atas laporan kedua orang tuanya, dia menghempas HPnya dan tidak ingin melihat lagi foto-foto yang dikirimkan kedua orang tuanya.
"Batalkan pernikahan itu Naga. Dia bukan gadis baik-baik. Dia hanya gadis malam pelayan kafe yang juga melayani pria-pria hidung belang. Mama tidak mau kamu jatuh ke lubang buaya. Terlebih bekas Om-om, apakah kamu tidak takut nanti ke depannya?" peringat Bu Hilsa tegas melalui saluran telepon.
Naga berdiri bimbang dengan semua bukti laporan dari kedua orang tuanya. Dia tidak percaya gadis yang ditemuinya tidak sengaja di jalan itu, ternyata pelayan kafe sekaligus melayani pria hidung belang.
Naga ingin menyangkal semua bukti dari kedua orang tuanya. Namun laporan Hasya dan Nagi seakan menguatkan tudingan itu, bahwa Zila benar-benar pelayan kafe remang-remang yang merangkap melayani pria hidung belang.
"Kurang ajar, aku tertipu rupanya. Tapi, apa yang aku rasakan pertama kali melihatnya, bukankah ini cinta, dan cinta tidak pernah salah, bukan?" Naga bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa setelah ia merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya pada gadis yang dipilihnya, kini malah dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis yang bernama Zila merupakan pelayan kafe yang merangkap melayani pria hidung belang.
Naga bukan mempermasalahkan pekerjaannya. Akan tetapi bukti yang menguatkan Zila sebagai penjaja cinta begitu jelas. Baik orang suruhan kedua orang tuanya maupun atas penyelidikan Hasya dan Nagi, menyodorkan bukti yang hampir sama. Bahwa Zila bukan perempuan baik-baik.
"Ohhhh, sialan .... " umpatnya seraya memukul dinding kayu villa di Kampung Sukaseuri.
"Sebaiknya pikirkan dulu, Kak, sebelum Kakak betindak. Ini masih ada waktu 22 jam lagi untuk membatalkan pernikahan," usul Nagi yang semakin membuat Naga pusing dibuatnya.
__ADS_1