
Jam empat sore tiba, Naga dan Zila pulang dari perusahaan Naga Group. Zila masih nampak merengut gara-gara tidak diijinkan untuk pergi ke Lembang oleh Naga. Di dalam mobil pun Zila hanya diam dan tidak bersuara sama sekali, biasanya sikapnya selalu ceria dan bahagia, tapi kini tidak ada lagi. Pandangannya saja dia arahkan keluar jendela.
Naga menyadari hal itu, Zila marah karena tidak diijinkan untuk sekarang ini ke Lembang, sebab Naga masih sibuk dan tidak bisa menemani.
"Sayang, cobalah menoleh ke sini. Jangan biarkan suami kamu ini nganggur dan berdiam diri sendiri. Apa gunanya kamu di samping aku ini?" sapa Naga berusaha mencairkan suasana yang sepi. Zila masih tidak menyahut, dia masih kesal dan tidak ingin bicara dengan Naga.
"Zi, kamu dengar aku bicara, bukan?" ulang Naga masih belum patah semangat. Namun Zila tetap diam, yang terdengar kini helaan nafas yang teratur. Naga heran dan sejenak memperlambat lajunya mobil, lalu melihat wajah Zila. Rupanya Zila sudah tertidur, mungkin saking lelah dan ngantuknya.
Naga kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya.
Sementara itu di tempat lain tepatnya di kediaman mama dan papanya Naga. Nagi tengah bersiap untuk kepulangannya besok siang ke Jakarta. Masa cutinya sudah habis. Sejenak Nagi menatap wajah Hilda yang berada di galeri Hpnya. Wajah cantik dan mata indah namun terlihat galak itu pesona terbesar Hilda di mata Nagi.
Sejak Hilda masuk SMA, Hilda selalu diantar jemput sekolah olehnya. Kedua orang tuanya yakni mama Hilsa dan papa Hasri mempercayakan dirinya untuk antar jemput Hilda pulang. Sejak itulah menurut pengakuan Hilda, dia telah jatuh cinta pada Nagi sampai sekarang.
Nagi menganggapnya benar-benar saudara sepupu, kedudukannya menurut silsilah keluarga yaitu sebagai kakak sepupu, meskipun usia Hilda jauh di bawahnya. Namun Nagi masih menerapkan adat dan kesopanan di dalam keluarganya, yakni tetap menganggap sebagai kakak meskipun usianya lebih muda darinya. Namun entah apa penyebabnya, Hilda ngotot tidak mau dipanggil kakak atau mbak atau teteh oleh Nagi. Dia lebih senang dipanggil nama saja, alasannya akan terdengar lebih akrab.
"*De, kamu itu sebenarnya menginginkan Kak Nagi itu karena cinta atau obsesi? Kenapa kamu begitu mengharapkan kakak jadi milikmu? Memangnya sudah tidak ada laki-laki lain yang menarik hatimu*?" Nagi mempertanyakan perasaan Hilda padanya seraya menatap dalam wajah Hilda di dalam Hpnya. Kemudian diusapnya lalu diciumnya dalam.
Sejenak Nagi merasa bersalah atas sikapnya saat di Gunung Tangkuban Perahu yang sempat bertemu dengan Diara, gadis yang sedang ditaksirnya. Namun Diara menolak pernyataan cinta Nagi dengan alasan masih fokus pada ibunya yang seorang janda.
Ketika pertemuan kemarin yang tidak disengaja dengan Diara, membuat Hilda dilanda cemburu. Hilda memperlihatkan amarahnya bahkan dia berani bilang di depan Diara bahwa mereka berdua sebentar lagi akan menikah. Nagi sebenarnya terkejut mendengar pengakuan Hilda yang mengada-ngada. Namun di balik itu dia merasa bahagia sebab secara tidak langsung bisa membalas perlakuan Diara yang menolaknya dengan pernyataan Hilda yang spontan mengatakan bahwa mereka berdua sebentar lagi akan menikah. Sejenak Nagi menyunggingkan senyum.
Namun rasa sedih mendadak muncul saat dirinya harus meninggalkan Hilda ke Jakarta. Untuk itu siang ini setelah Hilda pulang dari kuliah pagi, Nagi akan mengajak Hilda jalan-jalan keluar untuk membawanya membeli es krim kesukaannya.
__ADS_1
Siang menjelang, Hilda pulang dari kuliah paginya. Tidak ada yang menyambutnya sebab Mama dan Papanya sudah sejak dua hari berada di luar kota. Hilda menaiki tangga dan untuk ke kamarnya. Saat di depan kamar yang ditempati Nagi, sejenak Hilda berdiri di depan pintu. Ingin rasanya mengetuk pintu itu, tapi dia urungkan. Akhirnya Hilda mengirimkan pesan melalui WAnya.
"Kak Nagi aku sudah pulang, tunggu aku, ya. Aku berganti pakaian dulu." Pesan WA terkirim. Saat itu kebetulan Nagi sudah akan keluar kamar dan menunggu Hilda pulang di ruang tamu, tapi ternyata gadis muda yang selalu ceria itu sudah pulang dan memberitahukan sudah pulang lewat pesan WA.
Nagi segera keluar dan bermaksud menunggu Hilda di ruang tamu. Namun, sebelum menuruni tangga, Nagi sengaja berjalan menghampiri pintu kamar Hilda yang ternyata sedikit terbuka. Nagi mendekatkan telinganya di daun pintu dan sepertinya Hilda tidak kedengaran suaranya. Lalu Nagi mencoba mendongakkan kepalanya ke dalam mencari sosok Hilda, tapi Hilda tidak ditemuinya.
Dengan heran Nagi masuk kamar dan mencari Hilda, tapi Hilda belum kelihatan pergerakannya. Di dalam kamar mandi pun suara gemericik air tidak terdengar. Nagi berpikir di manakah Hilda, kenapa kamarnya kosong? Saat Nagi merasa heran karena keberadaan Hilda yang tidak ada, Nagi mencoba mendekati kamar mandi bermaksud mencari Hilda di sana.
Ketika tangan Nagi akan memegang handle pintu kamar mandi, pada saat bersamaan pintu itu terbuka dan muncullah Hilda dengan berbalut handuk minim di tubuhnya. Sontak Hilda kaget dan terkejut ketika di depannya didapati seseorang, sehingga handuk yang dipakainya melorot dan saat itu pemandangan yang tidak pernah Nagi lihat dari Hilda sebelumnya kini terpampang jelas di depan mata.
"Kak Nagiiii," jeritnya kaget. Nagi dengan sigap meraih handuk yang sudah melorot lalu memakaikan kembali pada tubuh Hilda. Hilda yang terkejut dan baru tersadar sontak memeluk Nagi dengan wajah yang berubah takut, sementara tangan Nagi kini melingkar menahan handuk Hilda yang tadi belum sempat terpasang dengan baik.
Nagi dengan sekuat tenaga menahan sebuah hasrat yang sejak tadi mendorongnya. Karena dua kembar di depannya tidak henti-henti menggodanya. Namun Nagi berusaha menahan handuk di belakang punggung Hilda supaya tidak melorot lagi sampai bawah.
Ketika Hilda mulai tenang, Hilda melonggarkan pelukannya. Dan kini wajahnya dengan wajah Nagi saling berhadapan dan kedua pasang mata itu bertemu. Hilda belum sadar bahwa asetnya terpampang nyata di depan Nagi.
Keduanya semakin dalam menatap sehingga tanpa mereka sadari kedua wajah itu semakin mendekat dan kini saling membutuhkan satu sama lain. Keduanya kini sudah saling berpagutan balas membalas. Decapannya pun mulai terdengar. Hilda semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Nagi. memeluk erat dan semakin liar membalas pagutan Nagi. Keduanya terbuai, lalu Nagi membawa tubuh Hilda yang bawahnya masih terhalang handuk ke atas ranjang.
Sebuah hasrat seakan ingin segera mereka tuntaskan bersama. Hilda seakan pasrah, dan meraka semakin hot. "Kak Nagi aku mencintaimu, Kak. Lakukanlah supaya aku segera menjadi milikmu," desaknya kemudian mereka berpagutan lagi. Perlahan kancing baju Nagi satu persatu terlepas.
"Aku juga mencintaimu, Sayang," kecupan itu dilabuhkan kembali, mereka berpagutan kembali. "Kita lakukan sekarang," ucap Nagi sendu.
__ADS_1
Tiba-tiba bunyi Hp Nagi berbunyi, pada saat itu Nagi dan Hilda seakan baru disadarkan dari sebuah kekhilafan. Nagi bangkit dan segera merapikan kemejanya yang kancingnya sudah terbuka dua biji.
"Cepat, pakailah handuk itu," titahnya pada Hilda yang terkejut. Hilda bangkit dan menutupi dua kembarnya yang sejak tadi menjadi tontonan gratis Nagi. Hilda membenarkan handuknya lalu segera menuju lemari mencari baju dan perlengkapannya. Kalau saja bunyi Hp itu tidak menggangunya mungkin saja Hilda sekarang sudah bukan gadis perawan lagi. Sesaat terlintas pikiran Hilda yang menyesal kenapa hal itu tidak terjadi sekarang, kalau itu terjadi bisa jadi dia akan segera menikah dengan Nagi secepatnya.
"Hilda cepatlah, pakai bajumu," perintah Nagi berubah tegang. Dadanya kini turun naik, dengan cepat dia menyadari kekhilafannya tadi, seumpama bunyi telpon tadi tidak mengejutkannya, bisa jadi perbuatan itu kini telah dilakukannya bersama Hilda, padahal Nagi sudah berjanji pada dirinya sendir akan menjaga Hilda.
Kemudian bunyi telpon yang sempat tidak terjawab itu memanggil kembali. Ternyata itu dari Naga yang mempertanyakan kepulangan Nagi kapan. Nagi memalingkan tubuhnya membelakangi Hilda yang kini tengah akan mengenakan baju. Dari pantulan kaca meja rias seluruh tubuh Hilda yang polos terpampang nyata lagi. Namun perlahan-lahan Hilda memakai semua pakaiannya dari dalam sampai luar. Dan Hilda tidak tahu bahwa Nagi sedang menjadi CCTVnya lewat cermin yang dia gunakan.
"*Ternyata Hilda si gadis bar-bar, ekspresif, dan agresif ini sangat menggiurkan, aku hampir saja merenggut kesuciannya*," batin Naga bersamaan dengan itu dia menyudahi pembicaraannya di telpon bersama Naga.
"Kak Nagi, apakah Kak Nagi masih terbayang hal tadi?" tanya Hilda mengejutkan Nagi yang melamun.
"Kamu sudah siap, Sayang?" ceplosnya seakan belum sadar dari melamun.
"Sayang? Sudah beberapa kali Kak Nagi keceplosan memanggil aku sayang, itu artinya dalam hati Kak Nagi aku yakin sudah ada perasaan cinta, benar, kan, Kak?"
"Apa? Kamu sudah siap, kan, De?" Nagi seperti tidak fokus dengan pertanyaan Hilda tadi, jawaban yang diberikan dia saja tidak nyambung. Hilda tersenyum bahagia, kini dia seolah sudah mengantongi cinta dari Nagi.
"Padahal jika kita teruskan hal tadi, aku siap kok. Siap dilamar Kak Nagi cepat-cepat. Aku hanya ingin jadi istri Kak Nagi," ujarnya tiba-tiba yang sudah merangkul Nagi dengan cepat lalu mencium pipi Nagi tanpa rasa malu.
"Sumpah, aku hanya mencintai Kak Nagi. Anggap saja yang terpampang nyata di depan Kak Nagi secara spontan dan gratis tadi, bukti DP aku pada Kak Nagi. Dan aku akan tetap menagihnya kembali setiap saat kapan Kak Nagi akan membayarnya dengan sebuah lamaran dan pernikahan," cetusnya penuh ambisi, lalu mengecup pipi Nagi sekali lagi.
__ADS_1
"Ayo, Kak, cepatlah jangan bengong terus! Apakah Kak Nagi berubah pikiran dan kita lakukan saja hal kita inginkan tadi." Teriakan Hilda menyadarkan Nagi supaya Nagi harus segera keluar kamar gadis agresif ini.