Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
bab 146 Musim 3 Hilda dan Perubahannya


__ADS_3

     Kebahagiaan Zila dan Naga yang baru menjadi orag tua, terbawa pada kebahagiaan yang lain. Mama dan Papa Naga sangat gembira mempunyai cucu pertama. Tidak jarang Pak Hasri sering membangga-banggakan baby Syaka pada mitra bisnisnya, atau sahabatnya jika sedang melakukan pertemuan di luar.


     Bagaimana tidak, Pak hasri dan Bu Hilsa baru perdana ini memiliki cucu, sedangkan teman-teman Pak Hasri lainnya rata-rata sudah memiliki cucu dari anak-anaknya.


     "Selamat Pak Hasri atas kelahiran cucu pertamanya, sekarang Anda sama seperti kami-kami ini, sudah jadi kakek, ha, ha, ha." Tawa mereka pecah saat mereka sengaja diundang ke rumah Pak Hasri untuk jamuan makan. Pak Hasri tersenyum merekah sambil memukul dadanya bangga. Mereka semua kembali tertawa akan sikap lelucu Pak Hasri yang menjelma kocak sejak menyandang gelar menjadi seorang kakek.


     "Ternyata Pak Hasri selain jago bisnis dan sukses, rupanya Anda jago melucu, kami sungguh terhibur dan sangat gembira," ujar Pak Hasan salah satu mitra Pak Hasri memuji. Obrolan dan jamuan makan itu berlanjut dengan obrolan santai lainnya sehingga rumah Pak Hasri kini berubah riuh dan hangat.


     Kebahagiaan itu memang terasa bagi seluruh anggota keluarga Pak Hasri dan juga saudara sepupu lainnya, termasuk Hilda. Dia bahagia mendapatkan keponakan. Tapi di sebalik itu, hatinya semakin sedih dengan ketidak adaan kabar dari Nagi. Sudah berulang kali Hilda mencoba menghubungi Zila untuk menanyakan apakah Nagi ada menghubungi? Jawabannya tidak dan tidak, dia putus asa dan selalu murung.


     "Kak Nagi, apa salahnya Kakak menghubungi nomer aku saja dan memberi kabar sama aku. Apakah Kak Nagi tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu? Semakin hari semakin sulit untuk aku melupakanmu. Semakin dilupakan, maka semakin sakit hati ini. Kenapa Kakak tega memutus tali penghubung kita, padahal dengan menghubungiku saja, aku tidak akan membocorkan di mana Kak Nagi berada. Sekarang menghubungi Zila saja tidak, lalu sekarang aku tahu kabar Kakak dari mana? Media sosial Kakak saja aku tidak tahu. Tolong Kak, hubungi aku sekali saja, aku ingin menumpahkan segala kerinduan aku. Hubungi aku, Kak." Hilda berbicara sendiri di malam yang sepi di dalam kamarnya yang hening.


     Hampir setiap hari Hilda melakukan ini, dia hanya bisa tidur setelah waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.


Keesokan harinya


     Jam enam pagi sudah menyapa, Hilda masih hening. Bi Rani yang mendapat tugas dari Nyonya besarnya, yakni Bu Hilsa untuk membangunkan Hilda, masih berdiri terpaku di depan pintu kamar Nonanya.


     Bi Rani termenung mematung diri sejenak sebelum mengetuk pintu Nonanya itu, dadanya sejenak menghembuskan helaan nafas yang perlahan dia lepaskan dari dalam mulutnya. Lalu Bi Rani mulai mengetuk pintu.


     "Tok, tok, tok." Ketukan itu diperdengarkan tiga kali, lalu berhenti. Bi Rani kembali mematung dia segan, karena dia tahu Nonanya memang akhir-akhir ini setelah kepergian Nagi yang entah kemana rimbanya, berubah menjadi pendiam bahkan cenderung murung.


     Bu Hilsa dan Pak Hasri sepertinya sudah menyerah untuk membujuk Hilda. Yang penting bagi mereka, selama Hilda tidak keluyuran di luar, mereka masih lega. Zila yang diharapkan jadi jembatan untuk membujuk atau mendekati secara verbal, kini sudah tidak bisa diharapkan sejak Zila melahirkan. Apalagi Pak Hasri dan Bu Hilsa tidak ingin membebankan pikiran Zila yang kini sedang fokus mengurus baby Syaka. Terlebih kini Hilda dan zila sudah jarang bertemu sejak Zila memiliki bayi.


     "Kasihan Non Hilda, sejak Non Zila tidak di sini dia murung lagi. Saat ada Non Zila masih bia tertawa, walaupun antara mereka kadang masih terjadi perdebatan kecil, tapi ujung-ujungnya Non Hilda masih bisa tersenyum. Tapi kini, Non Zila sudah fokus dengan bayinya dan mereka semakin jarang bertemu, Non Hila semakin murung. Ya ampun, Non, semoga Nona kembali ceria seperti dulu," bisik Bi Rani berharap kebaikan untuk Nona mudanya.


     "Tok, tok, tok." Kembali pintu itu diketuk dengan sedikit keras. Bi Rani berharap pintu ini segera dibuka, sebab Bi Rani ingin menyampaikan bahwa di luar ada seseorang yang mencari Non Hilda.


     Tidak berapa lama pintu itu mulai terdengar dibuka, Bi Rani senang bukan main. Saat pintu itu mulai bergerak, Bi Rani bersorak gembira, akhirnya pintu itu dibuka dan beberapa detik kemudian muncul wajah yang masih ngantuk dan kusam dengan mulut yang menguap.

__ADS_1


     "Huahhhhpp."Sambil menguap pintu itu dibukanya lebar-lebar. Matanya masih merem dan terlihat sangat ngantuk, matanya cekung dan panda. Nonanya yang dulu cantik kini kusam dan tidak ceria, menandakan jiwanya sedang rapuh.


     "Syukurlah Nona membukakan pintu. Non, di luar ada yang mencari Nona. Dia seorang laki-laki tampan." Bi Rani memberitahu dengan wajah sumringah.


     "Kak Nagi, dia Kak Nagi?" tanyanya setengah sadar. Bi Rani mengerutkan keningnya heran. Hatinya bertanya-tanya, kenapa Nonanya menyebut nama Nagi.


     "Kok Den Nagi, sepertinya Nona sedang bermimpi," duganya sembari menggelengkan kepala.


     "Bukan, Non, bukan Den Nagi. Tapi Bibi tidak tahu dia siapa, yang jelas dia itu tampan, klimis, rambut cepak, kulit bersih, kaya seorang abdi negara gitu," terang Bi Rani menggambarkan tamu yang dia maksud di luar tadi.


     Hilda nampak mengerutkan keningnya, sejenak dia berpikir, dan dalam waktu beberapa menit Hilda nampaknya sudah bisa mengenali siapa tamunya.


     "Suruh saja pergi, Bi. Aku masih ngantuk dan tidur. Bertamu pagi buta, apa tidak ada waktu yang lebih siang?" jawab Hilda ketus.


     "Tapi, Non."


     "Kenapa Bi Rani bingung? Tinggal bilang saja aku ini masih tidur, apa susahnya." Hilda menutup pintunya dengan keras membuat Bi Rani terkejut sambil meraba dadanya.


     "Huhhhh, untung jantung ini kuat menahan hantaman," gumannya seraya bergegas menuruni tangga dan menuju pintu depan. Bi Rani bermaksud ke depan, tapi di ruang tamu sudah ada Bu Hilsa yang sedang menghadapi seorang tamu lelaki masih muda dan tampan. Rupanya lelaki muda itu merupakan tamunya Hilda yang sudah dipersilahkan masuk oleh Nyonyanya.


     "Ehh, Aden, sudah masuk rupanya. Ini Nyah, tadi Aden yang tampan ini bertamu ke rumah ini untuk bertemu dengan Non Hilda. Tapi berhubung Non Hilda masih tidur, jadi terpaksa Bibi sampaikan sama Aden yang tampan ini, bahwa Non Hilda tidak ingin menemui Anda, karena Nona masih ngantuk." Bi Rani mencoba memberitahu apa yang diperintah Nonanya itu.


     "Ohhh, begitu, ya, Bi. Emmm, tapi kemarin kami sudah berjanji akan bertemu dan mengerjakan sebuah tugas kampus," ujar lelaki muda berwajah tampan dan klimis itu ramah.


     "Tugas, ohhhh, anak muda ini teman kampusnya Hilda anak saya?" timbrung Bu Hilsa.


     "Bukan sih, Bu. Saya hanya mau membantu tugas kampusnya Hilda untuk membuat laporan yang berkaitan dengan sebuah instansi," ujarnya lagi tanpa menyebutkan instansi yang dia. Bu Hilda manggut-manggut mencoba memahami maksud.


     "Begini saja, Bu. Saya titip map ini untuk Hilda, dia juga sudah tahu ini apa. Mohon disampaikan. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum," ujar lelaki muda nan tampan itu berpamitan dengan sikap yang ramah, sehingga Bu Hilsa menyukai sikapnya.

__ADS_1


     "Anak muda yang ramah dan tampan," bisik hati Bu Hilsa mengagumi.


     Kepergian anak muda yang sempat mencuri hati Bu Hilsa ditatapnya sampai bayangannya menghilang bersama motor gedenya.


     "Siapakah dia, apakah dia pacarnya Hilda? Tampan dan ramah sikapnya." Bu Hilsa tidak henti memuji lelaki muda tadi dengan rasa kagum.


     "Bi Rani antarkan map ini ke kamar anak saya." Bu Hilsa memberi titah lalu menyodorkan sebuah map yang diberikan lelaki muda tampan tadi.


     Bi Rani kembali menaiki tangga dan bermaksud menuju kamar Hilda. Kali ini Bi Rani mencoba membuka pintu itu tanpa mengetuk, dan beruntung pintu itu ternyata tidak dikunci.


     Bi Rani masuk dan menyimpan map itu di atas meja belajar Hilda, lalu kembali keluar dengan langkah yang pelan.


     Jam sembilan pagi tiba, Hilda terbangun karena mimpinya. Entah kenapa pagi ini dia memimpikan Nagi yang sedang tersenyum padanya lalu memberikan sebuah bunga dan cincin. Mungkin karena saking terlalu kepikiran tentang Nagi, akhirnya Nagi yang dia harapkan melakukan hal itu hadir dalam mimpinya.


     "Mimpi ini bukan mimpi yang spontan, tapi mimpi yang datang karena sebelumnya aku sedang memikirkan Kak Nagi, kemudian Kak Nagi masuk ke dalam mimpi aku karena sugestiku, karena aku yang terlalu memikirkannya. Mana mungkin Kak Nagi ingat padaku. Andai ini benar, alangkah bahagianya hatiku. Tapi hampir beberapa bulan Kak Nagi tidak ada lagi menghubungi Zila. Itu artinya dia perlahan melupakan aku. Jangan-jangan janji di rekaman itu akan diingkarinya juga," pikirnya frustasi seraya menjamah rambutnya.


Hilda menuruni tangga dengan pakaian rapi kasual feminimnya. Dengan tas yang diselendangkan di bahunya menandakan bahwa dia akan ke kampus. Bu Hilsa dan Pak Hasri yang melihatnya sangat gembira, setidaknya Hilsa anak bungsunya masih pergi ke kampus bukan main-main. Semua diketahuinya lewat orang-orang suruhannya yang selalu memantau kemanapun Hilda pergi, termasuk kebersamaan Hilda bersama seorang laki-laki yang datang tadi, bisa diketahuinya lewat laporan mereka.



"Aku pergi, ya, Ma, Pa," pamitnya. Dengan cepat Bu Hilsa menangkap tubuh kecil Hilsa dan merangkulnya penuh rasa kasih sayang.



"Selamat belajar sayang, raih cita-citamu setinggi langit, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi setiap langkahmu," doa Bu Hilsa seraya mencium kening Hilsa sayang. Keadaan ini sudah sangat jarang terjadi sejak Hilda merasa kehilangan Nagi. Hilda berubah seiring waktu, semakin tertutup dari kedua orang tuanya, juga selalu murung dan berusaha menjauhkan diri dari Mama dan Papanya.



Bu Hilsa melepaskan rangkulannya dengan mata berkaca-kaca betapa dia sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya itu yang kini berubah drastis bukan lagi Hilda yang ceria seperti dulu.

__ADS_1


__ADS_2