Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 83 Musim 2 Keguguran dan Kekecewaan Naga


__ADS_3

Naga meraih kembali Hp yang dia lempar tadi dengan kasar, lalu bergegas meninggalkan ruangannya. Sebelum pergi Naga berpesan dulu pada Desy dan Rifki untuk menghandle masalah kantor saat dia sedang tidak ada.



Naga segera menuju lift dengan tergesa di dalam pikirannya hanya ada Zila dan janinnya. Wajah kesal yang marah sudah tidak bisa diajak senyum atau beramah tamah lagi. Saat Naga sudah berada di lobby, tidak sengaja dia berpapasan dengan Dila. Entah ada apa lagi Dila ini main masuk ke kantor Naga.



Naga berlari menuju parkiran dengan wajah yang sangat cemas. Sementara Dila yang heran kenapa dengan Naga, merasa penasaran serta ingin tahu apa yang terjadi dengan Naga sehingga dia mengurungkan niatnya untuk ke ruangan Naga karena Naga sudah keluar pabrik dengan wajah yang sangat risau.



"Ada apa dengan mantan suamiku itu, dia nampak marah sekaligus risau? Lebih baik aku ikuti saja supaya aku bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dengan dia?" Dila terus mengikuti mobil Naga yang kini mulai keluar dari perusahaan.



"Kemana dia, kenapa arahnya ke Lembang? Ada apa di Lembang?" Dila masih mengikuti dengan hati yang bertanya-tanya.



Sementara itu, Naga yang terus mengemudi tapi hatinya dilanda gundah gulana campur sedih. Rasa marah dan kecewa juga menyatu dalam dirinya kini. "Macettt lagii, sialannnn!" umpatnya kesal dengan jalanan yang tiba-tiba macet. Rupanya beberapa bis sedang memasuki kawasan pariwisata yang otomatis untuk beberapa saat bikin kendaraan di belakangnya dilanda macet tidak bisa maju. Naga terlihat sangat gelisah, dia berkali-kali memencet klakson dan memukul setir.



"Ya, ampun. Beginilah kalau akibat dari kota Bandung yang sudah dipenuhi objek wisata, semua jalanan kebagian macet," keluhnya sangat kecewa.



Kemudian mobil maju dengan perlahan, setelah kendaraan besar itu memasuki kawasan wisata. Naga kembali menjalankan mobilnya ke arah Lembang, kali ini tujuan dia langsung menuju Ruma Sakit Bersalin Ibu dan Anak. Bukan karena Zila yang mau melahirkan sebab Zila sama sekali belum waktunya melahirkan, melainkan mengunjungi Zila yang kata seseorang mengalami keguguran akibat terjungkal dari dahan pohon yang sedang Zila injak ketika mau turun dari pohon mangga.



"Kenapa kamu harus naik-naik pohon segala, Zi? Kamu sudah tidak mematuhi laranganku, dan kini terjadi akibatnya. Kita kehilangan calon anak," guman Naga dengan nada kesal.



Naga membelokkan mobilnya tepat ke sebelah kiri. Kini mobil Naga sudah memasuki kawasan Rumah Sakit Ibu dan Anak, diikuti sebuah mobil fortuner milik Dila yang sejak tadi mengikutinya. Naga memarkirkan mobilnya lalu segera turun dan berlari ke pintu depan Rumah Sakit. Di ruang IGD, Naga langsung menanyakan pasien yang bernama Zila Arzilla yang ternyata sudah ditangani pihak Rumah Sakit dan kini sudah menempati ruang perawatan.



Dengan tergesa, Naga berlari menuju ruangan Melati di mana ruangan Zila dirawat. Tiba di sana tepat di depan pintu kamar ruang rawat Melati, Naga melihat Kobar dan seorang perempuan seumuran Zila berdiri menunggu dengan resah.



"Paman Kobar," serunya seraya merangkul tangan Kobar. "Bagaimana keadaan istri saya, apa yang dia alami sampai harus dirawat di sini?" tanya Naga penasaran. Kobar tidak berani menyampaikan, biarkan pihak dokter dan tim yang akan menyampaikan secara langsung.

__ADS_1



"Nak Naga, paman minta maaf karena tidak bisa menjaga Zila. Untuk informasi yang lebih lanjut, sebaiknya Nak Naga tunggu informasi dari Dokter, mereka sebentar lagi akan keluar setelah memeriksa Zila," lapor Kobar dengan muka yang sangat sedih dan penuh sesal.



Tanpa menunggu dokter keluar, Naga langsung menyerobot masuk. Di sana sudah ada Tante Zuli yang sengaja nungguin Zila yang sedang diperiksa Dokter.



"Dokter, bagaimana dengan istri saya?" tanya Naga langsung, dengan nada panik. Dokter dan beberapa perawat mengalihkan pandangan ke arah Naga yang panik, lalu seorang laki-laki yang mengenakan jas putih yang diperkirakan Dokter menghampiri Naga.



"Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya?" ulang Naga lagi dengan mata yang menatap tajam ke arah Dokter.



Dokter Radit, begitu dokter itu memiliki name tag, meraih bahu Naga dan membawanya sedikit lebih jauh dari para Perawat dan Tante Zuli. Naga semakin dibuat penasaran oleh sikap dokter Radit yang misterius.



"Apakah betul Anda suami dari Mbak Zila Arzilla?" Dokter Radit mencoba meyakinkan. Naga mengangguk dengan memasang muka panik dan was-was. "Kami mohon maaf, janin yang dikandung istri Anda tidak bisa diselamatkan. Penyebabnya bisa karena istri Anda kecapean, sebab di sini tidak terdapat benturan apapun meskipun tadi saksi mengatakan bahwa sebelum dibawa ke sini pasien terjungkal saat turun dari pohon, sepertinya kandungan istri anda juga lemah," ucap Dokter memberikan diagnosanya yang seketika membuat Naga terpuruk dan sedih. Naga sangat sedih dengan berita ini.




"Istri Anda masih dalam pengaruh obat bius, sebentar lagi juga sadar. Saya sarankan jangan dulu diberi pertanyaan atau pernyataan yang sekiranya membuat dia sedih, sebab istri Anda harus istirahat yang cukup dengan pikiran yang tenang. Kalau kondisinya cepat pulih, besok juga istri Anda sudah bisa dibawa pulang." Dokter Radit memberi keterangannya dengan sejelas-jelasnya.



"Bagaimana setelah istri saya mengalami keguguran, kapan dia bisa hamil lagi?" tanya Naga seakan tidak sabar. Dokter Radit sejenak tersenyum, lalu menepuk bahu Naga.



"Sabar. Istri Anda bisa hamil sebulan tau dua bulan dari ini juga tidak apa-apa. Tapi, berhubung kondisi kandungan istri Anda lemah, jika nanti hamil lagi saya sarankan istri Anda istirahat yang teratur dan jangan terlalu kecapean," ujar Dokter Radit memberi saran sekaligus peringatan pada Naga.



"Baiklah, mungkin itu yang bisa saya sampaikan. Anda jangan terlalu takut, istri Anda masih bisa hamil asal dia benar-benar istirahat yang cukup dan jangan terlalu lincah dalam beraktivitas sehingga lupa di dalam perut ada janin," hibur dokter Radit memberi sebuah harapan. Setelah menyampaikan hasil diagnosanya pada Naga, Dokter Radit dan tim, berpamitan dan keluar dari ruangan Zila.



Naga menghampiri ranjang Zila dan duduk di sampingnya. Perlahan dia meraih lengan Zila yang tidak dipasang selang infus. Naga menatap lemah sekujur tubuh Zila yang terbujur, Naga merasa menyesal telah mengijinkan Zila pergi ke rumah Kobar, nyatanya Zila memang tidak bisa menjaga amanahnya, yakni tidak bisa menjaga dirinya sendiri dan bayinya.

__ADS_1



"Kenapa sih kamu begitu keras kepala jika dilarang? Padahal aku melarang kamu hanya demi kebaikan kamu, bukan mengekang kamu. Kamu kadang-kadang menyebalkan, Zi. Tidak bisa menjalankan amanah yang aku berikan. Sudah aku katakan jangan naik pohon mangga, tapi rupanya kamu sembunyi-sembunyi dari semua orang untuk menaiki pohon mangga. Demi mengambil mangga, kamu tega mengorbankan anak kita," desah Naga sedikit kesal dan tentunya rasa kecewa begitu besar bergelayut dalam dadanya.



"Mas Naga, saya minta maaf tidak bisa mengawasi Neng Zila, sungguh saya minta maaf. Kami semua sangat lalai. Padahal Neng Zila sudah kami larang untuk naik pohon mangga karena memang paginya sudah diambilkan sama Kang Kobar. Tapi rupanya Neng Zila tidak puas, sehingga dia naik pohon mangga ketika mencuri lengah dari pengawasan kami," terang tante Zuli menyesal dengan wajah yang merasa bersalah, bersamaan dengan itu Kobar dan Diara masuk, raut wajah mereka sama sedih dan merasa berdosa seperti yang dirasakan Zuli.



"Nak Naga, saya minta maaf karena saya tidak bisa mengawasi keponakan saya. Saya merasa bersalah, saat Zila ke Lembang saya tidak ada waktu lama bersamanya, sebab paginya saya sudah berangkat kerja dan pulang sudah sore. Saya minta maaf, Nak," mohon Kobar penuh sesal.



Naga bangkit dan menatap Kobar, tante Zuli juga Diara. "Tidak perlu minta maaf pada saya, ini bukan salah kalian. Tapi memang takdir kami yang memang belum dipercaya Tuhan untuk punya keturunan saat ini. Saya juga sangat sedih, tapi mau bagaimana lagi. Semua sudah ketentuan-Nya," ujar Naga berusaha tegar, padahal hatinya sangat kecewa.



Pada saat Naga sedang berbicara, Zila rupanya sudah sadar, dia sangat bersalah ketika mendengar Naga berbicara di hadapan Tante Zila, Kobar, juga Diara. "Kak Naga," panggil Zila lirih. Naga dan semua yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah Zila yang terbaring lemah.



"Zi!" Naga menghampiri dan meraih jemari Zila seperti tadi. Zila menatap lemah ke arah Naga dengan mata yang sudah berembun. Kobar, Zuli dan Diara kompak keluar ruangan dan meninggalkan mereka berdua untuk membiarkan mereka berdua bicara dari hati ke hati.



"Kak Naga, aku minta maaf. Aku menyesal." Tangis Zila pecah saat itu juga, dia sungguh-sungguh menyesal dan memohon maaf pada Naga. "Sekali lagi, ampuni aku, Kak. Hukum aku karena aku tidak menuruti larangan Kak Naga. Aku sungguh istri yang tidak patuh, aku minta maaf," ujarnya penuh sesal. Naga menatap sedih ke arah Zila, dia juga sedih harus kehilangan anak untuk pertama kalinya.



"Sudahlah mungkin ini sudah taqdir," ucapnya seraya memalingkan muka ke atas langit-langit ruangan rumah sakit menahan air mata yang ingin jatuh. Zila semakin merasa bersalah melihat Naga seperti itu, dia sungguh menyesal.



Sementara di balik pintu ruangan kamar rawat Zila, Dila tengah mengintip dengan muka yang puas setelah tadi dia berusaha menguping semua pembicaraan Naga bersama Zila.



"Rupanya benar, Naga sudah menikah lagi. Terlambat aku kalau begitu, tapi nanti dulu, sekarang istrinya yang masih bocah itu sedang mengalami kejadian buruk, yaitu keguguran. Ini bisa jadi kesempatan buat aku untuk mengambil hati lagi Naga. Memang keberuntungan selalu berpihak pada Dila. Lihat saja, aku akan kembali merebut Naga darimu bocah ingusan," umpatnya di dalam hati.



"Mbak, silahkan masuk kalau memang benar Anda temannya Neng Zila. Di dalam kebetulan ada suaminya," ujar Tante Zuli mempersilhkan Dila yang hanya melihat Zila dari muka pintu yang dibuka sedikit. Naga dan Zila serentak menoleh ke arah pintu, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.


__ADS_1


"Oh, maaf, Bu. Rupanya saya salah orang. Ternyata yang berada di dalam ruangan ini bukan teman saya. Saya minta maaf dan permisi telah mengganggu waktu kalian," ucap Dila bohong, kemudian dia pergi dari depan ruangan itu dengan membawa hati yang gembira.


__ADS_2