
"Assalamualaikum, Mamaaaa, Papaaaa," teriakan Hilda mampu menarik perhatian semua orang. Pak Hasri dan Bu Hilsa sudah menyambut kedatangan mereka. Perjalanan Maldives - Bandung dengan jet pribadi yang cukup melelahkan membuat mereka dalam kondisi yang benar-benar lelah. Tubuh dan mata mereka terlihat sangat kuyu dan tidak ada stamina.
Wajar saja perjalanan dari Maldives ke Bandung yang ditempuh dengan waktu yang lumayan lama, yakni lima jam setengah itu sungguh membuat keduanya sangat lelah dan ngantuk.
"Waalaikumsalam, sayangggg, anak dan mantu Mama sudah pulang dari Maldives. Bagaimana perjalanan kalian dan jalan-jalannya di sekitar pulau atol apakah menyenangkan?" Berondongan pertanyaan dari Mama Hilsa membuat Hilda tidak mampu menjawab saking ngantuknya.
"Mama, biarkan anak dan menantu kita pergi beristirahat dulu. Mereka sama-sama sangat lelah. Lihatlah tubuh dan matanya sangat lelah dan ngantuk." Tiba-tiba Pak Hasri datang dan menimpali pertanyaan Bu Hilsa.
"Tapi, Pa, Mama sudah kangen ingin segera mendengar mereka menceritakan pengalaman indah mereka di sana," tukas Bu Hilsa masih penasaran.
"Sudahh. Nanti saja, Ma. Ayo sayang, kalian berdua naik dan masuk kamar, bersihkan dulu tubuh kalian, lalu beristirahatlah," ujar Pak Hasri pengertian. Nagi dan Hilda menyalami dulu Papa dan Mama Hilsa sebelum menaiki tangga.
"Pa, Ma, kami pamit ke atas dulu, ya. Kami sepertinya harus istirahat dulu, sebab kami memang benar-benar lelah." Nagi pamit seraya menyalami tangan Bu Hilsa dan Pak Hasri.
"Istirahatlah, Nak." Pak Hasri memberikan dorongan.
"Aku melepas lelah dan ngantuk dulu, ya, Ma, Pa. Di dalam mobil ada koper yang isinya oleh-oleh untuk kalian semua. Semua kebagian tentunya. Biar nanti Pak Nanang yang ambilkan." teriak Hilda sembari ngeloyor menuju tangga dan menaikinya hendak ke kamar.
Setelah membuka pintu kamar, Hilda dengan tidak sabar berlari kecil menuju ranjang ukuran sang raja. Hilda meluncurkan tubuhnya mirip orang yang akan meluncur ke air terjun.
"Ciattttt, srukkkkkk, blammm." Tubuh Hilda memantul lalu jatuh di tepi ranjang paling ujung, untung saja tidak terhempas ke lantai. Nagi melongo saat tubuh Hilda memantul dan jatuh lagi ke kasur, untung saja Hilda tidak jatuh di lantai.
"Sayanggg, hati-hati. Untung saja tidak jatuh ke lantai. Ayo bersihkan dulu tubuhmu biar saat istirahat nanti kita tidak diberi mimpi yang buruk," peringat Nagi serius. Hilda sejenak bangkit dan mengikuti ucapan Nagi dan segera ke kamar mandi. Setelah itu Hilda segera ke atas ranjang, sebab rasa kantuk dan lelah itu semakin mendera.
Kini giliran Nagi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia juga sama sangat lelah dan ngantuk. Nagi segera menaiki ranjang setelah merasa bersih. Tubuhnya dia rebahkan dengan santai dan leluasa di samping Hilda.
"Sayang, apakah kamu sudah tidur?" tanya Nagi pada Hilda yang masih terlihat bergerak-gerak. Hilda tidak menjawab, dia malah mendekat dan memeluk tubuh Nagi.
__ADS_1
"Aku belum bisa terlelap karena menunggu Kak Nagi," ujarnya. Nagi membalas pelukan Hilda lalu merebahkan kepalanya di dada Nagi.
"Bagaimana, apakah pengalaman kamu di sana sangat mengesankan?" Nagi bukannya membiarkan Hilda tidur, dia malah mengajak Hilda menceritakan kembali pengalaman ketika di Maldives.
"Hoammm, aku sangat ngantuk, Kak. Bukankah Kak Nagi tadi menyuruh aku untuk tidur?" heran Hilda.
"Tapi kenapa kamu sangat gelisah, apakah kamu ingat malam pertaman kita yang sangat mengasikkan itu?" tanya Nagi mengingatkan Hilda pada malam pertama yang menyakitkan itu.
"Kak Nagi, jangan ingatkan itu. Aku sungguh ngantuk," cegah Hilda seraya mendongak dan menatap wajah Nagi kesal.
"Selamat tidur," ucap Hilda seraya melabuhkan kecupan di bibir Nagi.
Nagi tersentak setengah mati saat menerima kecupan sekilas dari Hilda. Sepertinya singa betina sedang menggangu macan lapar, sebab taring macan tiba-tiba bangkit dan ingin menyerang serta berontak. Rasa kantuk itu tiba-tiba hilang gara-gara ulah Hilda.
Nagi perlahan bangkit dan menahan kepala Hilda yang sejak tadi menumpu dada bidangnya. Hilda menatap Nagi heran, ada apa dengan suaminya ini.
"Mpppphhhh, Kak Nagi." Nagi berhasil membungkam lagi bibir itu dengan kecupan panasnya, tangan Hilda berontak mencakar pelan.
Nagi mencoba bergerilya menyerang Hilda dengan serangan mendadak. Dengan cepat melucuti pretelan demi pretelan yang ada di tubuh Hilda. Walaupun Hilda berontak, tapi Nagi berhasil menguasai Hilda. Hilda dibungkamnya dari protes dan pemberontakannya. Sehingga semua yang menempel di tubuhnya sudah menghilang bak ditelan ombak tsunami. Nagi menutupi tubuh polos mereka dengan selimut. Lalu serangan cepat itu tidak menunggu aba-aba lagi. Nagi tidak kenal lelah memberikan setiap inci tubuh Hilda sebuah rangsangan.
Hilda menggelinjang penuh gairah sehingga inilah saatnya dia memasuki kembali lembah yang beberapa hari yang lalu sudah ditaklukkannya dan diselaminya. Dan akhirnya Nagi berhasil memasukinya walau harus susah payah juga sebab berulang kali Hilda bilang sakit dan menahan dadanya.
"Awggghhhh, Kak Nagiiiiii, sakittttt," teriakan Hilda melengking kencang sehingga menghentikan dua orang paruh baya yang melewati kamar yang ditempati mereka.
Papa Hasri dan Mama Hilsa saling pandang dan menutup mulutnya masing-masing.
"Pa, bukannya tadi mereka bilang ingin istirahat, tapi kenapa putri kita seperti sedang disiksa? Jangan-jangan Nagi sedang menyiksa Hilda? Mama harus masuk, Pa. Mama takut Hilda kenapa-kenapa," tutur Bu Hilsa mendadak risau.
__ADS_1
"Mama, biarkan mereka begitu. Nagi sedang menyiksa Hilda dengan hal yang menyenangkan," cegah Pak Hasri seraya menarik lengan Istrinya dan melanjutkan kembali perjalanan menuju ruangan kerjanya yang kebetulan melewati kamar Hilda dan Nagi. Bu Hilsa mesem seraya mengikuti Pak Hasri yang menuju ruangan kerjanya.
"Ughhhh, Sayanggg, I love uuuuuu," lolong Nagi seraya melepaskan semua yang menjadi keharusannya keluar. Hilda meringis dengan nyata, nampak pipinya berair penuh derai air mata.
"Baiklah sekarang kita istirahat benaran," ujar Nagi seraya mengecup bibir Hilda sekilas. Kemudian menyelimuti tubuh Hilda dengan selimut lalu dipeluknya.
"Kak Nagi jahat," ucapnya seraya membuang muka lalu perlahan-lahan menutup matanya karena terlanjur lelah dan ngantuk. Deru nafas keduanya bersahutan menandakan mereka benar-benar tertidur.
Menjelang sore hari, Nagi dan Hila terbangun dari tidur panjangnya. Mereka kini benar-benar fresh. Saat bangun tidur, keduanya tiba-tiba saling tertawa sebab melihat keadaan mereka yang sama-sama tanpa pretelan.
"Ha, ha, ha, ha." Hilda tertawa terbahak saat melihat taring Nagi yang tadi sempat tajam berdiri, tapi kini seakan tidak bernyawa. Nagi sadar apa yang menjadi bahan tertawa Hilda. Nagi menutupinya dengan kedua tangannya.
"Sayang, jangan tertawakan dulu. Dia itu sudah sangat lelah, jadi sekarang dia tidak mau menjelajah sebab waktu penjelajahan ditunda untuk malam hari," ujarnya berseringai puas. Hilda bergidik ngeri sebab rasa nyeri itu masih terasa, apalagi kalau harus diserang lagi, maka rasa lelah pasti akan menderanya.
"Ayo, jangan berdebat lagi. Kita mandi bersama. Aku benar-benar lengket dan gerah." Nagi membawa Hilda dari ranjang lalu membawanya ke kamar mandi. Mereka akhirnya mandi bersama saling gosok dan saling bilas.
**
"Kalian yang habis istirahat sangat bahagia sekali," seru Mama Hilsa saat Nagi dan Hilda menghampiri meja makan untuk makan sore.
"Mama, makanannya banyak banget. Apa Mama tidak salah membuat makanan sebanyak ini?" kejut Hilda memelototi makanan yang banyak di meja makan.
"Ini semua untuk kalian dan Kak Naga, Zila dan Kaka Syaka." Baru saja Mama Hilsa bicara seperti itu, tiba-tiba keluarga kecil Naga dan Zila datang seraya memegang kedua jari anak pertama mereka.
"Assalamualaikum ... Kami datang," ujar Zila diikuti Naga yang menggendong Kak Syakala. Semua menatap kedatangan Naga dan Zila juga Kak Syakala dengan tatapan bahagia.
"Kak Syakaaaa, Onty kangennnn," jerit Hilda seraya menghampiri Syakala yang sedang digendong Papanya. Syakala turn dari pangkuan Papanya, dia kini menyambut tangan Hilda seraya berceloteh.
__ADS_1
"Aunty hadiahnya mana?"