
Naga dan kedua orang tuanya berhamburan menuju dapur. Tiba di sana, mereka melihat Zila sedang di kelilingi Bi Rana dan Rani seraya diusap-usap perutnya.
"Kenapa dengan isrti saya?" tanya Naga terlihat khawatir. Bu Hilsa dan Pak Hasri nampak penasaran dan mendekati Zila.
"Kenapa dengan dia, Rana?" tanya Bu Hilsa kepada Bi Rana yang kini sedang mengusap perut Zila.
"Non Zila tadi sehabis makan asinan ini, tiba-tiba mengeluh perutnya sakit. Saya rasa Non Zila mengalami keram perut, Nyonya. Sepertinya dikarenakan kehamilannya ini. Karena kecapean dan banyak gerak bisa jadi penyebabnya," ucap Bi Rana menguatkan sakit keramnya Zila.
"Zi, kenapa? Apa yang terjadi?" Naga khawatir, tapi dia tidak sekhawatir Bi Rana dan Rani. Sebab Naga tahu Zila hanya hamil pura-pura.
__ADS_1
"Sekarang sudah baikan, Kak. Tadi sempat sakit banget dan perut seperti dililit-lilit," ujar Zila masih menyisakan sisa ringisan di wajahnya.
"Alah paling dia cuma pura-pura, kehamilannya hanya dijadikan alasan saja supaya tidak melakukan pekerjaan rumah seperti yang Mama suruh kemarin-kemarin," sergah Hilda tiba-tiba. Hilda baru saja pulang dari kampus dan langsung ke dapur karena di ruang tamu sempat bertemu dengan Rafa, saudara sepupunya, yang bilang bahwa Zila mengalami keram.
Zila merasa kesal dan dongkol dengan ucapan adik iparnya yang memang tidak pernah suka padanya. Namun, Zila tidak mau di depan kedua orang tuanya Naga dia berdebat dengan Hilda.
" Zi, pergilah ke kamar. Istirahatlah," perintah Naga. Zila sejenak menatap Naga untuk melihat seberapa khawatir dia. Zila melihat kesungguhan di wajah Naga, untuk itu dengan tanpa rasa malu Zila bangkit dan beranjak menuju tangga untuk ke kamarnya.
"Zizi." Panggilan seseorang yang ternyata Rafa menghentikan langkah Zila dan sejenak menoleh. Debaran jantung Zila seketika bergejolak saat tatapan matanya bertemu dengan Rafa. Meskipun hubungan yang terjalin antara mereka sudah berlalu dan hanya cinta monyet, tapi bagi Zila Rafa merupakan teman baik yang sangat perhatian kala itu.
__ADS_1
"Zi, benarkah kamu sekarang merupakan bagian dari keluarga Bang Naga? Dan benarkah kamu adalah istri dari Kakak sepupuku itu?" tanya Rafa mencoba meyakinkan. Sorot matanya menyiratkan sebuah kekhawatiran yang besar, khawatir jika Zila akan berkata bahwa dia benar istrinya.
"Aku memang sudah menjadi bagian dari anggota keluarga ini, dan aku sudah menikah dengan Kak Naga," sahutnya menjawab rasa penasaran yang dirasakan Rafa saat ini. Mendengar itu, Rafa terlihat kecewa. Tapi mau berbuat apalagi, toh hubungan dia dan Zila sudah berakhir sejak lama.
"Maaf, Raf, aku ke atas dulu ya. Aku harus istirahat." Zila berlalu meninggalkan Rafa yang terhenyak dan terpaku.
Disaat yang sama, Naga tiba di ruang tamu. Naga menduga Zila dan Rafa barusan terlibat pembicaraan.
"Bang Naga, selamat ya, telah menjadi bagian hari-harinya Zizi. Abang beruntung mendapatkan dia, sebab aku tahu Zizi orang yang sangat tulus," pungkasnya sebelum Rafa pergi dan berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Aku pulang, Zi. Aku tahu aku terlambat datang dalam kehidupanmu. Tapi setidaknya aku tenang melihatmu jatuh ke dalam dekapan Bang Naga," bisik hati Rafa tulus meskipun di hatinya terselip rasa kecewa.