
Nagi dan Hilda kini sedang bersiap untuk melakukan perjalanan udara ke Medan. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Hilda, mereka segera bertolak menuju Bandar udara Husen Sastranegara, Bandung.
"Kami pamit, ya, Ma, Pa." Hilda dan Nagi menyalami tangan kedua orang tua itu. Mama Hilsa dan Papa Hasri nampak sangat sedih melepas kepergian anak dan menantunya. Padahal bukan jarak yang jauh bagi Pak Hasri, tapi berjauhan dengan Hilda dengan waktu yang lama merupakan hal tidak biasa.
Papa Hasri sebetulnya sudah menawarkan kepergian Hilda dan Nagi diantar dengan jet pribadi, tapi Nagi dan Hilda menolak. Dia lebih menyukai perjalanan domestik dengan pesawat domestik juga tidak dengan jet pribadi.
"Kami pamit Pah, Ma," ulang Hilda mencium kembali tangan Mama dan Papanya, diikuti Nagi yang juga menyalami Mama dan Papa Hasri.
"Gi, titip anak gadis Papa, jangan kamu sakiti atau sia-siakan. Papa percayakan Hilda sama kamu jiwa raganya." Papa Hasri berpesan sebelum Nagi dan Hilda pergi.
"Nagi janji, Pa. Nagi akan mencintai dan dan menyayangi Hilda dengan setulus hati. Nagi tidak akan menyia-nyiakan Hilda," ucap Nagi sungguh-sungguh.
Papa hasri dan Mama Hilsa menatap kepergian anak dan menantunya dengan tatapan bangga dan haru. Bangga karena baru beberapa hari Hilda menyandang status sebagai istri, tapi Hilda sudah memperlihatkan sikap yang cukup bagus, diantaranya salim tangan dan menciumnya, tatapan matanya juga berubah teduh tidak beringas atau judes seperti dulu ketika harus dipaksa berpisah dengan Nagi.
Nagi dan Hilda memasuki pesawat yang sebentar lagi akan mengantarkan mereka ke Bandara Kuala Namu, Medan. Sepanjang perjalanan ke dalam bandara keduanya tidak henti saling berpegangan tangan dan saling balas tatap satu sama lain.
"Sayang, kamu sangat cantik dan menggemaskan hari ini. Nanti malam janji, ya." Nagi memberikan pernyataan yang bikin Hilda mengerutkan kening.
"Janji? Apa yang janji?" Kening Hilda sampai menjuntik mirip clurit yang sering dipakai tawuran anak-anak jalanan yang suka berkelahi.
Nagi mendekatkan bibirnya di telinga Hilda seraya membisikkan kata-kata yang membuat mata Hilda melotot.
"Apa? Lagi? Kakak ini tidak ada bosan-bosannya, aku ini masih merasakan sakit tahu," sentak Hilda seraya mencubit kecil lengan Nagi.
"Kalau sudah merasakan satu kali, bagi lelaki akan terus memintanya dan tidak akan pernah bosan, apalagi punya istrinya seperti kamu, cantik, galak, bawel, dan agresif," goda Nagi sambil ketawa membuat Hilda geram.
"Kak Nagiiiii, awas, ya." Hilda melotot sembari mencubit pinggang Nagi, yang ini cubitannya lebih kencang sehingga Nagi kesakitan.
Sampai suara operator terdengar memanggil, Nagi dan Hilda baru berhenti saling ejek. Mereka berjalan cepat menuju pesawat yang akan mengantar mereka terbang ke Medan.
Akhirnya, perjalanan Bandung ke Medan sampai juga. Dua jam setengah perjalanan mereka lewati dengan lancar dan selamat. Tiba di bandara Kuala Namu, Nagi segera menghubungi seseorang untuk menjemputnya.
Tidak berapa lama sebuah mobil Alphard menghampiri tempat berdirinya Nagi dan Hilda. Seorang supir paruh baya berpakaian safari keluar dari mobil itu dan menyambut hormat ke arah Nagi dan Hilda.
__ADS_1
"Silahkan Bos Nagi, silahkan Nona," ucap sang supir mempersilahkan Nagi dan Hilda bergantian. Nagi duduk di depan di samping Supir sedangkan Hilda di jok belakang. Tidak berapa lama, mobil yang ditumpangi Nagi dan Hilda melaju sedang membelah hiruk pikuknya kota Medan.
Satu jam kemudian mobil Alphard yang mengantarkan Nagi dan Hilda tiba di alamat yang dituju. Nagi dan Hilda turun dengan bantuan sang Supir menurunkan koper Hilda dan Nagi.
"Ayo sayang." Nagi meraih koper miliknya dan menyeret menuju teras rumah Bu Harumi. Sejenak Nagi melihat ke sekitar, suasananya masih seperti kemarin-kemarin. Halaman rumah yang indah dan asri dengan bunga-bunga yang bermekaran. Rumah itu tampak kosong. Sepertinya Bu Harumi memang sedang tidak ada di rumah. Tapi Nagi yakin Ibunya itu sedang ke pabrik, biasanya jam segini sedang memantau out going.
"Sayang, kamu mau ikut atau nunggu di teras depan?" tanya Nagi memberi tawaran pada Hilda yang kini sedang memandangi Hpnya dengan sesama. Nagi heran padahal biasanya mereka da
"Aku ikut Kak Nagi saja, dari pada menunggu di sini lama bagai patung Liberty di gantung di langit Amerika.
Perlahan Hilda dan Nagi berjalan mengendap melalui samping rumah yang menghubungkan ke pabrik kapas milik Nagi. "Ibu pasti ada di pabrik ini," yakin Nagi masih berjalan menuju pabrik itu.
Nagi dan Hilda berhenti ketika melihat pintu gerang asrama terbuka, sedangkan setahu Nagi asrama itu sudah lama tidak pernah dibuka karena tidak ada penghuninya.
Nagi memperingatkan Hilda supaya jangan sedikitpun berbicara, dia ingin mengetahui siapa orang yang kini berada di dalam kamar perusahaannya yang setahu Nagi kamar perusahan itu sudah lama tidak ada yang menempati. Nagi masih berpikir positif tentang keberadaan pintu gerbang asrama yang terbuka itu.
Nagi mendekat dan mendekat. Di sana pintu itu sudah terangkat ke atas. Nagi semakin curiga. Beberapa langkah lagi kaki Nagi menuju objek suara, namun urung sebab Nagi dan ilda dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang tidak biasa.
"Kapan Nagi akan datang kemari, Harumi? Coba kamu hubungi segera, aku ingin berbicara padanya dan memohon maaf atas kesalahanku di masa lalu," ucap lelaki paruh baya yang ternyata Handi orang yang selama ini dia anggap sebagai Papa oleh Nagi.
"Papa Handi, sejak kapan dia ada di sini, dan mau apa dia datang ke sini?" kejut Nagi seraya melotot tidak menduga.
"Papa Handi ingin meminta maaf? Lalu untuk apa dia meminta maaf toh semua sudah berlalu?" Nagi dan Hilda mash belum beranjak dari tempat yang tersembunyi dari penglihatan Handi maupun Harumi yang saat ini masih berdebat.
"Tapi aku rasa aku tidak perlu mengubungi Nagi untuk datang kesini demi seseorang yang dulu pernah menyakiti hatinya," tegas Harumi seraya membalikkan badan.
"Aku benar- benar berharap Nagi bisa datang kemari. Kalau aku yang mendatangi dia di Bandung, maka aku takut bayangan kelam itu kembali memenuhi otakku. Aku takut otakku koslet," ujar Handi penuh harap.
"Tapi, Mas. Aku rasa Nagi tidak akan semudah itu memberi ijinnya padamu untuk memintaku kembali padamu. Alangkah baiknya dipikirkan lagi. Jangan gegabah ambil keputusan!" sergah Harumi tidak suka.
"Jika Tuhan saja maha pengampun dan maha pemberi jalan, kenapa kamu dan Nagi tidak? Aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa. Dan kini saatnya aku menyesali ingin memohon maaf pada Nagi. Aku harap kali ini kamu tidak lagi berpikiran yang lain-lain terhadap aku," tegas Handi menyembunyikan rasa penyesalannya.
"Baiklah, Mas. Terserah apa katamu. Berdoalah Nagi yang Mas Handi harapkan akan segera datang ke kota Medan ini dan Mas Handi bisa melancarkan niatnya," ujar Bu Hilsa seraya bermaksud meninggalkan asrama.
__ADS_1
"Nagiii, Hildaa" kejut Harumi ketika dia membalikkan. Harumi terkejut sekaligus bahagia. Tanpa diduga Nagi dan Hilda, Harumi menghampiri pasangan pengantin baru itu lalu memeluknya.
"Hilda, Nagi, kalian datang, Nak. Ya ampun Ibu tidak menduga bahwa kalian akan datang hari ini," haru Bu Harumi sedikit memekik karena saking bahagianya dan tidak menduga bahwa anak dan menantunya akan datang hari ini.
Untuk sejenak mereka larut dalam kebahagiaan, saling peluk dan memegang erat .
"Nagi," seru Handi menghampiri Nagi dan Hilda yang masih berpelukan dengan Harumi.
Semua mata tertuju pada Handi yang kini tengah memohon pada Nagi untuk meminta Ibunya bisa kembali padanya.
"Papa minta maaf, Gi, seumpama restumu menghalangi kami karena rasa sakit hati padamu atas sikap Papa yang melimpahkan kesalahan orang lain padamu. Papa akui Papa memang kecewa kala itu. Kehidupan Papa hancur, orang-orang yang Papa sayang satu persatu menghilang. Papa kehilangan arah, sehingga Papa tidak tahu lagi kemana tujuan hidup Papa." Handi diam sejenak seraya mengusap air matanya yang mulai menetes.
Nagi tersentak, orang yang kini menyebutkan dirinya Papa padanya, menangis seakan menyesali perbuatannya.
"Papa mohon, Gi. Kamu bisa memaafkan Papa. Papa sadar Papa salah. Dan yang paling penting, kamu mau merestui hubungan kami berdua. Kami masih sang cinta. Ibumu juga sebetulnya punya rasa yang sama, tapi dia takut kamu tidak merestuinya," tutur Handi.
"Nagi memaafkan Papa, setelah melihat kesungguhan Papa, rasanya tidak etis jika Nagi egois dan tidak memaafkan Papa. Sesungguhnya Nagi sayang sama Papa," ujar Nagi terus terang seraya menyalami tangan Handi.
"Gi, sekali lagi Papa mohon kerelaan kamu untuk menjadikan Ibumu bagian dari hidup Papa sampai menua." Handi mengulang pemohonnya di depan Nagi dengan tubuh yang menunduk.
Nagi dengan cepat mengangkat tubuh Handi dan membawanya duduk di sofa. Dia tidak tega menyakiti lelaki paruh baya di depannya ini dan menolak permohonannya.
"Pa, apakah Papa benar-benar serius ingin hidup bersama Mama lagi?" tanya Nagi menatap lekat ke arah Handi.
"Papa serius, Gi. Papa sangat mencintai Ibumu sejak dulu. Papa mohon restui hubungan kami ini. Papa ingin menikahi Ibumu lagi. Papa mohon, Gi." Handi memohon dengan amat sangat dengan menegang erat tangan Nagi.
Nagi yang sejatinya tidak ada dendam, dengan keikhlasan hati akhirnya mengabulkan permintaan Handi untuk merestui hubungan Handi bersama Ibunya untuk menjadi suami istri kembali.
"Nagi, merestui, Pa. Nagi juga ingin Ibu bahagia. Sebab selama hidupnya Ibu tidak ada pendamping yang membahagiakan selama kalian bercerai," ungkap Nagi yang akhirnya disambut gembira oleh Handi karena niatnya sudah mengantongi restu dari Nagi.
"Benarkah kamu merestui kami, Gi? Papa bahagia mendengarnya," balas Handi seraya merangkul Nagi gembira.
Nagi meraih tangan Ibunya lalu menyatukan dengan lengan Handi sehingga mereka saking berpegangan erat. Semuanya kini terlihat tersenyum gembira, termasuk Hilda.
__ADS_1