Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 56 Musim 2 Kembali ke Bandung


__ADS_3

Zila dan Naga kembali ke Bandung. Sepanjang jalan tiba-tiba Zila berubah lesu, padahal tadi saat di Lembang, bahkan saat di rumah Haidar, Zila nampak sangat sangar dan cadas. Tapi sekarang nampak mengkhawatirkan. Naga menghentikan sejenak mobilnya di pinggir jalan, lalu turun tepat di depan kios-kios jualan makanan.



"Zi, tunggu sebentar, ya." Naga meninggalkan Zila sejenak yang tidak menyahut. Naga semakin khawatir, segera dia berjalan melewati kios-kios itu dan berharap salah satu kios ada yang menjual rujak atau asinan. Namun sayang, kios hanya menjual camilan anak-anak yang sudah umum.



Naga masih tidak menyerah. Dia berjalan sampai pada belokan pertama, di sana juga tidak menemukan rujak atau asinan. Namun, beberapa langkah lagi di depannya, Naga tiba-tiba terhenyak bahagia sebab dia menemukan pedagang rujak bebek {bukan bebek itik} bersama pikulannya sedang mangkal di pinggir trotoar. Mungkin mereka berhenti di pinggir trotoar karena kebetulan ada pembeli yang membeli secara drive thru, menepikan sejenak mobilnya lalu memesan rujak bebek.



Naga segera memesan tiga bungkus, sengaja yang satunya untuk dirinya, sebab dia saat masih remaja dulu menyukai rujak bebek. Naga bersyukur dalam hatinya karena menemukan penjual rujak bebek.



"Berapa, Kang?"



"Tiga puluh ribu," sahutnya seraya memberikan kantong kresek yang berisi rujak pesanan Naga. Naga segera memberikan selembar uang berwarna biru tanpa menunggu kembaliannya.



"Kembaliannya ambil saja," ucapnya seraya bergegas meninggalkan Kang rujak, lalu kembali menuju mobilnya yang diparkir di ujung jalan depan sana. Terpaksa Naga harus berjalan kaki lumayan jauh sekitar 200 meter.



Tiba di sana, Naga segera memasuki mobilnya. Dilihatnya Zila masih lemas dan menoleh ke arahnya sejenak.



"Zi, di pengkolan sana aku menemukan penjual rujak, tapi yang ada hanya rujak bebek bukan rujak potong," ujarnya dengan wajah yang ragu. Namun secara tidak disangka Zila tiba-tiba mendongak dan menatap Naga mempertanyakan rujak bebek yang dibilangnya tadi.


__ADS_1


"Rujaknya mana, aku mau memakannya?" pintanya menengadahkan tangan. Wajahnya sudah tidak sabar ingin menikmati rujak bebek yang dikatakan Naga.



Naga memberikan kresek yang berisi tiga bungkus rujak ukuran sedang pada Zila. Zila langsung meraihnya, tanpa pikir panjang langsung membuka isi dari kresek itu.



Tiga cup rujak bebek dengan dilengkapi sendok plastik. Zila langsung menyantapnya sebab mulutnya sudah ngiler. Cukup beberapa menit satu cup telah habis disantapnya, lalu sekarang cup yang kedua, habis juga dengan cepat. Tiba giliran cup yan ketiga, Zila juga menyantapnya dengan lahap sampai tandas. Naga melihatnya sampai geleng-geleng kepala, padahal tadinya satu cup untuk dirinya, tapi habis oleh ibu hamil yang sedang lapar.



"Habis," ucapnya sambil tidak disengaja bersendawa saking kenyangnya memakan tiga cup rujak bebek.



"Kak, sepertinya aku mau lagi rujak bebek tadi, nanti di depan beli lagi, ya," pintanya yang langsung diangguki Naga. Tiba di pengkolan saat membeli rujak bebek tadi, Naga menepikan sejenak mobilnya lalu memanggil salah satu tukang rujak bebek dan memesan empat cup rujak bebek sesuai pesanan Zila.



Setelah siap, Naga segera membayar dan kembali melajukan mobilnya. "Makanlah rujaknya," ujarnya. Zila menggeleng sembari menolak kantong kresek berisi empat cup rujak bebek. Naga mengkerutkan keningnya heran, padahal Zila sendiri yang meminta empat cup rujak bebek, tapi kini ditolaknya.




"Sudah kenyang dan ngantuk," ucapnya seraya menguap. Zila sepertinya benar-benar ngantuk sampai berkali-kali nguap. Meskipun Naga terlihat sedikit kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain patuh dengan sikap Zila. Tidak berapa lama dengkuran halus mulai terdengar, menandakan Zila telah benar-benar terlelap.



Tinggallah kini Naga sendiri di dalam mobil tanpa teman bicara, untuk membunuh bosan Naga menyalakan car audio dan memutar CD yang ada di dalam car audio.



Sebelum kembali melajukan mobilnya, Naga justru tertarik dengan rujak yang ada di dalam kresek tadi. Naga menepikan sejenak mobilnya, untuk menyantap rujak bebek yang mampu dihabiskan Zila sebanyak tiga cup. Pantas saja Zila tadi habis banyak malah minta pesan kembali, ternyata rujak bebeknya seenak itu. Rasa yang sama yang dulu pernah dinikmati juga oleh Naga beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1



Dua cup telah dihabiskannya, Naga kembali menjalankan mobilnya menuju kota Bandung. Sementara Zila masih tidur dengan nyenyak, dininabobokan dengan musik yang diperdengarkan dari alunan car audio.



Tiba di depan rumah kedua orang tuanya di kawasan Dago. Naga segera menuruni mobilnya dan bermaksud membangunkan Zila yang tidur. Sebelum dibangunkan ternyata Zila sudah terbangun sendiri.



Tiba di dalam rumah, Zila dan Naga disambut Pak Hasri dan Bu Hilsa di ruang tengah.



"Assalamualaikum," ucapnya bersamaan.



"Wa'alaikumsalam," sahut Pak Hasri dan Bu Hilsa kompak. Mereka menyambut kedatangan anak menantunya dengan gembira. Entah apa yang mereka rasakan yang jelas ada perasaan gembira yang tergambar.



"Bagaimana, Ga? Pencurinya sudah ditangkap polisi atau belum?" tanya Pak Hasri penasaran. Naga menjawab dengan anggukan, sebetulnya dia ingin melihat reaksi Zilla. Namun sepertinya Zila tidak peduli, dia malah kelihatan sangat lelah.



"Haidar dan konco-konconya sudah ditangkap, kepala desanya juga sudah. Pantas saja tanah milik orang tuanya Zila susah dicari arsipnya , tenyata kepala desa dan sebagian perangkat desa, terlibat mafia tanah. Jadi, walaupun Pamannya Zila meminta arsip untuk mencari tahu bahwa sertifikatnya itu asli, pihak desa tidak memberikan sebab mereka sendiri yang telah menjadi bagian dari memuluskan mafia tanah.



Obrolan antara Naga, Zila dan kedua orang tuanya Naga berakhir bersamaan kedatangan Nagi dan Hilda yang membeli banyak es krim. Hilda nampak lengket dan manja pada saudara sepupunya itu. Karena lelah, Naga dan Zila berpamitan pada semua untuk naik.



Begitu pula Nagi dan Hilda pamit pergi menuju kamar yang akan digunakan Nagi sementara.

__ADS_1



Naga dan Zila memasuki kamarnya, sementara Hilda dan Nagi memasuki kamar yang sama. Tanpa rasa curiga, karena niat Hilda bilang pada Papa dan Mamanya hanya mengantar Nagi ke kamarnya, mereka berdua melenggang masuk kamar yang sama tanpa merasa ada perasaan canggung.


__ADS_2