
Mobil Naga melaju membelah jalanan kota Bandung, dan kini memasuki kota kecil Lembang. Di mana kini, Kobar sedang dirawat di RS Citra Kasih karena mengalami musibah pengeroyokan oleh sekelompok orang seperti yang diceritakan tante Zuli di telpon.
Zila duduk gelisah di dalam mobil. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit Citra Kasih.
Setengah jam kemudian, mobil Naga sampai di RS yang dimaksud. Zila tidak menunggu lebih lama di parkiran, dia berlari meninggalkan Naga, lalu menuju ruang IGD seperti yang dikatakan Zuli tadi di telpon.
Tiba di depan ruang IGD, Zila tidak mendapati Tante Zuli di depan ruang IGD. Sepertinya Kobar sudah dipindahkan ke rungan lain.
Untuk lebih jelasnya, Zila mencoba bertanya pada Perawat yang bertugas di ruangan IGD. Dan menurut Perawat, pasien yang bernama Kobar sudah dipindah tempat ke ruang rawat Kencana nomer 3.
Zila segera menuju ruangan yang ditunjukkan Perawat tadi. Beberapa saat kemudian, Zila menemukan ruangan yang ditunjukkan Perawat tadi. Dia segera masuk dan mencari nomer 3, nomer kamar pasien Kobar.
Tiba di sana, Zila sudah mendapati Tante Zuli yang menunggui serta Darga dan Dargi sebagai Pengawal setia Kobar.
Zila melihat selang infus di tangan Kobar serta luka lebam di sana sini. Rasa sedih timbul seketika, mata Zila kini berkaca-kaca dan air mata yang ingin turun, ditahannya supaya tidak sampai jatuh.
"Tante Zuli!" Zila merangkul Zuli yang tengah duduk setia menghadap tubuh Kobar yang terbujur kaku di ranjang pasien.
Zila menangis di pangkuan tetangganya yang sangat perhatian sama dirinya dan Kobar.
Setelah beberapa saat menangis menumpahkan kesedihan atas musibah yang menimpa sang Paman, Zila mendekati ranjang pasien. Sememtara Zuli berdiri dan sedikit menepi untuk memberi kesempatan pada untuk meraih tangan Pamannya. Dargi dan Darga penjaga kembar di kafe Kobar keluar ruangan setelah Naga memasuki ruangan rawat Kobar.
"Paman," lirihnya seraya membaringkan kepalanya di bahu Kobar yang masih tidak sadarkan diri. Tetesan cairan infus yang menetes pelan melalui selang infus, bagaikan air matanya yang juga menetes membasahi pipinya, kemudian mengalir membasahi lengan Kobar. Tidak berapa lama, mungkin karena tetesan air mata Zila yang membasahi lengan Kobar secara tidak sengaja, lengan Kobar terasa bergerak.
Zila belum menyadarinya. Namun, Naga yang sudah berada di dalam ruangan Kobar melihat jar Kobar bergerak.
"Zi, jari Paman Kobar bergerak," ujarnya memberitahu Zila yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Kobar. Zila melihat ke arah Naga yang memberitahukan bahwa jari Kobar bergerak.
__ADS_1
Zila bangkit dan menoleh ke arah jari Kobar yang memang benar bergerak. "Paman," pekiknya seraya meraihnya.
Kobar berusaha membuka matanya perlahan. Sinar lampu yang mulai masuk retina matanya terasa menyilaukan, Kobar memejamkan lagi matanya karena cahaya lampu itu terasa menyakitinya.
Kobar mencoba menggerakkan lengannya yang terasa berat, dan pada saat itu dia merasakan goncangan di lengannya semakin kuat. Suara tangisan itu terdengar seperti suara yang selama ini menjadi pelipur laranya, yaitu orang yang selalu Kobar sayangi dan kasihi selama ini.
Saat mata Kobar benar-benar terbuka, Kobar langsung mengenali siapa gerangan yang membebani lengannya.
"Zi," lirihnya sembari ingin meraih kepala Zila, tapi tidak bisa sebab tangan Kobar terasa kebas, sedangkan tangan yang sebelahnya lagi menerima cairan infus yang dipasang selang infus.
"Pamannn," tangisan Zila pecah, dia tidak kuasa menahan kesedihan dan derita yang dialami Kobar saat ini. Naga yang sejak tadi mengawasi, menghampiri dan meraih bahu Zila supaya dia bisa menahan diri.
"Ini aku Paman, Zila. Aku datang menjenguk Paman karena kabar dari Tante Zuli. Kenapa Paman bisa tiba-tiba terluka seperti ini, bukankah Paman selalu dalam pengawalan Paman Darga dan Dargi?" cecar Zila seakan lupa bahwa yang sedang dia hadapi adalah orang yang sedang terluka.
"Zi, tenangkan pikiranmu. Paman Kobar sedang tidak stabil!" peringat Naga. Zila mendongak dan berdiri lalu merangkul Naga dan menangis di bahu Naga.
Lima menit kemudian Zila sudah mulai tenang dan stabil emosinya. Dia melepaskan rangkulannya dari tubuh Naga yang sesungguhnya hanya spontan dia lakukan. "Paman, ayo ceritakan, bagaimana kronologis yang sebenarnya sehingga Paman bisa babak belur dan masuk rumah sakit?" tanya Zila seakan sudah tidak sabar mendengar kejadian yang sebenarnya. Ingin rasanya Zila membejek-bejek orang yang sudah berani melukai Pamannya sampai seperti ini.
"Paman dikeroyok oleh orang suruhan Om kamu. Saat paman mendatangi rumahnya untuk meminta keadilan atas hakmu, Ommu Haidar tidak terima, dia malah menghina paman dan mengusir paman. Padahal paman hanya ingin mengingatkan dia supaya dia tidak melupakan kamu sebagai keponakan kandungnya yang punya hak penuh atas tanah yang diklaim miliknya."
__ADS_1
"Ya, ampun, Paman. Kenapa Paman masih mengurusi sertifikat tanah yang kini sudah diklaim Om Haidar? Lihatlah, gara-gara Paman sok jago mendatangi rumahnya sendirian, jadinya begini malah babak belur. Kenapa tidak minta dikawal Paman Darga dan Dargi saja?" Zila sangat berang mendengar Kobar dikeroyok oleh orang-orang yang katanya suruhan Omnya yang sampai kini belum Zila ketahui wajahnya seperti apa.
"Saat itu paman hanya ingin memperjuangkan hakmu saja, Nak. Kamu pewaris tunggal dan satu-satunya, tapi saudaranya sendiri dengan tega mengklaim bahwa tanah itu miliknya. Dan demi tanah Bapakmu, mereka dengan tega menghabisi nyawa saudaranya sendiri," tukas Kobar mengingat kembali kematian tragis yang menimpa adik dan adik iparnya di depan kukusan umbi gadung.
"Apa maksud Paman? Kenapa Paman mengungkit kembali kematian Bapak dan Ibu yang sudah bertahun-tahun yang lalu?" sentak Zila membuat Kobarr, Naga dan juga Zuli yang masih di dalam ruangan kaget.
Kobar merasa keceplosan, sebetulnya dia tidak bermaksud mengungkit kematian saudaranya itu yang sudah berlalu dua puluh tahun yang lalu.
"Tidak, paman hanya menduga saja. Sudahlah kematian Bapak dan Ibumu tidak usah dibahas lagi." Kobar mencoba mengalihkan kembali topik permasalahan pada hal lain.
"Lantas kenapa Paman sampai dikeroyok, apakah Paman berbicara yang tidak menyenangkan terhadap mereka?" Zila sepertinya masih penasaran dengan kejadian pengeroyokan yang menimpa Pamannya.
"Paman, hanya ingin berpesan sama kamu. Amankan sertifikat milik Bapakmu. Paman menyimpannya di bawah pohon rambutan belakang rumah kita. Di sana kamu bisa menggali tanah sedikit, beberapa sent dari permukaan tanah kamu akan menemukan sebuah peti. Di situlah sertifikat tanah orang tuamu, Zi. Paman mohon, sebelum Paman kembali amankan dulu sertifikat itu. Paman yakin Ommu Haidar, setelah kejadian pengeroyokan ini mereka pasti akan mendatangi rumah kita dan mengobrak-abrik rumah."
"Aku tidak habis pikir dengan Om Haidar. Untung saja aku belum pernah ketemu dengan orangnya, kalau ketemu mungkin aku sudah meludahinya," sungutnya kesal.
"Siapa Om Haidar?" Naga yang sejak memperhatikan interaksi antara Zila dan Pamannya, merasa sedikit terganggu dan penasaran dengan nama Haidar yang beberapa kali diungkit Kobar dan Zila.
__ADS_1
"Dia Omku yang sangat tamak, Kak. Kata Paman dia telah mencuri tanah milik orang tuaku dua puluh tahun yang lalu," jelas Zila nampak kilatan marah di wajahnya. Naga menggulirkan matanya ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu yang diingatnya. Apa sebenarnya yang sedang Naga pikirkan? Pantengi lanjutannya.