
Nagi dan Hilda keluar dari kamar Hilda. Dengan senyum yang masih mengembang, Hilda menutup pintu kamarnya dengan senang gembira. Masih terbayang-bayang kejadian tadi yang hampir saja kehilangan kesuciannya oleh Nagi, saudara sepupunya sendiri. Hilda tidak masalah, sebab dia bisa meminta pertanggung jawaban dari Nagi. Begitu pendeknya pikiran Hilda sampai dia menganggap hal demikian besar sangat enteng dan remeh. Dia hanya berpikir tentang nafsu dan kesenangan sesaat belaka.
Sementara Nagi yang juga sedang berpikir, tidak habis pikir dengan Hilda yang begitu sangat agresif dan sangat menginginkan hubungan terlarang itu terjadi. Padahal usia dia masih belum genap 19 tahun. Jika saja tadi Naga tidak menghubunginya, bisa jadi sesuatu yang hanya diingkan hawa nafsu itu terjadi begitu saja. Nagi bersyukur Naga segera menyelamatkan dirinya dari nafsu sesaat yang sempat menguasainya tadi.
Seandainya tadi dia terlanjur menggagahi Hilda yang dengan sukarela menyodorkan dirinya untuk disantap Nagi, maka bersiaplah Nagi kena bogem mentah dari Naga maupun dari Mama dan Papanya Hilda. Siapapun orangnya jika imannya dalam tahap yang lemah seperti kondisi Nagi tadi, sudah pasti akan segera menyantap ikan segar yang dengan sengaja disuguhkan, terlebih ini sukarela. Nasib baik panggilan telpon Naga datang menyelamatkan keduanya dari hal yang nantinya bakal jadi aib keluarga.
Nagi dan Hilda segera menuju mobil, keduanya sudah berada di dalam mobil mewah milik Nagi yang kini mulai keluar gerbang rumah setelah Pak Wawan seorang penjaga rumah sekaligus Supir pribadi keluarga Naga membukakan pintu gerbang. Mobil Nagi pun keluar gerbang dan melaju di jalanan kota Bandung yang sudah ramai.
Naga akan membawa Hilda ke sebuah kedai es krim yang lagi tren dan sedang viral saat ini di kota Bandung juga di kota-kota lainnya, sebab makanan kesukaan Hilda adalah es krim dari dulu hingga sekarang. Namun, meskipun Hilda penyuka es krim, tapi tubuh Hilda tidak pernah gendut di masa pertumbuhannya ini. Tubuhnya yang lumayan proporsional dengan tinggi badan 165 senti meter, dan bentukannya yang sedikit sintal padat berisi, bisa saja dengan mudah menarik perhatian para kaum adam, tapi Hilda tidak pernah tertarik dengan lelaki lain. Hilda hanya tertarik dan mencintai Nagi seorang.
Nagi masih fokus memainkan kemudinya, mengarahkan tujuannya ke kota Soreang, dia sengaja mencari kios es krim yang berada sedikit jauh dari kota Bandung. Nagi kini sedang memikirkan topik pembicaraan tentang kejadian tadi di kamar Hilda.
"De, kamu tidak apa-apa, kan, Kakak ajak ke kedai es krim yang berada di kota Soreang? Memang sedikit jauh dari kota Bandung, tapi itu lebih bagus supaya Kakak bisa bicara banyak sama kamu," ujar Nagi seraya menoleh sekilas ke samping kirinya.
"Aku nggak apa-apa asal ada Kak Nagi di samping aku," balasnya diiringi senyum yang terus merekah.
"Aku mau ngomong serius sama kamu, bisa?" tanya Nagi lagi sedikit ragu. Hilda menoleh ke arah Nagi, wajah Nagi yang tampan dari samping sungguh sangat mempesona buat Hilda. Sehingga Hilda tidak bosan-bosannya menikmati wajah tampan lelaki yang sangat dicintainya itu, bahkan Hilda tidak pernah rela jika Nagi jatuh ke pelukan perempuan lain. Nagi harus menjadi miliknya.
"Ngomong sajalah Kak, aku akan mendengarkan," balas Hilda diiringi senyum.
__ADS_1
"Kamu tahu, apa yang kita lakukan tadi hampir saja membuat kita lupa akan akal sehat, dan Kakak sangat menyesalinya. Seandainya hal itu terjadi, maka Kakak akan menjadi lelaki yang paling menyesal karena telah merenggut kesucian saudara sepupunya sendiri. Kakak akan dianggap sebagai saudara lelaki yang tidak bisa menjaga saudara perempuannya." Nagi berhenti sejenak sembari fokus dengan kemudi.
"Kakak tidak tahu bagaimana nasib kita jika itu semua terlanjur terjadi, yang pasti kita akan dikucilkan, dan kakak selain dikucilkan pastinya akan dimusuhi oleh Bang Naga, mama, papa, juga semua saudara. Dan Kakak tidak mau itu semua terjadi," ungkap Nagi melanjutkan perkataannya tadi.
Hilda menoleh ke arah Nagi dan menatap lekat wajah Nagi dari samping. "Kenapa harus takut, kita minta dinikahkan saja sama mama dan papa, mereka pasti dengan terpaksa akan menikahkan karena tidak mau aib ini menyebar kemana-mana. Mudah, bukan?" entengnya dengan wajah yang tanpa rasa bersalah.
"Ya, ampun, De, sedangkal itu pemikiran kamu. Kamu ternyata hanya memikirkan senangnya saja. Kalau kamu ingin tahu, menikah itu tidak segampang membalikkan telapak tangan, menikah itu rumit dan banyak sekali ujian, cobaan, juga rintangannya. Contohnya pernikahan Bang Naga, dia dua kali bercerai dengan istrinya karena sebuah cobaan besar menimpanya. Artinya menikah itu tidak gampang dan tidak cukup enaknya saja," sergah Nagi meyakinkan Hilda yang ternyata masih polos pengetahuan tentang dunia pernikahannya.
"Itu mudah saja Kak, aku tidak akan menguji atau memberikan cobaan sama Kak Nagi dengan sebuah pengkhianatan, sebab aku dari dulu hingga sekarang masih setia sama Kak Nagi, justru cintaku pada Kak Nagi bertambah beberapa kali lipat. Jadi, jangan samakan rumah tangga Kak Naga dengan rumah tangga kita nanti," tukasnya membalas kekhawatiran Nagi.
Nagi sejenak tertegun lalu geleng-geleng kepala, dia tetap tidak setuju dengan pemikiran Hilda yang menganggap remeh sebuah pernikahan.
"Jelas, dong Kak. Maksud Kak Nagi melakukan hubungan intim antara laki-laki dan perempuan, bukan? Aku belum pernah, sudah aku katakan aku hanya ingin melakukannya bersama Kak Nagi. Sekarang atau nanti," tegasnya meyakinkan.
"Lantas kenapa kamu bisa seagresif itu mengekspresikan rasa cinta kamu pada Kakak? Bukan tidak mungkin orang akan menilai kamu sudah pernah melakukan itu," tukas Nagi membuat Hilda geleng-geleng kepala.
"Aku masih suci Kak, aku hanya pernah melihat adegan drama Korea yang romantis, jadi setelah melihat itu, aku rasanya ingin mempraktekannya dengan Kak Nagi. Dan adegan itu sampai sekarang terbayang-bayang, sampai-sampai aku membayangkannya sedang melakukannya bersama dengan Kak Nagi," ungkapnya yang sepertinya terdengar jujur.
Mendengar pengakuan frontal Hilda, Nagi langsung geleng kepala dan tidak habis pikir.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh memikirkan atau membayangkan drama Korea yang membuat pikiran kamu jadi ngeres dan kotor lagi. Kamu tahu tidak, bahwa semua itu akan merusak otak kecil kita? Dalam pikiran kamu akan muncul terus adegan itu, dan kamu akan ketergantungan, sehingga bisa jadi kamu melakukannya dengan teman lelaki kamu," nasihat Nagi membuat Hilda terbelalak.
"Sudah aku katakan aku hanya akan mau melakukan itu bersama Kak Nagi. Aku tidak tertarik dengan laki-laki lain. Meskipun aku agresif, aku hanya agresif di depan Kakak, sebab laki-laki yang menarik di dalam hatiku hanya Kak Nagi," tegas Hilda menekan.
Nagi diam tidak menyahut apa-apa lagi, dia seperti tidak ada kata-kata lagi untuk membalas Hilda. "Kak Nagi!" seru Hilda penasaran.
"Boleh tidak kamu sedikit rubah sikap kamu yang berlebihan itu? Anggap saja itu sebuah permintaan Kakak?" minta Nag tiba-tiba.
"Lalu jaminannya buat aku apa?" Hilda balik bertanya.
"Tunggu setelah empat tahun, kalau kita ada jodoh dan umur panjang, Kak Nagi akan mendatangimu," tukas Nagi yang berhasil membuat kening Hilda mengerut.
"Kak Nagi mau melamar aku?" tekan Hilda ingin yakin.
"Kita lihat saja nanti," jawab Nagi membuat Hilda menjadi penasaran.
Tidak berapa lama, mobil Nagi tiba di depan kedai es krim yang sedang tren dan viral di media sosial.
Nagi menuruni mobil disusul Hilda yang kini tiba-tiba sedikit murung. Kenapa dengan Hilda dan apa yang membuat Hilda tiba- tiba murung?
__ADS_1