
Sementara itu di apartemen, Zila yang hanya ditemani Bi Lala asisten rumah tangganya, kini sudah mulai enakan. Perutnya yang tadi pagi mual kini sudah mendingan. Bi Lala membalur sekujur tubuh Zila dengan minyak urut.
Bi Lala yang sudah pengalaman lama dalam berumah tangga dan memiliki empat anak, merasakan mual dan demam yang dirasakan Zila bukan sekedar mual karena masuk angin, melainkan dicurigai masuk angin karena angin yang lain. Bi Lala menduga Zila kini sedang berbadan dua.
"Non, kalau melihat dari tanda-tanda yang Non Zila tunjukkan, sepertinya Non Zila bukan masuk angin biasa, melainkan masuk angin yang luar biasa." Ungkapan Bi Lala sontak membuat Zila tersentak, dia menjadi risau dan takut.
"Maksud Bi Lala luar biasa bagaimana?" tanyanya risau.
"Begini, Non. Kalau menurut tanda-tanda yang ditunjukkan Nona, sepertinya Non Zila sedang mengandung. Bibi meyakini ini sebab saat Bibi meraba perut Non Zila, di sekitar rahim ini seperti ada yang beda. Tapi untuk lebih jelas dan yakin, lebih baik Non Zila periksa ke dokter. Atau untuk menghilangkan rasa penasaran, Non Zila periksa sendiri dengan tespek. Nanti ketahuan positif atau negatifnya," usul Bi Lala yakin.
Zila sejenak diam tanpa respon, batinnya berkata-kata antara percaya dan tidak. Namun sejatinya dia bahagia seandainya yang dikatakan Bi Lala benar. "Benarkah? Tapi aku tidak boleh antusias atau histeris dulu sebelum yakin apa yang aku rasakan ini benar-benar hamil," batinnya.
"Bagaimana, Non, mau saya belikan tespek biar dites dulu untuk menghilangkan rasa penasaran Nona?" ulang Bi Lala. Sejenak Zila menatap ragu ke arah Bi Lala sebelum menyetujuinya.
"Baiklah, Bi. Belikan saja dua alat tespek. Untuk sekarang dan juga besok pagi." Akhirnya Zila setuju dan menyuruh Bi Lala membeli tespek ke apotik terdekat dari apartemen ini.
Bi Lala segera beranjak dan pergi menuju apotek terdekat. Nasib baik apotek di sekitaran apartemen tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu jalan kaki selama lima belas menit dari apartemen, Bi Lala sudah mendapatkan apa yang Zila beli. Dua buah tespek sudah dibelinya kemudian Bi Lala segera menuju apartemen.
"Ayo, Non, gunakan tespek ini. Saya juga penasaran seperti apa hasilnya? Saya harap Nona benar-benar hamil dan garis yang ditunjukkan adalah garis dua," harap Bi Lala segera setelah dia dari apotek.
Zila segera mengikuti saran Bi Lala dan menuruni ranjang. Kemudian Bi Lala mengantar Zila ke kamar mandi supaya Zila bisa mengambil air seninya untuk dites.
Beberapa menit kemudian, Zila keluar dari kamar mandi dengan membawa hasil tespek tadi.
"Bagaimana, Non. Coba perlihatkan sama Bibi," seru Bi Lala tidak sabar. Zila juga sepertinya sudah tidak sabar juga melihat hasilnya.
"Saya belum tahu, Bi. Kita lihat saja sama-sama hasilnya. Tapi, saya malah jadi takut untuk melihatnya." Zila terlihat ragu dan takut untuk melihat hasil dari tespek yang dia pegang. Bi Lala mengelus pundak Zila dengan rasa kasih sayang.
"Tidak perlu takut, Non. Non Zila hanya memastikan apakah Non Zila hamil atau tidak. Kalau sudah tahu hasilnya, Non Zila tidak akan penasaran lagi. Dan jika Allah belum memberikan kepercayaannya, maka Non Zila harus tetap bersabar dan tawakal," ucap Bi Lala bijaksana dan cukup menenangkan.
__ADS_1
Zila menarik nafasnya dalam-dalam sebelum membuka dan melihat hasil yang akan ditunjukkan tespek. Dengan mengucap doa di dalam hati, perlahan Zila membuka dan memperlihatkan hasil tespek itu di hadapannya dan Bi Lala.
Alangkah terkejutnya Zila dan Bi Lala setelah hasil tespek itu dilihatnya. Ternyata hasilnya garis dua dan Zila benar-benar hamil.
"Ya Allah, ini benaran, Bi? Apakah hasilnya tidak salah?" kejut Zila tidak percaya dengan kedua tangan menangkup wajahnya saking bahagia dan terharunya.
"Ini benaran, Non. Kalau Nona masih belum yakin, besok pagi air kencing Non Zila yang pertama ditampung lagi kemudian dites lagi," usul Bi Lala lagi.
"Baiklah, Bi. Besok pagi akan saya coba dites lagi." Zila setuju, lalu menyimpan hasil tespek itu ke dalam laci meja riasnya.
"Tapi, Bi, kalau sumi saya datang nanti, saya mohon Bi Lala jangan sampai ribut atau keceplosan pada suami saya bahwa saya garis dua. Soalnya saya belum yakin kalau saya hamil dan kalau benar saya ingin memberikan surprise pada suami saya," peringat Zila yang diacungi jempol oleh Bi Lala tanda setuju.
"Siap, Non. Kalau begitu saya akan membuat rujak kecap pedas buat Non Zila. Kebetulan buah-buahannya sudah tersedia di dalam kulkas. Sepertinya rujak dengan bumbu kecap pedas akan membuat Non Zila segar dan tidak enek." Bi Lala segera bergegas menuju dapur untuk membuat rujak kecap pedas yang dia sebutkan tadi.
Tidak lama dari itu, tidak diduga Naga datang dan sudah mengucap salam di depan pintu. Zila sempat terkejut, nasib baik tadi saat dia diperiksa air seni, Naga belum pulang. Sejenak Zila heran, kenapa Naga pulang secepat ini.
"Sayang, kamu masih sakit? Sepertinya kamu tidak senang aku pulang cepat? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Sejak di kantor aku hanya kepikiran tentangmu. Dan hari ini aku ingin bawa kamu ke klinik supaya kamu bisa diperiksa," ujar Naga seraya mendekati Zila dan memeluk serta mencium keningnya.
"Bukan begitu, Kak. Aku senang, hanya aku kaget saja Kak Naga pulang secepat ini, bukankah di kantor sedang sibuk sejak Kak Hasya tidak di sini?"
"Iya, benar. Aku sibuk sejak Hasya mengurus pabrik yang di Lembang. Tapi hari ini aku sengaja pulang cepat karena aku terlalu khawatir sama kamu dan ingin menyampaikan berita bahagia sama kamu," sahut Naga sembari mengukirkan senyum yang bahagia di wajahnya.
"Bahagia? Berita bahagia apa, memangnya Kak Naga habis dapat apa sebahagia itu?" heran Zila penasaran.
"Mulai hari ini dan seterusnya kita tidak perlu lagi merasa takut diteror seseorang, sebab dalang di balik teror itu sudah ditangkap, dan dia akan segera dijebloskan ke dalam penjara," tutur Naga dengan senyum yang mengembang. Zila semakin penasaran dengan berita baik yang akan disampaikan Naga.
"Lalu siapa dalang di bali teror itu? Apakah Kak Nagi yakin oang itu pelakunya?"
"Aku yakin, sebab saksi sudah mengatakan yang sebenarnya. Dan kamu tahu siapa dalangnya?" Naga memeluk Zila dengan erat dan tanpa diduganya, Naga meraba perut Zila dan mengelusnya penuh perasaan. Zila merasakan saat Naga mengelusnya, perasaan nyaman dan bahagia seketika muncul bersamaan di dalam dadanya.
__ADS_1
Naga seakan punya feeling bahwa di dalam perut Zila kini tumbuh janin, calon jabang bayi darah dagingnya.
"Lalu siapa dalang yang Kakak maksud, aku jadi penasaran?" tanya Zila tidak sabar.
"Ternyata Milalah yang menjadi dalang di balik teror itu. Dia juga yang berusaha mengadu domba Pak Doni dan Pak Dafa supaya tidak mau bekerja sama dengan perusahaan Naga Group. Oleh karena itu, hari ini Mila sudah dibawa dan diserahkan pada pihak kepolisian untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku," jelas Naga.
"Mila? Sudah ku duga bahwa mantan istri kedua Kak Nagalah pelakunya. Nasib baik dia segera ketahuan. Aku senang dengarnya. Tapi, apakah tidak keterlaluan dengan memenjarakan dia. Kesalahan dia hanya meneror dan mengadu domba, Kak Naga tidak takut dibilang tega?"
"Tidak, Sayang, itu sudah sepatutnya. Mila sudah sering melakukan tindakan yang hampir saja merugikan perusahaanku dan itu termasuk perbuatan yang tidak menyenangkan dan itu ada hukumnya. Maka aku akan memberikan dia pelajaran supaya dia benar-benar kapok. Tidak masalah hanya tiga atau sampai enam bulan, aku hanya ingin dia kapok setelah keluar dari penjara dan tidak akan pernah lagi menggangu hidupku lagi," harap Naga serius.
"Baiklah, Kak. Aku mendukung apa yang baik. Semoga mantan istri Kak Naga kapok setelah ini."
"Non Zila ini rujak kecap pedas buatan Bi Lala barusan, ini sepertinya akan menyegarkan buat Non zila yang sedang mual," ujar Bi Lala tiba-tiba. Zila tersentak dan kaget dengan ucapan Bi Lala barusan yang tidak menyadari di dalam kamarnya ada Naga. Nasib baik Bi Lala tidak menyebutnya sedang hamil.
Naga menatap kedatangan Bi Lala yang menenteng mangkok berisi rujak kecap pedas untuk Zila.
__ADS_1