Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 68 Musim 2 Naga Pulang


__ADS_3

"Assalamualaikum." Suara salam menggema di ruang tamu. Nagi dan Rafa juga Hilda menoleh bersamaan sembari membalas salam. Mereka sudah mengenal suara siapa itu.



Wa'alaikumsalam." Ketiganya kompak membalas ucapan salam Naga. Hilda yang tahu kakaknya pulang, langsung menyerobot dan memeluk Naga dengan penuh rasa kangen. Hilda memang selalu bersikap manja pada Naga , terlebih Naga memang suka memanjakan adik semata wayangnya itu.


Perlahan Naga melepaskan cengkraman tangan Hilda untuk merangkul kedua adik sepupunya, Nagi dan Rafa. Seperti yang Naga tahu Rafa merupakan mantan cinta monyetnya Zila di masa sekolah. Namun Naga tidak terpengaruh dengan masa lalu istinya, toh diantara Zila dan Rafa hanya sebatas mantan. Kalau juga mereka bertemu dan harus saling sapa, itu wajar bagi Naga.


"Fa, kapan kamu datang?" Naga mengalihkan fokusnya pada Rafa.


"Baru saja, Bang. Aku datang kesini karena mendengar Bang Nagi pulang. Selain itu aku kangen juga sama Uwa-uwaku yang kompak itu, sayangnya mereka tidak ada, kata Bang Nagi mereka pergi menikmati quality time," jelas Rafa menatap Naga.


Rafa menatap dalam pada Naga, dan seketika hilang percaya dirinya jika saja dia menjadi pesaing sang kakak sepupu. Dia punya segalanya, tampan dan juga mapan serta handal dalam berbisnis. Jadi tidsk mungkin seumpama dia bersaing dengan Naga. Kalah dalam segala hal. Sekolah saja baru baru lulus S1, dan dia tahun ini baru akan melanjutkan kuliah S2 di Harvard Amerika.


Namun ada yang membuat hatinya lega, setidaknya Zila bisa jatuh pada orang yang tepat. Sebab meskipun Naga sudah pernah gagal dua kali dalam pernikahan, Rafa yakin Zila akan bahagia, karena Naga adalah tipe setia dan baik pada pasangan. Namun entah kenapa Kakak sepupunya itu selalu diselingkuhi oleh pasangannya. Dan Rafa tahu, meskipun umur dia jauh lebih muda dari Naga, dia tahu saat Naga bercerai dan penyebabnya apa.


Rafa pada akhirnya bersyukur, sebab Zila jatuh pada lelaki yang tepat. Rafa hanya berharap Zila tidak memiliki watak yang sama seperti kedua mantan istri kakak sepupunya itu.



"Halah, Kak Rafa dipercaya. Dia datang ke sini bukan semata karena ingin menemui Kak Nagi atau Mama dan Papa, tapi ada yang dia cari. Pasti bini orang yang dia kangenin," tuding Hilda tiba-tiba membuat Rafa terbelalak. Nagi dan Naga juga memperlihatkan ekspresi yang sama.



"Apaa sih, Hilda? Kamu itu nuduh kakak nggak benar, kan tidak enak sama Bang Naga. Jangan berpikiran buruk dulu, kamu itu masih kecil, lagipula apa salahnya jika benar aku merindukan istrinya Bang Naga, toh aku sudah tidak bisa memilikinya. Lagipula mana mungkin aku merebut istri Bang Naga?" sergah Rafa tidak suka dengan tudingan Hilda.



"Ya, bisa jadi Kak Rafa masih naksir sama mantan cinta monyet Kakak. Tadi saja aku memergoki Kak Rafa menatap ke arah istrinya Kak Naga."



"Itu tatapan biasanya saja, nggak ada maksud apa-apa. Kalau aku bicara, otomatis dong harus lihat lawan bicara. Jadi, penglihatan kamu itu jangan disalah artikan, bisa memperkeruh keadaan, tahu!" sergah Rafa lagi tidak suka. Hilda membalas sergahan Rafa dengan meleletkan lidahnya.



"Sudah, jangan diperpanjang lagi. Lagipula aku tidak apa-apa. Jangan dipikirkan ucapan Hilda, dia memang suka ceplas-ceplos." Naga berusaha mendinginkan ketegangan antara Hilda dan Rafa.

__ADS_1



"Bagaimana Raf, kuliahmu?" Naga mengalihkan pembicaraan pada topik lain, supaya aksi Hilda menguliti Rafa berhenti



"Alhamdulillah, aku sudah lulus dengan menyandang prestasi mahasiswa terbaik se Asia Tenggara. Dan tahun ini Insya Allah aku melanjutkan S2 ke Harvard, Amerika. Aku ingin mewujudkan keinginan Papa supaya aku bisa menyandang gelar Magister," ungkapnya dengan perasaan bangga.



"Bagus, kamu sangat bersemangat untuk terus maju dan membanggakan Papamu," puji Naga sembari menepuk bahu Rafa.



"Jadi, jangan takut aku rebut istrinya Bang, sebab aku bakalan jauh dengan kalian," balas Rafa diakhiri tawa. Naga membalas tawa sepupunya. Dia tidak berpikiran Rafa merebut Zila dari tangannya.



"Kalau begitu sebaiknya aku pulang saja, lama-lama tidak enak karena di sini ada Mak Lampir yang punya pikiran jahat sama aku," pungkas Rafa sembari berdiri.




"Aku mau pulang Bang, masih ada urusan lain. Sampaikan salamku pada Uwa-uwaku yang aku rindu." Rafa berjngkat seraya menyalami Naga dan Nagi, tapi tidak pada Hilda. Rafa terlanjur kesal dengan ucapan Hilda.



"Awas, ya, kuliahnya jangan pacaran. Kalau pacaran, tabok saja sama Bang Naga," ejeknya pada Hilda sebelum melangkah pergi. Hilda tidak menyahut dia hanya memelototkan matanya tanda kesal pada Rafa.



Rafa pun pergi dan meninggalkan kediaman Uwanya itu dengan mengendarai mobil mewah keluaran baru."



Naga menatap kepergian Rafa penuh haru, dia bangga pada adik sepupunya itu yang ternyata cukup gigih persis Omnya yaitu Om Haidar, Papanya Rafa. Kegigihannya bisa jadi sama seperti Papanya, sebab Pak Hasri juga merupakan orang yang gigih dan pekerja keras saat mudanya dulu, sehingga dia bisa sukses seperti sekarang ini. Berbeda dengan Papanya Nagi, hidupnya berantakan setelah rumah tangganya hancur. Dan sekarang hanya mampu mengelola bisnis kecil di luar pulau bersama keluarga barunya.

__ADS_1



"Kak Naga, bawa oleh-oleh apa buat aku?" todong Hilda setelah kepergian Rafa.



"Ada, semua Kakak bawakan oleh-oleh, termasuk kamu," tunjuknya pada Nagi. Nagi tersenyum bahagia.



"Oleh-olehnya kebetulan masih dalam koper, dan kopernya di mobil. Nanti Kakak suruh Pak Tamrin bawakan masuk. Kakak naik dulu ke atas, mau menemui istri Kakak," ucap Naga berpamitan dan segera bergegas.



Hilda juga berdiri dan bermaksud meninggalkan ruang tamu, tapi Nagi menahan tangan Hilda. Hilda menoleh dan menatap kesal ke arah Nagi.



"Lepas, aku tidak mau disentuh munafik kayak Kakak," tudingnya galak. Hilda memang kesal pada Nagi, yang menghindarinya terus.



"Memangnya Kak Nagi munafik kenapa? Kamu cinta Kakak, kan?" tanya Nagi tidak melepaskan tangan Hilda. Hilda diam dan menatap ke arah lain, rasanya saat ini dia tidak ingin berada dekat dengan Nagi saking kesalnya.



"Lepaskan, aku muak sama Kak Nagi," ujar Hilda seraya menepis lengan Nagi yang mencengkram. Hilda berlari meninggalkan Nagi, padahal Nagi ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting. Bahwa Nagi akan menerima cinta Hilda dan memperjuangkannya asal Hilda kuliah dulu sampai selesai.



"Hilda, dengarkan Kakak dulu. Hil!" panggilnya yang tanpa dihiraukan Hilda karena marah dan kecewa.



Nagi duduk kembali di sofa dan terpekur. Bagaimana menjelaskannya pada Hilda jika sikap Hilda seperti itu?


***

__ADS_1


Naga menaiki tangga dengan penuh senyum gembira. Dia akan mengejutkan Zila dengan kedatangannya. Naga sengaja tidak mengetuk pintu sebab dia akan memberi kejutan pada Zila.


__ADS_2