
"Ayo, masuklah!" ujar Nagi menyuruh Hilda masuk ke dalam ruangannya. Kantor Kapassindo NagiMedani merupakan perusahaan di bidang perkapasan, yang kini namanya mulai melejit dua tahun terakhir di wilayah Medan dan sepulau Sumatera. Berkat kegigihan Nagi dan dukungan sang Ibu, perusahaan yang awalnya kecil itu menjadi besar dan berkembang pesat, sehingga kini menjadi melejit dan punya nama di kalangan para pesaing bisnis di bidang yang sama.
"Ya ampun, Kak. Ini tidak salah ruangan Kakak?" seru Hilda mengagumi ruangan Nagi yang besar, wangi dan elegan. Di dalam ruangannya ada ada ruangan lain, yakni toilet dan kamar pribadi. Hilda tidak berhenti tersenyum mengagumi ruangan Nagi yang baginya sangat berkesan.
Segumpal senyum terbit di bibirnya, Hilda bangga dengan kemajuan Nagi yang tidak pernah diduga sebelumnya. Awalnya dia menduga Nagi adalah Nagi yang akan menjadi pewaris perusahaan kecil milik Papanya di daerah, seperti wilayah Sulawesi maupun Kalimantan. Namun kini Nagi mampu berdiri sendiri dengan kakinya, mendirikan sebuah perusahaan yang kini mulai dikenal masyarakat.
"Sayang, lihat-lihat saja dulu, nikmati ruangan ini," seru Nagi seraya memeriksa sebuah laporan yang sudah ada di mejanya.
Hilda masih takjub menikmati ruangan Nagi yang luas, lalu dia mulai menuju kamar pribadi Nagi. Perlahan Hilda memutar kuncinya dan membuka perlahan pintu kamar pribadi Nagi. Dari mulut pintu sudah tercium wangi pengharum ruangan yang menyegarkan. Hilda sengaja menghirup pengharum ruangan yang menenangkan.
"Kak Nagi, apakah ruangan ini sering Kak Nagi tiduri?" tanya Hilda penasaran.
Nagi melihat sekilas ke arah Hilda dibarengi senyum. "Hanya sekali-sekali, Sayang," jawab Nagi seraya mengakhiri aktivitasnya.
Hilda mulai memasuki kamar pribadi Nagi. Di dalamnya tidak kalah elegan dan menakjubkan. "Wah, sangat menakjubkan." Hilda masih menatap sekeliling kamar Nagi yang tidak membosankan. "Perempuan mana yang pernah Kak Nagi masuki dalam kamar ini?" tanya Hilda menyelidik.
Nagi terkejut dengan pertanyaan Hilda yang dianggapnya nyeleneh ini. Beberapa detik kemudian timbul senyuman di bibirnya. Perlahan Nagi melangkahkan kaki menuju kamarnya menyusul Hilda, lalu mengunci pintu kamar itu dari dalam. Nagi tersenyum dari belakang Hilda. Entah apa yang akan dirasakannya.
"Tentu saja kamu yang pertama yang memasuki kamar ini, Sayang," sahut Nagi seraya memeluk tubuh Hilda dari belakang. Hilda tersentak, dia sedikit berontak. Namun pelukan Nagi tidak mampu melepaskan pemberontakan hilda yang tidak seberapa.
Nagi menenggelamkan kepalanya di leher Hilda, lalu mendongak mencium pipi Hilda yang lembut. Nagi mulai merapatkan remasan jemarinya dengan jemari Hilda. Dengan sadar gejolak rasa itu timbul seketika, dadanya mulai berguncang cepat dan tubuhnya memanas, sehingga membuat Nagi hilang arah.
"Tentu saja hanya kamu perempuan yang baru saja masuk ke dalam kamar ini," ucap Nagi dengan suara yang terdengar mendessah.
Nagi membalik tubuh Hilda dengan cepat dan sebuah ciuman berlabuh di sana. Mereka sama-sama menyelaminya dengan pagutan yang sama dan nafas sama. Nagi melepaskan sejenak pagutannya, lalu mencengkram tengkuk Hilda semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Hilda. Mereka saling tatap lebih dalam lalu saling memberikan kode yang menyesatkan.
Nagi membawa tubuh Hilda ke atas ranjang, lalu mereka melanjutkan aktivitasnya. "Aku menginginkannya." Hilda mengangguk. Lalu dengan hasrat keduanya yang semakin memuncak, dan akal sehat semakin hilang, Nagi dan Hilda seakan terbuai.
"Kak Nagi," lirih Hilda. Nagi membelai wajah Hilda yang matanya terpejam.
"Sayang," sambut Nagi. Hilda dan Nagi semakin tidak terkendali. "Kita akan menikah." Hilda mengangguk seakan memberi ijin untuk Nagi. Dan setan semakin menguasainya. Nagi menatap wajah Hilda ingin, Hilda juga sama, dia seakan memberi kode dengan mencengkram kuat pinggang Nagi.
"Nagiiiiiiii, apa yang kalian lakukan?" pekikan itu mengejutkan keduanya yang hampir saja akan siap melakukan. Bu Harumi menutupi wajahnya yang tidak sengaja melihat tubuh Nagi dan Hilda yang hampir saja polos. Dadanya bergemuruh hampir runtuh ibarat reruntuhan longsor yang tidak tertahankan. Detakan jantungnya kencang seirama dengan deru nafasnya turun naik cepat menyimpan amarah.
Bu Harumi berharap penutup terakhir yang masih dilihatnya melekat di tubuh kedua insan yang sudah sama-sama dirasuki setan itu, pertanda mereka belum sampai melakukan hal menjijikan itu. Bu Harumi memegangi dadanya dan berulang kali beristighfar.
Nagi segera bangkit dan menutupi tubuh Hilda dengan selimut yang ada di sana. Mereka memunguti pakaiannya yang berserakan di atas ranjang dan mulai memakainya.
"Cepat pakai pakaian itu, aku sungguh menyesal menyaksikan tubuh kalian yang hampir bugil itu. Kalian sudah dirasuki setan," teriaknya melotot dengan nafas yang masih tersengal.
Setelah Nagi dan Hilda berpakaian kembali dengan lengkap. Bu Harumi sedikit bisa mengendalikan diri dan emosinya, nafasnya mulai teratur. Namun kemarahan masih belum hilang dari wajahnya.
Bu Harumi mendekati Nagi dan menatapnya tajam dan jijik, lalu tidak disangka tangannya sudah menampar wajah Nagi sekeras-kerasnya sehingga Nagi sangat kesakitan. Nagi tersentak begitu juga Hilda.
"Plakkkk."
__ADS_1
"Ampun, Bu. Kami belum sempat melakukan, demi Tuhan," ucap Nagi sungguh-sungguh dengan wajah penuh penyesalan dan berkaca-kaca.
"Plakkkk." Tamparan kedua juga sama sangat keras dan menyakitkan sehingga Nagi hampir terhuyung.
"Tantee, jangan. Itu salah kami berdua, kami khilaf, maafkan kami," mohon Hilda seraya memegangi lengan Nagi penuh penyesalan. Hilda iba dan meratapi kebodohannya tadi yang dengan mudahnya terbuai nafsu yang hampir saja menjerumuskan ke dalam kehinaan bersama Nagi.
"Plak, plak, bugh, bugh, brakkk." Tamparan dan pukulan tiba-tiba saja membabi buta di wajah Nagi. Nagi ambruk di atas ranjang, sehingga Hilda terlepas dari lengan Nagi, dia tidak tega melihat Nagi disakiti seperti itu, sudut bibirnya berdarah akibat tamparan membabi buta.
"Jangan sampai kelakuan menjijikan kamu menurun dari ayah biologismu," pekiknya marah sembari menghujamkan telapak tangannya di wajah Nagi.
"Hentikan Tante!" Bersamaan dengan hujaman tamparan tangan Bu Harumi, Hilda menghalangi Nagi dengan badannya. Dan tamparan itu tepat di wajah Hilda. Hilda memekik kesakitan.
"Plakkkk."
"Awwww," pekiknya seraya memegangi pipi kanannya yang perih dan panas. Bu Harumi terkejut melihat Hilda tertampar dan kini kesakitan akibat tamparannya. Bu Harumi membelakangi mereka berdua dengan deraian air mata. Telapak tangannya juga sangat sakit dan panas.
"Pulanglah ke rumah setelah wajah kalian tidak memerah lagi, atau tutupi saja sesuai kemampuan kalian kalau kalian masih punya rasa malu," tukas Bu Harumi seraya bergegas keluar kamar pribadi Nagi.
"De, ma~maafkan aku," ujar Nagi bergetar. Dia sangat menyesal dengan perbuatan yang tadi hampir saja mereka lakukan. Nagi bersyukur dalam hati Tuhan masih sayang mereka berdua, sehingga mereka berdua masih terhindar dari perbuatan kejam itu.
"Kak Nagi, aku juga minta maaf." Ucapan Hilda tersendat bersamaan dengan air mata yang tumpah. "Aku perempuan yang hina ...." Hilda tidak mampu melanjutkan lagi kata-katanya, dia menangis seraya memeluk Nagi. Mereka menyesali perbuatannya yang kepergok Ibunya Nagi.
"Ayo bangkitlah, hapus air matamu, kita pulang sesuai kemauan Ibu. Ibu sangat marah karena kita," ajaka Nagi sambil bangkit membawa tubuh Hilda yang masih terisak.
"Ini salahku juga, kenapa aku harus nyusul Kak Nagi ke Medan? Aku sungguh menyesal karena berpura-pura menolak Kakak," ujar Hilda menyesali perbuatannya.
**
Tiba di rumah, Nagi dan Hilda disambut Bu Harumi dengan wajah yang sangat dingin. Sebuah koper milik Nagi teronggok di hadapannya. Nagi kaget, kenapa kopernya sudah siap di atas meja.
"Kelakuan kalian sangat meresahkan. Bertobatlah sebelum hukuman Tuhan menyapa kalian," tegas Bu Harumi berpangku tangan menatap tajam keduanya.
"Kami akan segera menikah, Bu. Aku akan menikahi Hilda. Kami secepatnya akan kembali ke Bandung dan melamar Hilda lalu segera menikahinya," ujar Nagi yakin.
"Tidak bisa semudah itu Nagi, kalian tidak bisa pulang sama-sama. Sebelum kamu menikahi Hilda, kamu harus dapat restu dari Papa Harsya. Kalau tidak, maka kalian tidak bisa menikah. Hamil atau tidak Hilda nanti saat kamu tinggalkan, jika tidak ad restunya, maka kalian tidak akan menikah," tegas Bu Harumi.
Hilda dan Nagi terbelalak bersama. Ada sebuah kalimat yang tidak mereka pahami, yaitu hamil atau tidak. Sementara itu mereka secara sadar belum pernah melakukan hal itu, meskipun hal tadi hampir saja menjerumuskan mereka.
"Kami belum pernah melakukan itu, Bu. Jadi, kami pastikan Hilda tidak akan hamil. Aku yakin itu," sangkal Nagi menggeleng.
__ADS_1
"Ikuti perintahku. Aku tidak akan mengulangi kalimat yang sudah aku ucapkan. Dengarkan baik-baik." Bu Harumi diam sejenak. Hilda dan Nagi saling tatap cemas.
"Kamu pulang ke Bandung dan katakan pada Papa dan Mamamu di sana, Hilda aku tahan di sini. Alasannya kamu atur saja sebisa kamu merangkai kata-kata. Aku tidak akan membiarkan kalian bertemu sebelum kamu dapatkan restu itu dari Papa Harsya."
"Tapi, Bu ...." Bu Harumi langsung mengangkat tangannya ke udara tidak mau disela.
"Aku akan memantau apakah Hilda di sini hamil atau tidak. Untuk itu tujuan aku menahan Hilda untuk melindunginya dari rasa malu."
"Apa maksud Ibu, Hilda tidak hamil, Bu. Kami belum pernah ...."
"Jangan lanjutkan ucapanmu, kamu patuhi ucapan pertamaku. Pulanglah ke Bandung, lalu segera ke Makassar," titahnya tegas.
"Hilda?" Nagi mempertanyakan Hilda.
"Dia akan tinggal di sini untuk sementara. Kamu bilang saja Hilda masih ingin di sini dan tertarik bekerja di perusahaan kapasmu. Anggap saja kalian saat ini dipingit sampai tiba waktunya kalian benar-benar menikah," tegas Bu Harumi lagi tidak bisa dibantah. Nagi dan Hilda saling tatap satu sama lain. Nagi masih bingung untuk meninggalkan Hilda. Dia takut Ibunya memperlakukan Hilda buruk.
"Tapi, aku titip Hilda, Bu. Aku tidak mau dia tersakiti."
"Apa maksudmu, Nagi? Memangnya Ibumu ini seorang Ibu yang suka menyiksa anaknya?" Bu Harumi melotot tidak suka.
Nagi merunduk, dia merasa trauma dengan tamparan Bu Harumi tadi. Tangan Bu Harumi seperti terbayang akan menamparnya kembali.
"Biarkan Hilda di sini menemaniku, hitung-hitung dia belajar memahami aku calon Ibu mertuanya."
__ADS_1
Nagi dan Hilda terbelalak tidak percaya mendengar kalimat terakhir Bu Harumi. Seperti sebuah harapan untuk mereka berdua. Nagi mendadak tersenyum bahagia dan bersemangat untuk segera pulang ke Bandung.