
"Hentikan!" ulang Naga seraya meraih tangan Zila dan menahannya. Zila menepis, tapi cengkraman tangan Naga sangat kuat sehingga Zila tidak bisa menepisnya.
"Jangan sekali-kali kamu keluar dari rumah ini, sekali saja kamu patuh dengan suamimu ini. Aku sedang ada masalah di kantor, jangan tambah lagi masalah dengan kamu ingin pergi. Tolonglah mengerti!" pinta Naga dengan wajah yang tegas. Tidak ada lagi kelembutan di wajah Naga untuk sekedar merayu Zila. Zila sangat kecewa dengan perubahan sikap Naga, dia pikir tadi saat Naga merangkulnya dia akan bersikap romantis dan lembut, tapi kini itu semua tidak ada lagi.
Naga perlahan melepas cengkraman tangannya yang kuat di bahu Zila sehingga menimbulkan rasa yang sakit di bahunya. Naga menatap Zila sejenak, lalu pergi begitu saja menuju kamar mandi dengan perasaan yang terlihat kesal. Zila merasa heran dengan Naga yang kini tidak lagi lembut padanya.
Melihat sikap Naga yang tidak lagi lembt padanya, Zila bertekad akan pergi dari rumah ini. Tanpa harus membawa bajunya ke dalam tas, Zila segera bergegas sebelum Naga keluar kamar mandi.
Zila berlari kecil seraya menghapus jejak-jejak air matanya. Di tangga, Zila bertemu Hilda yang menatapnya aneh. Namun dia tidak ada waktu untuk melayani ataupun menanggapi Hilda. Sekarang bukan saatnya berdebat dengan bocah ABG labil itu, tekadnya sudah kuat Zila harus pergi dari rumah yang sepertinya sudah tidak nyaman lagi untuknya.
"Non Zila, ayo Non, sarapan pagi dulu," ajak Bi Rana yang tiba-tiba sudah ada di bawah tangga, sepertinya Bi Rana sengaja hendak memanggil Zila dan Naga yang belum tiba di meja makan. Zila berpikir sepertinya orang-orang memang sudah berada di meja makan sehingga Bi Rana hendak memanggilnya makan. Sepertinya hanya tinggal Zila, Hilda dan Naga saja yang belum ke meja makan.
"Iya Bi nanti kami menyusul ke meja makan," sahut Zila yang diangguki Bi Rana. Bi Rana berbalik badan dan kembali menuju dapur. Zila tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia segera bergegas menuju pintu dan keluar. Di gerbang, dia bertemu Pak Wawan penjaga rumah sekaligus supir pribadi keluarga ini yang sedang berjaga di shift siang.
"Non Zila, selamat pagi. Mau kemana Non? Apakah Non Zila sudah benar-benar sehat?" tanya Pak Wawan terlihat khawatir. Semua orang di rumah ini tahu musibah yang menimpa Zil sehingga Pak Wawan bertanya hal seperti tadi. Zila tersenyum ramah.
"Saya ingin ke belokan depan ingin mencari rujak di kedai sana, siapa tahu pagi-pagi begini sudah ada yang jualan rujak," alasannya sembari menghampiri gerbang kecil khusus keluar masuk orang dan sepeda motor.
"Hati-hati Non," ujar Pak Wawan seraya membuka pintu gerbang. Zila segera keluar dan mengucap terimakasih pada Pak Wawan.
"Terimakasih Pak Wawan," ujarnya seraya bergegas dengan cepat menuju belokan depan yang dia maksud tadi. Pak Wawan menatap kepergian Zila dengan tatapan khawatir sebab dia tahu Zila habis keguguran dan setahunya dari Bi Rana dan Bi Rani, Zila harus beristirahat di rumah.
__ADS_1
"Semoga selamat, Non," ucapnya mendoakan keselamatan untuk Zila.
Sementara itu Zila yang sudah di belokan, akhirnya mencegat dan menaiki angkot setelah tadi tidak menemukan taksi yang ingin ditumpanginya supaya cepat tiba di kota Lembang. Namun, Zila tidak menemukan taksi, terpaksa dia menaiki angkot, yang sialnya masih harus ngetem menunggu penumpang dan menunggu penumpang agak banyak. Zila takut Naga segera mengetahui dirinya pergi dan akhirnya menyusulnya.
Sementara itu di rumah mertuanya, Mama dan Papanya Naga serta Sila sudah tidak sabar menunggu anak menantunya turun dan sarapan pagi. Hilda juga tumben belum turun. Sehingga Bu Hilsa tidak sabar menunggu.
"Bi Rana, apakah tadi sudah dipanggil anak dan menantu saya?" tanya Bu Hilsa pada Bi Rana.
"Tadi sudah Nyah, saya malah sempat bertemu Non Zila di tangga," jawab Bi Rana yang merasa heran sebab Zila dan Naga belum sampai di meja makan. "Sebentar Nyah, saya panggil saja lagi," ujar Bi Rana sambil berlalu. Saat Bi Rana baru saja melangkah, Naga sudah menuju meja makan.
Bi Rana tersenyum bahagia dan kini tinggal Zila dan Hilda. Dan akhirnya Hilda datang menuju meja makan. Semua sudah berkumpul, tinggal Zila yang belum. Naga heran dengan keberadaan Zila yang entah kemana, tadi saat dia tiba-tiba kebelet kamar mandi, Zila sudah tidak ada di sana.
"Ya sudah kalian sarapanlah dulu, Naga juga sebenarnya buru-buru sebab ada klien yang menunggu." Naga berdiri dan kembali bergegas dan tidak jadi sarapan. Semua yang berada di meja makan kecewa, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain geleng-geleng kepala.
Bu Hilsa menatap kepergian anak lelakinya sedih, hari ini Naga juga nampak tidak bersemangat. Bu Hilsa merasa bersalah terhadap Naga atas kejadian tadi di mana Sila tertawa terbahak saat Hilda menceritakan kronologis kenapa Zila sampai keguguran.
Bu Hilsa sejenak mengusap dadanya, saat dia menyadari kecemburuan Zila saat tadi merangkul dan bersikap hangat pada Sila. Bu Hilsa menangkap kesedihan yang dalam pada Zila. Bu Hilsa merasa menyesal telah memperlakukan Zila seperti tadi. Sementara sikap dia tetap hangat pada Sila tidak lain hanyalah karena persahabatan antara drinya dan keluarga besar Sila masih terjalin dengan baik dan mereka tidak mempermasalahkan perjodohan yang tidak terlaksana. Untuk itu Bu Hilsa tetap menyambut baik kedatangan Sila dengan maksud tali silaturahmi tetap terjalin meski Sila tidak menjadi menantunya. Bu Hilsa pun berharap Sila lapang dada menerima kenyataan ini, sebab Naga memang sejak awal tidak mau dijodohkan.
"Kemana menantu kita, Ma. Kenapa dia belum muncul?" Pak Hasri merasa heran dengan Zila yang belum tiba di meja makan.
__ADS_1
"Biarkan sajalah, Pa. Paling dia merujuk, sebab tadi aku bertemu dia di tangga dengan wajah yang sembab." Hilda menimpali dengan sikap cueknya.
"Apakah kamu tadi melihat kakak iparmu pergi kemana?" tanya Pak Hasri kembali.
"Aku tidak tahu, sebab aku tadi tidak melihat dia kemana," tukas Hilda seraya mulai mewadahi nasi ke dalam piringnya.
"Kamu juga jangan terlalu bersikap cuek terhadap kakak iparmu. Dan jangan suka menyindir dan bersikap tidak baik terhadapnya, begitu-begitu juga dia adalah istri kakakmu. Hargai dia sedikit kalau tidak bisa banyak, sayangi dia seperti kamu menyayangi Mbak Sila," ucap Pak Hasri memberi ceramah diawal sarapan pagi ini. Semua yang mendengar Pak Hasri berbicara merasa tertampar termasuk Sila dan Bu Hilsa.
"Iya, deh, iya. Papa juga sama sejak istrinya Kak Naga keguguran, Papa bersikap dingin juga, kan?" Hilda balik menyerang Pak Hasri.
"Papa hanya bersikap dingin tapi tidak berarti membencinya. Lagipula sikap Papa selama ini begini, tidak seperti kamu yang memperlihatkan ketidak sukaan" kelit Pak Hasri memberi bantahan terhadap tuduhan anak bungsunya.
"Alah, Papa juga sama saja, sebagai mertua yang baik harusnya Papa tidak boleh begitu," komplen Hilda lagi menyudutkan.
"Jangan bahas sikap Papa yang seperti ini, Papa bersikap dingin hanya karena kecewa dengan kakak iparmu yang tidak patuh dengan kakakmu, tapi bukan berarti membencinya," kelitnya lagi memberikan pembelaannya.
"Huhhhh, Papa munafik," umpat Hilda seraya mulai makan tanpa menghiraukan yang lain. Akhirnya semua makan tanpa Naga dan Zila dengan suasana yang berbeda, tanpa bicara satu sama lain. Sementara Bi Rani dan Bi Rana sejenak mengintip suasana meja makan yang tidak ceria, beda jika saat ada Zila. Meskipun antara Hilda dan Zila sering berdebat, tapi suasana hangat terasa.
"Kemana, yaaa, Non Zila? Aku tadi melihat di tangga aku pikir dia akan segera ke dapur untuk sarapan, tapi rupanya pergi entah kemana," sesal Bi Rani.
__ADS_1
"kamu sih Rani, bukannya langsung diraih tangannya atau diawasi gerak-geriknya. Pasti Non Zila merajuk karena merasa disisihkan Nyonya dan Tuan," yakin Bi Rana sedih.