
"Selamat datang di Maldives." Hilda sengaja menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang menikmati indahnya Maldives sepanjang mata memandang. Sejak pesawat pribadi Papanya tiba dan mengantarnya ke pulau terpencil ini, tidak hentinya Hilda berdecak kagum. Dia baru pertama kali ke sini, tapi decakan kagum sudah tidak terhitung. Sepertinya dia akan betah di sini.
"Apa, ini kepulauan terpencil, sebagus ini?" kejutnya takjub, benar-benar terkejut. Sebuah negara kepulauan yang terpencil yang dikelilingi atol. Benar-benar indah. Dari dalam kamar hotel< Hilda tidak akan pernah kehilangan indahnya panorama tepi pantai, sebab hotelnya tempat menginap berada di tengah-tengah air laut, persisnya mengapung, sehingga dari jendela kiri kanan panorama yang dilihat hanya lautan yang indah.
"Wawwww, ini benar-benar indah. Tidak sia-sia kita pilih tempat ini sebagai destinasi bulan madu kita, ternyata tempatnya sangat indah," ucapnya mengagumi lagi dan lagi tempat ini.
"Iya, sayang. Ini sungguh tempat yang indah buat kita berbulan madu. Papa sungguh luar biasa memilihkan destinasi bulan madu untuk kita ke tempat seindah ini," ujar Nagi memeluk erat tubuh Hilda seraya menatap hamparan pantai dan air laut yang kadang ombaknya berkejaran ke sana kemari dari dalam kamar hotelnya.
"Kamu bahagia?" Nagi bertanya sembari mengalihkan tatapannya ke wajah Hilda yang sejak tiba di pulau ini tidak henti tersenyum.
"Ciuman itu berhasil didaratkan di pipi Hilda yang glowing , lalu tatapannya beralih ke mata. Mata merupakan salah satu daya tarik Hilda sejak awal. Tatapan Nagi kini turun ke bibir. Tempat inilah salah satu tempat terfavoritnya juga sebab di sini semua hasrat hampir saja selalu dimulai.
"Seandainya sejak lama aku menikah dengan Kak Nagi, pasti tempat ini menjadi tujuan bulan maduku juga." Hilda tiba-tiba mengungkapkan keinginannya yang sejak dahulu ada.
"Sejak kapan kamu ingin menikah sama aku?" Hilda tersenyum malu saat Nagi mempertanyakan itu, dia sekilas menatap wajah Nagi lalu membuang muka ke arah lain dan melepas senyum. Hilda benar-benar malu.
"Sejak kapan?" tanyanya lagi seraya menatap dalam wajah Hilda dari samping. Nagi bisa menebak Hilda sedang tersenyum malu. Nagi menjadi heran, kenapa Hilda kini benar-benar terlihat malu, berbeda saat sebelum menikah.
"Katakan, Sayang!" ulang Nagi memaksa seraya menyentuh bagian sensitif Hilda.
"Kak Nagi," kejutnya sambil menoleh gemas ke arah Nagi.
"Kenapa harus malu-malu, padahal aku sudah melihat seluruh tubuhmu lewat kamera pengintai yang terhubung langsung dengan Hpku," ungkap Nagi membuat Hilda semakin malu.
"Katakan jangan, ya? Tapi aku tidak jadi katakan, sebab Kak Nagi sudah sangat jahat dan mengintip semua yang ada dalam diriku," rajuknya.
__ADS_1
"Katakan, atau kalau tidak mau katakan sebaiknya kamu aku bungkam saja."
"Cuppp." Secepat kilat Nagi menyambar dan mengarahkan wajah Hilda ke arahnya, lalu ciuman itu tidak bisa terhindarkan. Nagi menahan tengkuk dan pinggang Hilda supaya semakin erat.
"Ciuman itu untuk kamu yang tidak pernah berhenti mencintaiku. Cupppp." Ciuman yang kedua juga berhasil dilabuhkan Nagi, lebih lama dan dalam disertai gigitan kecil di bibir Hilda.
"Awwww, Kak Nagi. Jangan gigit," cegahnya meringis.
"Katakan sejak kapan kamu mulai ingin dinikahi Kak Nagi?" Perlahan Hilda melepaskan pelukan tangan Nagi di pinggangnya kemudian melarikan diri. Nagi mengejarnya bagaimanapun juga dia harus bisa mengorek keterangan sejak kapan Hilda ingin dinikahinya?
Tangan Hilda berhasil disambar tangan Nagi yang kuat dan kekar kemudian diangkat dan dihempasnya di atas ranjang hotel yang nyaman. Hilda tertawa-tawa, lalu bangkit. Namun sia-sia saat bangkit itu Nagi berhasil menangkapnya dan menindihnya cepat.
"Kak Nagi jangan," cegahnya seraya melambai-lambaikan tangannya.
"Katakan sekarang, atau siang ini kamu aku habisi" ancam Nagi membuat Hilda takut. Hilda pura-pura takut, mimik wajahnya berubah menegangkan.
"Aku mempunyai perasaan ingin dinikahi Kak Nagi yaitu sejak usia aku 15 tahun. Sejak Kak Nagi sering mengantar jemput aku ke sekolah. Aku menjadi ketergantungan dan tidak ingin sekalipun berpisah dari Kak Nagi."
"Sungguh?"
"Betul, perasaan itu muncul pertama kali saat Kak Nagi menggendong aku. Debaran jantung aku sejak saat itu tiba-tiba selalu berdegup kencang setiap bertemu dangan Kak Nagi," ungkap Hilda akhirnya membongkar rahasia sejak kapan dirinya ingin dinikahi Nagi.
Nagi tersenyum bangga bahwa dirinya sudah dicintai Hilda sekian lama.
"Ayo, kita nikmati atol-atol ini. Kita harus jelajahi semua pemandangan alamnya sebelum kita kembali ke Indonesia," ajak Nagi seraya meraih tangan Hilda dan mengangkatnya. Siang hari ini dia hanya ingin menikmati satu persatu pulau atol dari hamparan satu ke hamparan lainnya tidak ingin terlewatkan satupun.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita nikmati dulu pemandangan yang indah ini. Kapan lagi kita bisa menikmati alam ini selain saat ini," ajak Nagi. Hilda bangkit dan setuju. Dia tersenyum sebab siang ini dia masih berstatus yang sama sebelum datang ke pulau ini.
Cekikikan Hilda terdengar nyaring saat Nagi berusaha menimbunnya dengan pasir. Hilda berhasil ditimbunnya, lalu kini giliran Nagi menimbun dirinya sendiri. Beberapa saat Hilda dan Nagi terlena dengan permainan timbun pasir.
Sore menjelang, tiba saatnya bagi Nagi dan Hilda makan sore di resto hotel itu. Seorang pelayan hotel dengan berbicara bahasa inggris mengetuk pintu dan mempersembahkan menu makan sore di hotel itu.
Hilda dan Nagi tidak perlu keluar kamar lagi untuk makan. Setiap tamu di hotel itu dijamu sampai makannya ke dalam kamar hotel terkhusus bagi sepasang pengantin baru seperti Hilda dan Nagi.
"Sayang, ayolah makan dulu. Kita persiapkan tenaga untuk malam nanti. Ingat, nanti malam merupakan malam pertama kita di pulau ini untuk mengarungi surga dunia. Sore pun terlewati dengan suasana yang indah serta pelayanan pihak hotel yang memuaskan.
Malam kian menanjak, suasana hati Hilda mendadak takut. Berbagai rasa sudah membayanginya. Tentang rasa sakit ketika disentuh pertama kalinya oleh Nagi malam ini.
Malam sudah menunjuk ke angka delapan malam waktu setempat. Tiba-tiba pelayan tamu mengantarkan hidangan makam malam berupa makanan berat dan desert.
Nagi dan Hilda menikmati makan malam pertama mereka di Maldives dengan suasana yang romantis. Keduanya kini sudah menikmati makan malam romantis. Hilda bangkit dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menuju ke alam mimpi. Tentu saja sebelum itu, dia harus melayani dulu singa yang lapar yang sudah sejak siang tadi ingin menerkam.
"Sayang,." Nagi sudah melabuhkan sebuah ciuman maut di sekujur wajah dan tubuh Hilda tanpa terlewat. Hilda yang bergerak ke kiri dan kanan tidak dia hiraukan. Sepertinya Hilda sangat kegelian saat Nagi mulai menyentuhnya.
"Kak Nagiiiiii." Sebuah teriakan histeris keluar dari mulut Hilda bagaikan siksaan tiada tara. Dengan cepat Nagi membungkamnya dengan sebuah ciuman.
Nagi tidak tega melihat Hilda kesakitan. Rupanya malam pertama bagi mereka yang pemula begitu sulit, belum lagi permulaan nagi yang tidak menemukan pintu hutan larangan itu, lalu setelah berhasil menerobosnya dengan paksa ternyata itu tidak mudah juga, prosesnya sangat menyakitkan sehingga Hilda untuk beberapa saat menangis di bawahnya.
Malam yang harusnya indah dan syahdu itu terpaksa ditunda dulu menunggu Hilda hilang rasa sakitnya.
"Hiks, hiks, Kak Nagi, aku takut. Sakittt, Kak." Hilda menangis dalam pelukan Nagi yang berusaha menenangkannya.
__ADS_1
"Ya ampun kalau masih segel ternyata ini adalah permulaan yang sulit," keluh Nagi mendesah lelah.