
Mobil Naga keluar dari gerbang dan mulai melaju pelan. Keluar dari perumahan elit di kawasan Dago. Tepat di belokan saat Zila menyetop angkot, mobil Naga juga belok ke kanan ke arah perusahaannya berada. Nasib baik Naga tidak melihat ke arah angkot yang di sana masih ada Zila. Zila sempat menunduk sebab dia melihat mobil Naga melewati jalanan itu.
"Syukurlah Kak Naga tidak melihat aku. Tapi apakah Kak Naga sudah tidak peduli sama aku?" tanyanya dalam hati dengan risau. Zila mendadak sangat sedih. Namun beberapa detik kemudian bunyi notifikasi pesan WA berbunti di Hp Zila. Zila segera melihat siapa yang mengirimkan pesan WA padanya.
"Zi, kamu kemana, kenapa kamu pergi? Kamu memang tidak pernah mengerti aku. Aku perintahkan jangan pergi, kenapa masih pergi juga. Aku minta maaf aku sedang sibuk dan tidak bisa mencarimu sekarang. Aku harap kamu tidak pergi kemana-mana selain ke rumah Paman Kobar. Aku selalu mengkhawatirkan." Pesan itu dibaca tapi tidak dibalas Zila.
Walau merasa sedih, tapi ada secercah bahagia terselip di hatinya, Naga masih peduli dan mengkhawatirkannya. Dua puluh menit kemudian angkot yang ditumpangi Zila berangkat dengan beberapa penumpang di dalamnya.
Tiga puluh menit kemudian angkot yang ditumpangi Zila sampai di kota Lembang. Zila berhenti tepat di jalan yang menuju ke rumah Kobar. Rencananya dia akan mencegat ojek dan langsung ke kuburan ibu dan bapaknya, sebab sejak menikah Zila belum lagi menemui kuburan ibu dan bapaknya. Nanti setelah dari kuburan Zila akan langsung ke rumah Kobar dan menginap beberapa hari sampai Naga menjemputnya.
Ojek yang ditunggu memang agak susah kalau di jalan yang menuju rumah Kobar ini. Jalan ini terbilang sepi meskipun jalannya sudah terbangun dengan bagus. Zila jadi ingat kenangan buruk saat dia dikeroyok **Nauri** dan pacarnya, **Ridu**. Sekarang ayahnya Nauri kabarnya masih di dalam penjara karena terbukti bersalah telah bersekongkol dengan mafia tanah. Om Haidar juga Om kandung Zila masih mendekam di sana atas kesalahan yang diperbuatnya.
"*Maafkan aku om karena telah memenjarakan om. Tapi itu semua karena ulah om*," bisiknya dalam hati penuh sesal.
Tiba-tiba saat masih sabar menunggu ojek lewat, sebuah mobil mewah menepi dan sengaja berhenti di depan Zila sembari membuka kaca jendelanya.
"Non Zila, kenapa ada di situ?" Seorang pengemudi menyapa Zila dan segera turun dari mobilnya. Rupanya dia kenal Zila dan saat Zila mendekat ternyata orang tersebut adalah **Hasya**, Asisten pribadi Naga yang kini sedang ditugaskan di Kampung Sukaseuri untuk mengawasi pembangunan pabrik di tanah milik Zila.
"Kak Hasya," teriaknya bahagia. Wajah murung yang sejak kepergiannya dari rumah mertuanya kini berubah ceria saat bertemu Hasya. Zila sangat bahagia sebab ada tumpangan gratis.
"Ayo masuklah dulu," titah Hasya mempersilahkan Zila masuk dan membukakan pintu depan mobil sebelah kiri. Setelah berada di dalam mobil, Hasya tidak segera menjalankan mobilnya. Dia menoleh ke arah Zila yang tepat berada di sampingnya. Tatapan heran dan penuh tanya tentunya.
"Nona datang ke sini sendirian pasti sedang merajuk pada Bos Naga. Kenapa Nona tidak di rumah dan beristirahat saja, Nona, kan baru mengalami musibah." Hasya merasa khawatir dengan keadaan Zila yang sebulan yang lalu keguguran.
"Kak Hasya, tolong jangan khawatirkan aku. Aku sudah sehat dan pulih. Kak Hasya mirip Kak Naga saja masih belum percaya kalau aku sudah pulih dan sudah bisa bepergian jauh," elak Zila mulai egois.
__ADS_1
"Tapi Non, Bos Naga itu benar, dia begitu karena khawatir dengan Nona. Apakah Nona tidak tahu betapa dia sangat mencinta Nona dan mengkhawatirkan Nona?" sergah Hasya.
"Khawatir? Ah, sudahlah Kak, jangan bahas dulu Kak Naga. Aku sekarang ingin fokus dengan diri aku. Aku rasa dengan aku pergi justru mereka senang," sangkal Zila merasa yakin.
"Nona jangan bicara seperti itu, mereka tidak seperti itu sebenarnya," ucap Hasya menyangkal tuduhan Zila tentang sikap keluarga Bosnya.
"Sudahlah, Kak, nanti lagi bahas masalah itu," sergahnya malas.
"Lantas Nona sekarang mau kemana, ke rumah Paman Kobar?" tebak Hasya.
"Aku mau ke kuburan ibu dan bapakku. Tolong antar aku kesana. Aku ingin merasakan dekapan mereka dan ingin mendoakan mereka," titahnya dengan suara yang berubah sedih.
"Baiklah. Nona tinggal tunjukkan jalannya, ya." Hasya setuju dan patuh atas permintaan Zila. Keberadaan kuburan kedua orang tua Zila tidak jauh dari sana, hanya setengah kilo meter saja.
Hasya turun dari mobil, lalu memutar menuju pintu mobil sebelah kiri membukakan pintu untuk Zila. Zila pun turun dan keluar dari mobil Hasya.
"Sebelah mana, Non?"
"Ikuti saja aku. Kalau Kak Hasya mau menunggu, tunggulah di mobil."
"Tidak, saya akan kawal Nona sampai selesai," tukas Hasya seraya mengikuti Zila dari belakang. Zila tidak menyahut, dia berjalan lebih dulu menapaki jalan seluas satu meter menuju kuburan bapak dan ibunya.
Tidak jauh dari situ, kuburan kedua orang tua Zila sudah ditemui. Kuburannya bersih dari rumput liar dan terawat, itu karena Kobar yang selalu rutin sebulan sekali mengunjungi kuburan iparnya itu dan dibersihkan.
__ADS_1
"*Pasti ini seminggu yang lalu dibersihkan paman Kobar. Paman Kobar memang orang tua terbaik yang aku miliki, terimakasih paman, Zila sayang banget sama paman*," batin Zila mengenang Kobar.
Zila bersimpuh di tengah-tengah antara kuburan bapak dan ibunya. Tertera di sana nama Haga Barata dan Karlina ibunya. Zila mengusap kuburan keduanya dengan sepenuh hati dan rasa rindu yang bergejolak. Dan Zila mulai berdoa memanjatkan doa-doa kebaikan buat kedua orang tuanya diiringi air mata yang deras membasahi pipinya.
Hasya ikut terharu saat melihat Zila menangis sedih. Dalam hatinya Hasya juga memanjatkan doa untuk kedua orang tua Zila. Beruntung Hasya masih memiliki orang tua yang kumplit, sehingga dia tidak henti-hentinya bersyukur.
Air mata itu seketika membasahi tanah kuburan kedua orang tua Zila. Setelah beberapa saat Zila memanjatkan doa bagi kedua orang tuanya, Zila menyudahi ziarah kuburnya dan perlahan menghapus air mata yang mengalir deras tadi.
Zila berpamitan pada kedua makam orang tuanya dan membalikkan badan. Lalu berjalan duluan setelah Hasya memberi jalan dulu untuk Zila. Mereka masuk mobil kembali dan hening sejenak di dalamnya.
"Ini masih pagi, Non. Apakah Non Zila mau langsung ke rumah Paman Kobar atau jalan-jalan dulu atau langsung ke Bandung saja ke rumah Nyonya dan uan besar?" tanya Hasya memberi beberapa pilihan.
"Kalau aku ingin ke pabrik dulu bagaimana? Aku rasanya kangen dengan tanah milik bapak, sebab selama aku ditinggal kedua orng tuaku, aku belum pernah menginjakkan kaki di sana," pintanya yang langsung disetujui Hasya.
"Wahhhh, kebetulan saya juga ini mau ke sana. Sambil lihat-lihat, ya, Non." Zila mengangguk setuju. Mobil Hasya pun melaju menuju ke sebuah pembangunan pabrik yang berdiri di tanah Zila warisan dari orang tuanya.
"Kita sudah sampai, Non. Dan itulah pabriknya. Sudah hampir 75 persen pabrik ini berdiri. Jika Nona ingin memantau ke dalam, kita langsung masuk. Sepertinya Paman Kobar juga sudah berada di dalam."
"Baiklah aku ingin ke dalam saja, ingin berjumpa paman Kobar." Zila langsung ceria saat mendengar nama pamannya disebut.
Saat memasuki bangunan yang cukup luas, dari jarak seratus meter bayangan Kobar sudah terlihat. Zila berlari kecil menghampiri Kobar bermaksud mengejutkannya.
"Pamannnn," teriaknya gembira seraya memeluk Kobar dengan penuh kerinduan. Kobar memegang erat tangan Zila yang sudah melilitnya.
__ADS_1
"Kenapa hanya paman Kobar yang kamu rindukan, aku juga sangat merindukan kamu?" tanya orang yang dianggap Kobar, tapi suaranya malah berbeda. Orang yang Zila kenal suaranya itu berbalik dan menghadap ke arah Zila seraya meraih wajah Zila. Zila tersentak saat dia dengan jelas bisa mengenali siapa orang yang berada di hadapannya. Siapakah dia?