Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Musim 3 Nagi dan Hilda #Cerita Nagi 1


__ADS_3

     Melihat Hilda ketakutan seperti itu, Nagi semakin gemas. Kemana Hilda yang dulu ekspresif dan agresif? Nagi sangat heran dan bertanya-tanya.


     "Duduklah di sofa itu, jangan seperti orang takut, aku tidak akan memakan kamu karena kamu belum saatnya dimakan. Kenapa kamu malah takut? Bukankah selama ini kamu sangat mencintai aku? Empat tahun lamanya kamu menunggu aku, tidakkah kamu merindukan aku? Bukankah dulu kamu yang selalu menawarkan dirimu untuk aku sentuh?" Cecaran pertanyaan terlontar dari mulut Nagi. Hilda menjadi sakit kepala dengan semua pertanyaan Nagi. Yang jelas sekarang dia merasa sangat takut Nagi akan melakukan hal yang tidak senonoh padanya.


     "Hilda, Sayang, duduklah yang tenang, aku ingin kita bicara yang banyak. Bukankah kamu ingin tahu kenapa aku selama ini tidak pernah mau menghubungimu dan kenapa aku seolah menggantung kamu?"


     "Iya, aku ingin tahu semua itu, Kak. Lantas perjuangan dan pengorbanan seperti apa yang Kak Nagi maksud? Sebab aku tidak pernah melihat bukti ada sebuah pengorbanan dan perjuangan dari Kak Nagi?" Hilda mengulang kembali pertanyaan saat di cafe tadi.


     "Sebelum kita membahas panjang lebar apa perjuangan dan pengorbanan aku dan alasan kenapa aku tidak menghubungi nomermu, alangkah baiknya kita makan terlebih dahulu. Aku sudah memesannya tadi sebelum datang ke Cafe Syaidar, dan sekarang aku panaskan di bawah tudung saji microwave," ajak Nagi seraya meraih tangan Hilda dan menariknya lembut menuju meja makan.


     Benar saja apa yang Nagi bilang, di meja makan sudah tersaji makanan yang banyak. Semua makanan itu kesukaan Hilda terutama makanan lautnya. Sepertinya Nagi sengaja order makanan sebanyak ini hanya untuk menyambut kedatangan Hilda ke apartemennya.


     "Sayang, makanlah. Kamu jangan takut makanan ini ada racunnya atau ada zat perangsang seperti di dongeng-dongen itu, aku tidak sepicik dan serendah dugaanmu," tegur Nagi membuat Hilda tersentak.


     "Duduklah, jangan bengong. Aku hanya ingin melayani Tuan putri dengan sangat maksimal." Nagi menarik kursi makan untuk Hilda. Hilda tidak membantah, kini matanya mulai memindai ke seluruh ruangan apartemen, lalu ke makanan yang berada di meja itu.


     Nagi mengambilkan sebuah piring untuk Hilda. Karena Hilda masih kelihatan bingung atau bahkan takut jika makanan itu mengandung racun, maka dengan cepat Nagi menyantap terlebih dahulu makanan itu tanpa takut ada racun.


     Hilda melihat Nagi yang sepertinya sangat lahap dan enak menyantap makanan di meja makan itu. Tanpa menunda, akhirnya Hilda segera mengikuti Nagi makan. Dan betul saja makanan yang dia makan sungguh enak dan tidak mengandung racun atau pun.


      Nagi tersenyum gembira melihat Hilda makan dengan lahap, sepertinya dia memang lapar. Nagi menghampiri Hilda dan meraih tangan Hilda. Lagi-lagi Hilda menepis dan berusaha jaga jarak.

__ADS_1


     "Kenapa sih, kamu takut? Aku hanya ingin mengajakmu ke sofa, aku akan menjelaskan semua tentang apa yang terjadi dengan hidupku selama ini dan di mana aku selama ini," tukas Nagi seraya menarik lembut lengan Hilda menuju ruang tamu. Hilda masih terlihat takut, tidak seperti Hilda yang dulu yang agresif yang bahkan berusaha merayu Nagi untuk melakukan hal yang melewati batas.


     "Duduklah," suruh Nagi.


     "Bagaimana, tidak beracun bukan makanan yang aku sajikan tadi? Minumannya juga tidak mengandung obat perangsang yang bisa membuat kamu kepanasan dan minta dituntaskan hasratnya. Aku tidak perlu menjebakmu dengan obat perangsang, lagipula kamu akan mau dengan sendirinya untuk melakukan itu, bukan?"


     "Kak Nagi, diamlah, aku tidak sehina sangkaan Nagi, itu hanya dulu, sekarang ...."


     "Siapa yang menuduhmu hina, Sayang? Aku belum selesai bicara. Aku tadi akan berkata, bahwa kamu akan mau dengan sendirinya melakukan itu jika kita sudah menikah," jelas Nagi membuat Hilda memberangut kesal. Nagi semakin gemas dibuatnya, rasanya ingin mencium Hilda tiada henti.


     "Kak Nagi jangan percaya diri dulu, memangnya siapa yang mau menjadi istri Kak Nagi?" Hilda menatap kesal ke arah Nagi dia masih sangat kesal. Bukannya minta maaf atas sikapnya yang selama ini sudah menggantung kerinduannya empat tahun lamanya.


     "Baiklah, ini saatnya aku berbicara jujur dan sejelas-jelasnya padamu. Tentang aku yang menghilang dan tidak pernah sekalipun menghubungi kamu, juga tentang janji yang sempat aku ucapkan melalui Zila untukmu. Semua itu akan aku katakan di sini. Dan aku akan penuhi semua janji itu padamu sekarang. Aku bukanlah laki-laki yang suka ingkar janji, kamu lihat saja buktinya," ucap Nagi panjang lebar.


     "Baiklah Tuan Putri, aku akan awali ceritaku dengan sebuah ucapan selamat. Ucapan selamat bahwa kamu sekarang sudah jadi sarjana hubungan internasional. Sekarang kamu bisa bekerja di instansi yang sesuai dengan pendidikanmu."


     "Itu tidak penting, kenapa Kak Nagi berbelit-belit, aku hanya ingin cerita tentang kemana saja selama ini Kak Nagi dan pengorbanan juga perjuangan apa yang Kak Nagi lakukan untuk mendapatkan aku?" desak Hilda tidak sabar.


     Nagi sejenak menarik nafasnya dalam, lalu perlahan melepaskan dengan perlahan.


     "Aku dibuang Papa ke Makassar berkedok oper alih tugas, setelah Papa mengetahui hubungan kita. Papa tidak setuju hubungan kita, karena kita saudara sepupu dan juga hubungan kita yang hampir kebablasan membuat Papa memisahkan kita. Intinya Papa tidak ingin kamu rusak dengan obsesi yang ingin kamu raih, yaitu mendapatkan cintaku. Papa mengetahui sikapmu yang terlalu ekspresif dalam mencurahkan rasa cintamu padaku, bela-belain kamu ingin merendahkan harga dirimu padaku. Papa takut aku merusakmu karena obsesimu." Nagi memulai satu cerita kronologis dirinya dibuang Pak Hasri ke Makassar yang berkedok pindah tugas.

__ADS_1


     Hilda mendengarkan dengan seksama cerita Nagi. Baru awalan, tapi Hilda sudah merasa teriris dan bersalah. Sebab, dibuangnya Nagi akibat ulahnya juga yang dulu begitu terobsesi ingin memiliki Nagi, sampai cara yang salah hampir saja Hilda lakukan. Nasib baik Nagi masih menahan hasratnya waktu itu.


     "Aku sangat sedih dibuang Papa. Padahal Papa tahu sendiri di Makassar aku tidak punya siapa-siapa yang dekat denganku. Seseorang yang menjadi Papa kandungku saja Papa Harsya, tidak menginginkan aku. Aku selalu dibenci jika tidak sengaja kami bertemu. Hatiku bertanya-tanya kenapa Papa Harsya sampai saat ini masih membenciku? Kadang aku berpikir, mungkinkah aku bukan anak Papa? Lantas aku anak siapa, sehingga Papa Harsya membenci aku seperti aku bukan anak kandungnya?" Cerita kedua tuntas Nagi ceritakan dengan mata yang berkaca-kaca.


     Hilda menatap sekilas ke arah Nagi yang kini tengah mengusap bulir bening di sudut mata. Tidak disangka Nagi bisa menangis, raut wajahnya nampak sangat sedih.


     "Atas penolakan Papa Harsya, akhirnya aku menolak tugas dari Papa Hasri sebagai Manager Marketing di Hasri Group Makassar. Lalu saat itu juga aku berpamitan sama Papa Harsya berharap beliau sedikit saja menahan dan mengusap tanganku lalu memanggil aku sebagai anak. Sampai tubuhku menjauh dari ruangan Direksi milik Papa Harsya, beliau tanpa kata membiarkan aku pergi tanpa ada rasa cinta sedikitpun." Nagi menunduk dan mengusap lagi bening bulir yang kini terasa deras. Nagi benar-benar menangis.


     "Kak Nagi," seru Hilda hendak berdiri, tapi Nagi menghentikan langkah Hilda dan melanjutkan ceritanya.


     "Saat itu juga aku segera berkemas dan memesan tiket pesawat via online tujuan Medan, untuk meninggalkan semua, termasuk fasilitas dari Papa Hasri dan semua yang berkaitan dengan hak istimewa dari Papa Hasri. Aku pulang ke rumah Ibu kandung aku di Medan, beliau hidup sebatang kara di sana. Di sana aku mencoba cari tahu ada apa dengan Papa Harsya, kenapa selama ini dia membenciku apakah Ibu berselingkuh? Ibu marah saat aku tuding berselingkuh, dia menamparku sangat keras di pipi ini." Nagi kembali mencucurkan air mata. Kali ini kepedihan Nagi sampai terasa ke sudut hati Hilda, Hilda ikut merasakan kesedihan Nagi.


     Nagi melanjutkan kembali ceritanya, setelah dia mengusap air mata.


     "Setelah menampar Ibu sangat menyesal, kemudian dia menyuruhku makan. Lalu setelah itu membesarkan hati aku, memotivasi aku supaya aku bisa bangkit dan maju tanpa bantuan siapapun termasuk Papa Harsya. Ibu ingin memperlihatkan pada Papa, bahwa tanpa bantuannya aku bisa sukses dan maju."


     "Benar kata Ibu, doa Ibu memang ampuh. Ibu yang membangun usaha kecil-kecilan di bidang pengolahan kapas, membuka peluang usaha untukku dan aku mengembangkan usahanya menjadi semakin besar. Berkat doa Ibu juga pabrik kapasku sukses dan kini menjadi sebuah perusahaan ternama di kota Medan dan sepulau Sumatera. Meskipun perusahaan kapasku tidak sebesar perusahaan milik Papa Hasri dan Bang Naga, tapi aku sangat bersyukur. Akhirnya aku bisa menafkahi calon istriku dari hasil keringatku tanpa embel-embel bantuan Papa Hasri dan orang lain," lanjutnya bangga.


     Hilda terkejut sekaligus bangga saat mendengar cerita kesuksesan Nagi dalam karir di perusahaannya. Ternyata Nagi yang dibuang Papanya bisa sukses dan pastinya kesuksesannya ini akan membuat siapa saja bangga, termasuk Papa Hasri. Jika Nagi melamarnya, maka Nagi akan percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai calon suami dari Hilda. Hilda langsung menepis pikiran itu, calon istri Nagi belum tentu juga dirinya.


     "Calon istri, siapa yang Kak Nagi bilang calon istri itu?" Hilda pura-pura tidak tahu dan berusaha menyelidik.

__ADS_1


     Nagi mendongak lalu berdiri, langkah kakinya kini menuju Hilda. Nagi duduk di samping Hilda sembari meraih tangan Hilda. Sejenak Nagi merogoh saku jasnya yang menyimpan sebuah benda yang menurutnya sangat berharga. Lalu dia kembali meraih tangan Hilda yang kini tidak sedang memakai cincin berlian pemberiannya yang di paket dua tahun yang lalu. Cincin kamera pengawas yang siap mengirimkan semua aktivitas Hilda yang terkoneksi langsung dengan Hp.


     Ketika Hilda mendapati Nagi tengah meremat tangannya, Hilda bersyukur telah menyimpan cincin berlian itu di laci meja riasnya, tadi, sehingga Nagi tidak berpikiran yang tidak-tidak. "Kamu ternyata punya rasa cinta yang besar padaku, Sayang. Buktinya dengan sengaja kamu melepas cincin itu, sepertinya kamu sengaja menyimpannya supaya aku tidak menaruh rasa curiga dan cemburu padamu. Kamu memang terbaik, calon istriku," batin Nagi gembira.


__ADS_2