Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 48 Perdebatan Antara Naga dan Zila


__ADS_3

"Bagaimana keadaan janin dalam kandungan istri saya, Dok, apakah baik-baik saja?" tanya **Naga** sangat khawatir.



Alhamdulillah masih selamat. Usia kandungan istri Anda masih sangat muda dan rentan dengan berbagai kemungkinan, termasuk keguguran. Maka dari itu, saya mohon kerjasamanya orang rumah untuk saling menjaga dan memperhatikan istri Anda ini. Intinya istri Anda jangan dibuat stres atau tertekan." **Dokter Haura** memberi peringatan dan penjelasan pada Naga khususnya, dan untuk semua umumnya yang serumah dengan **Zila**.



"Baiklah, Dok. Akan kami perhatikan semua saran dan penjelasan Dokter. Lalu bagaimana dengan istri saya yang masih dalam kondisi seperti ini?"



"Itu tidak masalah, mungkin itu efek kelelahan sehingga kini istri Anda dalam kondisi tidur. Sebentar lagi dia akan bangun, Anda jangan khawatir."



Naga sedikit lega dengan penjelasan Dokter Haura. Setelah beberapa saat memberi penjelasan, Dokter Haura berpamitan dari ruangan itu.



Tidak berapa lama Zila mulai melakukan pergerakan, kondisi ini membuat Naga dan semua yang di ruangan itu lega. Naga segera mendekati Zila dan meraih jemarinya sembari diangkat dan diciuminya.



"Sayang, kamu bangun?" Naga menatap lekat wajah Zila kemudian menyeka keringat dingin yang basah di dahinya.



"Kak Na~ga," ujarnya seraya masih berusaha membuka mata yang kelopaknya masih agak susah dibuka.



"Tenanglah, jangan dulu banyak bergerak!" Naga menghentikan pergerakan Zila yang ingin bangkit. Zila sedikit meringis merasakan rasa sakit di sekujur badannya.



"Bagaimana dengan janin aku, apakah selamat?" tanya Zila seraya meraba perutnya.



"Jangan khawatir, dia sehat dan baik-baik saja," tukas Naga menenangkan Zila yang matanya sembab.



Bu Hilsa, Pak Hasri dan kedua Asisten rumah yang berada dalam ruangan itu mendekati ranjang Zila. Nampak senyum-senyum bahagia tersungging dari bibir masing-masing.



"Paman Kobar, apakah Paman Kobar datang? Dia belum tahu kalau aku hamil. Sebentar lagi Paman Kobar akan menjadi kakek, hanya paman Kobar yang selalu bahagia menyambut kehadiranku, bayi ini pun dia pasti menyambutnya dengan bahagia. Dia selalu menerima aku dengan baik," ujar Zila diiringi tangis yang memilukan. Saat ini kesadaran Zila hanya pada pamannya, Kobar.



Bu Hilsa dan Pak Hasri terkejut dan sedih dengan apa yang diucapkan Zila barusan, mereka seakan tersindir sebab awalnya mereka memang tidak menyukai Zila karena menemukan fakta bahwa Zila adalah pelayan kafe remang-remang.

__ADS_1



"Sayang, sudah. Aku mohon tenanglah. Kamu harus cepat sehat, kamu tidak mau bukan janin yang kamu kandung terjadi apa-apa lagi?" Mendengar Naga berbicara seperti itu Zila sedikit terperangah, dia tidak mau janinnya kenapa-kenapa. Dia ingin janin yang dikandungnya sehat.



Sekilas saat pikiran dan raganya sudah kembali menyatu, Zila melihat dengan ujung matanya kedua mertua dan Bi Rani serta Bi Rana di ruangan ini, terlihat khawatir dan mengharapkan Zila kembali sehat.


**"


Besoknya, Zila sudah bisa dibawa pulang. Naga sangat lega. Naga berjanji akan senantiasa menjaga keselamatan Zila serta janin yang dikandungnya.



Tiba di rumah, Zila langsung di bawa ke dalam kamar dan ditempatkannya dia di sana supaya istirahat.



"Bi Rani sebentar lagi akan datang kemari, menyiapkan semua camilan atau makanan kesukaanmu yang tidak akan membuatmu mual. Bagaimana, apakah kamu suka?" tanya Naga.



"Boleh tidak aku minta satu permintaan?" balasnya memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Naga berteka-teki.



"Apa itu? Aku akan mengabulkannya jika memang aku sanggup," tukas Naga menyetujui jika memang permintaan Zila bisa dia penuhi.




Naga terhenyak dengan permintaan Zila yang satu itu. Dia berpikir Zila hanya ingin jauh dari keluarganya. Agak lama Naga berpikir keras bagaimana kira-kira jalan terbaik untuk memenuhi kemauan Zila yang ingin berada di rumah Kobar selama hamil.



"Baiklah, jika kamu menginginkan tinggal bersama paman Kobar, itu tidak masalah. Tapi, masalahnya aku tidak ingin jauh-jauh dari kamu dan anakku. Apalagi akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan yang harus *stand by* di sini di Bandung, jadi tidak mungkin aku pulang pergi Bandung-Lembang hanya sekedar menengok kamu dan bayiku. Sekarang aku punya penawaran yang aku pikir bagus untukmu dan bagus untuk kita semua." Naga akhirnya memberikan satu penawaran yang masih misteri yang menurutnya baik buat semua.



Zila diam dan berpikir kira-kira apa yang akan dikatakan Naga, suaminya. Untuk sementara Zila harap-harap cemas.



"Aku tidak bisa membiarkan kamu dan anakku tinggal bersama paman Kobar, sebab jika kamu tinggal di sana akan sangat menyulitkan jika aku hanya ingin sekedar bertemu denganmu. Apalagi sepertinya aku akan sangat sedih jika harus jauh-jauh dari kamu dan anakku."



"Lalu apa yang akan Kak Naga putuskan?" Zila sangat penasaran.



"Aku akan mengajakmu tinggal di sebuah apartemen yang tempatnya tidak jauh dari rumah Papa dan Mama ini. Lalu, jika kamu memang rindu dan menginginkan paman Kobar maupun tante Zuli ada berada di sampingmu, maka aku akan mendatangkan mereka untukmu. Lagipula dengar-dengar, paman Kobar dan Tante Zuli akan menikah dalam waktu dekat ini, jadi rasanya tidak mungkin aku membiarkan kamu tinggal bersama mereka, sedangkan mereka tengah sibuk menyiapkan rencana pernikahannya," pungkas Naga.

__ADS_1



Zila nampak berpikir keras dengan penawaran Naga yang menawarkan tinggal di apartemennya saja. Zila masih berpikir dan menimbang baik dan buruknya. Akhirnya setelah menemukan pilihan yang serasa pas untuknya, Zila pun angkat bicara.



"Tapi, aku rasanya ingin tinggal bersama Paman saja, sebab pamanlah yang sejak kecil merawatku. Jadi aku yakin saat ini pun paman Kobar tidak akan keberatan jika aku dan bayiku ini tinggal bersamanya. Lagipula cuma bersama pamanlah aku selalu menemukan ketenangan. Biarlah anak ini lebih dekat dengan paman, sebab paman tidak akan pernah menyia-nyiakan seorang anak. Aku saja sejak kecil dirawatnya dengan sangat baik." Keputusan yang baru saja disampaikan Zila membuat Naga tidak percaya dan sedikit kecewa. Namun Naga berusaha bersikap tenang.



Sementara itu di balik pintu kamar Naga yang hanya menyisakan sisa celah sedikit, ada dua pasang telinga yang mencuri dengar pembicaraan dua insan saling mencintai di dalam kamar itu. Ketika mendengar keputusan Zila seperti itu, salah satu pencuri dengar merasa terhenyak. Walaupun awalnya dia merasa tidak suka akan kehadiran Zila yang datang tiba-tiba sebagai menantu. Namun, saat mendengar Zila menyebutkan hanya pamannyalah yang bisa menerimanya dan bayinya serta tidak akan menyia-nyiakannya, hati Bu Hilsa terasa sakit. Dia merasa bukan tipe manusia yang jahat banget, apalagi sampai menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri.



Sementara perempuan muda yang di sampingnya yang ternyata Hilda, hanya bisa diam dan masih mendengarkan apa lagi yang akan didengarnya dari dalam kamar kakaknya itu.



"Zi, bayi dalam kandunganmu adalah anak aku dan darah daging aku. Masa iya aku sebagai Papa kandungnya tega tidak mau menyayanginya dan menyia-nyiakannya? Kamu tahu, aku sudah memimpikan memiliki seorang anak sejak dulu, saat aku masih menikah dengan pernikahanku yang terdahulu. Namun mereka belum mau punya anak dengan alasan karir dan belum siap jadi ibu. Dan sekarang, kamu bicara seperti itu, aku sungguh sakit dan kecewa. Sebab aku begitu sangat menginginkan anak ini dan aku mencintai kamu juga anakku," tegas Naga sedikit emosi.



"Tapi, keluarga Kak Naga tidak pernah suka aku terutama Hilda, jadi aku ragu mereka akan menyayangi anakku. Mereka lebih suka punya keturunan dari menantu yang sama sepadan, tidak seperti aku yang mereka hina sebagai perempuan yang tidak baik dan miskin."



"Cukup, Zi, kalau seperti ini bisa-bisa kita akan bertengkar dan kepalaku akan sakit, lalu kamu akan stres dan masuk rumah sakit lagi. Aku tidak mau berdebat lagi dan perlahan-lahan membunuh anak dalam kandunganmu. Sekali lagi pikirkan keputusanmu baik-baik. Yang jelas aku memberikan pilihan buatmu adalah yang terbaik. Dan jika kamu ingin menjauhkan aku dari anakku, sama saja kamu mengulang kisah hidupmu yang harus berpisah dengan kedua orang tuamu, hanya bedanya aku masih hidup, sedangkan kedua orang tuamu sudah tiada," ucap Naga panjang lebar, dia sepertinya kecewa dengan kata-kata Zila tadi.



Naga berdiri dan bergegas menuju pintu kamar lalu keluar, membiarkan Zila berpikir ulang dengan keputusannya. Saat Naga keluar kamar, Naga melihat Bu Hilsa dan Hilda adiknya berada di ujung tangga, mungkinkah mereka mendengar perdebatan dirinya dan Zila?



"Hilda tunggu!"


Naga menghentikan langkah adiknya, setelah berhasil mendekat, Naga meraih tangan adiknya dan segera membawanya ke bawah.



"Kakak mau bicara, dan mohon pengertiannya kali ini saja, De." Naga terdengar memohon. Hilda tersentak melihat Kakaknya memohon sesedih itu. Sementara Bu Hilsa terlihat khawatir dengan sikap Naga yang ditakutkan emosi gara-gara adiknya itu.



"Kakak mohon jika kamu memang tidak suka dengan istri Kakak, itu tidak masalah. Tapi, Kakak minta untuk yang seterusnya jangan sekali-sekali kamu memancing perdebatan atau emosi dengan kakak iparmu, sebab akibatnya akan sangat fatal. Kamu tahu akibat yang sangat fatal itu, yakni bayi dalam kandungan Zila rentan keguguran. Dan jika itu sampai terjadi, maka Kakak tidak akan pernah memaafkan diri kakak sendiri ataupun kamu sekalipun. Jadi Kakak mohon pengertiannya," tegas Naga sungguh-sungguh dengan perasaan yang emosional.



Setelah berbicara pada Hilda di depan Mamanya, Naga bergegas keluar karena sebentar lagi akan launching produk baru di perusahaanya. Jadi, dia tidak bisa melewatkan peluncuran produk ini sebab dia sebagai pemilik perusahaan.



Sementara itu, setelah Naga keluar kamar, Zila sangat sedih kenapa harus terjadi perdebatan dengan laki-laki yang ternyata begitu cepat mencintainya. Terlihat jelas wajah Naga yang begitu tulus menyayangi dan mencintai bayi yang dikandungnya. Jadi, rasanya jika dia tetap pada keputusannya memilih tinggal bersama Kobar, ini pasti akan menyakiti hati Naga. Zila untuk sejenak hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


__ADS_2