
Zila kini sudah berada di halaman belakang rumah, tempat ini baginya nyaman untuk menenangkan diri. Di depannya terhampar berbagai tanaman bunga yang berwarna warni, sehingga menyejukkan mata.
Tiba-tiba Bi Rani datang membawakan segelas lemon tea hangat lengkap dengan camilannya. Zila terkejut sekaligus terharu, saat Bi Rani mendekat dia langsung memeluknya sembari menangis. Zila menangis hebat di sana. Bi Rani bingung apa yang membuat Zila menangis.
"Saya rindu Ibu, Bi Rani. Selama ini saya selalu mengharapkan kasih sayang seorang ibu, tapi tidak pernah saya dapatkan. Setelah menikah saya berharap ibu mertua saya bisa menyayangi saya seperti beliau menyayangi anaknya. Namun, semua itu tidak sesuai harapan saya. Hanya tante Zuli di kampung halaman saya yang masih sempat saya rasakan kasih sayangnya, dia selalu baik dan mengganggap saya anak. Tapi sekarang jauh, dan saya tidak lagi merasakan kasih sayangnya." Curahan hati Zila yang spontan dia curahkan pada Bi Rani sembari menangis.
Bi Rani hanya bisa mengusap-usap punggung Zila dengan penuh kasih sayang. Dia juga memiliki anak seumuran Zila, jadi dia merasa Zila bagai anak gadisnya juga.
"Non Zila jangan sedih, anggap saja Bi Rani atau Bi Rana orang tua Nona. Saya juga memiliki anak gadis seumuran Nona, jadi Bibi kalau kangen suka melihat Non Zila dan Non Hilda. Sedikit kerinduan Bibi terobati jika sudah melihat kalian," ucap Bi Rani sembari mengusap-usap punggung Zila yang masih berguncang karena masih menangis.
"Sudah, Non. Jangan menangis lagi. Masih ada Bibi yang menyayangi Non Zila. Apakah Non Zila tidak keberatan jika Bibi menganggap Non Zila anak sendiri?" tanya Bi Rani melanjutkan kembali ucapannya.
Zila tidak menjawab, dia masih menangis pilu. Hatinya sangat sedih, dia merasa hidupnya begitu malang. Sejak kecil disisihkan keluarga dari ayah kandungnya. Nasib baik kakak dari ibunya yaitu Kobar, mau merawat Zila, bahkan sampai mengorbankan rumah tangganya hingga bercerai, karena istri dari Kobar tidak mau suaminya berbagi kasih sayang sama keponakannya sendiri.
Dan kini setelah menikah, sepertinya nasib baik belum juga mau menyapanya secara ikhlas. Baru saja kemarin mendapatkan perhatian dari ibu mertuanya atas kehamilan pertamanya, kini perhatian itu sirna kembali berganti dengan sikap dingin. Bahkan saat tadi Bu Hilsa bersikap begitu lembut dan hangat pada Sila, Zila merasa sangat cemburu. Sebagai menantu dia juga ingin disayang dan diperhatikan ibu mertuanya.
__ADS_1
Kalau sudah seperti ini ingin rasanya dia kembali ke rumah Kobar. Kobar mampu menjadi ayah sekaligus ibu baginya, Kobar sangat tulus padanya menyayangi Zila apa adanya, mendidik dan merawatnya.
"Paman, terimakasih atas kebaikan paman selama ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan paman dengan limpahan kebaikan yang lebih dari yang paman berikan ke aku," doanya dalam hati yang tiba-tiba sangat sensitif. Baginya Kobar adalah pahlawan dalam hidupnya. Tanpa Kobar entah bagaimana nasibnya kini.
"Saya menyesal, Bi .... " ucapan Zila tersendat karena isak. Bi Rani mengkerutkan keningnya heran. "Saya menyesal karena telah mengenal keluarga ini dan menjadi bagian dari keluarga ini jika akhirnya saya tetap tidak diterima keluarga ini," lanjutnya masih terisak. Bi Rani tersentak mendengar Zila berkata seperti itu.
"Nona jangan bicara seperti itu. Saya yakin sikap Nyonya juga keluarga ini yang berubah dingin pada Nona hanyalah emosi sesaat yang jelambat laun akan sirna. Mereka hanya sedih sebab telah kehilangan calon cucu yang sangat dinanti-nantikan selama ini. Bibi yakin Nyonya besar akan kembali hangat seperti dulu."
Bi Rani berhenti sejenak sambil tak henti mengusap kepala Zila dengan sayang. "Anggap saja sikap dingin Nyonya adalah ujian bagi rumah tangga Nona. Jika Nona menghadapinya dengan ikhlas, maka Nona akan lulus ujian dan dinaikkan derajatnya oleh Allah. Anggap saja semua itu sebagai tantangan dalam hidup Non Zila. Jangan mudah menyerah, hidup Non Zila tidak separah yang lain. Yang lain bahkan ada yang lebih parah dari Nona," bujuk Bi Rani masih tidak putus asa memberikan support untuk Zila.
Naga yang sejak tadi menguping dan memperhatikan mereka berdua dari balik pintu, terkejut mendengar pengakuan Zila yang merasa menyesal telah mengenal keluarga ini, artinya Zila menyesal juga menikah dengannya.
"Den Naga!" kejutnya seraya mengurai rangkulannya pada Zila. Zila juga sama terkejut, tapi dia tidak peduli jika Naga tadi mendengar semua ucapannya, toh dia memang kini menyesal telah menjadi bagian dari keluarga ini jika pada akhirnya sikap dingin harus dia terima.
"Bi, tinggalkan kami berdua," titah Naga pada Bi Rani. Bi Rani paham dan segera permisi meninggalkan Naga dan Zila yang kini sepertinya akan terlibat perang dingin.
"Zi, ayo masuklah ke dalam. Kamu harus beristirahat di kamar," ajak Naga meraih tangan Zila. Namun Zila menepisnya.
__ADS_1
"Tinggalkan aku sendiri di sini. Aku tidak butuh siapa-siapa saat ini. Aku ingin menyendiri." Zila mengusir Naga berang.
"Kenapa kamu sangat kesal? Aku tahu kamu marah akan sikap kami. Tapi semua itu karena kami punya alasan. Kami tidak ingin kamu menganggap lagi remeh sebuah kehamilan. Karena kehamilan trimester pertama sangat rentan dan harus berhati-hati dalam melakukan aktivitas." Naga akhirnya mengungkapkan alasan kenapa keluarganya bersikap dingin seperti itu.
Naga meraih pundak Zila yang sontak ditepis kembali oleg Zila. Zila berdiri dan memaksa menatap Naga dengan mata yang benar-benar basah air mata.
"Kembalikan aku pada Paman Kobar, dan hubungan kita cukup sampai di sini," ucapnya berurai air mata dengan nada emosi. Naga terkejut lalu meraih tangan Zila.
"Zi, apa-apaan? Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku sangat mencintai kamu. Dan tentang sikap aku yang menurutmu dingin adalah karena aku banyak pekerjaan di kantor dan ada masalah sedikit. Jadi, tolong jangan bersikap seperti itu," cegah Naga seraya mendekati Zila kembali.
"Aku tetap minta kembalikan aku pada paman Kobar. Aku baru sadar bahwa aku memang tidak pantas berada di keluarga ini," tegasnya lagi seraya beranjak dan masuk meninggalkan Naga.
Naga mengejar Zila yang tengah dikuasai emosi. Naga sadar, dirinya dan keluarganya terlalu lama menghukum Zila atas kejadian yang menimpa Zila.
Zila tiba di kamarnya, lalu dengan cepat dia menyiapkan sebuah kantong besar lalu membuka lemarinya dan hendak memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
__ADS_1
"Hentikan!" cegah Naga sembari merangkul Zila sangat erat karena takut Zila pergi.