
Besoknya apa yang dijanjikan Naga untuk pindah rumah, akhirnya diwujudkan. Zila dan Naga berpamitan pada kedua orang tua Naga. Bu Hilsa nampak sedih, entahlah sejak Zila ketahuan hamil, Bu Hilsa mulai melunak dan sedikit bersikap baik.
"Bu, Pak, aku pamit, ya. Terimakasih sudah menerima aku di sini sebagai menantu Ibu dan Bapak," ucap Zila sembari menyalami tangan Bu Hilsa lalu tiba-tiba merangkulnya. Air mata Zila luruh, entah kenapa dia merasa sangat sedih dan ingat akan sosok ibunya yang tidak pernah dia rasakan kasih sayangnya, karena meninggalkannya sejak usia dua tahun.
"Mama juga minta maaf, ya, jika selama ini Mama ada salah dan kurang memperhatikan kamu. Jaga kesehatan kamu juga kesehatan cucu Mama," pesannya seraya memeluk kembali Zila.
Kemudian Zila menyalami Pak Hasri, mencium tangannya. Diikuti Naga yang mencium Papa dan Mamanya. "Aku pamit, ya, Ma, Pa. Jaga kesehatan Mama dan Papa. Kapan-kapan aku datang kesini bersama istriku," ujar Naga.
Sebelum mereka beranjak, Naga sejenak mencari keberadaan Hilda dan Nagi. Naga heran pagi-pagi mereka berdua kompak tidak ada. Naga tahu Hilda memang manja pada Nagi. Sejak dirinya menikah, Hilda memang bukan prioritas utamanya lagi, di sini Hilda mungkin sedikit cemburu melihat Naga lebih perhatian dan sayang pada Zila ketimbang dirinya. Namun mau bagaimana lagi, memang kodratnya seorang suami harus lebih memperhatikan istrinya ketimbang adiknya. Tapi Naga tetap sayang dan masih tanggung jawab membiayai jajan dan keperluan Hilda yang lainnya.
Tiba-tiba Hilda dan Nagi yang dinantikan datang juga. "Kak Naga, mau kemana, kok menenteng koper? Itu lagi Kak Lampir, ngebundel tas, ikut sama kakak juga?" celoteh Hilda sesaat setelah memasuki rumah sembari menjilat es krim kone di mulutnya.
Zila yang mendengar dirinya disebut Kak Lampir, langsung mendilak dan mengacungkan tinjunya di udara, terlihat sangat kesal.
"Kalian dari mana, sih, De, pagi-pagi sudah kompak? Tumben-tumbenan lari pagi biasanya kamu paling malas walaupun diajak teman-teman kamu," tegur Naga.
"Iya dong, mungpung Kak Nagi masih di sini, kalau dia sudah pulang Jakarta, aku bakal kesepian dan sedih," alasannya seraya masih menjilat es krim tiada henti.
"Bang Naga, sekarang nih pindahnya?" tanya Nagi seraya menghampiri Naga.
"Iya, Gi. Apartemen sudah lama aku tinggalkan. Dan sekarang saatnya aku tinggali bersama istriku."
"Aku antar, ya, Bang. Sekalian ingin bernostalgia kembali di apartemen Bang Naga," tukas Nagi meminta kepada Naga untuk ikut.
"Jangan sekarang dong Kak, katanya habis ini mau ke Gunung Tangkuban Perahu," sela Hilda mencegah keinginan Nagi.
"Iya, tapi bisa, kan, ke Tangkuban Perahu pulang dari antar Bang Naga, aku pengen ke apartemennya sebentar?" tanya Nagi meminta persetujuan Hilda. Hilda menatap Nagi lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
"Mau apa ke Tangkuban Perahu, mau mondok?" sindir Zila sinis. Pak Hasri dan Bu Hilsa sontak saling tatap, terkejut dengan apa yang diucapkan Zila barusan.
"Apaan sih Kak Ros, jangan panik deh, aku ke Gunung Tangkuban Perahu jelas lihat kawah dong, masa mau lihat lengser," balas Hilda berang.
"Tapi nggak belok dulu, kan?"
"Jelas kita belok dong, ke pondok bakar jagung dan ketan bakar," jawabnya pintar mengalihkan pertanyaan Zila yang sebenarnya.
"Syukur deh, aku bisa tenang jika Kak Nagi bisa belok di tempat yang sebenarnya," tukas Zila lagi membuat semua yang di sana saling tatap penuh tanda tanya.
"Hey, ada apa dengan kalian ini seperti sedang mengalami perang dingin." Naga mencoba mencairkan suasana yang terlihat seperti ada pergolakan diantara Zila dan Hilda, memang selama ini antara Hilda dan Zila belum akur dan Naga menduga hal barusan adalah hal sinis biasa yang selalu mereka lontarkan.
"Ok, kalian berdua boleh ikut antar kami ke apartemen." Akhirnya Naga memberikan ijin pada Nagi untuk mengantarnya ke apartemen sekalian Nagi ingin bernostalgia seperti apa yang Nagi katakan tadi.
"Kami bersiap-siap dulu," ujar Hilda seraya berlari menuju kamarnya, begitu juga dengan Nagi. Sementara itu Naga dan Zila menunggu mereka berdua siap.
"Kalian kompak banget baju dan sepatunya senada, seperti couple," ujar Bu Hilsa tersenyum melihat Hilda dan Nagi kompak.
"Iya, dong, Ma, kita kan couple. Serasi nggak, nih?" Hilda balik bertanya. Hilda yang menggunakan kaos warna putih dipadukan dengan rok plisket warna hitam, sedangkan Nagi memakai kaos putih dengan celana jeans selutut. Benar kata Hilda mereka nampak bagaikan pasangan yang serasi.
"Iya, kalian anak dan keponakan Mama yang selalu kompak dan serasi. Ya sudah, siap-siaplah kalian pergi mengantar kakak kalian. Hati-hati dalam perjalanannya," peringat Bu Hilsa.
Naga dan Nagi segera beranjak dan berpamitan pada Bu Hilsa dan Pak Hasri. Pada saat Naga sudah memasuki mobil, Zila meminta ijin pada Naga untuk satu mobil dengan Hilda dan Nagi, dengan alasan ingin menikmati kebersamaan yang akan jarang dilakukan dirinya bersama Hilda. Akhirnya Naga mengijinkan meskipun dia merasa heran.
Zila memasuki mobil Nagi dan duduk di jok belakang. Hilda sontak merasa terkejut dengan kehadiran kakak iparnya yang kini bagai musuh yang nyata untuk dirinya.
"Zi, ngapain lu masuk mobil Kak Nagi? Keluar, masa iya Kak Naga elo tinggal sendiri. Go out!" usir Hilda sembari menggerakkan tangannya supaya Zila keluar. Zila yang diusir malah santai dan cuek seolah tidak mendengar Hilda.
__ADS_1
"Zi, apakah kamu diijinkan semobil sama kita?" tanya Nagi.
"Sudah, aku tadi sudah bilang, dan diijinkan sama Kak Naga. Sudah dong, kalian jangan panik aku ikut semobil dengan kalian. Aku hanya ingin jadi penengah diantara kalian, supaya kebersamaan kalian yang berdua tidak disusupi setan. Dan aku di sini fungsinya untuk menghalau setan. Ayo dong kalian masuk, jangan saling lirik mencurigakan begitu," ujar Zila santai.
"Ihhhh, dasar lu, pengganggu. Apa-apaan sih pake ikut kami? Orang kami tidak akan ngapa-ngapain," sangkal Hilda seraya memasuki mobil dengan kasar.
Zila yang berada di belakang Hilda dan Nagi tersenyum penuh kemenangan. "Kak Nagi, ayo jalankan mobilnya. Kak Naga sudah jalan tuh," perintah Zila dengan santainya. Nagi kemudian menyalakan mobilnya dan melajukannya mengikuti Naga di belakangnya.
"Benar nih, kalian setelah mengantar kami ke apartemen, kalian mau jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu? Berdua saja? Kalau menurut aku, kalian tidak baik berdua, sudah aku katakan tadi di depan, bahwa kalian tidak boleh pergi berdua sebab aku takut kebersamaan kalian yang cuma berdua, takutnya disusupi setan ...."
"Tepat sekali, dan setannya yang sebenarnya adalah elo," tuding Hilda menunjuk ke arah Zila.
"Ihhhh, kamu berani banget di belakang Mama dan Papa mertuaku manggil aku elo gue. Sudah aku katakan panggil aku Kakak atau teteh dan itu lebih baik. Aku ini empat tahun lebih tua dari kamu, oleh karena itu kamu harus sopan sedikit," peringat Zila tidak suka.
"Gue nggak mau manggil elo teteh atau kakak, bagi gue, elo hanya orang asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupan keluarga gue."
"Baiklah, jika kamu tidak mau ikut aturan aku, maka jangan salahkan aku jika hubungan khusus kalian aku bongkar sama Mama dan Papa mertuaku. Lihat apa reaksi mereka." Zila memangku tangannya setelah memberikan peringatan intimidasi pada Hilda yang sukses membuat Hilda diam.
"Zi, jangan sampai kamu katakan sesuatu yang tidak-tidak pada Mama dan Papa, aku mohon, sebab antara aku dan Hilda tidak ada hubungan khusus apa-apa seperti yang kamu katakan tadi." Nagi bersuara dan membantah bahwa mereka memiliki hubungan.
"Jadi, yang kudengar bahwa Kak Nagi mau melamar Hilda empat tahun lagi itu apa? Dan Hilda yang meminta segera dinikahi itu apa? Kalian serius masih mau menyangkalnya?'
"Tapi, Zi."
"Aku tidak butuh alasan apa-apa dari kalian. Hanya saja aku berpesan pada kalian Khususnya Kak Nagi, jaga Hilda jangan sampai dia rusak sebelum waktunya. Kak Nagi harus janji sama aku," cetus Zilla serius.
"Dan untukmu Hilda, aku peringatkan sekali lagi, bersikaplah sopan sedikit sama aku sebagai kakak iparmu. Kalau tidak, aku pastikan hubungan backstreet kalian aku bongkar. Kamu boleh berkilah bahwa hubungan kalian sah-sah saja menurut agama, tapi bagi Papa dan Mamamu belum tentu," tutur Zila memberi peringatan keras pada hingga sehingga untuk kedua kalinya Hilda tidak mampu membalas apa-apa untuk menyela Zila.
__ADS_1