Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 106 Musim 2 Pindah Apartemen


__ADS_3

     Hilda termenung di kamarnya setelah tadi mendengar semua ucapan Zila sang kakak ipar. Sebetulnya Hilda percaya tidak percaya dengan apa yang disampaikan Zila tadi. Tapi setelah dipikir-pikir masuk akal juga jika Nagi hanya mengirim pesan atau menghubungi Zila, sebab hanya Zila yang orang pertama tahu hubungan antara Hilda Dan Nagi.


     "Kak Nagi begitu lamanya kita harus bertemu dan menunggu empat tahun tanpa bertatap muka. Aku akan selalu merindukan Kak Nagi, Kak Nagi merupakan penyemangat hidupku. Apakah aku sanggup tidak bertemu Kak Nagi selama itu?" bisiknya sembari meneteskan air mata. Hilda benar-benar sangat kehilangan Nagi.


     "Baiklah Kak, aku akan ikuti kemauan Kakak, aku akan kuliah yang benar dan merubah sikap agresifku menjadi perempuan yang lebih anggun seperti yang Kakak mau. Tapi, Kak Nagi harus menunaikan janjinya melamar aku empat tahun kemudian," tekadnya yang kini bulat di dalam hati.


     Zila masuk ke dalam kamarnya disertai rasa was-was. Sejujurnya semua yang dia katakan tadi pada Hilda hanya karangannya saja. Dia sama sekali tidak dihubungi Nagi. Zila termenung dan memikirkan ide apalagi yang akan dia buat jika Hilda menanyakan kembali apakah Nagi menghubunginya atau tidak.


     Zila akan mengatur siasat, Nagi hanya menghubunginya sekali dalam sebulan atau bahkan tidak sama sekali. Ini untuk menghindarkan kecurigaan terhadapnya.


     Sepertinya karangan bebas Zila perlahan mulai kelihatan hasilnya. Hilda perlahan-lahan menunjukkan perubahan yang baik. Sebulan meratapi Nagi dan sebelum skors dari pihak kampus datang, Hilda keburu menata hidupnya sejak Zila masuk mengendalikan Hilda dan berperan ganda berpura-pura menjadi Nagi.


     "Mulai kelihatan hasilnya. Jika kebohongan aku ini bisa merubah diri seseorang menjadi lebih baik, maka aku berharap Allah Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi rencanaku," harapnya sungguh-sungguh.


     Pak Hasri dan Bu Hilsa menatap Hilda dari bawah, sesekali mereka berdua terheran dengan interaksi yang terjalin antara Hilda dan Zila yang akhir-akhir ini semakin intens. Dan sejak itulah Hilda sedikit demi sedikit memperlihatkan perubahan yang lebih baik. Hilda mau melanjutkan kuliah dan menjalani hari-hari dengan normal meskipun kini sikapnya sedikit pendiam.


     "Pah, apakah Papa sadar, menantu kita sejak Hilda mengalami frustasi dia perlahan bisa mendekati Hilda dan mengajak Hilda bicara dari hati ke hati, sehingga perubahannya kini terlihat, anak kita secara perlahan menunjukkan sikap yang baik? Hilda mau kuliah dan sikapnya kini lebih kalem dari biasanya. Mama tidak menyangka mereka kini bisa berteman dengan baik, padahal awalnya mereka sering berantem bahkan anak kita sering menunjukkan sikap tidak bersahabat," Bu Hilsa sumringah wajahnya berseri mengungkapkan rasa bahagianya melihat perubahan sikap Hilda sejak Zila mendekati dan mau bicara pada Hilda.


     "Sepertinya Hilda cocok dinasehati sama orang yang sedikit di atas dia. Mereka sepertinya nyambung dan menantu kita juga otaknya cerdas, selalu saja ada gebrakan baik secara emosi maupun tindakan. Contohnya sekarang Hilda mengalami perubahan yang baik sejak Zila sering ketahuan ngobrol bersama di kamarnya Hilda," balas Pak Hasri gembira. Bu Hilsa mengangguk setuju dengan pemikiran suaminya.


**


     "Sayang, sepertinya sejak Hilda sering kamu dekati dan kamu ajak bicara dari hati ke hati, kini ada perubahan yang kentara. Hilda lebih kalem dan tidak pecicilan lagi seperti dulu," ungkap Naga menyampaikan penilaiannya terhadap Hilda kepada Zila.


     Zila hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Naga. Dia senang senang sekaligus was-was. Bagaimana kalau karangan bebasnya itu justru terbongkar oleh Hilda. Kalau seperti ini, Zila harus segera mengajak Naga pindah ke apartemen supaya dia tidak ketahuan banget jika sedang merencanakan karangan bebasnya lagi.


"Aku juga senang Kak, terlebih sekarang Hilda sedikit lebih menganggap aku sebagai kakak ipar." Naga senang melihat perubahan Hilda, juga bahagia melihat hubungan Zila dan adiknya sudah agak baikan.



"Lalu kapan kita akan pindah ke apartemen, Kak? Aku tidak enak numpang terus di rumah Papa dan Mamanya Kaka Naga, lagipula sekarang Hilda sudah menunjukkan perubahan yang lumayan baik, jadi kita akan sedikit tenang meninggalkan Hilda," ungkap Zila seraya bergelayut manja di lengan Naga.


__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti rindu aku, kan?" balas Naga sembari membalas sentuhan tangan Zila dengan sebuah rematan tangan.



"Besok kita pindah, aku tahu kamu ingin sebuah ketenangan," bisik Naga di daun telinga Zila. Zila tersenyum bahagia mendengar pengertian Naga.



Keesokan harinya Naga dan Zila sudah bersiap untuk pindah. Mereka berdua berpamitan pada semua termasuk pada semua pembantu di rumah yang selama ini selalu memperhatikan Zila.



"Tapi rasanya kami akan kehilangan kalian, setelah hubungan Hilda dan Zila membaik, kalian malah pindah. Kenapa tidak di sini saja, Zi? Mama dan Papa juga sudah senang kalian ada di sini," ungkap Bu Hilsa nampak sedih dan barkaca-kaca.



"Aku minta maaf, ya, Bu, Pak. Kami akan sering-sering kesini kok. Kalau masalah Hilda, aku akan sering menghubungi Hilda. Dan kalau mau, Hilda bisa nginap di apartemen," ujar Zila menghibur kesedihan mertuanya.




Zila kembali menaiki tangga, dia akan berpamitan pada Hilda yang kini masih ada di kamarnya. Hilda sekarang memang sedikit pendiam sejak kepergian Nagi, meskipun perubahan baik sudah terlihat dari sikapnya.



Zila sejenak mengetuk pintu kamar Hilda lalu membuka perlahan dan menyelinap masuk. "Hilda," panggilnya.



"Zi, ada apa? Kenapa lu masuk tanpa gue persilahkan?" kejut Hilda karena merasa kaget.


__ADS_1


"Aku tadi sudah ketuk pintu, tapi kamu sepertinya tidak mendengar. Aku dan Kak Naga sore ini akan pindah, kamu baik-baik di sini, ya. Ingat pesan aku, kamu harus tetap fokus kuliah dan semangat, sebab Kak Nagi senang jika melihat kamu semangat," kilah Zila sembari mengutarakan niat dia yang akan pindah sore ini.



"Pindah, kalian jadi pindah? Kenapa saat aku menemukan teman untuk cerita, lu sama Kak Naga malah pindah? Apakah sikap gue sama lu masih belum bagus?" Hilda mempertanyakan kepindahan Naga dan Zila ke apartemen dengan mengaitkan sikap dia ke Zila.



Zila menggeleng, dia sungguh-sungguh hanya ingin pindah dan rumah ini merupakan bagian dari kenangan terindah selama dia berada di sini.



"Kebetulan Kak Nagi tadi siang menghubungi aku dan menanyakan kamu ke aku. Lalu aku bilang bahwa kamu sudah semangat lagi kuliah dan semakin manis hari demi hari," ungkap Zila kembali mengarang. Sebetulnya Zila merasa bersalah saat dia harus mengatakan lagi karangannya atau kebohongannya tentang Nagi. Namun demi kebaikan Hilda dan kedua mertuanya, Zila terpaksa melakukan itu.



"Benarkah? Mana, aku ingin tahu kalau Kak Nagi menghubungi lu?" Hilda menengadahkan tangannya untuk meminta bukti bahwa Nagi benar-benar menghubungi Zila.



Zila tersentak, dia kaget ketika Hilda meminta Hpnya untuk melihat bukti benarkah Nagi telah menghubunginya?" Dengan ragu Zila mengeluarkan Hpnya. Lalu secepat petir Hilda merebutnya dan membuka panggilan masuk dari Nagi pada jam yang disebutkan Zila tadi.



"*Ya, ampun*," kejutnya was-was di dalam hati. Sedangkan Hilda sibuk mencari panggilan masuk di Hp Zila. Zila seakan tidak yakin dengan apa yang disampaikan Zila selama ini.



Nasib baik tadi Zila sudah merencanakan siasatnya dengan matang dan terencana dengan rapi. Zila menghubungi Hpnya dengan nomer yang bisa di private dan hasilnya nomer si pemanggil tidak kelihatan.



"Huhhh, Kak Nagi, kenapa hanya private?" sesalnya sedih.

__ADS_1


__ADS_2