
Kedatangan pesawat yang ditumpangi Nagi dan Pak Hasri serta pesawat yang ditumpangi Hilda dan Bu Harumi dari Medan, hampir tiba bersamaan. Pesawat yang ditumpangi Naga dan Papa Hasri lima menit lebih dulu. Sehingga Naga dan Papa Hasri sengaja menunggu kedatangan Hilda dan Bu Harumi di sebuah kedai kopi di kawasan bandara. Mereka sepakat datang ke rumah adiknya Pak Hasri bersama-sama, terlebih Bu Harumi dan Hilda memang belum tahu di mana rumah Harsya.
Sepuluh menit kemudian, Hilda dan Bu Harumi sampai, mereka menghampiri keberadaan Naga dan Papa Hasri menunggu.
"Papaaaa," peluk Hilda di pelukan Pak Hasri diiringi isak tangis. Pak Hasri terkejut dengan keadaan putrinya yang nampak sedih. Pak Hasri membiarkan Hilda menumpahkan kesedihannya. Dia yakin kesedihan Hilda terkait dengan vidio kiriman tentang keadaan Nagi yang sedang menyakiti dirinya membenturkan dirinya ke tembok.
Pak Hasri merasakan Hilda kini kembali pada Hilda yang dulu, Hilda yang manja dan sering debat dengannya. Dibelainya sayang rambut sampai bahu putrinya. Ini merupakan kejadian yang sudah sekian lama baru terulang kembali setelah kurang lebih empat tahun menjaga jarak dengan dirinya.
Pak Hasri memeluk semakin erat putrinya, dia juga menumpahkan kerinduan yang sekian lama dipendam pada putri semata wayangnya. Setelah beberapa menit tangisan Hilda reda. Pak Hasri memegang kedua bahunya dan menatapnya sayang.
"Kamu harus kuat, kita semua harus kuat serta harus bisa memberi kekuatan pada Nagi. Nagi sekarang butuh dukungan moral dari kita. Untuk itu, saat kita datang ke sana, Papa harap kamu jangan perlihatkan sikap yang sedih dan putus asa, supaya Nagi tidak down dan merasa tidak diharapkan lagi. Kamu sebagai perempuan yang dicintainya harus berusaha memberikan Nagi semangat. Apakah kamu siap, Sayang?" tanya Pak Hasri menatap dalam wajah putrinya. Hilda mengangguk setuju.
Setelah melepaskan kerinduan bersama putrinya, Pak Hasri kemudian menyalami Bu Harumi mantan istri adiknya. Mereka berdua saling bertegur sapa biasa. Namun Bu Harumi yang nampak begitu segan di hadapan Pak Hasri. Dia merasa malu sebab selama ini menyerahkan Nagi dirawat oleh keluarga dari mantan suaminya.
"Mas Hasri, saya minta maaf ...." Pak Hasri mengangkat tangannya dan menghentikan ucapan Bu Harumi yang tentunya akan mengungkit masa lalu tentang Nagi yang ditinggalkan bersamanya. Pak Hasri tidak ingin mantan adik iparnya sedih lagi gara-gara mengingat masa lalunya.
Pak Hasri menerima uluran tangan mantan adik iparnya itu dengan hati yang ikhlas, tidak ada dendam dalam diri Pak Hasri, sebab semua kejadian di masa lalu antara adiknya dan Harumi sudah terkubur lama. Sekarang terpaksa harus diungkit kembali sebab Nagi memang harus tahu hal yang sebenarnya.
Kini giliran Hilda tengah memeluk Naga sang Kakak yang masih selalu memanjakan dan memperhatikannya, meskipun selama empat tahun terakhir ini Hilda seakan menghindari keluarganya termasuk dirinya.
Mereka berempat sudah saling tegur sapa dan bersalaman. Naga segera bangkit dari kedai kopi bandara lalu membayar kopi itu.
Akhirnya setelah menunggu sekitar lima menit, sebuah mobil Alphard datang menjemput mereka berempat . Pak Lukman sebagai supir pribadi Pak Hasri datang tepat waktu setelah dihubungi Naga tadi.
Mobil pun melaju melewati jalanan sekitar kota Tamalanrea. Dan akhirnya satu jam kemudian, mobil yang ditumpangi mereka berempat tiba dengan selamat di sebuah rumah yang lumayan besar, yakni kediaman Harsya, adik kandung Pak Hasri.
__ADS_1
Mobil sudah disambut dengan pintu gerbang yang terbuka lebar, dan mobil segera memasuki halaman rumah yang lumayan besar itu.
"Silahkan Tuan Besar." Seorang pelayan menyambut ramah kedatangan mereka berempat dan mengantar ke ruang tamu.
"Syamil, segera panggilkan Harsya. Kami ingin segera menemui anakku yang tadi mengalami luka akibat benturan," ucap Pak Hasri pada pelayan yang ternyata bernama Syamil. Rupanya Pak Hasri mengenal nama dari pelayan itu, sungguh sebuah daya ingat atau prestasi yang patut diacungi jempol, sebab Pak Hasri mampu mengingat nama pegawainya yang notebene bukan pelayan pribadi di rumahnya.
Harsya segera bangkit dari kursi kebesarannya setelah menerima berita bahwa Naga dan Papanya serta Hilda sang keponakan dan mantan istrinya sudah tiba di kota coto Makassar ini. Harsya menyeret langkahnya seakan berat menuju tangga dan menuruninya. Keadaan ini dipicu oleh keberadaan Harumi. Setelah 27 tahun lamanya berpisah, kini harus dipertemukan kembali dengan suasana yang berbeda tentunya. Harsya menduga Harumi pasti sudah memiliki kehidupan baru yaitu sebuah pernikahan.
Harsya masih ingat rupa wajah Harumi, dia perempuan cantik idola kampus yang diperebutkan cowok-cowok kampus kala itu. Namun cinta Harumi berlabuh padanya, sementara itu di luaran sana ternyata banyak yang kecewa Harumi telah menikah dengan lelaki biasa seperti Harsya.
"Mas Hasri" lirihnya seraya menyalami dan merangkul Kakak kandung sekaligus Bos Besar baginya, sebab Harsya sampai kini masih setia bekerja sebagai Dirut di perusahaan Hasri Group Makassar. Dia bukan tidak ingin berkembang mendirikan sebuah perusahaan, atau memegang jabatan CEO di perusahaan daerah milik Kakaknya yang nyata-nyata diberikan untuknya. Tapi Harsya memang memiliki trauma. Dia seperti tidak bisa jika memiliki atau mengelola perusahaan milik sendiri, sebab Harsya dua kali ditipu oleh rekan bisnisnya sehingga bangkrut dan kini mengalami trauma dalam mengelola perusahaan.
Kini giliran Harsya menyalami Harumi sang mantan istri. Walaupun wajahnya menunduk, tapi raut wajah itu masih menyiratkan rasa bersalah dan penyesalan yang teramat besar. Di sini Harsya harus bisa menjelaskan kenapa dan apa yang telah terjadi pada Nagi.
Wajah Harumi di mata Harsya masih tetap sama. Kecantikannya tidak pudar masih sama seperti dahulu. Yang berubah hanyalah umur yang bertambah. Nyatanya Harumi masih sama cantiknya seperti dahulu meski usianya kini sudah kurang lebih 50 tahun.
"Di kamar yang mana anakku, Sya?" Pak Hasri memecah kebekuan antara Harumi dan Harsya yang saat itu baru bersalaman. Mereka nampak terkejut saat Pak Hasri menanyakan Nagi.
"Mari ikut, Mas," ajak Harsya seraya berjalan paling depan menuju sebuah kamar yang tadi ditempati oleh Nagi yang ngamuk.
Kamar itu semakin dekat, jantung Harumi semakin berdebar kencang. Harsya meraih handle pintu dan membuka pintu itu perlahan. Setelah pintu itu terbuka lebar, Harumi dan Hilda segera menghampiri ranjang yang di sana terbujur kaku sebuah tubuh yang tidak bergerak. Sepertinya Nagi masih dalam pengaruh obat penenang.
"Kak Nagi ...." Hilda tiba-tiba menjerit seraya menghampiri tubuh Nagi yang terbaring di sana," dadanya berdegup kencang saat tubuhnya bersentuhan dengan tangan Nagi. Hilda meraih tangan Nagi kemudian diremasnya lalu dibiarkan seperti itu sampai Hilda merasakan gerakan dari tangan Nagi.
Hilda tersentak saat tangan Nagi mulai bergerak dengan gerakan yang masih lemah.
__ADS_1
"Kak Nagi, Papa tangan Kak Nagi bergerak." Hilda memberitahukan tangan Nagi bergerak. Pak Hasri segera menghampiri dan meraih tangan Nagi yang bergerak tadi.
"Lepaskan, lepaskan aku. Aku sebaiknya mati agar kalian puas. Lepaskan." Tiba-tiba Nagi kembali histeris dan berkata-kata yang membuat Hilda ngeri.
"Kak Nagi, ini aku Kak. Aku Hilda, aku datang untuk Kak Nagi. Tolong Kak Nagi jangan menyiksa diri Kak Nagi seperti ini. Bukankah kita akan menikah?" ucap Hilda seraya mengelus tangan Nagi. Bu Harumi tiba-tiba duduk di tepi ranjang lalu meraih tangan Nagi. Namun entah kenapa, tangan Bu Harumi ditepisnya padahal mata Nagi masih tertutup.
Bu Harumi tersentak, dia berdiri kembali menjauh dari bibir ranjang, membiarkan Hilda yang menenangkan.
"Hilda, Bang Naga," ucap Nagi memanggil nama Hilda dan Naga. Naga segera menghampiri dan meraih tangan Nagi yang satunya lagi. Melihat Nagi sedikit tenang, Naga senang. Dan sepertinya Nagi untuk sementara ini memang hanya bisa tenang apabila berdekatan dengan Hilda, buktinya saat tangan Bu Harumi mencoba memeganginya, Nagi tidak mau dan melepaskan.
Perlahan Nagi membuka matanya yang sejak tadi menutup. Cahaya lampu yang menyorot terasa menyilaukan matanya, Nagi mengerjapkan kembali matanya.
"Hilda," panggilnya dan hanya nama Hilda yang dipanggil. Semua yang ada di sana saling tatap dan kembali fokus pada Nagi. Hilda duduk kembai di tepi ranjang, lalu meraih tangan Nagi.
Hilda merasa iba dengan semua luka lebam di sekitar wajahnya. Dia merasa ikut sakit hati dan sedih dengan keadaan Nagi sekarang.
"Awwwwww," Nagi mengaduh, sepertinya luka bekas membenturkan diri tadi ke tembok sangat sakit. Melihat hal seperti itu, Naga dan Pak Hasri berinisiatif membawa Nagi ke RS terdekat di kota Makassar.
"Kita bawa ke RS secepatnya, Pa. Naga takut luka bekas membenturkan dirinya itu menyebar kemana-mana," atas usul Naga, Nagi terpaksa dibawa ke RS supaya ditangani secara medis.
Semua ikut ke RS termasuk Pak Harsya. Dia pasti harus menjelaskan kronologis awal mulanya Nagi melakukan itu dan ngamuk-ngamuk. Tiba di RS, Nagi segera ditangani dan ditempatkan disebuah ruangan rawat VVIP.
"Dokter lakukan yang terbaik untuk anak saya!" mohon Pak Hasri. Dokter itu mengangguk seraya mengatakan akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya. Dokter itu tentu saja sudah mengenal siapa Pak Hasri. Seorang pengusaha ternama di kota itu. Jadi hampir semua kalangan sudah kenal Pak Hasri dan menyeganinya sebagai pengusaha yang sangat sukses di kota itu.
Nagi kini sudah ditangani dan ditempatkan di ruangan rawat, igauan maupun teriakan histeris sudah tidak terdengar lagi, sebab Dokter sudah memberi obat penenang. Setiap satu jam sekali Nagi dicek ke ruangannya untuk dilihat perkembangannya. Di dalam ruangan hanya ditemani oleh dua orang, yaitu Hilda dan Ibunya.
__ADS_1
Ketika Nagi sudah mulai tenang, Pak Hasri mengajak semua ke ruangan tunggu untuk berbicara dan meminta keterangan dari Harsya akan kronologis sehingga Nagi mengalami hal itu. Semua mulai fokus dan siap mendengarkan Harsya berbicara terus terang.