Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 132 Musim 2 Kode Alam


__ADS_3

     Acara empat bulanan usia kandungan Zila sukses dan lancar tanpa hambatan apapun. Semua senang dan bahagia, terutama Bu Hilsa yang menjadi dalang di balik terbentuknya acara syukuran empat bulan calon cucunya ini nampak yang paling antusias. Sebab dialah pencetusnya tanpa sepengetahuan siapa pun termasuk Zila.


     Semua kembali ke rumah masing-masing, dengan membawa hati yang senang. Baik tuan rumah maupun tamu undangan puas dengan acara dan semua hidangan yang dihidangkan sangat memuaskan.


     Naga dan Zila tiba di apartemennya dengan tubuh yang lelah. "Sayang, masuklah dulu. Aku mau menemui Sekuriti sebentar." Zila mengangguk dengan perintah Naga. Naga segera turun ke lantai bawah menemui Sekuriti apartemen.


     Zila langsung menuju kamar dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Acara empat bulanan usia kandungannya yang digagas Ibu mertuanya tadi memang lancar dan sukses, tuan rumah maupun tamu puas dengan semua rangkaian acara. Walau demikian tetap saja menyisakan lelah dan ngantuk yang melanda Zila, terlebih dia ibu hamil muda yang memang di usia kehamilan empat bulan ini sudah mulai merasakan cepat lelah dan ngantuk.


     "Duhhhh, enaknya," desahnya menikmati tubuhnya yang rileks di atas ranjang sembari memejamkan mata. Namun belum sampai matanya terpejam, bunyi Hp Zila terdengar. Zila penasaran dan langsung melihat siapa yang memanggil.


     "Private number," kejutnya. Zila sudah tahu siapa yang menghubunginya. Karena tidak ada Naga di samping Zila, dia segera mengangkat panggilan tersebut.


     "Assalamualaikum, Zi. Bang Naga sedang tidak adakah, kamu bisa mengangkat teleponku cepat?" Tidak salah lagi Nagilah yang menghubungi Zila.


     "Iya Kak Nagi, Kak Naga barusan pergi ke pos Sekuriti, sepertinya tidak akan lam sih. Pokoknya Kak Nagi jangan heran atau bertanya-tanya lagi. Jika aku lama angkat panggilan dari Kakak itu maknanya di samping aku ada Kak Naga. Namun, jika aku langsung menerima panggilan Kak Nagi itu artinya Kak Naga sedang tidak di sampingku," terang Zila membuat Nagi paham.'


     "Ok, Zi, makasih. Aku ingin dengar kabar terbaru Hilda. Sebab aku akhir-akhir ini sering mengkhawatirkannya. Apakah dia baik-baik saja?" tanya Nagi penasaran. Zila sejenak diam dan sedang berpikir, sepertinya semua perasaan sedih Hilda seperti dialirkan oleh sebuah kekuatan sehingga bisa sampai dalam pikiran dan perasaan Nagi. Zila menduganya Nagi dan Hilda seperti satu jiwa tapi kini terpisah jauh, satu sama lain seperti ada sebuah ikatan yang tidak boleh terpisah.


     Zila menceritakan semua yang dilihatnya tadi siang, juga dua minggu terakhir ini tentang Hilda. Tentang sikap Hilda yang murung dan sedih.


     "Dia akhir-akhir ini sangat sedih Kak, dia menanyakan terus apakah Kak Nagi menghubungi aku. Hilda mempertanyakan kenapa Kak Nagi tidak langsung menghubungi nomornya saja. Dia sangat merindukan Kak Nagi, bahkan tadi siang saat acara empat bulanan aku di rumah Mama Hilsa, Hilda mengajak Diara ke toilet, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas setelah mereka dari toilet, Hilda tidak kembali ke dalam dan menghadiri acara empat bulanan aku. Dia pergi entah kemana dengan wajah yang semakin sedih." Zila berusaha menuturkan apa yang dilihatnya tadi tentang Zila kepada Nagi.


     Sementara di ujung telpon sana, Nagi menjadi sangat khawatir dan sedih mendengar kabar Hilda terbaru yang dia dengar dari Zila.


     "Diara? Kenapa ada Diara di sana? Apakah Mama mengundangnya?"

__ADS_1


     "Mama Hilsa tidak mengundangnya, Diara datang ke Lembang karena dia sedang liburan. Diara diajak Paman Kobar menghadiri acara empat bulanan kehamilan aku. Yang aku heran dari mana Hilda kenal Diara, dan ada masalah apa antara Diara dan Hilda?"


      "Aku tahu kenapa Hilda kenal Diara," sahut Nagi seraya menceritakan kronologis Hilda bisa mengenal Diara. Nagi juga menceritakan kaitan dirinya dengan Diara lalu Hilda bisa mengenal Diara. Nagi akhirnya berterus terang bahwa sebetulnya perempuan yang sempat dia sukai dan sempat dia ajak hubungan serius adalah Diara. Namun Diara menolak Nagi. Sejak itulah Nagi patah hati dan kecewa. Untuk menghibur hati yang patah hati Nagi kemudian liburan ke Bandung, lalu tiba-tiba datang Hilda menawarkan cinta.


     "Jadi Diara adalah perempuan yang membuat Kak Nagi patah hati saat itu? Lalu di mana pertama kali Hilda bertemu dengan Diara?"


     "Kami bertemu tidak sengaja dengan Diara saat aku membawa Hilda ke Tangkuban Perahu. Hilda curiga aku ada apa-apa dengan Diara karena melihat sikap Diara dan aku yang sedikit lain. Diara sangat terkejut melihat aku, sedangkan aku berusaha memanas-manasi Diara dengan memanggil Hilda 'sayang', padahal seingat Hilda, aku selama ini belum pernah memanggilnya sayang. Dari situ dia jadi curiga dan mengorek-ngorek ada hubungan apa aku dengan Diara?" jelas Nagi di telpon.


     Dari sini Zila sedikit paham dari mana pangkal permasalahannya Hilda bisa mengenal Diara. Zila jadi khawatir dengan Hilda yang tadi pergi entah kemana.


     "Kak Nagi tolong sampaikan salam apa saja buat Hilda dari mulut Kak Nagi supaya aku bisa sampaikan sama Hilda. Tolong kak," mohon Zila seraya menyiapkan sebuah alat rekaman dan mengeraskan panggilan dengan loudspeaker. Nagi belum terdengar suaranya setelah Zila berbicara seperti itu.


"*Kak Nagi, apakah Kakak sedang bingung? Berikan sebuah kata rindu atau sebuah kepastian buat Hilda, aku kasihan melihatnya lama-lama. Dia seperti hilang harapan dan rapuh, aku takut dia putus asa dan akhirnya* ...."




"*Katakan Kak, katakan lagi, katakan sebuah kepastian buat Hilda, aku mohon*," mohon Zila lagi histeris sambil bersiap menyiapkan tombol rekam di sebuah alat rekam. Dan Zila mulai menekan tombol merekam.



"***Zi, aku mencintai Hilda. Aku sungguh-sungguh mencintai Hilda setelah aku tahu bahwa Hilda rela merendahkan dirinya di hadapanku, aku tidak mau lagi Hilda merendahkan dirinya di hadapanku. Maka empat tahun lagi aku berjanji akan melamarnya dan menjadikan dia ratu dalam hidupku***." Klik done, bunyi itu terdengar bersamaan pintu masuk apartemen terbuka. Dan Naga pun pulang lalu masuk ke dalam apartemen.


__ADS_1


Zila bangkit dan segera mengamankan alat rekaman itu di laci lemarinya yang tertutup oleh benda lainnya. Zila kembali duduk di ranjang dengan mulut menguap, dia benar-benar ngantuk sekarang. Rasa lega mendengar pengakuan Nagi yang tersimpan di dalam sebuah alat perekam, membuat Zila bagaikan dininabobokan, tenang dan damai dan, "hoammm."



"Ya ampun, Sayang, kamu sangat ngantuk kenapa tidak membaringkan tubuh dan tidur? Ayo tidurlah. Kamu pasti menunggu aku kembali, kan?" Naga sudah berada di dalam kamar dan melihat Zila menguap.



'Iya, Kak, aku sangat ngantuk dan lelah," ujarnya sembari naik ke atas ranjang dan berbaring.



"Tidurlah, kamu sangat ngantuk banget sepertinya," ucap Naga sembari menghampiri Zila lalu mengusap perut dan mencium kening Zila dengan rasa sayang.



"Jagoan Papa, tidur sama Mama, ya. Semoga kalian mimpi indah," harap Naga sembari menyelimuti Zila.



Zila memejamkan mata sambil pikirannya menerawang, dia berharap berita dari Nagi untuk Hilda membuat Hilda kembali ceria seperti semula. Sebab Hilda yang Zila kenal merupakan Hilda yang selalu terlihat happy dan tanpa beban.



Tapi setelah Nagi pergi, Hilda seakan hilang separuh nafas, di pemurung dan sering mengurung diri di dalam kamar. Zila miris melihatnya dan ikut merasakan apa yang dirasakan Hilda.

__ADS_1



"*Cepat pulang ke rumah Hilda, tunggu kabar dari gembira dari aku*." Zila segera menutup matanya dan kini benar-benar tertidur.


__ADS_2