
"Kak Naga, antar aku ke Lembang ke Kampung Sukaseuri." Zila membalikkan badannya memohon pada Naga dengan tatapan matanya yang merah. Naga memegangi bahu Zila supaya dia bisa tenang dan bisa mengendalikan emosinya karena saat ini dia sedang hamil muda.
"Antar aku menemui paman Kobar, aku ingin paman mengantar aku ke rumah pencuri itu. Aku ingin pencuri itu meminta maaf dan bertekuk lutut di hadapan paman Kobar," ulang Zila lagi dengan penuh ambisi. Matanya kini terlihat menyorot tajam penuh kemurkaan.
"Zi, tenangkan dulu dirimu, ya. Jangan tegang dan emosi begini, nanti bisa mempengaruhi kehamilannya. Aku tidak mau gara-gara kabar ini kesehatan kamu terganggu. Ingat, ada janin dalam perut kamu!" Naga berusaha menenangkan Zila yang sudah emosi sejak mendengar berita tentang siapa pemilik sertifikat itu sebenarnya.
"Aku akan tenang jika sudah melihat pencuri itu bertekuk lutut di hadapan paman dan minta maaf pada paman, lalu dijebloskan ke dalam penjara bersama kroni-kroninya mafia tanah," tandasnya.
"Gara-gara dia hidup aku hancur, gara-gara dia juga paman menderita dan seumur hidupnya hanya mengabdikan diri untuk mengurus aku dan membesarkan aku. Maka, aku ingin Haidar masuk penjara bersama kroni-kroninya," lanjut Zila penuh ambisi.
Naga segera meraih kembali bahu Zila lalu dipeluknya, bahu itu kini berguncang kembali karena tangisan Zila pecah. Naga bisa membayangkan derita yang dialami Zila selama ini, sehingga ia berambisi ingin memenjarakan omnya sendiri.
Hari itu juga Naga akan mengantar Zila ke Kampung Sukaseuri. Zila dan Naga keluar kamar kemudian menuruni tangga. Pada saat di dasar tangga, Naga tersentak karena ia dikejutkan dengan kehadiran Nagi sang adik sepupu dari Papanya. Naga menatap lekat sejenak ke arah Nagi seolah tidak percaya.
"Nagi, kamu Nagi?" kagetnya tidak percaya. Spontan keduanya saling berpelukan menumpahkan rasa rindu yang membara. Karena bagaimanapun juga Nagi merupakan adik sepupu yang telah besar bersama sejak dulu, sejak Nagi ditinggal kedua orang tuanya yang memilih berpisah dan hidup masing-masing tanpa menghiraukan Nagi yang saat itu masih berusia satu tahun.
"Kak Naga, sepertinya Kak Naga mau pergi terlihat buru-buru. Apakah ada hal yang penting dariku sehingga diriku disisihkan?" ujar Nagi sedikit berbicara dengan gaya bercanda.
__ADS_1
"Iya, kebetulan aku dan Zila istriku ada urusan penting. Kamu tinggallah di rumah baik-baik sambil jagain si bayi besar yang manja itu," tukas Naga pada Hilda sang adik semata wayang.
Nagi melepaskan rangkulannya bersama Naga, kini dia beralih pada Zila yang dulu dikenal sebagai pelayan kafe di kafe Kobar.
Nagi berbasa-basi pada Zila seraya menyalami tangan Zila. Zila menerima uluran tangan Nagi dengan wajah yang datar.
Selang beberapa menit Pak Hasri dan Bu Hilsa menghampiri dari ruang keluarga, menatap heran pada Naga dan Zila yang sudah berada di bawah seperti akan pergi tapi bukan pindah ke apartemen seperti apa yang mereka rencanakan.
"Ga, kalian sepertinya mau pergi. Kalian mau kemana? Ingat dengan kesehatan istri kamu, dia sedang hamil muda," peringat Pak Hasri khawatir melihat Zila yang akan pergi bersama Naga.
"Ini tidak akan lama kok, Ma. Kami akan ke Lembang dulu. Aku hanya ingin membuat Zila merasa tenang," alasannya sembari meraih jemari Zila lalu menuntunnya.
Mobil yang dijalankan Naga berjalan dengan kecepatan normal, tidak pelan juga tidak terlalu kencang. Sebab Naga tahu dia di dalam mobil sedang bersama siapa? Naga takut karena guncangan, perut Zila kenapa-kenapa.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Naga tiba di depan halaman rumah Kobar. Dengan tergesa Zila segera membuka pintu mobil dan turun sehingga membuat Naga terhenyak saking kagetnya melihat Zila turun dari mobil dengan tergesa.
Naga geleng-geleng kepala melihat perilaku Zila yang sangat antusias.
__ADS_1
"Pamannnn, assalamualaikum!" teriaknya takut tidak terdengar oleh Kobar. Kobar terkejut, sehingga rokok yang sedang ia sesap terjatuh.
Tidak butuh waktu lama untuk menjelaskan pada Kobar apa tujuan mereka datang, Kobar langsung paham dan setuju dengan usul Zila. Diapun merasa sangat geram mendengar fakta yang dibeberkan Naga. Kobarpun bertekad supaya Haidar dan konco-konconya di penjara akibat kasus pemalsuan sertifikat tanah milik Haga yang diklaim milik Haidar.
***
Mobil Naga kini sudah tiba di halaman rumah Haidar, setelah tadi menghubungi Hasya, Naga datang ke rumah Haidar diikuti pijak berwajib yang akan sekalian meringkus Haidar.
Saat melihat wajah asli Haidar, sejenak Zila terhenyak. Bukankah lelaki paruh baya ini adalah orang yang menjual tanahnya pada Naga beberapa waktu yang lalu? Zila baru hari ini melihat wajah asli Haidar secara jelas. Dan sebuah pertanyaan besarpun kini bersarang di kepala Zila.
"Jadi tanah yang dibeli Kak Naga adalah tanah milik bapak?" tanyanya dalam hati.
"Minta maaf sama Paman Kobar dan akui kesalahanmu. Diakui di depan orang-orang," paksa Zila berubah garang.
Sejenak Haidar menatap meminta belas kasihan dari Zila yang memintanya berlutut dan meminta maaf di hadapan Kobar.
"Lakukan, minta maaflah sama Paman Kobar dan akui kesalahanmu karena telah mencuri tanah milik bapak dengan cara yang licik," paksa Zila dengan mata yang melotot menandakan kemarahan yang sangat meluap.
"Zi, aku ini Om kandungmu dari pihak bapakmu. Alangkah teganya jika kamu memenjarakan Om dan keluarga Om. Sumpah, Om hanya khilaf saat itu. Om mohon ampun, jadi jangan penjarakan Om.Om mohon," ujarnya memaksa dengan wajah yang memelas ingin dikasihani.
Akhirnya dengan desakan dari Zila, Haidar meminta maaf kepada Kobar dan Zila dengan cara bertekuk lutut di hadapannya. Zila tersenyum kecut melihat Haidar meminta maaf dengan bertekuk lutut.
__ADS_1
"Semoga dengan membuat diam meminta maaf di depan paman Kobar, sedikit membuat Bapak dan Ibu lega di di surganya," harap Zila di dalam hati.