
Kak Naga, ya ampun, Kakak mengagetkan saja," protesnya seraya tangan kirinya memegangi dadanya, lalu tangan kanannya memegangi Hpnya.
"Ya, ampun, kamu terkejut? Ada apa sampai kamu terkejut seperti ini?" tanya Naga seraya menenggelamkan kepala Zila di lehernya.
"Kak Naga, sih, pakai acara kejut-kejutan segala, padahal tadi ada orang yang menghubungi aku dengan prive number." Zila masih protes dengan aksi Naga tadi yang mengakibatkan sambungan telpon private number tadi terputus.
"Aku pikir kamu terkejut karena tadi habis mendapatkan paket misterius lagi dari seseorang yang tidak dikenal."
"Itu juga, Kak. Lalu Kakak tahu dari mana aku mendapatkan paket misterius itu lagi?"
"Tadi saat di bawah, Pak Bagas memberitahukan aku bahwa kamu mendapatkan sebah paket yang misterius lalu saat dibuka ternyata paket itu hanya kotak bungkus kado yang berulang-ulang kali dibungkus," jelas Naga.
"Aku semakin penasaran siapa sebenarnya yang mengirimkan paket misterius itu?"
"Tenang saja, kita sebentar lagi akan segera tahu siapa sebenarnya peneror itu dan apa motifnya mengirimkan paket misterius itu. Ayo masuklah, sebaiknya kita bicara di dalam saja, di sini tidak bisa memeluk kamu seperti ini." Naga menarik lengan Zila dan membawa Zila masuk ke dalam apartemennya.
"Lalu siapa yang tadi menghubungimu?' heran Naga.
"Sudah aku katakan, orang yang menghubungi aku tadi hanya menggunakan private number, jadi aku tidak tahu siapa dia dan untuk menghubunginya kembali tidak bisa, sebab nomernya tidak kelihatan," terang Zila menyesalkan.
"Apakah si peneror tadi yang menghubungi kamu? Aku sangat khawatir dengan keselamatan kamu jika memang dia bisa menghubungi kamu." Naga terlihat sangat khawatir.
"Sudahlah Kak, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Lebih baik kita tunggu lagi si penelepon tadi menghubungi nomerku, aku yakin dia akan menghubungi nomerku lagi," yakinnya membuat Naga merasa yakin juga.
Namun ditunggu sampai satu jam lamanya, sampai tiba saatnya tidur malam, si penelepon itu tidak kembali menghubungi. Naga dan Zila kesal dibuatnya sehingga memutuskan untuk segera menenggelamkan diri di peraduannya.
Sementara itu di waktu yang sama, di lain tempat terpisah beribu mil kilo meter dari kediaman Naga, Nagi merasa menyesal sebab sambungan telpon kepada Zila dengan terpaksa harus ia putuskan setelah tadi mendengar Zila sekilas menyebut nama Naga.
__ADS_1
Nagi segera memutuskan sambungan telponnya, sebab ia belum mau kehadirannya bisa terendus oleh Naga. "Bang Naga, aku tidak bisa menghubungi Zila jika didekat Zila ada Bang Naga. Aku tidak mau kehadiranku diketahui sebelum waktunya," ujarnya sangat menyesalkan sebab dia tidak bisa menghubungi Zila kembali dalam jarak dekat ini.
"Baiklah, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menghubungi Zila." Nagi berusaha menghibur dirinya sendiri atas kegagalan menghubungi Zila sore tadi. Dengan rasa kecewa yang dalam, Nagi masih mengutak-atik Hpnya dan mencari sebuah nomer yang masih dia simpan.
"Hilda, apa kabar dirimu, De? Kak Nagi sangat merindukanmu. Kak Nagi minta maaf tidak bisa menghubungi kamu untuk masa sekarang. Kak Nagi tidak ingin kamu bertambah kecewa jika Kak Nagi hubungi kamu sekarang, sementara Kakak tahu kamu tipe yang polos dan ceplas-ceplos, Kakak takut keberadaan Kakak diketahui Mama dan Papa Hasri," gumannya seraya masih memainkan Hpnya.
Sebelum Nagi menyudahi berselancar di dunia media sosial, Nagi menyempatkan untuk menatap foto Hilda yang berada di layar Hpnya dalam-dalam.
***
Kembali lagi ke kota Bandung
Sejak Zila mendapatkan paket misterius untuk kedua kalinya, Zila kini selalu ikut ke kantor menemani Naga. Naga bahagia bisa selalu bersama dengan Zila sepanjang hari, bahkan justru Zila ditawari untuk turun tangan dalam mengurus perusahaan. Zila tidak antusias, sebab dia memang tidak suka mengatur atau mengurus perusahaan karena Zila merasa tidak paham.
"Sayang, sebentar lagi aku ada meeting, kamu tunggulah di sini sejenak. Tapi, jika kamu merasa bosan, kamu bisa jalan-jalan di sekitar pabrik ini." Naga memberitahukan Zila dengan berat hati terpaksa harus meninggalkan Zila sejenak.
"Kalau begitu, aku akan jalan-jalan saja di sekitar pabrik ini. Sambil melihat proses produksi itu seperti apa," putus Zila akhirnya.
Tidak butuh waktu lama, Zila akhirnya menemukan ruang produksi. Tiba di sana langsung disambut suara bising dari mesin pengolah produk. Zila mendekati salah satu mesin yang khusus memberi kemasan pada sebuah produk. Ternyata, produk ini merupakan produk yang selalu Zila gunakan sehari-hari di dapurnya. Produk yang memancanegara dan diekspor ke berbagai negara selain Asia juga Eropa.
Puas mengelilingi proses produksi, Zila kemudian keluar dari ruangan produksi. Zila menuju taman di pabrik itu. Taman pabrik yang lumayan indah dan asri sebab tamannya sangat terawat.
Zila menghampiri sebuah kursi di taman itu dan mendudukinya. Udara yang masih cukup sejuk untuk ukuran pagi menjelang siang di kota Bandung ini, membuat Zila tertarik dengan keindahan taman itu, lalu meraih Hpnya untuk memotret dirinya diantara berbagai bunga dengan mode timer. Setelah foto itu dibidik, sebelum bosan Zila bolak balik memencet tombol foto untuk mengabadikan foto dirinya di taman itu.
Puas mengambil beberapa foto di taman berbunga itu, Zila kembali ke bangku panjang di taman itu. Zila tidak sabar melihat hasil jepretannya tadi. Tiba-tiba Hpnya berbunyi tanda panggilan masuk. Lagi-lagi private number dan Zila jujur sangat penasaran dengan orang di balik private number itu.
"Halo, dengan siapa saya bicara?" tegasnya jelas.
__ADS_1
"Halo, Zi, ini aku Nagi," sahut orang yang di balik sambungan telpon. Sejenak Zila terhenyak dengan mulut yang menganga sebab dia tidak menyangka bahwa yang menghubunginya merupakan Nagi adik sepupu suaminya.
"Kak Nagi, benarkah ini Kak Nagi?" tanya Zila masih tidak yakin.
"Iya, aku Nagi. Jangan kasih tahu siapapun bahwa aku telah menghubungimu termasuk Hilda. Aku hanya ingin tahu kabar keluargaku di Bandung. Aku mohon." Permohonan Nagi jelas dikabulkan Zila. Zila tidak percaya plus bersyukur Nagi dalam keadaan selamat.
"Kak Nagi, sekarang ada di mana Kak, kenapa Kakak tidak menjalankan amanah dari Papa Hasri?"
"Panjang ceritanya, Zi. Aku mohon, kamu jangan cerita pada siapapun jika aku menghubungi kamu. Dan kamu tidak perlu tahu aku di mana, yang jelas aku dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," pesan Nagi dalam telpon menyiratkan sebuah permohonan.
"Bagaimana kabar Hilda, apakah dia baik-baik saja? Dia tidak sedih saat aku pergi?" tanyanya lagi.
"Dia kabarnya baik, justru sekarang terlihat lebih baik. Hilda sangat sedih saat Kakak tidak bisa dihubungi, dia sempat setres, kak."
"Lalu, apa yang Hilda lakukan?"
"Hilda mengurung diri di kamar, bahkan sempat tidak mau kuliah selama sebulan," terang Zila.
"Sayang, apa yang kamu lakukan di taman ini?" kejut Naga membuat Zila tersentak dan dan gelagapan. Sementara Nagi yang sempat mendengar seseorang berbicara di ujung telpon, dia yakin orang itu Naga Kakak sepupunya.
__ADS_1
"Kak Naga!" bisiknya seraya dengan cepat mematikan sambungan telpon.