Istri Liar Sang CEO

Istri Liar Sang CEO
Bab 45 Sedikit Melunak


__ADS_3

Setelah semua orang yang tadi berada di kamarnya keluar, Naga menghampiri Zila dengan raut bahagia. Namun berbeda dengan Zila, dia tidak terlihat bahagia sama sekali. Zila tengah berpikir keras kenapa dia bisa hamil secepat itu? Apakah ini karma baik karena kebohongan kemarin yang pura-pura hamil demi menghindari aturan ibu mertuanya yang memberinya tugas layaknya pada pembantu.



"Sayang, sepertinya kamu tidak bahagia dengan berita kehamilan ini. Apa yang mengganggumu?" Naga heran dengan sikap Zila yang datar tapi kelihatan sedih.



"Aku masih belum percaya Kak, benarkah aku ini hamil dan akan menjadi ibu secepat ini? Bukankah aku selama ini minum pil KB?" tanya Zila merasa heran.



"Pil KB tidak menjamin 100 persen kehamilan, hanya 99,9 % kesuksesannya, bisa jadi kamu termasuk yang 0,1 % yang gagal. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi, terlebih saat kita di Lembang, kita melakukannya saat kamu tidak minum pil KB, bukan? Telat atau lupa sekali saja minum pil KB, itu bisa mengakibatkan kehamilan. Jadi, mulai sekarang jangan bingung lagi. Kita harus bisa menerimanya dengan suka cita, sebab dengan kehamilan ini bisa menghindarkan kamu dari aturan Mama dan bulan-bulanan Hilda," jelas Naga ada benarnya juga.



Naga tersenyum penuh kemenangan saat dia membalikkan tubuhnya, sebenarnya kehamilan Zila yang sungguhan justru ulah usil dia. Karena Naga yang berhasil menukar pil KB dengan vitamin. Jadi yang Zila minum selama ini hanya vitamin.



"Tapi, kehamilanku ini tidak mendapat sambutan hangat dari mereka. Ibu dan Bapak, bahkan Hilda," keluh Zila berubah lesu. Walaupun Zila tahu sikap mereka seperti itu imbas dari kebohongannya juga, Zila yakin kedua orang tua Naga, terutama Hilda pasti menghitung usia kehamilannya. Sebulan yang lalu Zila pernah mengakui dirinya hamil, jika dihitung sampai minggu ini, harusnya usia kandungan Zila sekitar lima atau enam minggu. Dan kebohongan Zila harus terbongkar juga dengan usia kandungan yang sebenarnya.



"Sudah, jangan dipikirkan sikap mereka yang seperti itu, aku yakin mereka cuma shock saja sebab mereka merasa telah kita bohongi. Jika mereka bersikap tidak baik padamu karena masalah kebohongan kamu, maka aku pastikan aku yang pasang tubuh membela kamu di garda terdepan, percayalah Sayang," bujuk Naga membesarkan hati Zila yang kecewa.



"Tapi, bukan cuma itu saja yang aku pikirkan, Kak. Sebetulnya aku belum siap untuk hamil. Tapi ternyata Allah menitipkan lebih cepat," ujar Zila mendadak sedih. Ia tiba-tiba teringat akan kedua orang tuanya yang tidak pernah ia rasakan kasih sayangnya lama, sebab Allah lebih dulu mengambil keduanya.



"Kita harus syukuri, aku sangat bahagia mendengar kamu hamil. Jadi jangan merasa sedih, sebab ada aku yang akan selalu menyambut bahagia kehamilanmu," tukas Naga sungguh-sungguh.


***


Setelah semua orang mengetahui kehamilan Zila yang sebenarnya, kini perlakuan mereka terutama Mama dan Papanya Naga sedikit lebih lunak walaupun tidak terlalu akrab. Zila tidak peduli, sebab dari awalpun mereka memang sudah tidak menyukai dirinya. Zila hanya bersikap sewajarnya.

__ADS_1



Pagi itu Zila merasa mual, sudah dua kali dia ke kamar mandi. Naga yang mengetahui sangat khawatir, ia segera memanggil Bi Rana membawakan buah-buahan dan teh jahe hangat untuk menetralisir rasa mual yang dirasakan Zila.



Setelah tiga kali ke kamar mandi, kini rasa mual itu sedikit berkurang. Zila duduk di depan cermin, menatap dirinya yang pucat pasi. Baru kali ini dia mengalami mual yang lama, kemarin-kemarin tidak.



"Non Zila, ini diminum dulu teh jahe hangatnya." Bi Rani menyodorkan gelas yang berisi teh jahe hangat. Zila segera meraihnya, perlahan-lahan air teh jahe hangat itu diminumnya.



"Ini camilannya, Non. Buah-buahan akan menghilangkan rasa mual," ujar Bi Rani menyodorkan buah-buahan yang sudah dikupas.



"Terimakasih, Bi," ucapnya. Bi Rani yang juga sudah memiliki anak yang sebesar Zila, merasa terenyuh melihat ketegaran perempuan muda didekatnya. Dia ikut merasakan beban ibu hamil itu seperti apa. Terlebih jika yang hamilnya mual berat, itu lebih memprihatinkan.




"Sudah mendingan, Kak. Kakak kenapa masih d sini, bukankah Kakak harus ke kantor? Aku sudah tidak mual lagi kok, kalau aku nanti mual lagi, aku akan memanggil Bi Rana dan Bi Rani. Kakak pergilah, aku tidak sakit aku hanya mual saja." Zila mencoba meyakinkan Naga yang sepertinya tidak ingin meninggalkan Zila.



"Tapi, aku khawatir dengan kamu dan janin ini."


"Aku tidak apa-apa, Kakak pergilah," ujar Zila meyakinkan Naga. Akhirnya karena diyakinkan oleh Zila, Naga menyerah dan pergi ke kantor karena hari ini ada pertemuan penting dengan para petinggi perusahaan.


"Tapi kamu belum sarapan, Sayang." Naga membalikkan badan sebelum dia jauh dari pintu.



"Tidak, aku belum mau sarapan. Aku hanya ingin merasakan buah-buahan ini supaya rasa mualku tidak timbul lagi," alasan Zila.

__ADS_1



"Baiklah jika begitu, aku turun dan sarapan dulu sebelum pergi ke kantor." Naga mencium kening Zila sebelum dia keluar kamar.



Zila tersenyum dan menatap kepergian Naga yang sudah menghilang di balik pintu. Zila tidak boleh manja meskipun dia kini merasakan sedikit tidak enak badan, lalu menahan kepergian Naga. Pada dasarnya Zila memang bukan perempuan yang manja. Dia tidak ingin dikatakan sebagai istri yang manja oleh Hilda maupun ibu mertuanya.



Naga menuruni tangga dan menuju meja makan yang sudah terdapat kedua orang tuanya juga Hilda. Bu Hilsa merasa heran dengan ketidakhadiran Zila.



"Mana istri kamu, kenapa tidak ikut turun?" Pak Hasri tiba-tiba menanyakan Zila yang tidak turun bersama Naga. Rupanya bukan Bu Hilsa saja yang heran dengan ketidakhadiran Zila ke meja makan, Pak Hasri juga.



"Zila sedang tidak enak badan, tadi dia mual-mual. Sekarang badannya terasa lemas."



"Istrimu mengalami morning sickness, berikan saja makanan yang segar-segar supaya mualnya berkurang," saran Bu Hilsa nampak perhatian.



"Sudah, kok Ma. Bi Rani tadi yang antarkan buah-buahan dan air teh jahe hangat ke kamar."



"Itulah jika kehamilan awalnya sebuah kebohongan, jadi istri Kakak kena tulahnya," timbrung Hilda tiba-tiba. Naga menoleh ke arah Hilda dengan gemas.



"Kamu ini selalu saja memperlihatkan rasa tidak suka pada Kakak ipar kamu. Kamu harus tahu, lho, Dek, istri Kak Naga hanya ingin menghindar dari tugas Mama yang berat. Dia biasa beberes di rumahnya, tapi jika rumah seluas ini, siapapun pasti tidak sanggup," tukas Naga membela Zila.


__ADS_1


"Ah, ya, sudah, sebaiknya aku pergi ke kantor dulu. Bi Rani, titip istri saya. Kalau dia ada perlu apa-apa, tolong dibantu, ya," pesan Naga sebelum pergi kepada Bi Rani. Naga pergi, tidak lupa berpamitan pada Papa dan Mamanya.


__ADS_2