
Nagi mengikuti ke tengah-tengah orang-orang menari. Para penari itu banyak, berpasangan, kalau dihitung jumlahnya ada 40 orang. Mereka saling berpasangan. Nagi heran kenapa penari lelaki yang berwajah potongan India itu menarik dan mengajak Hilda menari ke tengah-tengah penari lain yang sedang menari.
Darah Nagi langsung bergolak, emosinya tiba-tiba mencuat, dia tidak suka istrinya direbut begitu saja oleh laki-laki lain yang tidak dikenal. Hilda juga sama kagetnya, entah kaget atau apa, dia tidak berontak atau menolak, matanya melotot heran ke arah si lelaki berwajah India tersebut.
Nagi sudah berada di tengah-tengah penari itu, sesekali melihat ke arah Hilda dengan hati-hati. Dia akan bertindak jika sampai terjadi pelecehan terhadap Hilda. Sebetulnya Nagi ingin merampas dan mengajak Hilda kembali. Namun, Nagi tidak ingin gegabah, ini negeri orang dia tidak mau gegabah bertindak, meskipun hatinya tidak terima Hilda ditarik begitu saja.
"Sorry, she's my wife. We are married." Nagi memberanikan diri menghampiri lelaki India itu dan mengungkapkan bahwa Hilda adalah istrinya. Lelaki India itu mengangkat tangannya, lalu berkata.
"No problem, we just asked him to dance, as a welcome, so that his life is blessed and happy," ucapnya seraya ingin meraih kembali tangan Hilda.
Nagi tidak peduli apa kata lelaki India itu, dia tidak suka istrinya ditarik-tarik dan diajak menari begitu saja. Nagi mendekati Hilda lalu menarik lengannya dan segera menjauh dari kerumunan tarian setempat itu. Dia tidak mau membiarkan lebih lama Hilda dengan penari-penari.
"Sorry, that' s enough. I want to take my wife," ujar Nagi sedikit kesal tidak peduli lagi penari yang lain menahannya. Dengan langkah cepat, Nagi segera menaiki perahu dayung untuk menuju ke hotel tempat dia menginap. Dia begitu kesal dengan orang-orang itu, sudah dibilang Hilda adalah istrinya tapi masih mau mengajaknya menari.
Nagi berlari menuju perahu dayung untuk segera beranjak dari tempat itu, dia khawatir orang-orang asing itu mengejarnya.
"Come on, harry up!" titah Nagi pada si pemilik dayung untuk segera mengayuh perahunya ke arah hotel tempat dia menginap.
Hilda terlihat ketakutan, tangannya begitu erat memegangi Nagi. "Aku takut, Kak," ujarnya.
__ADS_1
"Sudah, sekarang kamu aman. Orang-orang itu tidak bisa lagi mengejarmu. Lain kali jangan mudah tertarik dengan sebuah kerumunan di negeri orang. Aku takut kamu malah diculik benaran oleh orang-orang itu," tukas Nagi memperingatkan. Hilda hanya bisa menunduk mengakui dai salah karena telah gegabah dan main masuk sebuah kerumunan.
"Aku minta maaf," ucap Hilda seraya bersandar di bahu Nagi.
Perahu dayung pun tiba di pulau atol tempat mereka singgah. Mata Hilda tidak henti mengagumi keindahan sepanjang penglihatannya. Walau tadi sudah diculik orang untuk diajak menari, Hilda tidak kapok. Tapi kali ini Hilda tidak pernah melepaskan pegangan tangannya Nagi.
"Wahhh, Kak Nagi di sana ada sebuah resort apakah kita bisa menyinggahinya? Aku ingin berenang di sana," rengek Hilda seraya menatap Nagi.
"Aku tidak tahu kalau resort itu dengan tempat hotel kita menginap satu manager, kalau masih satu manager, sepertinya kita bisa masuk ke sana. Tapi, sebaiknya jangan. Alangkah lebih baiknya kita tanyakan dulu pada pihak hotel, dan jika kata pihak hotel boleh, maka besok saja kita ke sana. Besok kesempatan kita sehari di sini," terang Nagi.
Kali ini Hilda patuh dan mengikuti arahan Nagi. Dengan suka rela akhirnya Nagi dan Hilda hanya menikmati pantai di sekitar daratan atol tempat dia menginap, inipun tidak kalah indah.
Tiga hari berlalu, besok merupakan hari terakhir Nagi dan Hilda berada di hotel ini, tepatnya berada di kamar hotel ini. Semua yang telah dilewatinya di Maldives ini sungguh indah dan menyenangkan mata. Namun sayang, Nagi dan Hilda tidak bisa menikmati semua pemandangan di pulau ini sebab kejadian Hilda diculik kemarin sempat membuat keduanya takut.
Siang berganti malam, setelah makan malam tadi Nagi dan Hilda sejenak duduk santai di atas sofa kamar itu sebelum menjalankan misi berdua yaitu melayari pulau asmara, sembari melihat hasil foto yang berhasil diambilnya menggunakan kamera digital dual kamera.
"Hasilnya bagus-bagus," pujinya seraya tidak lepas menatap satu persatu foto itu.
"Sayang, ayolah. Simpan kamera itu. Besok kita kembali ke tanah air. Mari jadikan Maldives tempat yang mengesankan untuk kita," rengkuhnya membawa Hilda ke atas ranjang.
__ADS_1
"Kak Nagi, hmmmp." Hilda sudah tidak berkata-kata lagi karena Nagi sudah membungkamnya dengan sebuah ciuman panas.
"Pelan, masih terasa sakit," peringat Hilda meringis menahan dada Nagi yang turun naik. Nagi tersenyum sembari menatap wanita yang kini tepat di bawah kendalinya.
Nagi terkapar lelah setelah dua kali menggempur Hilda malam ini. Hilda lebih parah, kali ini bagian intinya terasa perih dan bengkak.
"Awwww, perih," keluhnya. Nagi membantunya ke kamar mandi membasuh semua jejak percintaannya baru saja yang memakan waktu yang lumayan lama.
Mereka kini sudah berada di atas ranjang, saling berpelukan. Hilda tidur menyamping dengan kepala berbantalkan lengan kokoh Nagi, sementara Nagi terlentang menghadap langit-langit rumah.
"Seandainya di dalam perut ini sudah mulai tumbuh benihku, aku akan sangat bahagia. Itu tandanya sebentar lagi aku akan menjadi Papa, dan kamu akan menjadi Mama muda." Nagi mengusap-usap perut Hilda yang datar.
"Tapi, aku sepertinya belum ingin punya anak. Aku ingin menemani Kak Nagi dulu di kantor, aku tidak mau Kak Nagi hanya ditemani Sekretaris seksi dan cantik."
"Kamu ini cemburu, di kantorku tidak ada seorang Sekretaris apalagi perempuan. Yang ada hanya seorang asisten dan asistennya adalah seorang laki-laki," tegas Nagi meyakinkan Hilda. Hilda tersenyum bahagia. Lamat-lamat mata Hilda mulai menutup dan pada akhirnya dia terlelap dalam buaian mimpi indah di malam terakhir bulan madu di Maldives ini.
Akhirnya tiba saatnya pulang ke tanah air. Hilda dan Nagi senang akan kembali ke tanah kelahirannya. Seindah atau sebagusnya pemandangan Maldives, Nagi dan Hilda tidak tertarik untuk tinggal di sana selamanya, sebab Maldives hanyalah sala satu destinasi wisatanya.
"AKhirnya, I'm coming Indonesia," teriak Hilda saat dirinya kini sudah menginjakkan kaki di tanah air. Hilda tertawa bahagia lepas disambut kedua orang tuanya, Mama, Papa serta Naga dan Zila serta baby Syaka. Empat hari di Maldives, Hilda tiba-tiba merindukan makanan Indonesia yang sangat menggiurkan lidah.
__ADS_1
"Rujak, bakso goreng, nasi goreng, kwetiaw, kue putu, mie ramennnnn, aku datangggg," teriak Hilda mengabsen berbagai macam makanan favoritenya.